NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08.SANDIWARA DI PASAR OVELIA

Pagi itu, Kota Ovelia tidak seperti biasanya. Udara terasa lebih berat, seolah-olah setiap molekul oksigen di sudut jalan memiliki mata dan telinga yang siap melapor ke Ibukota.

Arka melangkah keluar dari penginapan murahnya dengan gaya khas yang mengundang iba: kemeja kain kasar cokelat yang kancingnya meleset satu lubang, celana kusam setelan pemula paling murah yang pernah ada, dan wajah yang tampak sangat menderita akibat kurang asupan kopi.

​"Ayo, anak-anak. Hari ini tidak ada latihan yang mematahkan tulang. Kita butuh sayuran layu dan daging murah untuk bekal perjalanan jauh," gumam Arka sambil menguap lebar hingga rahangnya berbunyi krak.

Di belakangnya, Jiro, Kael, dan Elara mengikuti dengan langkah ragu. Mereka sudah mulai terbiasa dengan latihan kejam di hutan atau tempat latihan pribadi Ketua Guild Baros, namun berbelanja di pasar bersama Guru mereka sering kali terasa lebih melelahkan secara mental daripada melawan sepuluh serigala bayangan

"Guru, kenapa kita tidak membawa senjata sama sekali?" bisik Kael, berkali-kali melirik pinggangnya yang terasa kosong dan ringan tanpa busur angin kesayangannya.

"Senjata itu berat, Kael. Lagipula, kita ini hanyalah petualang miskin yang kebetulan sedang beruntung, ingat?" Arka menjawab tanpa menoleh, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar. "Membawa pusaka Obsidian ke pasar hanya akan mengundang lalat dan pencopet. Pakailah wajah bodoh kalian, itu pertahanan terbaik yang pernah diciptakan."

...

Saat mereka memasuki area pasar yang riuh oleh teriakan pedagang, Arka segera merasakan distorsi halus dalam aliran udara. Bukan hanya satu, tapi tiga orang dengan aura yang ditekan secara ekstrem bergerak dengan sinkronisasi sempurna di antara kerumunan pedagang kain dan penjual ikan.

Mata-mata Ibukota, ya? pikir Arka sambil menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat. Zenos benar-benar tidak sabaran, atau mungkin orang-orang di istana memang sedang ketakutan setengah mati.

Seorang pria berpakaian pedagang buah memperhatikan mereka dari balik tumpukan jeruk. Ia memegang sebuah kristal kecil di telapak tangannya, sebuah artefak pendeteksi mana tingkat tinggi yang sangat mahal. Di mata kristal itu, Arka hanyalah titik abu-abu yang redup dan tidak berarti, sementara ketiga muridnya terlihat memiliki mana yang sedikit lebih tinggi dari warga sipil biasa, namun masih jauh di bawah standar seorang ksatria rendahan.

Arka mendadak tersandung kakinya sendiri saat melewati tumpukan tomat yang sedikit busuk. "Aduh! Siapa yang berani-beraninya menaruh jalan di bawah kakiku?!" teriak Arka konyol sambil jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak estetik.

Jiro dan Kael segera membantu gurunya berdiri dengan wajah malu yang sangat natural. "Guru, tolong perhatikan langkahmu! Malu dilihat orang!" keluh Jiro, yang sebenarnya harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya agar tidak tertawa melihat akting gurunya yang terlalu totalitas hingga hidungnya terkena debu.

Di sudut pasar, mata-mata itu membisikkan sesuatu ke cincin komunikasinya dengan nada meremehkan. "Laporan lapangan: Target utama, Arka, dipastikan tidak memiliki koordinasi motorik yang baik. Ia bahkan tidak bisa menghindari lubang di jalan. Murid-muridnya terlihat seperti amatir yang malang dan canggung. Kemungkinan besar laporan Zenos tentang 'aura di hutan' hanyalah halusinasi akibat kelelahan atau racun hutan. Mereka benar-benar hanya orang-orang beruntung yang menemukan bangkai monster yang sudah mati."

Arka mendengar bisikan itu lewat frekuensi getaran udara yang ia tangkap dengan indra Void-nya. Ia menyeringai dalam hati sambil membersihkan debu di celananya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. Bagus. Makanlah umpan itu sampai kalian kenyang, wahai para tikus istana.

...

Sore harinya, setelah memastikan para pengintai itu kehilangan jejak mereka di labirin gang sempit Ovelia, Arka menyelinap sendirian ke kantor Baros. Ia tidak mengetuk pintu, ia muncul begitu saja di depan meja Baros seolah-olah ia terlahir dari bayangan, membuat sang Ketua Guild hampir terjungkal dari kursinya dan menjatuhkan cangkir teh mahalnya.

"Arka! Demi dewa-dewa kuno, kau akan membuatku jantungan suatu hari nanti!" bentak Baros sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.

"Simpan amarahmu untuk para birokrat istana, Pak Tua. Aku butuh bantuanmu," Arka duduk di kursi dengan kaki diangkat ke atas meja Baros yang rapi. "Aku butuh tiga set senjata standar. Yang paling jelek, kalau bisa. Pedang besi yang hampir berkarat, busur kayu yang talinya sudah mulai berserat, dan staf kayu tanpa permata mana yang tampak seperti kayu bakar."

Baros mengerutkan kening, wajahnya penuh kebingungan. "Untuk apa? Senjata yang kau berikan pada mereka... Obsidian dan Giok itu... itu adalah harta nasional jika sampai ada yang tahu. Kenapa kau malah ingin sampah dari gudang pembuanganku?"

"Justru karena itu," suara Arka mendadak berubah serius, dingin, dan tajam, meskipun matanya tetap terlihat mengantuk. "Senjata pemberianku memancarkan aura yang terlalu 'bersih'. Jika para Ksatria Suci di Ibukota melihatnya, mereka akan langsung tahu dalam sekejap bahwa itu bukan buatan pandai besi manusia zaman ini."

Arka mengetuk meja Baros dengan ritme yang pelan namun mengintimidasi. "Aku ingin mereka menjalani ujian menggunakan senjata rongsokanmu. Aku ingin para ksatria sombong itu melihat murid-muridku sebagai 'petualang miskin yang nekat'. Dengan begitu, saat mereka menang nanti, tidak akan ada alasan bagi Kerajaan untuk menyita senjata asli mereka atau menuduh kami menggunakan artefak ilegal."

Baros terdiam cukup lama, menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu ia tertawa getir. "Kau benar-benar licik, Arka. Kau ingin menghancurkan harga diri mereka dengan cara yang paling menyakitkan, dikalahkan oleh besi tua."

"Bukan menghancurkan, Baros. Hanya memberi sedikit pelajaran tentang kerendahan hati yang sudah lama mereka lupakan," Arka bangkit berdiri. "Kirim senjata-senjata rongsokan itu ke penginapan kami malam ini. Dan pastikan mata-mata di luar sana melihat pengirimannya sebagai 'bantuan amal' dari Guild karena kita terlalu miskin untuk membeli perlengkapan baru."

Malam itu, di bawah rembulan Ovelia yang pucat, tiga set senjata tua tiba di penginapan mereka dalam sebuah kotak kayu yang berderit. Jiro menatap pedang besi yang tumpul dan penuh goresan itu dengan heran, sementara Kael menyentuh busur kayu yang terasa kasar dan rapuh di tangannya.

"Guru... kita benar-benar akan menggunakan sampah ini untuk ujian di Markas Ksatria Kerajaan?" tanya Elara ragu, sambil memandangi staf kayunya yang bahkan tidak memiliki kristal fokus.

Arka, yang sedang berbaring santai di atas atap penginapan sambil menatap bintang-bintang, menjawab tanpa menoleh ke arah mereka. "Senjata bagus bisa membuatmu kuat, tapi senjata rongsokan akan membuatmu menjadi ahli yang sesungguhnya. Jika kalian bisa menang dengan besi tua itu, maka dunia tidak akan punya alasan lagi untuk meragukan bahwa kekuatan itu murni milik kalian."

Arka menutup matanya, merasakan kehadiran aura suci Sir Gareth yang mulai mendekati gerbang kota. Besok, drama yang sebenarnya dimulai. Kuharap kalian siap tertawa, anak-anak."

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!