NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 1 - MONSTER BERWAJAH MANUSIA

Hujan turun deras.

Air bercampur darah mengalir di jalanan batu yang retak. Bau besi dan daging terbakar memenuhi udara. Di antara reruntuhan bangunan yang masih membara, mayat mayat berserakan. Tentara. Warga sipil. Anak kecil. Tidak ada yang tersisa utuh.

Dan di tengah semua itu, berdiri seorang pria muda berambut abu dengan mata yang menyala emas.

Ash.

Atau setidaknya, itulah nama yang dulu ia pakai.

Sekarang, yang tersisa hanya monster.

"Hah... hah..."

Napasnya memburu. Uap keluar dari mulutnya meski udara tidak sedingin itu. Tubuhnya dipenuhi luka. Potongan dalam di lengan kanan. Tusukan di perut. Kulit yang terbakar di punggung. Tapi semua luka itu menutup. Perlahan. Daging tumbuh kembali. Kulit menyatu. Seperti tidak pernah terluka sejak awal.

Regenerasi.

Kutukan yang membuatnya tidak bisa mati.

Di tangannya, masih ada sisa sisa cahaya emas yang perlahan memudar. Aura Uroboros. Kekuatan yang bukan miliknya. Kekuatan yang perlahan menggerogoti kemanusiaannya setiap kali ia membiarkannya keluar.

Dan kali ini, ia membiarkannya meledak tanpa kontrol.

"Ash..."

Suara itu lemah. Gemetar. Datang dari belakangnya.

Ash tidak menoleh. Ia tahu siapa yang bicara. Ia tahu suara itu. Suara yang dulu selalu memanggilnya dengan nada datar, kini penuh dengan ketakutan.

"Ash, hentikan..."

Eveline.

Wanita berambut silver itu berdiri di kejauhan, pedang kembarnya masih terhunus meski tangannya gemetar. Matanya yang biasanya kosong kini penuh dengan emosi yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Takut. Sedih. Putus asa.

"Kau... kau sudah membunuh mereka semua."

Ash akhirnya menoleh. Perlahan. Matanya yang bercahaya emas menatap Eveline tanpa ekspresi. Wajahnya datar. Dingin. Seperti tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya.

"Dan?" suaranya serak. Rendah. Bukan lagi suara Ash yang biasa bercanda. Bukan lagi suara pria yang suka melempar jokes absurd di tengah situasi serius.

Ini suara orang lain.

Atau sesuatu yang lain.

Eveline melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Pedangnya turun perlahan, tidak lagi dalam posisi siaga. Air mata mulai mengalir di pipinya meski wajahnya tetap berusaha terlihat tenang.

"Kau berjanji," bisiknya. "Kau berjanji tidak akan kehilangan kendali lagi."

Ash terdiam. Mata emasnya berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti ada sesuatu yang berjuang di dalam sana. Sesuatu yang mencoba keluar. Mencoba melawan.

Tapi kemudian, cahaya emas itu menyala lagi. Lebih terang. Lebih berbahaya.

Dan Ash tersenyum.

Senyum tanpa kehangatan. Senyum yang membuat Eveline mundur selangkah.

"Janji?" Ash tertawa pelan. Suaranya bergema aneh, seperti ada dua suara yang tumpang tindih. "Aku tidak ingat pernah berjanji apapun."

"Bohong." Eveline menggeleng cepat. "Kau... kau masih di sana. Aku tahu kau masih di sana, Ash. Lawan dia. Lawan Uroboros. Seperti yang selalu kau lakukan."

Ash menatapnya lama. Terlalu lama. Lalu ia mulai berjalan. Perlahan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya emas di tanah basah.

Eveline tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Meski setiap insting dalam dirinya berteriak untuk lari, ia tetap berdiri di sana. Menunggu. Berharap.

Berharap pria yang ia kenal masih ada di balik mata emas itu.

Ash berhenti tepat di depannya. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Cukup dekat untuk Eveline merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Ash. Cukup dekat untuk melihat simbol aneh yang muncul di iris matanya. Simbol ular memakan ekornya sendiri.

Uroboros.

"Kau tahu apa masalahmu, Eveline?" bisik Ash, suaranya lembut tapi mematikan. "Kau terlalu percaya pada hal yang sudah mati."

"Kau tidak mati." Eveline menggeleng lagi, lebih keras. Tangannya terangkat, memegang lengan Ash yang penuh darah. "Kau masih hidup. Kau masih Ash. Kau—"

"AKU BUKAN ASH LAGI!"

