Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi
"Bentar, Ma." Tama yang sedang duduk di samping mamanya berlalu sedikit menjauh. Tumben sekali pasangan pengatin baru yang selalu membuatnya muak karena hampir seminggu ini mereka tak henti mengumbar kemesraan. Terlebih Dirga yang dulu anti datang ke kelas kini hampir tiap waktu muncul di kelasnya sampai membuat Tama bosan. Bahkan ia yang semula duduk dengan Kara kini harus berpindah.
“Apaan pake VC segala? Ntar laki lo ngamuk!” jawab Tama dengan cuek begitu menggeser icon berwarna hijau.
“Set dah jutek banget, Tamarin. Katanya dulu mau jadi guardian angel nya gue. Sekarang nih saatnya lo jadi guardian angel, tolongin gue.”
“Itu dulu, sekarang beda. Lo minta tolong sama laki lo aja sana!” Tama nyaris mematikan panggilan vidio itu.
“Kagak bisa ini urgent, cuma lo yang mampu.”
“Emangnya mau minta tolong apaan?”
“Mohon diurus ini adek ipar gue udah manyun mulu chatnya---“ belum selesai Kara bicara, wajah gadis yang hampir satu minggu tak ia lihat itu memenuhi layar ponsel.
“Abang...” Sapa Sasa dengan tatapan sedih plus bibir manyunnya.
Tama refleks tersenyum samar, matanya menatap layar ponsel lebih lama dari yang seharusnya.
“Ngapain pake tampang begitu?” tanyanya ketus, meski sorot matanya tak sekeras nadanya.
Sasa mengeratkan hoodie yang ia kenakan. “Abang nggak kangen, ya?”
“Enggak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
“Halah. Kalau nggak kangen, ngapain diliatin terus?”
"Lah kan ini vidio call, masa nggak boleh gue liatin? atau gue matiin aja nih."
"Ih!" Sasa makin manyun.
Sasa mendekatkan wajahnya ke kamera, seolah ingin menembus jarak. “Ini udah hampir seminggu, tau.”
“Ya terus?” Tama menyandarkan punggung ke dinding.
"Ya masa abang nggak kangen sasa Sasa gitu? satu minggu tanpa ketemu Sasa loh. Mana pake acara ganti nomor segala." keluh Sasa.
"Sengaja. Males gue abisnya lo chat mulu." jawab Tama asal. Jujur, ia mengganti nomor bukan karena Sasa. Ia sama sekali tak keberatan ponselnya penuh oleh pesan spam Sasa. Tapi seseorang dari masa lalu terus menganggunya. Terus terang hampir seminggu tanpa chat Sasa rasanya aneh, tapi ia terlalu malas untuk menghubungi gadis itu duluan. Dicuekin aja ngejar terus apalagi dichat duluan, berasa diatas angin itu bocah nantinya.
"Ih masa gitu sih, Bang? berarti salah nih ajaran kak Dila sama kak Selvia." adunya.
Tama menahan senyum, "emang lo diajarin apa?"
"Suruh jaga jarak, jangan telpon, chat, pokoknya jangan ngejar-ngejar deh biar Bang Tama kerasa kalo Sasa ini berarti. Eh taunya malah abangnya emang nggak peduli sama Sasa." jelasnya penuh drama.
"Minimal kangen ngapa bang! mau seminggu loh ini." lanjutnya.
Andai saat ini Sasa sedang ada di hadapannya sudah dipastikan Tama akan mencubit bibir yang terus-terusan cemberut itu. Entahlah semakin Sasa cemberut malah membuatnya makin gemas.
"Ya habisnya gimana orang gue nggak kangen." jawab Tama, "lagian lo juga nggak ke mana-mana.”
“Justru itu.”
Nada Sasa melembut. “Biasanya suka kebetulan ketemu di minimarket deket rumah, seminggu ini nggak. Sasa mau nyusulin ke sekolah abang tapi tugas lagi numpuk."
Tama terdiam sesaat. Ia mengalihkan pandangannya, menatap beberapa karyawan mamanya yang sibuk dengan gaun baru. “Jangan lebay,” gumamnya.
Sasa menghela napas dramatis. “Aku kangen, Bang.”
Kalimat itu sederhana. Tapi sukses bikin Tama menelan ludah.
“Gue nggak,” balasnya, tetap bertahan. “Cuma… ya biasa aja.”
“Biasa aja tapi VC?” Sasa menyipitkan mata, senyum kecil mulai muncul. “Bang, kuping abang merah.”
“Karena panas,” elak Tama.
“Panas hatinya karena aku nggak ada?”
“Berisik.”
Sasa terkikik. Tawa kecilnya bikin suasana yang tadinya canggung berubah hangat.
Ia lalu mendekap lututnya, wajahnya kembali serius.
“Weekend ini abang sibuk?”
Tama mengernyit. “Kenapa?”
“Pengen jalan,” ucap Sasa pelan. “Sebentar aja. Sasa janji nggak rewel.”
Tama mendengus. “Ngapain janji sama gue, jalan aja sama abang lo sana.”
“Plis.” Sasa mendekatkan wajahnya lagi, menampilkan ekspresi andalan—mata besar, bibir manyun, nada suara turun satu oktaf.
"Ayo lah Bang, kan abangnya Sasa itu bang Tama. Kak Dirga lagi sibuk sama istrinya terus. Sasa nih kurang perhatian, masa abang nggak kasihan sih." lanjutnya memelas.
“Sekali ini aja. Sasa kangen abang. Yah mau yah bang. Mau lah yah, masa nggak sih!” bujuknya lagi.
Hening beberapa detik.
“Ya udah kita jalan weekend nanti. Awas aja kalo lo rewel!” akhirnya Tama setuju.
"Siap, bang. Kita pake baju couple yuk nanti Sasa-" suara berisik itu langsung hilang karena Tama mengakhiri panggilan secara sepihak.
"Kalo didengerin kagak bakal kelar sampe besok." gumamnya yang kemudian mengabaikan panggilan vidio call dari nomor Kara.
Tama menurunkan ponselnya perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak bisa ia kendalikan.
Bocah itu… selalu punya cara bikin ribut, bikin capek, sekaligus bikin sunyi terasa aneh kalau ia menghilang.
Katanya tidak kangen.
Katanya biasa saja.
Tapi nyatanya, satu video call saja sudah cukup membuat dadanya terasa penuh—dengan rasa yang sama sekali tak ingin ia akui.
Tama melirik layar ponsel yang kembali menyala oleh panggilan masuk dari Kara, lalu mematikannya tanpa ragu.
“Rewel,” gumamnya pelan, entah ditujukan pada Sasa atau pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dan kembali ke samping mamanya, wajahnya sudah kembali datar seperti biasa.
Namun di kepalanya, satu hal terus berulang tanpa diminta—
akhir pekan nanti,
dan seorang gadis cerewet yang selalu berhasil membuatnya datang…
meski tak pernah dipanggil.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa