NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis Mematikan

Satu bulan berlalu dalam siksaan sunyi, rutinitas mereka berjalan seperti robot. Devan berangkat pagi buta, pulang larut malam.

Putri tidak pernah bertanya, ia hanya menyambut suaminya. Menyiapkan air hangat, menyiapkan baju ganti, meski semua itu seringkali hanya dibalas dengan dengusan kasar atau kebisuan.

Hingga suatu sore, tubuh Putri akhirnya mencapai batasnya.

Saat itu ia sedang membersihkan pecahan gelas yang sengaja dilempar Devan pagi tadi karena kopinya dianggap terlalu manis, padahal karena ia baru tahu bahwa yang membuatkan kopi itu adalah Putri, bukan bi Rena.

Saat Putri membungkuk untuk memungut serpihan kaca, pandangannya tiba-tiba berputar hebat.

Gelap menyergap seketika, putri ambruk. Tubuhnya menghantam lantai dingin, tangannya tak sengaja tergores pecahan kaca yang hendak ia bersihkan.

Ia tidak tahu berapa lama ia pingsan. Saat kesadarannya kembali, langit di luar jendela kediamannya sudah berubah menjadi jingga kemerahan. Kepalanya berdenyut nyeri yang luar biasa.

Dengan sisa tenaga, Putri membalut luka di tangannya yang terus mengucurkan darah, darah yang anehnya sulit sekali membeku.

"Aku harus ke dokter," gumamnya lirih. Bukan untuk mengobati luka di tangannya, tapi untuk menjawab tanya tentang tubuhnya yang kian rapuh.

Putri pergi tanpa memberitahu Devan, karena ia tahu pria itu tak akan peduli. Putri pergi ke rumah sakit umum terdekat menggunakan taksi.

Di ruang konsultasi dokter spesialis penyakit dalam, suasana terasa begitu mencekam.

Dokter paruh baya yang menanganinya menatap lembaran hasil laboratorium dengan kening berkerut dalam. Sudah sepuluh menit berlalu tanpa suara, hanya bunyi detak jam dinding yang mengisi kekosongan.

"Nona Putri," panggil dokter itu pelan, nada suaranya berubah drastis dibanding saat awal pemeriksaan. Kini terdengar penuh simpati, jenis nada suara yang paling Putri benci karena itu menandakan kabar buruk.

"Katakan saja, Dok. Saya siap," jawab Putri tenang. Setenang air danau yang menghanyutkan.

Dokter itu menghela napas panjang, meletakkan kacamatanya di meja. "Berdasarkan hasil tes darah dan pemeriksaan sumsum tulang belakang yang baru saja kita lakukan... hasilnya menunjukkan adanya abnormalitas yang signifikan."

Jantung Putri berdegup pelan, seolah siap berhenti kapan saja.

"Anda menderita Leukemia Limfoblastik Akut. Kanker darah, Nyonya Putri."

Dunia seakan berhenti berputar.

"Dan melihat kondisinya... penyebarannya sudah cukup agresif. Gejala lebam, mimisan, dan kelelahan yang Anda rasakan adalah tandanya. Kita terlambat mendeteksinya."

Putri terdiam, tidak ada air mata. Tidak ada histeris, ia hanya menatap kosong ke arah dokter.

Lucu, pikirnya. Hidupnya benar-benar sebuah lelucon tragis yang ditulis oleh takdir.

Ibu kandungnya sudah meninggal sejak ia lahir dan menatap dunia ini, dibenci ibu tiri. Diabaikan ayah, dijadikan tumbal pernikahan, dibenci suami, dan kini... tubuhnya sendiri pun mengkhianatinya.

"Berapa lama..." suara Putri tercekat, "berapa lama waktu yang saya punya, Dok?"

Dokter itu menatapnya iba. "Tanpa pengobatan intensif dan kemoterapi segera, mungkin hanya beberapa bulan. Tapi dengan pengobatan, kita bisa memperpanjang harapan hidup, meski..."

"Meski tidak menjamin kesembuhan," sambung Putri cepat. Ia tersenyum tipis, senyum yang menyayat hati. "Terima kasih, Dok."

Putri keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, di tangannya ada amplop cokelat berisi vonis kematiannya.

Waktu berlalu, dan malam kembali menyapa tanpa membawa harapan. Hanya ada kata bertahan, bertahan menunggu ajal menjemput.

Putri termenung, ia merogoh ponselnya, menatap layar yang kosong. Tidak ada pesan dari Devan, tidak ada yang mencarinya, ia sendiri dan benar-benar sendiri.

Sebuah keputusan nekat muncul di benaknya. Ia tidak akan memberitahu Devan, ia tidak akan memberitahu siapa pun.

Untuk apa? Memberitahu mereka hanya akan dianggap sebagai cara mencari perhatian. Devan pasti akan berpikir ia sedang bersandiwara agar dikasihani. Atau lebih buruk lagi, mereka mungkin akan merasa lega karena 'noda' keluarga itu akan segera hilang selamanya.

