Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
He Should've Known
Hari kamis, di pagi hari, ketika Andy datang lagi ke coffee shop untuk kali ketiga. Sena sedang bekerja sendirian karena biasanya jam segini memang tidak terlalu ramai. Coffee shop saat itu sepi karena semua pelanggan yang datang, membuat pesanan take away karena mereka harus buru-buru berangkat ke kantor.
Sena sedang membelakangi pintu masuk ketika itu, namun segera berbalik saat mendengar lonceng di atas pintu berbunyi. Dilihatnya Andy masuk, mengintip dari balik masker yang dikenakan. Dia menyapa dan berjalan mendekat. Sena tersenyum ramah seperti biasa, lantas bergerak mendekat ke counter untuk menerima pesanan.
"Tolong 4 iced americano, 3 frappucino, dan 2 cafe latte," katanya, mengeluarkan kartu dan menyerahkannya pada Sena.
Sena mengangguk dan menginput pesanan, kemudian memproses pembayaran. Dia mengembalikan kartu kepada Andy, lalu sedikit membungkuk sebelum balik badan membuat pesanan.
Sementara Andy pergi ke salah satu meja untuk menunggu, dan dalam sekejap sibuk dengan ponselnya, Sena dengan hati-hati menyiapkan pesanan. Sesekali, ia melirik Andy, masih tidak percaya bisa melihat teman masa kecilnya itu lagi. Ketika Andy tersenyum pada sesuatu di layar ponselnya, Sena juga ikut tersenyum. Itu terjadi begitu saja. Sedari kecil pun sama. Seperti ada kabel penghubung di antara mereka, yang membuat perasaan satu sama lain jadi cepat sekali terasa.
Setelah semua pesanan selesai dibuat, Sena siap mengemas. Andy tampaknya menyadari bahwa ia sudah hampir selesai dengan pekerjaannya, sehingga pria iti bangkit dan berjalan menuju counter sebelum Sena memanggilnya.
Serah terima pesanan pun dilakukan. Sena masih selalu menyunggingkan senyum sesuai prosedur. Namun kali ini, sebelum Andy berbalik setelah mengucapkan terima kasih, Sena tiba-tiba merasakan dorongan percaya diri yang seakan meledak-ledak. Dia tahu kesempatan tidak akan sering datang, bisa jadi sekejap mata hilang jika tidak dimanfaatkan. Jadi, Sena memilih untuk berani, memilih untuk mengambil kesempatan itu sebagai sesuatu yang layak dicoba.
"Andy," katanya, dalam aksen Kanada yang kental, membuat pemilik nama tampak terkejut. "Apa kau benar-benar tidak mengingatku ... atau kau hanya berpura-pura lupa agar bisa mengabaikan teman masa kecilmu ini?"
Sena menyaksikan bagaimana mata Andy perlahan melebar. Ekspresinya berubah dari bingung menjadi syok, ketika akhirnya menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"H-ha? Apa?" Dia tergagap, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tatapannya terpaku pada wajah Sena selama beberapa saat, memastikan dirinya tidak salah lihat.
"Lara?"
Sena tersenyum saat nama itu akhirnya disebut lagi. Hanya dengan mendengar nama inggrisnya disebut, Sena langsung bernostalgia, tiba-tiba merindukan Vancouver. Sudah lama sekali dia tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan nama itu.
"Hai, Andy," katanya, menikmati ekspresi syok yang menggantung di wajah Andy.
"Holly shit-yo, this is-woah," ucapnya putus-putus, meletakkan pesanan kopinya dan menyugar helaian rambutnya menggunakan jari. Dia menatap Sena naik turun dan menggeleng tidak percaya, senyum perlahan-lahan muncul menghias wajahnya. Andy melihat ke sekeliling, mengamati seluruh penjuru coffee shop sebelum akhirnya yakin untuk berlari ke belakang counter.
Sena tertawa pelan seraya merentangkan tangan lebar-lebar, menyambut teman masa kecilnya itu masuk ke dalam pelukan. Andy memeluk Sena begitu erat, dibalas setimpal oleh sang gadis. Sena menyandarkan dagunya di bahu Andy dan memejamkan mata, menikmati reuni sesungguhnya setelah terpisah lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Merasakan Andy dalam pelukannya, untuk sesaat, terasa aneh bagi Sena karena sudah lama sekali mereka tidak berjumpa. Tapi di sisi lain, Sena merasa senang. Ia merasakan ketenangan perlahan mengusap tempat terdalam di dadanya. Menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Saat Andy akhirnya melepaskan pelukan dan melangkah mundur, senyum masih tak meninggalkan wajahnya.
