"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
Hari sudah mulai larut malam, sudah dua belas jam sejak Erlangga memberikan Dira kertas lusuh. Jangankan panggilan telepon, pesan masuk saja Erlangga tidak menerima satu pun dari orang yang ditunggu.
"Kenapa kamu tidak mau menghubungiku? Apa karena dulu aku meninggalkanmu? Kamu seperti membangun tembok tinggi yang membatasi hubungan kita, Dira."
Dengan rasa kecewa yang menyesakkan, Erlangga berusaha menutup kedua matanya. Sudah pukul 22:00 WIB, tidak mungkin Dira akan menghubunginya.
"Sudahlah, aku mungkin terlalu berharap. Dira tidak mungkin mau denganku." Erlangga benar-benar putus asa.
Sementara di sebuah kamar yang jaraknya hanya 50 meter dari kamar Erlangga, Dira menatap kertas lusuh itu dengan tatapan rumit.
"Aku bukan tidak mau menghubungimu, tapi aku tidak ingin kehilangan ketenanganku jika harus berhubungan dengan calon suami orang." Ucap Dira.
"Meskipun itu hanya sebuah persahabatan. Maaf... Aku tidak bisa Kak. Apalagi mungkin kehadiranku akan dianggap sebagai orang ketiga oleh keluargamu. Aku sudah pernah merasakan sakitnya. Aku tak mungkin membiarkan Mirna merasakan hal yang sama sepertiku. Sakit sekali rasanya Kak Elang, saat hubungan kita dengan orang yang kita cintai kandas karena kedatangan orang ketiga." Lanjut Dira.
Dua orang dengan pemikiran berbeda, sedang menolak jalan takdir yang mungkin memang dibuka Tuhan untuk saling melengkapi satu sama lain.
Sinar mentari kembali datang menggantikan cahaya bulan dan kerlipan bintang. Hari super sibuk bagi Dira, karena hari ini Dira mendatangkan banyak batu kali dan batako untuk membuat pagar mengelilingi rumah.
Dira merasa memiliki pagar penting, mengingat kemarin kedatangan tamu tak diundang yang membuatnya merasa tidak memiliki privasi di rumah sendiri.
Cukup banyak truk yang datang silih berganti melewati rumah Bu Ningsih yang semakin terganggu karenanya. Mau protes, tapi ingat ucapan suaminya untuk tidak terlalu mencolok memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Dira.
"Orang baru itu mau bikin Benteng Takeshi, biar tetangga gak bisa masuk." Gumam Bu Ningsih, yang sudah mengupgrade level kedengkiannya.
Dira meminta tolong Bu Wati membantu masak untuk hidangan para tukang bangunan yang bekerja dengannya. Tentu saja Bu Wati dengan tangan terbuka dan senyum lebar menyambut permintaan tolong dari Dira. Bagi Bu Wati, kehadiran Dira adalah rejeki yang tak terduga. Karena Dira royal tidak pelit, membuat semua warga merasa terbantu.
Ya, benar karena sejatinya bukan hanya Dira yang butuh pertolongan. Tapi masyarakat di Desa Jatimulyo yang sebagian besar berpenghasilan rendah. Permintaan bantuan Dira mereka anggap sebagai pembuka jalan rejeki Tuhan. Yang biasanya kerja sebagai pemetik teh dibayar hanya tiga puluh ribu sehari atau tergantung berapa banyak teh yang mereka petik.
Sedangkan Dira memberi lebih banyak berkali lipat dari upah tersebut.
Jika Dira sedang sibuk membangun Istananya, berbeda dengan Erlangga berfikir ingin pergi dari kemewahan Istana semu yang selama inu menaunginya.
Rasa putus asa dan tak berdaya membuat Erlangga terbelenggu sendirian.
"Tidak... Tidak... Aku tidak boleh putus asa." Ucapnya kembali bangkit.
Dengan langkah nekat, Erlangga menyelinap masuk ke rumah Dira saat hari sudah sangat larut malam. Tidak ada yang tahu, karena sebelum Erlangga keluar dari rumah. Dia dengan sengaja memberikan obat bius pada susu hangat yang memang tersaji sebelum tidur malam. Dan Erlangga bergerak setelah melihat lampu rumah tetangga lainnya padam.
