"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 18
Cuaca malam itu benar-benar tidak bisa ditebak.
Langit Jakarta yang sejak sore tampak abu-abu akhirnya runtuh juga. Hujan turun deras, menampar aspal dan atap bangunan tanpa aba-aba. Seno memarkir mobilnya di halaman kediaman Barata, lalu turun dengan langkah cepat. Jas hitamnya sudah kecipratan air, bagian pundak dan lengan terlihat lebih gelap.
Ia masuk ke dalam rumah sambil membenarkan kerah jasnya, menghela napas panjang seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu, atau justru menghindarinya. Garis wajahnya tampak lebih tajam, membuat ia berbeda dari biasanya.
Namun begitu melewati lorong, Seno membuat segalanya terlihat baik- baik saja dan wajahnya kembali tenang.
Di ruang makan sudah terisi anggota keluarga. Lampu gantung menyala terang, dan aroma masakan masih hangat. Nyonya Athaya duduk di kepala meja, punggungnya tegak, sorot matanya tegas seperti biasa. Beberapa anggota keluarga lain sudah lebih dulu makan.
Ketika melihat Seno muncul, Athaya langsung mengernyit.
“Tumben pulang lebih awal, Nak,” katanya, nada suaranya datar tapi penuh selidik. “Biasanya jam delapan malam.”
Ia melirik jam besar di sudut ruangan. Baru pukul setengah tujuh.
Seno menarik kursi, duduk tanpa banyak bicara. “Ada yang selesai lebih cepat.”
Athaya tak langsung percaya. Ia sudah membesarkan Seno sejak kecil. Ambisi cucunya itu bukan sesuatu yang bisa dimatikan hanya karena urusan kantor “selesai lebih cepat”.
Athaya lantas melirik ke sisi meja. Rania duduk di sana, wajahnya tampak pucat tapi tenang. Tidak ada tanda-tanda keributan. Tidak ada suara pecah. Tidak ada kepanikan.
Bukan Rania.
Lalu apa?
Seno menaruh ponselnya di meja, matanya menyapu ruangan tanpa sadar. Satu kursi kosong.
Gerakannya refleks berhenti. Alisnya mengerut, rahangnya mengeras. Ia menoleh lagi, lebih pelan, seolah berharap ia salah lihat.
Tapi kursi itu tetap kosong.
“Indira ke mana?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa nada, tanpa basa-basi.
Beberapa orang di meja makan saling pandang. Lalu Rania mengangkat kepala perlahan. Athaya menatap Seno lebih lama dari biasanya, lalu tersenyum tipis--senyum orang tua yang akhirnya mengerti sesuatu.
"Aaah, ternyata dia tanpa sadar mengkhawatirkan Indira. " gumam Athaya dalam hatinya.
Namun ekspresi Seno saat ini bukan seseorang yang sedang bisa diajak bercanda, dia benar-benar serius.
"Dia tadi sudah menelpon sama nenek, " jawab Athaya akhirnya. "katanya ijin pulang sedikit telat, karena sedang bersama temannya. "
Seno mengangguk kecil meski ekspresi kekhawatiran itu tidak bisa disembunyikan. "dia bilang begitu? "
Athaya mengangguk, lalu mengusap punggung tangan Seno. "tidak apa- apa nak, biarkan sesekali istri mu keluar bersama temannya. "
Hujan di luar terdengar semakin deras. Seno menelan ludah, berusaha tetap terlihat biasa saja. Ia meraih sendok, tapi tangannya berhenti di udara.
Athaya memperhatikan semua itu. Gerak kecil. Napas yang tertahan. Tatapan yang terlalu fokus ke jendela.
"Ya. Lagipula itu terserah dia. " sahut Seno terlihat acuh tak acuh.
Athaya menggeleng kecil, karena ia lebih tahu isi hati Seno sebenarnya daripada ekspresi nya yang dia buat tak peduli itu.
Pria itu menunduk, pura-pura makan namun pikirannya sudah melanglang jauh.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Malam semakin meninggi, Seno berusaha mengalihkan pikirannya dengan membaca dokumen- dokumen kerja di ruangan nya. Melirik ponsel sesekali, sebenarnya ia menyimpan nomor gadis itu namun gengsi yang setinggi gunung Everest membuat nya hanya memandangi ponsel nya saja selama beberapa saat.
Otaknya malah mengalihkan rasa cemas nya dengan obrolan Adrian tadi siang, yang membuat nya malah berdecak kesal sebab teringat kembali hal yang membuat nya dongkol tanpa sadar itu.
Flashback on*
Siang tadi setelah menyempatkan untuk menjenguk Keano hingga bertemu nya ia dengan Indira tanpa terduga, Seno melanjutkan membicarakan soal bisnis bersama Adrian yang memang sudah menjadi jadwalnya hari itu.
Awalnya semua berjalan biasa saja, mereka membicarakan kontrak kerja itu di sebuah resort mewah. Seno tampak fokus dengan kontrak mereka hingga tiba-tiba Adrian menepuk punggungnya sambil tertawa kecil.
"Eh Sen, lihat ini gue nemu sesuatu yang menarik, " kata pria itu sambil mengangkat ponselnya.