"Baiklah," bisik Putri pada angin malam yang menusuk kulitnya yang semakin kurus. "Jika takdir menginginkan aku pergi, aku akan pergi dengan tenang tanpa menyusahkan siapa pun."

Ia menyeka sudut matanya yang basah. Malam itu, Putri memutuskan untuk menikmati sisa waktunya dalam diam, menjadi istri yang berbakti sampai napas terakhirnya, meski tak pernah dicintai.

***

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Musik jazz yang mengalun lembut di sebuah kafe di kawasan Jakarta Selatan tak mampu meredakan ketegangan di wajah Devan.

Ia baru saja menyelesaikan makan malam bisnis yang melelahkan, namun rasa enggan untuk pulang ke rumah jauh lebih membebaninya.

Di hadapannya duduk Arga, sahabatnya sejak SMA, sekaligus teman satu lingkaran dengan Tamara.

Arga menyesap ice americano-nya, matanya menatap lekat ke arah Devan yang sejak tadi sibuk memijat pelipis.

"Kusut banget muka lo, Van," komentar Arga santai, Devan tersenyum miris.

"Proyek lancar, kan? Klien tadi kelihatannya puas."

"Proyek aman, hidup gue yang enggak," sahut Devan ketus. Ia melonggarkan dasinya, bersandar kasar pada punggung kursi sofa. "Gue males balik. Rasanya kayak masuk penjara tiap kali buka pintu rumah."

Arga meletakkan gelasnya perlahan. Ia sudah tahu persis kemana arah pembicaraan ini.

"Masalah Putri lagi?"

Devan mendengus, senyum sinis tercetak di bibirnya.

"Siapa lagi? Si pembawa sial itu. Coba lo bayangin, Ga. Tiap hari gue harus liat muka dia. Muka yang ngingetin gue sama pengkhianatan Tamara dan kegagalan rencana hidup gue. Dan yang bikin gue makin muak, dia sok suci. Sok melayani, sok jadi istri yang baik. Cih, munafik."

Arga terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian tiga hari lalu, saat ia mampir ke penthouse Devan untuk mengambil berkas yang tertinggal.

Saat itu pagi hari, Arga melihat Putri. Gadis itu menyambutnya dengan senyum tipis yang sopan, meski wajahnya terlihat sangat pucat, Putri membuatkan kopi untuk Arga tanpa diminta. Ia menyiapkannya persis seperti selera Devan, hitam tanpa gula, seolah ia sudah hafal betul kebiasaan orang-orang di sekitar suaminya.

Yang membuat Arga tertegun bukan kopinya, melainkan cara Putri menatap Devan saat pria itu sedang sibuk memaki dasinya yang miring.

Putri memperbaikinya dengan tangan gemetar, matanya memancarkan kesabaran yang luar biasa, meski Devan menepis tangannya kasar.

"Van," panggil Arga, "lo nggak ngerasa lo keterlaluan?" tanya Arga, nadanya berubah drastis.

Devan menatap Arga tajam, tersinggung.

"Maksud lo?"

"Gue perhatiin dia, Van. Selama ini, bahkan dari jaman sekolah dulu walaupun dia cuma 'bayangan' Tamara, dia nggak pernah macem-macem. Dan sekarang, setelah jadi istri lo... gue liat dia tulus. Beneran tulus ngerawat lo."

Arga mencondongkan tubuhnya ke depan. "Waktu gue ke tempat lo kemarin, gue liat dia pucet banget, Van. Badannya kurus, kayak orang sakit. Tapi dia tetep senyum, tetep nyiapin keperluan lo. Lo pernah nggak sih, sekali aja, nanya keadaan dia?"

Tawa kering keluar dari mulut Devan, tawa yang terdengar kejam.

"Sakit? Hah! Itu cuma akting, Ga. Lo jangan ketipu sama muka polosnya itu," cibir Devan penuh kebencian, "dia itu manipulatif. Dia sengaja pasang muka melas, sengaja kelihatan lemah biar orang-orang kayak lo kasihan. Biar gue kelihatan kayak suami brengsek di mata orang lain. Itu strategi dia buat cari perhatian, karena dia tahu gue nggak akan pernah cinta sama dia."

"Tapi Van, pucatnya itu beda"

"Alah, paling dia diet ketat biar badannya kayak model, biar gue tertarik," potong Devan cepat, tak mau mendengar pembelaan apapun. "Atau dia cuma kurang tidur karena kebanyakan mikir cara buat nyingkirin bayang-bayang kakaknya. Asal lo tau, Ga, gue nggak peduli dia mau kurus, mau sakit, atau mau mati sekalipun. Buat gue, dia cuma noda. Noda yang dipaksa nempel di hidup gue."

Devan semakin dibuat muak dengan omongan Arga yang membela Putri.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!