NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Siang itu, ruang kerja Algio disulap menjadi tempat wawancara dadakan yang aneh, bukan karena formalitas yang mendebarkan, melainkan karena suasana yang kelewat manja dan santai, jauh dari aura menegangkan seperti interview pada umumnya.

Wiliam, sang sekretaris setia berdiri di sudut ruangan, berpura-pura sibuk menyusun map padahal telinganya mencuri dengar setiap dialog absurd di depannya, ia harus menahan diri agar tidak minggat detik ini juga.

Lebih dari itu, Afnan wanita itu duduk dengan manis di kuris mewah di hadapan meja kerja Algio, sesekali merapikan dressnya, tampak gelisah, tapi lebih mirip anak kecil yang akan disuruh membaca di depan kelas daripada calon karyawan.

"Kau terlihat gelisah?" Algio melirik sang wanita, menahan senyuman berkali-kali.

Menyenderkan kepadanya di papan sofa, Afnan mengangguk lugu, "Bagaimana jika kau memberi pertanyaan tak masuk akal? Secara kau ini tukang berbohong!"

"Aku merasa tidak pernah berbohong padamu." Algio menjawab pelan, ia membuka laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas dengan satu coretan yang entah apa isinya.

Duduk dengan tegap, Algio menatap lawan bicaranya serius, sama seperti pimpinan ketika menginterview karyawan barunya, dan hal itu membuat Afnan takut bukan main.

"Interview resmi kita mulai. Kau sudah berjanji untuk tidak marah ya?" Algio masih sempat mencolek lengan Afnan, menggoda wanita itu.

Menghempaskan jemari Algio, ​Afnan mendelik sengit, penuh perhitungan, "Aku tidak akan marah, tergantung pada pertanyaan yang kau berikan! Jadi, jangan membuat pertanyaan sulit!"

​Terkekeh pelan, Algio mengangguk, "Tentu tentu, kita lihat nanti, pertanyaan pertama." Ia berdeham, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.

"Tolong jelaskan secara rinci, dan berikan contoh konkret, mengenai perbedaan fundamental antara teori moneter Keynesian dengan monetarisme klasik, khususnya kaitannya dengan kebijakan suku bunga bank sentral dalam menghadapi stagflasi."

​Hening.

​Afnan melongo tak percaya, netranya mengerjab lugu, bagaimana bisa Algio memberi pertanyaan tak masuk akal seperti itu, sedangkan Wiliam yang di belakang spontan tersedak air liurnya sendiri, sejak kapan pertanyaan wawancara interview berubah menjadi ajang ekonomi?

​"Algio!" Afnan berteriak, intonasinya naik satu oktaf, mengisyaratkan ia marah.

"Apa-apaan ini?! Tadi kau bilang tidak ingin aku marah, sekarang kau membuatku marah dengan pertanyaan sulit ini!" Tuding Afnan kesal, apalagi saat melihat ekspresi tanpa dosa Algio.

​Si pelaku malah memasang wajah polos, "Aku tidak ingin membuatmu marah princess, aku hanya bertanya, bukankah kau bilang jika takut tidak bisa menjawab pertanyaan sulit? Aku ingin menguji seberapa jauh ketakutanmu."

​"Itu namanya kau sengaja membuatku kesal!" Afnan melipat tangan di depan dada, bibirnya mengerucut sempurna.

"Aku kan melamar untuk posisi sekretaris, bukan kepala manajer keuangan! Ganti! Pokoknya ganti! Aku tidak mau tau!" Titah Afnan tak ingin dibantah.

Lihat sebenarnya siapa yang boss di sini? Mengapa Afnan malah berani memberi arahan pada pimpinan? Bukankah itu termasuk orang gila?

Algio menggelengkan kepala, ​"Baik, baik." Ia mengangkat kedua tangan menyerah, terhibur dengan reaksi Afnan.

Mengambil bolpoin, Algio lantas mencoret-coret kertasnya seolah membuat catatan penting entah untuk apa, di sisi lain Wiliam di belakang, perutnya sakit karena menahan tawa.

​"Oke, pertanyaan kedua," Algio menyandarkan tubuhnya, tetap menampilkan senyuman jahil.

