NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_6

Aku hanya mengangguk kecil ketika Maya mulai berorasi, memaparkan ide-ide gilanya dengan penuh semangat. Tangannya bergerak ke sana kemari, seperti seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang. Sesekali ia menatapku lekat, memastikan aku benar-benar memahami setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Seperti yang selalu kukatakan, tidak ada yang lebih ahli dalam urusan membasmi hama selain Maya. Bagaimana tidak? Selama kurang lebih lima tahun, ia harus berhadapan langsung dengan siluman tomcat yang tanpa malu-malu menggoda suaminya. Dari masa pacaran, pertunangan, sampai akhirnya mereka menikah. Lima tahun penuh drama, intrik, dan air mata—yang pada akhirnya berbuah manis. Sekarang, suami Maya bisa dibilang jinak. Tunduk. Patuh. Bahkan nyaris seperti anjing peliharaan yang siap duduk manis saat dipanggil.

“Lo ngerti, kan?” Maya menyipitkan mata, nada suaranya menekan. “Jangan pernah, gue ulangi jangan pernah kepikiran buat ambil jalan pintas. Apalagi sampai kau bawakan dukun dari magetan,"

Aku langsung terkekeh. “kalau magetan gak mempan?" sahutku mengikuti lagu yang tengah viral

“Sialan lo,” Maya menoyor kepalaku pelan, tapi bibirnya ikut tertarik naik.

“Dengerin baik-baik, ya. Ajeng itu mah belum ada apa-apanya dibanding si Jule piaraan lakik gue dulu. modelan begini mah, kita sentil sekali juga bakal meriang, " Ia menyunggingkan senyum licik. Senyum yang selalu muncul setiap kali topik pelakor dibahas.

Maya memang selalu emosional kalau urusannya menyentuh soal orang ketiga. Masa lalunya meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh, meski ia selalu berlagak kuat. Ditambah sekarang, aku—sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri, mengalami hal serupa. Wajar kalau darahnya mendidih.

Kami terlalu asyik mengobrol sampai tanpa sadar hari mulai merambat petang. Cahaya jingga di balik jendela perlahan berubah gelap. Maya bahkan sengaja membatalkan semua jadwal pasiennya hari ini, hanya demi membantuku menghadapi kekacauan hidupku.

Tiba-tiba Getaran ponsel memotong tawa kami. Aku melirik layar. Nomor asing.

Seperti kebiasaanku, aku mengabaikannya. Aku memang punya prinsip: tidak mengangkat telepon dari nomor yang belum kusimpan. Sekali, dua kali, bahkan tiga kali—nomor itu terus menelepon tanpa henti.

Dengan helaan napas malas, akhirnya kuangkat juga.

“Lagi di mana? Buruan balik ke apart!” Suara di seberang sana terdengar dingin dan mendesak. Aku langsung tahu. Itu suara Narendra.

Bibirku melengkung geli. Ironis sekali, aku bahkan tidak menyimpan nomor suamiku sendiri.

“Buruan pulang. Mamah Fani sebentar lagi sampai. Satu lagi—tolong bersikap kooperatif sesuai kesepakatan kita,” sambungnya, tanpa menunggu jawabanku. Sambungan pun terputus.

Maya menatapku penuh tanda tanya. “Siapa? Suami lo? Dia mau minta maaf?”

“Boro-boro,” dengusku. “Ngerasa salah aja kagak. Dia nelepon cuma buat ngingetin kalau mamah bentar lagi nyampe apart, dan minta gue kooperatif sesuai kesepakatan.”

“Tenang, calm, baby,” ujar Maya sambil menepuk bahuku. “Lo ikutin aja semua yang gue jelasin tadi. Jangan lupa ajuin syarat pertama.”

Ia lalu terkekeh. “Oh ya, balik pake supir kantor aja. Jangan naik ojol lagi. Gue ngeri liat anak plus menantu sultan naik transportasi online. Entar kalau lo lecet dikit, bisa-bisa tuh supir dijadiin tumbal proyek mall barunya RG.”

Aku ikut tertawa kecil. RG—Rusdiantoro Group. adalah Kerajaan bisnis keluargaku.

Tak lama kemudian, supir kantor sudah siap menunggu di lobi. Aku berpamitan pada Maya, memeluknya erat, dan mengucapkan terima kasih karena telah bersedia menjadi sekutuku dalam perang sunyi ini.

***

Aku menekan passcode pintu utama apartemen. Begitu pintu terbuka, aroma jeruk segar langsung menyergap indra penciumanku. Di meja, segelas orange juice tersaji rapi.

Mamah sudah datang lebih dulu. Narendra berdiri di dekatnya, wajahnya tampak tenang—terlalu tenang. Sepertinya ia sukses memerankan drama menantu idaman.

“Assalamualaikum, malam, Mah.” Aku segera menjabat tangan mamah dan mencium punggung tangannya.

Begitu aku selesai, Narendra langsung mengulurkan tangannya. Mau tak mau, aku mencium tangannya juga.

“Sayang,” ujar mamah dengan nada lembut tapi menusuk, “lain kali jangan diulangi lagi ya, tindakan kamu yang seperti ini.”

Aku mengerjap. “Aku? Tindakan apa, Mah?”

“Ya ini,” jawabnya sambil menatapku tajam. “Pergi nongkrong sama teman-teman sampai malam, pakai mobil Narendra lagi. Sampai-sampai dia harus pinjam mobil asistennya buat beli makanan.”

Aku langsung menatap Narendra. Dia duduk santai di hadapanku, mati-matian menahan senyum. Beneran titisan kampret durjana, batinku.

“Iya, Mah. Rayna minta maaf,” ucapku akhirnya.

“Mas, maafin Rayna ya.” Otak kua benar-benar keblok sampai-sampai nggak nemu pembelaan sama sekali

“Iya, sayang. Nggak apa-apa,” jawab Narendra, lalu mendekat dan mengelus jilbabku. Mamah tersenyum puas melihat adegan itu.

Demi Tuhan, laki gue munafik banget, gumamku sambil menahan rasa ingin muntah.

Aku segera menarik diri. “Oh ya, Mah, ngapain ke sini?”

“Mamah nganterin baju-baju kamu,” jawabnya. “Mamah pikir tadi pagi kamu bakal pulang buat ambil. Tapi sampai sore nggak datang, ya sudah, mamah antar sendiri.”

Ia lalu menambahkan, “Barang-barang lain nanti kamu ambil sendiri ya. Mamah nggak tahu mana yang kamu perlukan.”

“Yang di rumah biarin aja di sana, Mah,” sahut Narendra cepat. “Yang di sini biar Naren beliin baru. Sekarang Rayna tanggung jawab Naren.”

“Masyaallah,” mamah tersenyum bangga. “Menantu mamah ini bikin klepek-klepek.”

Dalam hati aku mendengus. Kayaknya dia pemain film yang nyamar jadi CEO. Ngedramanya luwes banget. Udah selevel Dimas Anggara kayaknya

“Kirain mamah mau nyampein sesuatu ke Rayna,” ujarku sarkas.

Mamah mengerutkan dahi. “Nggak ada, sayang. Cuma nganter baju.”

Baru aja gelar konferensi pers gede-gedean soal pernikahan ku tanpa izin, sekarang ketemu langsung kayak nggak ada apa-apa. Keluarga ku ini emang super sekali.

“Ya sudah,” kata mamah sambil berdiri. “Mamah pulang dulu. Biar kalian bisa istirahat.”

“Kenapa buru-buru, Mah?” rengekku. “Nggak nginep aja? Rayna masih kangen.”

“Astaga,” mamah terkekeh. “Baru kemarin pindah, udah drama aja. Sudah.”

Narendra segera membukakan pintu. “Biar Naren antar sampai lift.” senyumnya terlihat tulus dan hangat

---

### POV AUTHOR

Di tengah perjalanan menuju lift, Fani tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap menantunya dengan sorot mata tajam namun penuh perhatian.

“Pernikahan kalian baik-baik saja kan?” tanyanya tiba-tiba.

Narendra terkejut. Dadanya terasa sesak sesaat.

“A—apa maksud Mamah?” jawabnya gugup. “Seperti yang Mamah lihat, kami baik-baik saja.”

“Enggak apa-apa, Ren,” ujar Fani lembut. “Mamah cuma khawatir. Kalian menikah tanpa pengenalan lebih dulu. Mamah takut kalian belum sepenuhnya bisa menerima satu sama lain.”

Narendra menelan ludah. “Memang nggak mudah, Mah. Tapi aku dan Rayna sedang berusaha. Kata orang, cinta datang karena terbiasa… dan kami sedang belajar terbiasa.”

Fani tersenyum kecil. “Mamah nggak salah pilih mantu. Terima kasih pengertiannya, Nak.”

Ia lalu menambahkan, “Kalau kamu ingin tahu apa pun tentang Rayna, tanya ke mamah atau Mas Raka. Jangan ke orang lain. Mereka cuma tahu luarnya.”

Narendra mengangguk. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya, tapi ia tahu ini bukan waktu yang tepat.

“Iya, Mah.”

“Titip Rayna,” ucap Fani pelan sebelum melangkah masuk ke dalam lift.

Narendra mengacak rambutnya kasar. Percakapan singkat itu sukses membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Aura Fani—Ratu RG—memang tak terbantahkan.

Di usia yang hampir kepala lima, Fani masih terlihat sepuluh tahun lebih muda. Tubuh proporsional, tinggi semampai, wajah tirus tanpa keriput, dibalut hijab modis yang mempertegas wibawanya. Hidung mancung, bibir tipis, dan mata belo yang mampu membuat siapa pun menciut.

Dan Rayna… adalah duplikat sempurna dirinya.

### POV AUTHOR END

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!