NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Pagi datang terlalu cepat bagi Sagara.

Ia terbangun bukan karena alarm, tapi karena rasa pegal yang tidak biasa, bukan di tubuh, melainkan di batin. Malam tadi ia hampir tidak benar-benar tidur. Lebih banyak terjaga, menahan napas, menahan pikiran, menahan diri dari sesuatu yang terasa sah namun belum ingin ia ambil. Dia seperti habis berlari semalaman tanpa benar-benar bergerak ke mana pun.

Lengannya masih melingkar di tubuh Senja. Atau lebih tepatnya, Senja yang masih memeluknya erat, seolah takut bangun dan mendapati dirinya sendirian lagi.

Sagara menatap langit-langit. Menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Ini tidak aman, pikirnya tenang tapi lelah.

Dan aku kalah telak semalam.

Ia menoleh pelan.

Senja masih terlelap. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi pipi. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya hangat menyentuh dada Sagara. Satu tangannya masih melingkar di perutnya sendiri, yang lain mencengkeram piyama Sagara, tidak berniat melepaskan.

Dan yang membuat segalanya makin sulit, Senja mengerang kecil. Bukan bangun. Belum, tapi tubuhnya mulai bergerak gelisah khas orang yang baru saja keluar dari tidur dalam.

Sagara langsung menahan napas. “Ya Tuhan…” gumamnya lirih.

Ia berniat menarik diri perlahan. Sangat perlahan. Tapi Senja, dengan timing paling tidak sopan sedunia, menggumam pelan.

“Om…,” gumamnya serak.

Sagara seketika membeku.

Senja menggeser wajahnya, hidungnya menempel di dada Sagara. Ia menghirup dalam-dalam, lalu tanpa sadar menempel lebih erat.

Sagara memejamkan mata.

Astaga.

“Om…” Kali ini lebih jelas. Lebih manja. Lebih berbahaya.

“Iya,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Aku di sini.”

Senja membuka mata setengah. Pandangannya buram, tapi cukup untuk menangkap siluet Sagara yang terlalu dekat. Ia berkedip, lalu alisnya mengernyit lucu.

“Kok… Om di sini?”

Pertanyaan polos itu nyaris membuat Sagara tertawa kalau saja dadanya tidak sedang tegang setengah mati.

“Kamu yang minta ditemani,” jawabnya tenang, meski batinnya jungkir balik.

“Oh…” Senja diam sebentar, lalu menguap tanpa sungkan. Tanpa peringatan. Dan setelah itu... ia menempelkan wajahnya lagi ke dada Sagara. Seolah itu hal paling wajar di dunia.

Sagara hampir kecolongan. Ia menarik napas panjang, menatap langit-langit, berusaha mengingat semua alasan rasional yang ia punya untuk tidak menikmati momen ini.

Namun, Senja mengerang kecil. Tangannya bergerak ke perut, mengusap pelan. Wajahnya berubah sedikit pucat. “Om…, aku lapar… tapi mual," ucapnya lirih.

Sagara langsung siaga. “Bangun pelan-pelan,” katanya sambil menopang bahu Senja. “Jangan langsung duduk.”

“Capek… Kepalaku berat.” Senja merengek tanpa malu.

Ia kembali bersandar. Kali ini tepat di bahu Sagara.

Sagara menghela napas panjang, lalu menyerah setengah badan. “Aku ke dapur bentar. Kamu habis ini mandi. Minum air hangat.”

“Temenin,” pinta Senja cepat. Nada manja penuh hormon.

“Senja—”

“Aku pusing,” potongnya. Alisnya mengernyit kecil. Senjata pamungkas.

Sagara menutup mata sebentar. Lalu membuka kembali, menatap perempuan di pelukannya dengan ekspresi kalah total.

“Baik,” katanya akhirnya. “Lima menit.”

Senja tersenyum kecil, senyum puas, lalu dengan sangat tidak tahu diri menyusupkan wajahnya lebih dalam ke leher Sagara.

“Om baik,” gumamnya polos.

Sagara hanya bisa menatap langit-langit lagi.

Kalau begini terus, aku bukan lagi kecolonganan… tapi menyerah perlahan. Batinnya lelah, tapi jujur.

Saat kemudian Senja akhirnya bangkit dengan dibantu. Ia masih sempat menempel ke Sagara sebentar. Tidak sengaja atau mungkin… modus si janin di dalam perutnya.

Sagara berdiri kaku, menatap punggung Senja yang berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia mengusap frustasi wajahnya sendiri.

Kehamilan di pagi hari ternyata bukan chaos kecil. Itu ujian mental. Dan Sagara sadar satu hal dengan jelas pagi ini, bahwa menjaga jarak di siang hari mungkin masih bisa ia lakukan. Tapi menghadapi Senja di pagi hari dengan rambut berantakan, suara serak, dan manja tanpa sadar adalah medan perang yang sama sekali berbeda. Dan ia tidak yakin akan selalu menang.

