Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Mentari di Qingyun dan Tawa yang Terbit
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kayu, membawa aroma padi dan embun yang segar. Li Yuan terbangun bukan karena tendangan preman atau bau busuk sampah, melainkan karena suara kicauan burung dan tawa anak-anak di luar rumah.
Ia meregangkan tubuhnya, merasakan energi Arus Qi yang mengalir lancar di nadinya. Di sudut ruangan, Dong Dong masih mendengkur dengan tumpukan kulit pisang yang mengelilinginya.
"Bangun, Monyet Pemalas! Kau mau jadi gendut seperti babi hutan?" Li Yuan melempar sebuah bantal jerami ke arah rekan kecilnya itu.
"Hmph! Pahlawan butuh istirahat lebih banyak daripada manusia biasa!" balas Dong Dong ketus, meski ia segera melompat ke pundak Li Yuan dengan lincah.
Begitu mereka keluar rumah, pemandangan luar biasa menyambut mereka. Di lapangan tengah desa, belasan anak kecil sudah berkumpul. Xiao Hua berdiri di barisan paling depan, memegang ranting kayu kecil seolah-olah itu adalah pedang pusaka.
"Kakak Li Yuan! Ayo ajari kami menjadi kuat!" teriak anak-anak itu serempak.
Li Yuan tertegun sejenak. Ia melihat wajah-wajah polos yang penuh harapan itu. Dahulu, ia adalah anak yang selalu diusir saat mendekati kerumunan, namun sekarang, ia adalah pusat dari kekaguman mereka. Sebuah senyum tulus, yang jarang sekali muncul, kini menghiasi wajahnya.
"Baiklah, Pasukan Kecil! Jika kalian ingin menjadi kuat, langkah pertama bukanlah memukul, melainkan berdiri tegak!" Li Yuan berdiri di tengah lapangan dengan gagah.
"Ikuti gerakanku! Kuda-kuda rendah!"
Li Yuan merendahkan tubuhnya, kakinya kokoh mencengkeram tanah. Anak-anak itu mengikuti dengan antusias, meski beberapa dari mereka jatuh terguling karena tidak seimbang, memicu tawa renyah dari para warga desa yang menonton dari pinggir lapangan. Ayi Meiling tersenyum sambil terus menumbuk gandum, sementara Zhang Wei mengangguk-angguk setuju melihat teknik dasar Li Yuan.
"Kekuatan tidak datang dari kemarahan, tapi dari ketenangan!" Li Yuan mengayunkan tangannya perlahan, menunjukkan teknik pernapasan yang ia pelajari dari kakek hantu. "Tarik napas seperti kalian mencium wangi masakan Ayi Meiling, dan buang napas seperti kalian mengusir bau ketiak Dong Dong!"
"HEI!" Dong Dong berteriak tidak terima, namun anak-anak itu tertawa terbahak-bahak.
Dong Dong kemudian ikut campur. "Lihat ini! Jika kalian dikepung, kalian harus bisa melompat seperti ini!" Monyet itu mulai melakukan salto di udara dan berputar di atas tongkatnya, membuat anak-anak bersorak kagum dan mencoba menirunya dengan konyol.
Siang itu, lapangan desa penuh dengan keceriaan. Li Yuan membantu mengoreksi posisi tangan Xiao Hua, memberikan dorongan semangat kepada anak-anak yang mulai lelah, dan bercerita tentang pentingnya melindungi yang lemah.
"Kakak Li Yuan," Xiao Hua bertanya sambil menyeka keringat di dahinya. "Kalau kami sudah kuat, apakah kami harus pergi berperang?"
Li Yuan berlutut di depan gadis kecil itu, menatap matanya dengan lembut. "Kekuatan bukan untuk mencari peperangan, Xiao Hua. Kekuatan adalah untuk memastikan bahwa orang-orang yang kita sayangi bisa tertawa seperti ini setiap hari. Ingat itu."
Kepala Desa Li Ming yang mengamati dari kejauhan mengelus janggutnya. Ia melihat sesuatu yang langka pada diri Li Yuan; sebuah jiwa yang murni yang tidak tercemar oleh haus kekuasaan, meski ia memiliki bakat kultivasi yang luar biasa.
Setelah latihan selesai, warga desa mengadakan pesta kecil. Mereka membakar ubi, menyajikan sup ayam jahe yang hangat, dan buah-buahan segar. Li Yuan duduk di kelilingi warga, mendengarkan cerita mereka tentang kehidupan desa yang sederhana. Ia merasa, untuk pertama kalinya seumur hidup, ia memiliki "rumah".
"Li Yuan," bisik Dong Dong di sela-sela makannya. "Kau terlihat berbeda. Kau tidak lagi terlihat seperti serigala kelaparan."
Li Yuan menatap langit sore yang berwarna jingga keunguan. "Mungkin karena di sini, untuk pertama kalinya, aku tidak perlu bertarung hanya untuk tetap hidup, Dong Dong. Aku bertarung karena aku ingin mereka tetap bahagia."
Kegembiraan itu terasa begitu sempurna, seolah-olah dunia yang penuh kebusukan di luar sana hanyalah mimpi buruk yang sudah lama terlupakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, Li Yuan tahu bahwa kedamaian ini adalah sesuatu yang harus ia jaga dengan kekuatannya sendiri.