Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
"Bukan. Senyuman kamu nggak salah. Yang salah adalah Tuhan, karena menciptakan senyuman seindah itu di wajah mu,"
"Waaah... Kenapa aku jadi kepikiran kata-kata Rendra terus?" gumam Dawai di dalam kamarnya.
Dawai tak bisa fokus membuat soal tes harian untuk murid-muridnya besok pagi. Kata-kata Rendra di koridor setelah kegiatan ekstra siang itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Ditambah ekspresi Rendra yang, menurut Dawai, tiba-tiba berubah drastis —seperti bukan anak SMA.
"Trus pake aku kamu segala. Waaah... Kacau, kacau," lagi-lagi Dawai menggumam sambil mengacak rambutnya, mencoba menghapus ingatannya tentang hal itu.
Dawai menyerah. Dia menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya di atas meja. Laptop yang dibiarkan menyala, seolah menatap Dawai dalam diam.
Dawai tidak mungkin menceritakan tentang gombalan Rendra pada Disa. Entah mengapa, Dawai tak ingin Disa tahu.
"Kenapa aku nggak bisa cerita ke Disa?" gumam Dawai sambil mengangkat wajahnya menatap layar laptopnya yang masih menyala.
Mungkin karena beberapa waktu yang lalu Disa mengatakan hal aneh pada Dawai tentang memilihnya menjadi kekasih, hingga membuat Dawai jadi sedikit waspada.
"Kenapa aku jadi kepikiran kata-kata Disa juga? Dia kenapa sih? Dia nggak mungkin suka sama aku kan?" Dawai benar-benar tak bisa memikirkan hal lain selain Rendra dan Disa. Dawai kembali mengacak rambutnya, lebih kasar dari sebelumnya.
"Kerja, kerja! Ayo, Dawai! Fokus!" kata Dawai sambil sesekali menampari pipinya sendiri agar segera kembali fokus pada apa yang sedang dia kerjakan.
Dawai memutar beberapa lagu untuk membantunya fokus bekerja. Meskipun begitu, sesekali kata-kata Rendra kembali tiba-tiba muncul dan mengganggu. Dan setiap kali itu terjadi, Dawai akan menampar pipinya sendiri.
Setelah hampir dua jam bergelut dengan pikirannya yang semrawut, pekerjaan Dawai akhirnya selesai. Dawai segera membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Rasanya, malam itu begitu melelahkan.
"Aku nggak pernah merasa secapek ini," gumam Dawai dengan mata terpejam.
Perlahan, Dawai melihat sesuatu di depan matanya. Sesosok pria dengan seragam SMA. Seketika mata Dawai terbuka.
'Nggak! Sepertinya ada yang salah dengan otak ku,'
***
"Hmmm..."
"Kenapa, Ma?" tanya Dawai pada mamanya yang sedari tadi memandangi dirinya.
"Enggak. Kayak ada yang beda aja. Tapi, apa?" kata Bu Diah, bingung sendiri.
"Eh? Make-up Dawai ketebelen? Atau baju?" tanya Dawai jadi salah tingkah. Bu Diah menggeleng.
"Bukan. Semuanya udah kayak biasanya. Cuma... gimana ya mama ngomongnya? Mmmm... Ah! Aura! Auranya beda aja gitu," kata Bu Diah mencoba menggambarkan apa yang dirasakan saat menatap puteri semata wayangnya pagi itu.
"Coba ayah liat," kata Pak Dedi sambil menatap puterinya dalam-dalam.
"Biasa aja ah, Ma," kata Pak Dedi.
"Ah, ayah mana ngerti," kata Bu Diah.
"Udaaah... Ayok sarapan dulu," kata Dawai yang sudah sangat lapar pagi itu. Bu Diah dan Pak Dedi segera patuh.
"Tumben Disa belum dateng?" tanya Pak Dedi.
"Dawai berangkat sendiri hari ini," kata Dawai sambil menggigit roti bakarnya.
"Kalian nggak berantem kan?" tanya Bu Diah khawatir. Dawai menggeleng sambil mengunyah.
"Disa nggak bisa anter hari ini. Ada urusan sama bosnya," kata Dawai
"Oooh... Kirain berantem," kata Bu Diah lega.
"Kek anak kecil aja, Ma," kata Dawai lalu meminum segelas susu di hadapannya. Pak Dedi dan Bu Diah tersenyum.
