"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Siang hari, pukul 13.30 WIB.
Disa turun dari taksi di depan gedung perkantoran megah tempatnya bekerja. Napasnya masih sedikit memburu sisa ketegangan di kontrakan tadi, tapi wajahnya sangat tenang. Ia merapikan blazernya, memastikan tidak ada satu pun helai rambut yang berantakan. Ia baru saja meninggalkan "medan perang"
di rumah kontrakannya dan kini ia harus masuk ke "medan tempur" profesional.
Begitu melangkah masuk ke lobi, ia berpapasan dengan Rio yang tampak sedang terburu-buru membawa tumpukan dokumen.
"Dis! Untung kamu sudah balik," seru Rio sambil menahan pintu lift untuk Disa. "Pak Heru sudah di ruang rapat. Klien dari Artha Logistik sudah datang. Ini meeting besar, Dis. Proyek audit forensik untuk seluruh cabang mereka di Indonesia."
Disa mengangguk mantap. Ia mengambil alih satu map dari tangan Rio. "Aku siap, Yo. Data perbandingannya sudah aku hafal di luar kepala."
Rio menatap Disa dengan kagum. "Kamu hebat, Dis. Baru tadi siang kamu izin urusan keluarga yang kelihatannya berat banget, sekarang kamu sudah bisa langsung switch ke mode kerja. Kalau aku jadi kamu, mungkin sudah pusing tujuh keliling."
"Hidup nggak kasih aku pilihan buat pusing, Yo," jawab Disa pendek saat pintu lift terbuka.
Ruang Rapat Utama, 14.00 WIB.
Suasana di dalam ruang rapat sangat formal. Pak Heru duduk di kepala meja, didampingi oleh direksi dari Artha Logistik. Mereka sedang mencari kebocoran dana yang mencapai miliaran rupiah yang selama ini gagal dideteksi oleh auditor internal mereka.
"Jadi, apa tawaran dari firma Anda yang berbeda dari firma lain?" tanya Direktur Utama klien tersebut dengan nada skeptis.
Pak Heru melirik Disa, memberinya kode untuk bicara.
Disa langsung berdiri dan membuka presentasi digitalnya dengan gerakan tenang. "Kami tidak hanya melihat angka yang tertera di laporan, Bapak-bapak. Kami melihat pola perilaku. Kebocoran dana di perusahaan sebesar Artha Logistik jarang terjadi karena kesalahan sistem, tapi karena 'loyalitas yang salah' dari oknum di dalamnya."
Selama dua jam berikutnya, Disa memukau semua orang di ruangan itu. Ia memaparkan temuannya soal manipulasi invoice dan skema "perusahaan bayangan" yang digunakan vendor untuk menguras anggaran perusahaan.
Suaranya lantang, logikanya tajam, dan argumennya tidak terbantahkan.
Direktur Artha Logistik itu tampak manggut-manggut puas. "Luar biasa nona, saya kagum dengan ketelitian Anda... saya jarang melihat auditor setajam ini."
"Itu karena saya tahu rasanya dikhianati oleh sebuah sistem yang terlihat rapi di permukaan, Pak," jawab Disa dengan makna ganda yang hanya ia dan Tuhan dan Disa yang tahu.
Ruang Kerja Pak Heru, 16.30 WIB.
Setelah rapat selesai dan klien pulang dengan wajah puas, Pak Heru memanggil Disa ke ruangannya. Suasana di sana lebih santai, tapi tetap profesional. Pak Heru menuangkan teh hangat untuk Disa.
"Disa, saya bangga sekali hari ini. Kamu benar-benar kembali dengan kekuatan penuh bahkan bisa dikatakan lebih," ujar Pak Heru tulus.
"Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya."
"Tidak, ini lebih dari sekadar tugas. Kamu baru saja memenangkan kontrak terbesar tahun ini untuk firma kita. Dan saya tahu, kamu sedang dalam masa sulit di rumah, meskipun kamu tidak pernah mengeluh," Pak Heru terdiam
sejenak, lalu ia mengambil sebuah kotak kecil dari laci mejanya dan meletakkan sebuah kunci di atas meja.
Disa mengernyitkan dahi. Di kunci itu ada logo otomotif ternama.
"Ini apa, Pak?"
"Itu kunci mobil operasional, Dis. Tapi saya sudah bicarakan dengan bagian keuangan, jika proyek Artha Logistik ini selesai dalam tiga bulan dengan hasil memuaskan, mobil itu akan menjadi hak milikmu sepenuhnya sebagai bonus prestasi. Saya tidak mau auditor terbaik saya harus berdesakan di bus atau kehujanan di jalan setiap hari. Kamu butuh mobilitas, dan kamu butuh kenyamanan."
Jantung Disa berdegup kencang. Sebuah mobil. Fasilitas yang bahkan Abdi tidak pernah mau usahakan untuknya. Selama ini, Abdi lebih memilih mencicil mobil untuk Amel daripada memikirkan bagaimana Disa harus membawa belanjaan berat atau menjemput Fikri dengan angkutan umum yang tidak layak.
"Pak... ini terlalu berlebihan," bisik Disa.
"Tidak, Dis. Ini adalah nilai dari profesionalisme kamu. Orang yang bekerja keras layak mendapatkan apresiasi yang setara. Ambil kuncinya, mobilnya ada di parkiran B2 nomor 15. Pakailah mulai hari ini," Pak Heru tersenyum kebapakan.
Disa memegang kunci itu, tangannya terasa dingin, tapi hatinya terasa hangat.
Ini bukan sekadar mobil, ini adalah bukti bahwa dia berharga. Dia bukan "beban" seperti yang selalu dikatakan ibu mertuanya. Dia adalah wanita berprestasi yang dihargai oleh dunia luar.
Parkiran B2, 17.30 WIB.
Disa berdiri di depan sebuah mobil SUV putih yang masih mengkilap. Ia masuk ke dalamnya, menghirup aroma mobil baru yang sangat khas. Ia duduk di kursi kemudi, memegang setir, dan air matanya jatuh satu per satu.
Ia menangis bukan karena sedih, tapi karena lega.
"Lihat, Fikri... Bunda bisa berdiri di kaki Bunda." batinnya. "Kita nggak butuh uang haram Ayahmu untuk hidup layak, tapi Bunda akan membalas semuanya terlebih dahulu." Batin Disa lagi.
Disa langsung masuk kedalam mobilnya dan segera menyalakan mesin dan meluncur keluar dari gedung kantor. Tujuannya satu: Pulang. Tapi bukan sebagai Disa yang kuyu, melainkan Disa yang baru saja mendapatkan "senjata" tambahan untuk menghadapi Abdi.
Disa memang sudah tahu menyetir mobik karena orang tua Disa di kampung memang punya mobil walaupun mobil jaman dulu.
Kontrakan Asri, 18.30 WIB.
Abdi sedang duduk di teras dengan wajah kusut saat sebuah mobil putih mewah masuk ke halaman kontrakan yang sempit itu. Ia mengernyitkan dahi, mengira itu adalah tamu pemilik kontrakan.
Namun, matanya hampir keluar dari kelopak saat melihat Disa keluar dari pintu kemudi. Disa turun dengan anggun, menenteng tas kerjanya, dan mengunci mobil itu dengan bunyi pip-pip yang sangat elegan.
Abdi berdiri dengan lutut gemetar. "Dis? Mobil siapa ini? Kamu... kamu pinjam mobil siapa?"
Disa berjalan melewati Abdi begitu saja menuju pintu rumah. "Ini mobilku, Mas. Fasilitas dari kantor karena aku berhasil menangani proyek besar hari ini."
"Fasilitas?! Kantor auditor mana yang kasih mobil ke karyawan baru sepertimu?!" Abdi berteriak, suaranya mengandung rasa iri yang sangat kental. Ia sendiri, meski sudah jadi Manager bertahun-tahun, mobil operasionalnya pun tidak semewah ini.
Disa berhenti di ambang pintu, ia berbalik dan menatap Abdi dengan senyum kemenangan. "Kantor yang menghargai kinerja, Mas. Bukan kantor yang sibuk menutupi penggelapan dana pegawainya. Oh ya, Mas... besok nggak usah nawarin aku lagi buat ikut motor buntut kamu itu ya, Aku sudah punya kenyamananku sendiri."
Disa masuk ke dalam rumah, meninggalkan Abdi yang terpaku menatap mobil putih itu di bawah temaram lampu jalan. Abdi merasa dunianya benar-benar sudah terbalik. Istrinya yang dulu ia remehkan, kini sudah terbang jauh lebih tinggi darinya hanya dalam hitungan hari.
Malam itu, Abdi tidak bisa berhenti menatap mobil itu dari balik jendela. Ia merasa sangat kecil. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, telepon dari Amel.
"Mas! Mobilku ditarik leasing sore tadi karena belum bayar angsuran bulan ini! Mas kok nggak transfer sih?! Mbak Disa beneran blokir rekening Mas?!"
Abdi mematikan ponselnya. Ia menatap pintu kamar Disa yang tertutup rapat. Ia sadar, kejatuhannya baru saja dimulai.