Pergerakan Erlangga sudah seperti maling. Dia masuk rumah Dira lewat jendela belakang di samping dapur. Erlangga hafal seluk beluk rumah itu karena sejak kecil sudah akrab dengan hunian Mbah Wingit.
Cekleekkk
Jendela yang menghadap sumur terbuka, gelap karena minimnya cahaya lampu. Dan menjadi sebuah keberuntungan bagi Erlangga guna menemui Dira.
Setelah melompati jendela dengan hati-hati, Erlangga menuju kamar yang diyakininya menjadi tempat tidur Dira.
Tapi hal tak terduga terjadi, saat Erlangga berjalan mengendap-endap tanpa suara dalam kegelapan malam. Tiba-tiba Dira keluar kamar.
Deg
Dua jantung berdetak kencang, dan sebelum Dira berteriak Erlangga sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Sssttt...
"Dira, aku Erlangga. Tolong jangan berteriak, aku perlu bicara. Aku butuh bantuanmu." Ucap Erlangga.
Dira mengangguk pelan, dan Erlangga melepas tangannya dari mulut Dira.
"Tapi tak seharusnya kamu menyusup ke dalam rumahku seperti maling. Kalau ada yang melihat bagaimana? Aku tak mau dijadikan kambing hitam atas kesalahanmu." Tegas Dira.
"Maaf... Ini keadaan darurat dan aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah menunggu kamu menghubungiku, tapi sudah seminggu waktu berlalu. Kamu sama sekali tidak merespon, sedangkan pernikahanku tinggal dua minggu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala rasa. Tapi aku ingin kamu tahu, sudah sejak lama aku mencintaimu."
Erlangga memberi jeda kalimatnya, menatap intens wanita pemilik hatinya itu. Tidak ada binar bahagia seperti harapannya, tapi hanya wajah datar yang Dira tampilkan di hadapannya. Membuat nyali Erlangga yang tadinya menggebu, perlahan menciut dalam ketidakberdayaan.
"Aku tahu kamu tidak nyaman, aku tahu kamu baru bercerai. Tapi bolehkah aku memasuki hatimu. Lagipula pernikahanku bukan atas mauku, tolong bantu aku untuk membatalkannya. Aku butuh orang yang berkuasa untuk melawan kekuasaan Ayah angkatku. Karena aku diikat dengan kata balas budi yang tidak tahu sampai kapan aku menjadi bonekanya. Tolong aku! Bebaskan aku dari rencana gila pernikahan, yang bagiku seperti dipaksa masuk lubang neraka..."
"Kenapa harus minta bantuanku, Kak? Dulu kita memang pernah dekat. Tapi bukan berarti kamu bisa menjadikanku tumbal atas masalah yang sedang kamu hadapi." Ucap Dira.
"Rumah tanggaku hancur karena PELAKOR, dan sekarang kamu ingin aku jadi orang ketiga dalam hidupmu? Pernikanmu sebentar lagi, itu urusanmu. JANGAN LIBATKAN AKU!" Tegas Dira.
Kedua bahu Erlangga merosot dengan wajah yang berubah jadi sendu.
"Kamu bukan seorang Pelakor, Dira. Kamu lebih dulu mengisi hatiku. Sedangkan Mirna hanya perempuan pengganggu. Tapi, aku memang tak punya hak untuk memaksa kamu menolongku. Maafkan aku Dira, aku pergi. Selamat malam, semoga kamu bahagia." Ucap Erlangga keluar melompati jendela.
Dira membeku, tidak percaya jika penolakannya sendiri justru membuat rasa tak nyaman di lubuk hatinya. Ada perasaan bersalah yang aneh.
"Apa aku salah telah menolaknya? Tapi menerima cintanya juga salah. Aku baru bercerai, dan masih dalam masa iddah." Gumam Dira.
Kemudian mengunci jendela yang dibuat jalan pintas Erlangga memasuki rumahnya.
"Sepertinya, membangun pagar tembok tidak cukup membuat rumah ini aman. Aku harus memasak teralis besi." Dira punya tugas tambahan untuk merenovasi kecil-kecilan hunian barunya.
Sedangkan Erlangga menghempaskan tubuhnya di kasur dengan kepala mulai pening. Masalah yang menimpanya telah menggerus sedikit demi sedikit kewarasan Erlangga.
"Dira... Kenapa kamu tetap menolakku."
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