"Jika kau adalah seorang Project Manager yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi kecerdasan buatan baru yang berpotensi merevolusi industri, bagaimana caramu mengelola risiko etika dan bias algoritmik, dan apa langkah mitigasi jangka panjangmu?"

Mendengar pertanyaan kedua yang sayangnya lagi-lagi tidak manusiawi, ​Afnan menatap Algio dengan tatapan yang bisa membakar kertas di tangannya. Ekspresinya kali ini bukan hanya kesal, tapi benar-benar marah

​"Algio!" Nada Afnan sudah seperti bel peringatan, wajah wanita itu bahkan sudah merah padam seperti tomat, menahan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Kau pikir aku ini siapa?! Elon Musk versi wanita?! Aku bahkan sering kesulitan membedakan antara copy dan paste di laptop!" Afnan bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat, menyingkirkan kursi wawancara yang membuatnya kesal.

​"Aku pulang! Aku tidak mau kerja di sini! Kau memang ingin memarahiku dari awal, kan? Janjimu palsu semua!" Afnan mulai melangkah ke arah pintu, merajuk.

​"Afnan, tunggu!" Algio berseru panik, ancaman Afnan untuk merajuk dan pulang, jauh lebih menakutkan daripada perasaan terhiburnya sebab usil, Ia bangkit, mengitari meja kerjanya.

Mengapai jemari Afnan, Algio langsung menarik tubuh wanita itu masuk kedalam pelukanya, ​"Jangan marah, aku hanya sedikit usil untuk melihat wajah cantikmu."

"Tapi kau membuat pertanyaan di luar akal sehat Algio! Tidak manusiawi!" Afnan memberontak, tak ingin di peluk tubuh besar Algio, sayangnya ia kalah kekuatan.

"Aku janji ini yang terakhir, tidak ada lagi yang sulit, aku menyerah, jangan pulang, okay?" Algio berkata membujuk, intonasinya terdengar begitu lembut menenangkan.

​Melepas pelukan, Afnan mendengus, "Janji?"

​"Janji princess, pertanyaan terakhir aku pastikan super gampang. Wiliam juga akan mengakui kalau ini sangat mudah, benar Wiliam?"

​Wiliam yang tiba-tiba merasa terlibat, hanya bisa bergumam, "Ya benar Nona Afnan, itu pasti mudah sekali." Ia mengutuk dalam hati.

​Mendengar itu Afnan kembali duduk, sedikit terpaksa. Algio kembali ke kursinya dengan senyum kemenangan kecil, ​"Pertanyaan terakhir, dengarkan baik-baik, Afnan."

​"Are you ready?"

​Mengangguk kecil, Afnan menahan napas, takut apalagi ditipu kembali, ​namun pria itu malah tersenyum, senyum embut dan tulus, bukan lagi senyuman jahil yang membuatnya sebal.

​"Apakah Nona Afnan benar-benar ingin bekerja di sini?"

​Afnan terdiam sejenak, pertanyaan itu sangat konyol, memangnya ia datang ke sini untuk apa jika bukan karena ingin bekerja? Mengemis? Mengapa pria itu sekali memberi pertanyaan mudah, namun kelewat mudah?

​"Tentu saja tuan, memangnya jika bukan bekerja untuk mendapat uang, saya datang kemari untuk apa? Mengemis? Membersihkan ruangan anda?" Afnan menjawab sewot.

​"Baiklah," Kata Algio dengan nada formal yang mendadak, membuat Afnan bingung. "Selamat, Nona Afnan, anda diterima."

​"Tunggu, apa segampang itu?!" Afnan berdiri, menatap tak percaya Algio, mengapa ia hanya diberi satu pertanyaan yang kelewat mudah? Padahal jawabannya tak begitu serius.

Tertawa pelan, Algio mengangguk, "Tentu saja, memangnya kau ingin yang sulit, berujung menyalahkanku dan merajuk?"

Afnan memutar bola matanya jengah, wanita itu terdiam, menatap pusat keramaian kota melalui jendela transparan, tiba-tiba ia teringat sudah memiliki suami.

Jika ia melakukan hal romantis bersama Algio, apa itu termasuk selingkuh? Namun Dareen saja juga melakukan hal yang sama, maka Afnan pikir bukan masalah besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!