"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA TAK NAMPAK
Detak jam terasa berat di pendengaran Bara. Matanya kian lelah menatap istrinya yang akhirnya bisa tertidur pulas setelah beberapa kali masih kejang di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Suhu tubuhnya perlahan turun meski sesekali terdengar igauan dari bibirnya.
"Aira, kamu kenapa tiba-tiba begini lagi? " tanya Bara lirih.
Helaan nafasnya makin berat, ia tahu ini akan sulit bagi siapa saja yang mengalaminya.
TOKTOKTOK
CEKLEK
"Selamat Malam, Pak Bara."
Bara berdiri menyambut dokter yang merawat Aira selama proses penyembuhan di rumah sakit lalu.
"Malam, Dok. Jadi, kira-kira ini reaksi efek samping pengobatan atau bagaimana, Dok? Saya bingung. Siang tadi kami masih sempat telponan. Bahkan dia membantu ibu saya di dapur. Meski sekedarnya."
"Kita lihat besok ya, Pak. Demam itu reaksi tubuh melawan virus. Saya juga tidak menyangka istri Bapak demamnya tinggi sekali seperti tadi. Saya hanya berharap tidak ada reaksi lain."
"Setiap tubuh punya reaksi berbeda dalam proses penyembuhan. Dan banyak hal yang tidak bisa kita prediksi, Pak. Semoga saja, demamnya tadi bisa terkendali. Besok kita CT SCAN ulang."
Bara mengangguk, lalu menatap istrinya penuh harapan kesembuhan.
"Pak Bara, juga harus jaga kesehatan. Banyak berdoa. Proses penyembuhan itu akan butuh banyak tenaga, perhatian dan hati yang ikhlas. "
"In syaa Allah, Dok. Saya juga sedang mengusahakan semua itu. "
Dokter mengangguk, meneluk pundak Bara pelan dan keluar pergi dari ruangan.
***
"Bu, kenapa bisa kak Aira tiba-tiba kejang begitu?" tanya Puspa sambil menikmati makan malamnya di depan TV.
Norma yang serius menatap layar di depannya hanya mengendikkan bahu.
Puspa hanya diam. "Bu, Kak Aira siang tadi sempat tanya soal kak Intan. Apa ibu tahu sesuatu?"
Norma tiba-tiba menoleh pada Puspa.
" Jadi kamu yang cerita soal Intan?"
Puspa mengangguk polos.
" Ibu nggak kasih pesan apa-apa soalnya ke Puspa, jadi ya Puspa jawab aja kak Intan itu mantan pacar mas Bara. Memangnya kenapa Bu?"
"Intan memang ke sini siang tadi, bicara sama Ibu."
"HAH??! beneran Bu? Bicara apa? "
"Adalah pokoknya. Kamu jangan bilang ke Bara, ya, " ancam Norma.
Puspa hanya menghela nafas. Ia menyelesaikan makan malamnya dan berlalu ke kamar.
"Bu, Puspa antar barang mas Bara ya. "
Norma mengangguk. Punggung Puspa tak terlihat lagi dari pandangan.
"Hhh... semoga saja bukan karena ucapanku dia jadi begitu, " gumam Norma khawatir.
Dering ponsel mengejutkan Norma. Nama Mba Yu terlihat jelas dilayar.
"Assalamu'alaikum, Mba Yu. Ada apa?"
"Wa'alaikumsalam. Norma, gimana mantan Bara. Dia setuju dengan rencana mu? "
"Katanya masih mau pikir-pikir dulu, Mba. Aku lihat dia masih belum yakin. Ternyata Bara blokir nomernya makanya dia ragu. Mba Yu ada ide lain? "
"Apa di bikin mati sekalian aja si Aira? mumpung dia juga sakit jadi nggak bakal ketahuan kalau dia kena teluh, bagaimana? "
"Aduh Mba Yu, nggak berani aku sampai begitu. Biar dia mati karena penyakitnya sendiri aja. "
"Kelamaan, Norma. Kalau teluh nggak bakal berhari-hari. Asal kamu mau keluar uang lebih, pasti urusannya lebih cepat selesai."
"Jangan lah, Mba. Aku yang nggak hidup tenang nanti. Coba ide lain aja Mba. Lagian ini masuk rumah sakit lagi senja tadi si Aira. Aku juga sudah sempat menjelaskan pada Aira kalau ini rencana terbaik untuk semua. "
"Jadi kamu sudah cerita rencana mu sama dia? "
"Iya, mba. Mau gimana lagi. Dia tahu intan mantan pacarnya Bara jadi sekalian saja ku beri tahu dan pengaruhi pikirannya supaya dia mendukung. Mba tolong carikan yang lain ya, jaga-jaga kalau intan menolak."