"Dawai berangkat dulu," pamit Dawai sambil menyalami kedua orang tuanya.
"Ati-ati," kata Pak Dedi dan Bu Diah bersamaan.
Dawai melajukan motor matic kesayangannya yang sudah lama tak ia kendarai ke sekolah. Pagi itu cerah. Untung saja Disa ada urusan pagi itu. Dawai sedang tak ingin bertemu Disa dengan pikirannya yang aneh. Disa pasti dapat dengan jelas membacanya.
Lampu lalu lintas menyala merah. Dawai berhenti di samping mobil sport mewah berwarna merah. Dawai tak begitu mempedulikannya.
"Morning, Miss," sapa sebuah suara dari arah samping kanan Dawai. Dawai menoleh.
'Rendra?! Naik mobil semewah ini ke sekolah?'
"See you at school, Miss," kata Rendra sambil tersenyum.
Dawai mengerutkan kedua alisnya. Mobil yang dinaiki Rendra berjalan perlahan saat lampu lalu lintas menyala hijau. Dawai pun perlahan mengendarai motornya. Di persimpangan lampu lalu lintas dekat sekolah selalu padat kendaraan di pagi hari.
Setelah berhasil menerobos padatnya jalanan, akhirnya Dawai tiba juga di area parkir guru sekolah. Sepertinya belum lama ini dirinya pergi ke sekolah naik motor, tapi entah mengapa hari ini sudah terasa melelahkan hanya dengan berangkat sekolah.
"Lhoh? Miss Dawai naik motor?" sebuah suara mengagetkan Dawai.
"Eh? Oh, Miss Irene," kata Dawai. Miss Irene tersenyum.
"Bukannya biasanya dianter sama cowoknya?" tanya Miss Irene sambil merapihkan rambutnya setelah melepas helm.
"Oh. Iya. Tukang ojeknya baru ada urusan di kantor," kata Dawai sambil juga merapikan rambutnya.
"Tukang ojek? Lucu, Miss. Masa' cowok sendiri dibilang tukang ojek?" komentar Miss Irene sambil terkekeh. Dawai meringis.
"Oh ya, terimakasih kemarin udah gantiin saya, Miss," kata Irene sambil berjalan perlahan menuju ruang guru.
"Eh? Oh, iya. Sama-sama, Miss. Saya juga jadi tambah pengalaman. Anak-anak yang di ekstra keren-keren ya? Wah! Saya sampe gugup sendiri," kata Dawai malu-malu.
"Mmm... Menurut Miss Dawai gitu?"
"Iya, Miss. Sandra yang biasanya di kelas biasa-biasa aja, aktif banget kemarin," kata Dawai. Miss Irene manggut-manggut.
"Mungkin karena setiap ektra saya selalu menekankan untuk bebas berekspresi dan bebas berpendapat, jadi mereka merasa lebih bebas. Ditambah lagi, materi yang di kegiatan ekstra biasanya lebih luas, bisa diskusi, bisa debat, bisa sharing experience, atau kadang main role play. Jadi, mungkin karena itu sih," kata Miss Irene menjelaskan. Dawai manggut-manggut.
"Saya jadi inget waktu di Harvard. Mirip-mirip gitu. Mereka udah pernah ikut kompetisi internasional, Miss?" tanya Dawai. Miss Irene mengangguk.
"English Debate for High Schools sama Story Telling. Waktu itu diadain di Singapore dan mereka berhasil dapet juara satu di dua kompetisi itu," kata Miss Irene.
"Wah! Keren!"
"Miss Dawai kalo mau ikut kegiatan ekstra boleh. Biar saya juga ada temennya," kata Miss Irene sambil tersenyum hangat.
"Oh? Boleh? Makasih, Miss. Dengan senang hati," kata Dawai sumringah. Miss Irene terlihat senang.
Saking asyiknya mengobrol dengan Miss Irene, Dawai sampai tak sadar kalau Rendra berdiri di persimpangan koridor menuju ruang guru dan kelas dua belas. Rendra mengamati Dawai yang terlihat begitu antusias saat mengobrol dengan Miss Irene. Mata Dawai yang berbinar dan senyumnya yang lepas membuat Rendra tak mampu mengalihkan pandangannya.
'Bisa nggak sih, dia nggak senyum-senyum sembarangan begitu?'
***
semngaatt ya thorrr