*

*

*

Pagi di kampus terasa berbeda bagi Senja.

Langkahnya pelan, lebih berhati-hati dari biasanya. Mual masih ada seperti ombak kecil yang datang dan pergi, tapi tidak separah semalam atau pagi tadi. Kepalanya agak berat, namun ia bersikeras berdiri tegak, menolak terlihat rapuh.

Aku baik-baik saja, katanya pada diri sendiri. Berkali-kali.

Padahal beberapa jam sebelumnya, Sagara sudah memperingatinya dengan sorot mata tegas yang tak bisa ditawar.

“Kalau pusing atau mual, pulang,” ucapnya tegas. Bukan nada dosen. Bukan nada suami. Lebih seperti peringatan terakhir dari seseorang yang terbiasa mengambil keputusan besar. “Jangan memaksakan diri.”

Senja hanya mengangguk waktu itu. Tapi nyatanya ia tetap datang. Bukan karena keras kepala. Lebih karena rasa ingin membuktikan bahwa dirinya tidak rapuh. Bahwa ia masih bisa berdiri di dunia ini tanpa terus-menerus dipegangi.

Di depan ruang kelas, Senja berhenti sebentar. Menarik napas, mengatur diri. Begitu masuk, matanya langsung menangkap Deka.

Pria itu sudah duduk di baris tengah. Tatapannya otomatis terangkat begitu Senja melangkah masuk, seperti refleks yang belum ia pelajari untuk dihentikan.

Senja berpura-pura tidak melihat. Ia melirik bangku kosong lainnya, lalu memilih duduk lebih depan, di sisi lain ruangan. Tindakan itu bagaikan ultimatum keras bahwa Senja benar-benar menciptakan jarak.

Deka tentu tampak terkejut. Alisnya berkerut. Ia menoleh ke bangku kosong di sebelahnya, tempat Senja biasanya duduk dulu, lalu kembali menatap Senja. Ada kekecewaan di sana. Juga kebingungan. Dan, entah kenapa, sedikit rasa kehilangan, kehilangan yang terlambat.

Senja membuka tas, mengeluarkan buku, menaruh fokus. Ia tidak ingin menoleh lagi.

Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka.

Sagara masuk. Langkahnya tenang dan rapi seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari cara ia berdiri di depan kelas. kecuali satu hal yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya sendiri.

Matanya.

Ia menyapu kelas cepat, profesional, lalu berhenti sepersekian detik di Senja. Senja tidak menatap balik, tapi ia merasakan itu. Seperti sentuhan ringan yang tidak terlihat, yaitu peringatan, pertanyaan, kekhawatiran.

Masih baik-baik saja?

Senja mengangguk sangat kecil. Hampir tak terlihat. Tapi Sagara melihatnya.

Kuliah dimulai.

Sagara menjelaskan materi dengan suara stabil, jelas, sistematis. Tangan kanannya sesekali bergerak menunjuk slide, tangan kirinya memegang spidol. Ia terlihat sepenuhnya sebagai dosen. Tidak ada yang bisa menebak bahwa beberapa jam lalu, perempuan di baris depan itu terbangun dalam pelukannya.

Namun, setiap beberapa menit, perhatiannya kembali ke Senja. Cara Senja mengubah posisi duduk. Cara jemarinya menekan pelipis sebentar lalu diturunkan. Cara ia menarik napas lebih dalam saat mual datang. Sagara mencatat semuanya, dalam diam.

Di sisi lain kelas, Deka gelisah. Ia beberapa kali melihat ke arah Senja. Ingin bicara, tapi tak punya celah. Ingin mendekat, tapi jelas ditolak tanpa kata.

Ketika diskusi kelompok dibuka, ia bahkan mencoba berdiri, melangkah setengah niat ke arah bangku Senja.

“Kelompoknya---”

“Di situ saja,” potong Sagara datar, tanpa menoleh. “Formasinya sudah jelas.” Satu kalimat, tidak keras, tapi final.

Deka terdiam, duduk kembali. Rahangnya mengeras tak terima. Ada sesuatu di cara dosen itu menatapnya sekilas, dingin, tajam, seperti mengenali lebih dari yang seharusnya.

Sementara di luar kelas, Jelita yang seharusnya sudah berada di kelas, mengikuti pelajaran, kini justru masih berada di koridor yang agak sepi. Ia berkali-kali mengumpat di dalam hati. Andai Deka menghampirinya tadi, pasti dia tidak akan terlambat seperti sekarang.

Jalannya tergesa sampai suara seseorang memanggilnya.

“Eh, berhenti bentar.” Nada Windi datar, tapi tidak ramah.

Jelita menoleh. Senyumnya refleks muncul, tapi langsung memudar ketika melihat siapa saja yang berdiri di sana.