"Ya sudah, nanti aku hubungi lagi. Assalamu'alaikum. "
"Wa'aiaikumsalam."
***
TOKTOKTOK
CEKLEK
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Masuk, De."
"Gimana kondisinya, Mas? "
"Alhamdulillah demamnya mulai turun, masih di observasi sampai besok."
"Kok bisa ya, Mas? Pagi tadi kelihatannya Kak Aira lebih segar. Siang juga sempat chat aku, nggak kelihatan bakal demam begini."
"Memang tidak bisa diprediksi kata dokter. Do'akan saja dia bisa pulih. Terima kasih ya dek, sudah antar barang buat, Mas."
Puspa mengangguk.
"Mas, aku kok curiga ya sama Ibu. Ibu kayaknya maksa banget mau carikan perempuan lain buat Mas."
"Maksudnya?"
"Iya, Mas kan dengar sendiri Ibu minta Mas ceraikan Kak Aira. Apalagi beberapa kali aku sempat dengar ibu telponan sama bulek. Biasanya bulek suka kasih saran yang aneh-aneh kan? "
Bara tertegun.
'Apa mungkin ibu bicara sesuatu pada Aira jadi memicu demamnya tinggi tadi?' batin Bara.
"Tapi Mas langsung tolak permintaan ibu waktu itu Dek. Rasanya, ibu nggak mungkin berencana diam-diam."
Puspa hanya diam, dia hanya berusaha memberi petunjuk, tak berani memberi tahu langsung soal kedatangan Intan ke rumah mereka. Ia khawatir kakaknya makin stress kalau tahu soal itu.
"Pokoknya, Mas hati-hati aja ya. Ya sudah, Puspa pamit dulu ya, Mas. Lagi banyak tugas kuliah."
Bara mengangguk. Puspa menatap Aira sebentar lalu berbalik pergi.
KEESOKAN HARINYA
Bara terbangun mendengar suara adzan Subuh dari masjid rumah sakit. Ia bangkit menuju kamar mandi. Menggelar sajadah dan memulai shalat.
Di tengah kekhusyuannya sholat. Aira mengerjap mata perlahan. Melihat langit-langit rumah sakit yang putih.
Ia mencoba bangun, lalu duduk bersandar di brankar. Aira menatap lama orang yang sedang sholat di Sampingnya. Tatapan bingung dan heran.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi, Assalamu'alaikum warahmatullah. "
Bara tersenyum menatap Aira, "Alhamdulillah, " ucapnya lirih.
"Mas," panggil Aira.
"Iya, ada apa? Mau minum? lapar? "
"Mas...siapa? "
Senyuman Bara menghilang dalam sekejap.
"Subhanallah...Yaa Allah.., " gumamnya lirih.
Hati Bara terasa mencelos mendengar pertanyaan dari bibir Aira.
"Aira.. ini Mas Bara. Suamimu."
"Suami?? Kapan menikahnya?" tanya Aira dengan wajah bingung.
Bara berdiri lalu menekan bel memanggil perawat.
TOKTOKTOK
CEKLEK
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya perawat yang datang.
"Suster, istri Saya tidak mengenali Saya."
Wajah Bara nampak pucat, begitu juga dengan perawat di sampingnya.
"Saya coba periksa istri Bapak dulu ya, Bapak tenang saya segera informasi kan ke dokter Faisal."
Perawat itu berlalu, setelah menutup pintu.
"Mas punya bukti Saya istri Mas?" tanya Aira memecah lamunan Bara.
Bara mengambil ponsel di atas nakas. Membuka galeri dan memperlihatkan foto pernikahan mereka.
Wajah Aira nampak bingung dan seketika merasa canggung.
"Oh, maaf," katanya.
Nada bicaranya tetap merasa tak yakin seperti mereka adalah orang asing.
"Kamu masih belum percaya? "
Aira terdiam, dia khawatir menyinggung pria yang mengaku suaminya itu.
"Kenapa saya di sini? Saya sakit apa? "
Ia mencoba mengalihkan pertanyaan.
TOKTOKTOK
CEKLEK
"Saya periksa dulu tekanannya, ya Bu."
Bara bergeser memberi ruang perawat bekerja. Wajahnya nampak sedih dan juga... kecewa.
Aira melirik sesekali pada Bara. Seperti takut dengan pria di hadapannya.
Ia mencodongkan tubuhnya mendekat pada perawat.
"Mbak, apa betul saya istri Mas itu? " tanyanya curiga.
Perawat itu kikuk, lalu melirik pada Bara. Dan menatap Aira.
"Eeeh.. sepertinya iya Bu."
Bara menatap perawat dengan tatapan kesal.