"Aku—damn! Aku tidak percaya aku tidak mengenalimu sejak awal!" serunya.
"Wajar saja, karena kau tidak melihatku selama bertahun-tahun," kata Sena. "Tapi, yah, aku memang mengalami perubahan yang signifikan. Menjadi sangat cantik dan mengagumkan."
"Oh, ayolah ... kau memang selalu cantik," kata Andy pelan. "Ah, sungguh, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Tapi tunggu—sejak kapan kau tinggal di sini?" tanyanya, mendadak bingung saat sadar bahwa seharusnya, Sena ada di Kanada.
Sena tertawa pelan. "Aku pindah ke sini setelah lulus, sekarang kuliah di sini."
"Kedokteran hewan?" tanya Andy, masih mengingat dengan jelas bahwa gadis kecil kesayangannya itu selalu bermimpi untuk menjadi dokter hewan.
Sena tersenyum, merasakan perasaannya menghangat karena Andy masih mengingat hal-hal kecil tentangnya. "Ya. Aku sedang menjalani pendidikan S2."
"Wah...." Andy tersenyum bangga karena Sena juga berjuang mengejar mimpinya. "Keren. Aku senang mendengarnya." Lanjutnya, seraya melirik ponselnya, memeriksa jam.
"Shit ... Aku berharap bisa tinggal dan mengobrol lebih lama denganmu, tapi aku benar-benar harus pergi," katanya. "Boleh aku minta nomormu? Aku ingin sekali mengobrol lebih banyak denganmu."
"Oh, jadi begini ya caramu mendapatkan nomor para gadis?" Sena tersenyum miring, menggoda.
Andy menggelengkan kepala, tersenyum malu-malu. "Tentu saja tidak."
"Bercanda," sahut Sena, lantas menuliskan nomor teleponnya di ponsel Andy, menamainya dengan Lara. Karena bagaimanapun, dia memang akan selalu menjadi Lara bagi Andy.
Andy mengangkut kopi-kopinya lagi dan mengucapkan selamat tinggal. Sena membalasnya dengan lambaian tangan, mengantarkan kepergiannya dengan senyum yang mengembang.
Setelah menyaksikan Andy pergi dari coffee shop, Sena bersandar di counter. Dia bersyukur telah memutuskan untuk menyapa Andy hari ini. Tadinya sempat terbersit di kepalanya, bagaimana jika Andy malah menjadi awkward setelah berhasil mengenalinya. Tapi ketakutannya tidak terbukti, dan dia sangat bersyukur atas hal itu.
Sena menghabiskan sisa shift hari itu dengan perasaan hangat, dan itu tersalurkan pula kepada para pelanggan. Mereka turut senang melihat barista yang melayani pesanan, tersenyum ramah sepanjang hari.
Setelah menyelesaikan shift, Sena berjalan pulang. Dalam perjalan itu, dia memeriksa ponsel dan menemukan ada pesan masuk dari nomor asing. Tidak butuh waktu lama, Sena langsung mengenali siapa gerangan pemiliknya, yang serta-merta membuat senyumnya terkembang makin lebar.
[Unknown]
Sejujurnya, aku masih tidak percaya hahaha
So crazy
Kau mau bertemu di suatu tempat, minggu depan mungkin?
15.58
Oh, omong-omong, ini Andy
16.08
^^^Hahaha bisa dimengerti ^^^
^^^Minggu depan boleh juga ^^^
^^^Aku tidak tahu seberapa sibuknya seorang idol ^^^
^^^Jadi beritahu saja kapan kau punya waktu luang^^^
^^^16.20^^^
Idol hahaha
Bagaimana kalau hari Rabu?
Aku selesai jam 8, so...
^^^Oke juga^^^
^^^Sampai bertemu hari Rabu, kalau begitu ^^^
Sampai jumpa hari Rabu, Lara
16.21
Sena tidak membalas lagi. Andy pasti juga sibuk dengan jadwal-jadwalnya yang hampir saling tumpuk. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, setelah sebelumnya menyambungkan earphone dan memutar lagu dari dalam playlist.
Tentu, lagu di mana suara Andy selalu ada di dalamnya. Menemaninya dari hari ke hari. Baik terang maupun gelap, cerah maupun hujan, dan dalam keadaan sedih maupun senang.
Sena menyadari satu hal sejak intro baru selesai. Ternyata meski bertahun-tahun tidak saling jumpa, Andy memang selalu ada di sisinya.
Bersambung....