Teriakan itu keras. Menggema. Membuat Eveline tersentak mundur. Cahaya emas meledak dari tubuh Ash, mendorong semua orang di sekitarnya terpental. Eveline terjatuh, punggungnya membentur reruntuhan dinding.

Ash berdiri di tengah ledakan cahaya itu. Rambutnya berkibar meski tidak ada angin. Matanya menyala lebih terang. Dan di belakangnya, bayangan samar sesuatu yang besar mulai terbentuk. Bentuk ular raksasa. Bentuk monster kosmik yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini.

"Aku adalah Uroboros," lanjut Ash dengan suara yang semakin terdistorsi. "Mahluk pertama. Yang ada sebelum semua ini. Dan aku akan—"

THUD.

Suara benda berat jatuh.

Ash terdiam. Cahaya emas di matanya berkedip. Tidak stabil.

Eveline, yang masih tergeletak, menatap dengan mata membelalak.

Karena di samping Ash, berdiri seseorang. Atau sesuatu. Wanita tinggi berambut hitam kecoklatan dengan senyum lebar yang tidak pantas di situasi seperti ini.

Morgana.

Dan tangannya memegang kepala Ash. Erat. Seperti memegang bola basket.

"Sudah cukup, bocah," ucap Morgana dengan nada santai. Terlalu santai untuk situasi ini. "Nivraeth bosan melihat pertunjukan dramamu."

Ash mencoba bergerak. Mencoba menyerang. Tapi tubuhnya tidak bisa. Seperti dibekukan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat darinya.

Morgana memiringkan kepala, senyumnya melebar. "Oh, kau mau melawan? Lucu. Sangat lucu. Tapi sayangnya..."

Cahaya gelap muncul dari tangan Morgana. Bukan cahaya emas seperti Ash. Ini cahaya hitam pekat yang menyerap semua warna di sekitarnya. Dan dalam sekejap, cahaya itu merayap ke tubuh Ash, menelan cahaya emas yang ada.

Ash berteriak. Tubuhnya kejang. Mata emasnya berkedip cepat antara emas dan normal. Antara Uroboros dan Ash.

"Tidur, bocah," bisik Morgana. "Atau Nivraeth akan memakan jiwamu."

Dan seperti boneka yang putus tali, Ash jatuh. Tidak sadarkan diri. Cahaya emas di matanya padam total.

Morgana melepaskan genggamannya, membiarkan Ash tergeletak di tanah berdarah. Ia menatap tubuh itu sejenak dengan ekspresi yang tidak terbaca. Lalu ia menghela napas panjang.

"Dasar bocah merepotkan."

Eveline, yang masih syok, akhirnya bergerak. Ia merangkak mendekat, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Ash yang sudah tidak sadarkan diri.

"Dia... dia masih hidup?" tanya Eveline dengan suara parau.

"Tentu saja." Morgana berbalik, menatap kehancuran di sekitar mereka dengan tatapan bosan. "Bocah ini tidak bisa mati meski Nivraeth coba. Regenerasinya menyebalkan."

"Lalu... kenapa kau—"

"Menghentikannya?" Morgana mengangkat bahu. "Karena Nivraeth tidak suka pertunjukan berlebihan. Dan..." ia melirik Eveline dengan senyum tipis, "...karena kau menangis. Nivraeth tidak suka melihat serangga menangis. Itu... mengganggu."

Eveline terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

Morgana berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua di tengah reruntuhan. Tapi sebelum menghilang di balik kabut dan hujan, ia berhenti dan menoleh.

"Oh, dan Eveline?" suaranya terdengar lagi, kali ini lebih serius. "Jika bocah itu kehilangan kendali lagi... jangan harap Nivraeth akan menyelamatkannya."

Lalu ia menghilang.

Eveline memeluk tubuh Ash yang tidak sadarkan diri. Air mata terus mengalir. Hujan semakin deras. Dan di kejauhan, suara langkah kaki tentara mulai terdengar mendekat.

Mereka harus pergi.

Tapi untuk sekarang, Eveline hanya ingin memeluk pria ini sebentar saja. Pria yang perlahan berubah menjadi monster. Pria yang bahkan tidak ingat siapa dirinya lagi.

Pria yang dulunya selalu tertawa dan bercanda bodoh.

"Kembali," bisik Eveline pelan. "Kumohon... kembali, Ash."

Tapi tidak ada jawaban.

Hanya hujan.

Dan darah yang terus mengalir.

 

**Semuanya dimulai tiga bulan yang lalu.**

**Di hutan yang sama.**

**Tapi dengan cerita yang jauh berbeda.**

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!