Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Titik terendah Nana
Nana membeku beberapa detik. Otaknya seperti berhenti bekerja, mencerna kalimat yang barusan meluncur begitu saja dari mulut seorang nenek yang baru dikenalnya lima menit lalu.
“Nek…” Nana tertawa kecil, gugup. Ia menggeleng pelan, berusaha tetap sopan. “Maaf ya, Nek. Saya nggak bisa. Saya masih punya hubungan yang belum selesai.”
Nenek Rita menatapnya lama. Sorot matanya jelas menunjukkan kekecewaan, tapi bukan jenis kecewa yang marah—lebih seperti harapan yang mendadak patah di tengah jalan. Ia menghela napas, lalu mengangguk pelan.
“Ya… sayang sekali huh,” katanya, meski nada suaranya tak sepenuhnya meyakinkan. Lalu ia menambahkan, lebih lirih, “Tapi kalau suatu hari kamu putus sama pacarmu itu… nenek masih berharap.”
Nana terdiam. Ada rasa tidak enak yang menyelinap di dadanya. Ia menunduk sebentar. “Terima kasih, Nek. Tapi sekarang… saya belum bisa.”
Belum sempat suasana kembali normal, terdengar suara roda berdecit dari arah belakang.
“Nana…”
Suara itu membuat tubuh Nana menegang seketika. Ia menoleh perlahan, dan jantungnya langsung terasa berat.
Dimas.
Pria itu duduk di kursi roda, didorong sendiri dengan tangan gemetar. Wajahnya lebih tirus dari terakhir Nana melihatnya. Matanya sembap, merah, dan saat pandangannya bertemu dengan Nana, air mata langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
“Nana… aku nunggu kamu di pos jaga. Tapi, kamu gak muncul. Perutku sakit, kedua kaki terasa kaku dan nyeri. Tiba-tiba saja aku sudah berada di kursi roda... Nana maafkan aku karena belum bisa membahagiakan kamu,” suaranya pecah. “Aku mau pengen bawa kamu pulang. Kita akan menikah setelah ini."
Nana melangkah mundur setapak, refleks. Tangannya mengepal di sisi jaketnya. “Dimas… jangan gini. Kita...kita udah...."
“Aku nggak bisa tanpa kamu. Ibuku yang pengen kita selesai, bukan aku Na,” Dimas terisak. Tangannya mencengkeram roda kursinya kuat-kuat. “Aku kehilangan segalanya. Tolong… satu kesempatan lagi. Aku gak peduli ibuku setuju atau gak. Intinya adalah kamu bahagia."
Nenek Rita yang sejak tadi memperhatikan, langsung maju satu langkah. Posturnya memang renta, tapi suaranya tegas. “Nak,” katanya pada Dimas, “kalau perempuannya sudah bilang tidak, ya jangan dipaksa.”
Dimas menoleh tajam ke arah Nenek Rita. “Ini urusan saya sama pacar saya!”
"Dimas...kita harus bicara...." Saat Nana ingin membawa kekasihnya itu pergi, tiba-tiba saja...
“DIMAS!”
Seorang perempuan paruh baya muncul dengan wajah merah padam. Rambutnya rapi, bajunya mahal, tapi matanya menyala penuh amarah. Ibunya Dimas.
“Apa-apaan ini?” teriaknya sambil menunjuk Nana. “Kamu bikin anak saya kayak gini?!”
“Bu, saya—” Nana belum selesai bicara.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Nana. Kepalanya terhuyung ke samping. Dunia seakan berdenging sesaat. Panas menjalar di wajahnya, lebih perih karena kaget daripada sakitnya sendiri.
“Kamu perempuan nggak tahu diri!” maki ibu Dimas. “Anak saya sudah jatuh, sakit, kamu masih tega ninggalin dia?!”
“Nyonya!” Nenek Rita langsung berdiri di depan Nana, tubuhnya sedikit gemetar tapi sikapnya melindungi. “Jaga mulut dan tangan Anda. Ini rumah sakit, bukan pasar!”
Dimas terkejut. “Ibu! Jangan gitu!”
Air mata Nana akhirnya jatuh. Bukan karena tamparan itu, tapi karena semua rasa lelah yang selama ini ia tahan. Ia menatap Dimas, suaranya bergetar tapi tegas.
“Aku pergi bukan karena kamu sakit,” katanya. “Aku pergi karena kamu nggak pernah dengerin aku. Dan hari ini… kamu buktiin lagi. Ibu kamu ingin yang terbaik buat kamu... Ikuti kata beliau... aku mohon...."
Nana mengusap air matanya, lalu melangkah pergi...
Namun...
"Jangan diam, jangan nangis. Kamu gak salah. Kamu harus lawan dia!" ucap Nenek Rita.
"Nenek.... "
***
Bersambung...