Seno awal nya acuh, karena mereka disini untuk membicarakan pekerjaan, jadi ia tidak peduli dengan hal-hal selain itu. Namun bukan Adrian namanya kalau tidak berhasil mengusik Seno hingga akhirnya membuat laki-laki itu mau tak mau menoleh.
"Apa lagi? " Seno melirik sekilas.
Adrian memutar layar. "Gue nemu akun medsos nya, Indira. "
Seno refleks menoleh menatap wajahnya teman sejawatnya itu. “Ngapain lo kepo?”
“Bukan kepo,” Adrian terkekeh. “Dia lumayan aktif. Banyak posting kegiatan, kerja, sama anak-anak pasien.”
Seno diam. Ia tahu Indira punya media sosial, tapi tak pernah benar-benar memperhatikannya. Ia tidak ingin terlihat peduli.
Adrian menggeser layar. Foto Indira muncul. Rambutnya diikat asal, wajahnya polos, tersenyum kecil saat memegang tangan seorang bocah pasien.
“Cantik juga ya,” komentar Adrian ringan. “Bukan yang berisik, tapi enak dilihat.”
Seno meneguk air mineralnya, sedikit lebih keras dari yang seharusnya. “Biasa aja.”
“Ah, lo doang yang sok cuek,” balas Adrian. “Cewek kayak gini tuh bikin rumah tenang."
Kalimat itu mengganggu.
"Sayang banget kalo lo sia- siain, " Lanjutnya tanpa sadar telah memantik api di dalam dada Seno.
Seno sendiri memilih tak membalas. Ia mengalihkan pembicaraan ke kontrak kerja, ke angka, ke hal-hal yang aman. Tapi entah kenapa, sepanjang sisa pertemuan, wajah Indira terus muncul di kepalanya.
Setelah urusan selesai, Seno keluar dari gedung lebih cepat dari rencana. Langit sudah mendung dan angin terasa lembap.
Saat diperjalanan, Seno melihat Indira berada di halte bus.
Gadis itu berdiri sendirian, tas selempang kecil berada di pundaknya, rambutnya sedikit berantakan. Ia tampak menunduk, memeriksa ponselnya, lalu mendongak ke langit.
Hujan akan turun.
Seno memperlambat mobil, sengaja memang ia membawa mobil sendiri. Tangannya refleks berpindah ke sein.
Tawaran tumpangan, dan pikiran itu muncul begitu saja.
Ia tahu Indira sedang cuti, ia tahu di halte itu bus selalu terlambat datang dan hujan tidak pernah ramah pada siapapun.
Ia tahu Indira sedang cuti. Ia tahu halte itu jauh. Ia tahu hujan tidak ramah pada siapa pun.
Tapi sebelum ia benar-benar memutuskan, suara Adrian terngiang lagi, kata- kata yang entah kenapa membawa darah ke otak nya dan mendidih disana.
Dan tepat saat itu, teman gadis itu muncul, hingga dia tidak lagi sendirian. Bersamaan dengan itu juga, telepon dari Windya datang, perempuan itu meminta dijemput di kampusnya dan Seno mengiyakan.
Seno lantas mengurungkan niatnya dan menoleh sebentar ke arah halte. Tatapan mereka bertemu, tanpa disengaja namun terkunci dan Seno merasa dunia seolah berhenti.
Tak ada senyum, tidakk ada anggukan. Hanya pandangan singkat, lalu Indira kembali menoleh ke depan.
Seno lantas kembali menekan gas.
Flashback off*
Kembali ke keadaan sekarang, petir menyambar di luar. Cahaya putih menyelinap masuk lewat jendela, diikuti suara gemuruh yang keras.
Dokumen yang Seno pegang ia taruh di atas meja dengan penekanan, rahangnya mengeras dan ia melepas kacamata bacanya dengan tergesa.
Athaya baru saja muncul,membawa segelas susu hangat,melihat ekspresi wajah Seno yang mengeras membuat Athaya mengernyitkan dahi. “Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Seno cepat.
Tapi ia tidak bisa lagi duduk diam.
Hujan makin deras. Petir menyambar lagi. Dan bayangan Indira berdiri sendirian di halte itu kembali muncul, lebih jelas, lebih menyiksa.
Ia berdiri.
“Aku keluar sebentar,” katanya singkat.
“Ke mana?” tanya Athaya.
“Sebentar.”
Seno melangkah cepat keluar,melewati lorong dan mengambil kunci mobilnya. Ia tidak mengambil payung. Tidak mengambil jaket tambahan. Begitu pintu terbuka, hujan langsung menghantam tubuhnya.
Air membasahi rambut, wajah, jas mahal yang biasanya ia jaga mati-matian.
Seno benci hujan.
Sejak kecil. Tapi malam itu, ia tidak peduli.
Ia berlari menembus hujan, langkahnya tergesa, napasnya berat. Mobil dinyalakan nya, lalu melaju tanpa tujuan pasti.
Di otaknya hanya memikirkan satu hal-- mencari keberadaan Indira, dan untuk pertama kalinya, Seno berhenti menyangkal sesuatu yang selama ini ia tekan rapat-rapat, bahwa ketidakpeduliannya selama ini bukan karena ia tak peduli, melainkan karena ia terlalu takut mengakuinya.
****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah