Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Auditor sejati
Sebelum makan siang yang presisi itu, Gavin benar-benar menjelma menjadi robot pembersih tercanggih. Aruna dilarang keras menyentuh wastafel. Bahkan, saat Aruna mau mengambil minum sendiri, Gavin langsung sigap berdiri.
"Tetap di posisi, Runa. Biar Saya yang melakukan distribusi air minum. Kamu fokus pada stabilisasi otot saja," ujar Gavin sambil membawakan segelas air dengan suhu tepat dua puluh lima derajat celsius.
Setelah makan, Gavin benar-benar menjalankan "SOP Suami Siaga". Aruna dilarang keras menyentuh wastafel. Sambil menonton televisi. Aruna melihat Gavin mondar mandir dengan kain lap microfiber, memastikan tidak ada sidik jari di permukaan meja dapur. Benar-benar seperti tinggal dengan asisten pribadi merangkap manager hotel bintang lima.
Malam pun tiba. Aruna sudah berganti pakaian dengan piyama sutra yang nyaman, bersiap untuk masuk ke alam mimpi karena badannya masih terasa agak pegal. Namun, saat ia baru saja akan menarik selimut, ia melihat Gavin masuk ke kamar demgan aura yang berbeda.
Gavin tidak membawa tablet atau penggaris. Ia berjalan pelan, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram.
"Wah, tumben lampunya langsung dimatiin, Mas? Biasanya masih mau audit jadwal buat besok?" tanya Aruna.
Gavin duduk di tepi ranjang, menatap Aruna intens, "Jadwal sudah finalisasi tadi sore, Runa. Malam ini agenda tunggal Saya adalah... menindaklanjuti kesuksesan merger kita semalam."
Aruna tertawa kecil sambil narik selimut sampai dagu. "Lho, bukannya tadi pagi ada laporan kalau kondisi fisik saya masih dalam tahap pemulihan, Bapak auditor?"
Gavin mendekat, suaranya merendah dan lembut. "Saya sudah melakukan evaluasi sepanjang hari. Melihat cara jalan kamu tadi sore yang sudah kembali simetris dan nafsu makan kamu yang mencapai seratus persen, Saya menyimpulkan bahwa subjek... maksud saya, isteri saya... sudah siap untuk ronde berikutnya."
"Pinter banget ya, cari alasanya. Tapi Mas, jangan kayak semalam ya? Masih ada sedikit rasa kagetnya nih." kata Aruna.
Gavin mengambil tangan Aruna, mengecup punggung tangannya. "Saya sudah melakukan riset tambahan tentang teknik.. ehm.. kenyamanan tingkat tinggi. Saya janji, malam ini prosedurnya akan jauh lebih lembut. Tidak ada paksaan, hanya sinkronisasi hati."
Gavin perlahan mendekat. Aruna bisa merasakan deru napas yang tidak lagi setegang semalam. Kali ini, sang auditor tampak lebih menikmati proses tanpa sibuk memikirkan "durasi optimal".
"Runa, kamu tahu? Di kantor m, Saya paling benci dengan ketidakpastian. Tapi saat bersama kamu... saya sadar bahwa perasaan yang meluap-luap ini adalah satu-satunya hal yang tidak perlu saya audit kebenarannya." ujar Gavin.
Aruna melingkarkan tangannya di leher Gavin, "Gombalan kamu makin lancar ya, Mas. Tapi aku suka. Malam ini, lupain dulu semua tabel excel itu ya?"
"Sudah saya hapus sementara dari memori jangka pendek saya. Malam ini hanya ada kamu dan saya. Tanpa interupsi keluarga, tanpa gangguan suara motor, dan tanpa hitungan kalori." kata Gavin.
Percakapan mereka berubah menjadi bisikan-bisikan manis. Gavin memperlakukan Aruna dengan sangat hati-hati, seolah Aruna adalah barang pecah belah paling berharga yang pernah ia miliki. Rasa sakit yang ditakutkan Aruna perlahan sirna, digantikan oleh kehangatan yang membuat mereka benar-benar menyatu sebagai pasangan suami isteri yang sah.
Beberapa waktu kemudian, di tengah keheningan kamar yang tenang, Gavin memeluk Aruna dari belakang, menyelimuti mereka berdua dengan erat.
"Runa...?" panggil Gavin.
Aruna yang sudah hampir terlelap, "Hmm? Apa lagi, Mas? Jangan bilang mau nanya soal kalori yang terbakar barusan?"
Gavin terkekeh pelan, "Bukan. Saya cuma mau bilang... hasil audit malam ini menunjukkan tingkat kebahagiaan saya melampaui batas maksimal. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya."
"Sama-sama, Mas... Tidur yuk, besok katanya mau sidak minimarket jam delapan pagi?" kata Aruna.
"Melihat kondisi kita sekarang... saya rasa sidak minimarket.bisa diundur ke jam sepuluh. Kita butuh waktu tambahan untuk... 'sinkronisasi' di bawah selimut sedikit lebih lama pagi besok." kata Gavin.
Aruna tersenyum dalam tidurnya. Ternyata, sekaku-kakunya seorang Gavin, kalau sudah urusan cinta, dia bisa juga melakukan "improvisasi" di luar SOP.
Keesokan paginya, sinar matahari sudah masuk dengan beraninya lewat celah gorden saat Aruna menggeliat bangun. Ia melirik jam dinding dan langsung melotot. Pukul 09.30 pagi!
Di sampingnya, Gavin tiba-tiba terduduk seolah ada alarm bahaya di di otaknya. Ia menatap jam tangannya, lalu menatap langit-langit dengan wajah pucat.
"Astaga! Runa! Ini adalah malapetaka manajemen waktu! Kita terlambat sembilan puluh menit dari jadwal sidak minimarket!" kata Gavin panik.
Aruna yang masih ngantuk, "Aduh, Mas... cuma telat sejam lebih doang. Minimarketnya juga nggak bakal lari."
Gavin langsung lompat dari kasur. "Kamu tidak mengerti, Runa! Jam segini adalah waktu puncak ibu-ibu kompleks belanja sayur. Oksigen di dalam toko pasti sudah berkurang, dan antrean di kasir akan mengalami penumpukkan linear! Cepat, kita harus melakukan persiapan kilat!"
Gavin lari ke kamar mandi secepat kilat. Hanya dalam sepuluh menit, dia sudah rapi, wangi, dan sudah memegang catatan belanjaan digitalnya. Aruna yang masih cuci muka dipaksa buru-buru sampai hampir salah pakai sendal.
Begitu mereka mengeluarkan mobil dan hendak memacu gas, sesosok bayangan daster warna fuchsia menghadang di depan gerbang. Siapa lagi kalau bukan bu Tejo.
"Walah, pengantin baru baru keluar sarang jam segini? pasti semalam lemburnya sampai subuh ya? Hahaha!" seru Bu Tejo.
Gavin menurunkan kaca mobil, wajahnya tegang. "Selamat pagi, Bu Tejo. Maaf kami sedang dalam misi pengejaran waktu yang kritis. Ada yang bisa dibantu dengan cepat?"
"Aduh, Mas Gavin. Kaku amat kayak kanebo kering. Ini lho, mumpung kalian mau ke depan, saya titip dong! Tolong beliin santan instant tiga bungkus sama terasi udang yang bungkusan warna merah. Jangan salah ya, yang merah!" kata Bu Tejo.
Gavin mengerutkan kening, "Terasi? Apakah ada spesifikasi merk atau berat bersihnya, Bu? Saya tidak bisa membeli barang tanpa data teknis yang jelas."
"Duh, pokoknya yang baunya paling menyengat dia bungkusnya merah! Titip ya, ini uangnya... eh nanti saja ya kalau sudah datang!"
Gavin mencatat di tabletnya, "Santan instan 3 unit, terasi udang (warna kemasan merah, parameter kualitas bau menyengat). Baik, Bu Tejo. Data di terima. Kami harus segera berangkat sebelum antrean kasir mencapai titik jenuh!"
Aruna sambil dadah-dadah, "Duluan ya, Bu Tejo. Maaf suami saya lagi mode balapan sama waktu."
Sepanjang jalan menuju minimarket, Gavin tidak berhenti mengecek jam.
"Runa, tolong cek aplikasi peta. Apakah ada kemacetan di persimpangan jalan mawar? Jika ada kia harus mengambil jalur alternatif demi menghemat tiga menit." kata Gavin tegang.
"Mas, santai aja kenapa sih? Kita mau belanja bulanan, bukan mau nganter pasien gawat darurat." kata Runa.
"Belanja bulanan adalah urusan gawat darurat bagi ketersediaan logistik rumah tangga kita, Sayang. Apalagi sekarang ada variabel tambahan: terasi Bu Tejo. Saya harus memastikan terasi itu tidak mencemari aroma kabin mobil kita dengan menggunakan kantong plastik ganda." kata Gavin sambil terus fokus menyetir.
Aruna cuma bisa geleng-geleng kepala. "Ternyata malam pertama yang indah tidak bisa mengubah jiwa auditor suamiku," batinnya sambil tertawa.
Bersambung...