Windi di depan, Mery menyilang tangan, dan Slam bersandar malas di tiang, sorot matanya naik turun dan menilai Jelita dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Iya, Kak?” Suara Jelita terdengar lebih kecil dari biasanya.

Windi melangkah satu langkah lebih dekat. Jemarinya terangkat, menyentuh jijik ujung rambut Jelita, memainkannya sebentar tanpa izin, lalu dihempaskan.

“Lo sadar nggak sih,” ucap Windi pelan, “kalau lo kelihatan murah?"

Jelita tersentak. “Aku nggak---”

“Belum selesai,” potong Mery cepat. Ia menepuk bahu Jelita agak keras, cukup membuat tubuhnya oleng setengah langkah. “Lo itu anak baru, tapi suka tebar pesona ke cowok-cowok, lewat depan kelas senior sambil ngebetulin rambut, senyum-senyum. Kamu kira kita buta? Jangan sok kecantikan deh, lo."

Slam mendecak. Ia maju, berdiri tepat di depan Jelita. Tingginya membuat Jelita harus mendongak. “Gue nggak suka ngulang,” katanya rendah. “Kampus ini bukan tempat lo jual tampang. Apalagi ke angkatan atas.”

Jelita menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Aku cuma ramah,” bantahnya lirih.

Windi tertawa pendek. Tangannya tiba-tiba mendorong dada Jelita ringan tapi tegas, cukup membuat punggung Jelita membentur tembok koridor.

“Ramah itu tahu batas,” katanya dingin. “Kalau nggak tahu, ya diajarin.”

Jelita terkejut. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak keras. Ini bukan sekadar omongan.

Slam mendekat lagi, suaranya turun, lebih mengancam. “Denger ya. Kalau masih nebar pesona ke sana-sini, gosip lo bakal nyampe ke dosen. Ke fakultas. Ke mana-mana.”

Mery menyeringai. “Dan percaya deh, reputasi itu susah dibersihin.”

Windi merapikan kerah jaketnya sendiri, seolah bosan. “Ini peringatan awal. Jangan bikin kita harus ngulang.”

Mereka pergi begitu saja. Langkah mereka menjauh, meninggalkan Jelita sendirian, punggungnya masih menempel di dinding. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun tak teratur. Ia ingin membalas, tapi tidak berani. Di hadapan senior-senior ini, pesonanya tidak berlaku. Tidak ada yang terkesan. Yang ada hanya penilaian.

Dia hanya mencari perhatian pada kakak tingkat, baginya tidak ada yang salah dengan itu. Dia hanya ingin dikenal luas seluruh kampus, mencari ketenaran, diakui seperti biasanya.

Akan tetapi kini dia sadar, di kampus ini, pesona tidak selalu jadi senjata. Kadang justru jadi alasan untuk dihancurkan.

Jam selesai hampir selesai. Sagara menutup materi, memberi tugas, lalu menatap kelas. “Kalau ada yang merasa kurang sehat, jangan memaksakan diri. Kampus bukan tempat pembuktian diri.”

Kalimat Sagara terdengar umum, tapi Senja tahu itu untuknya.

Bel istirahat berbunyi. Mahasiswa mulai beranjak. Deka menoleh lagi ke arah Senja, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi Senja sudah berdiri lebih dulu, memasukkan buku ke tas dengan gerakan cepat, lalu keluar tanpa menoleh.

Sagara memperhatikannya dari depan kelas. Langkah Senja sedikit lebih lambat dari saat masuk. Bahunya tegang, tapi ia tetap berjalan seperti baik-baik saja.

Sagara menurunkan pandangan. Dadanya terasa mengencang.

Dasar keras kepala.

Bersambung~~

Maaf, typonya bertebaran. Ngetiknya balapan ma bayi yang ngak ngek🤭

1
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
Najwa Aini
setuju.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
Nofi Kahza: Sepi itu tenang tapi kalau sepi yang ini bikin ngelus dada.
Kita lanjut aja ya kak, pelan-pelan. Kalau bukan kita yang percaya sama cerita sendiri, mau siapa lagi 😌
total 1 replies
Najwa Aini
Saat² penyiksaan bagi Sagara dimulai..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..
Najwa Aini
Gak suka sama jelita. tapi gak setuju juga dia diperlakukan kayak gitu
Najwa Aini
Slam ini nama grup band luar negeri yg sempat aku suka dulu
Najwa Aini
definisi antara ada dan tiada, mungkin si pandi ini ya
Najwa Aini
eaa..eaa..dermawan kok ke amarah
Ayuwidia
Aku berharap, kandungan Senja aman. Nggak kebayang apa yang akan dilakukan fans Sagara padanya
Ayuwidia
Ni anak minta dibuang ke Sungai Amazon. Cari masalah aja dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!