Jayden, seorang pemuda biasa, tiba-tiba terlibat dalam dunia penuh misteri, godaan, dan permainan kekuasaan setelah bertemu dengan Eveline Bloodthorne.
Dengan sistem aneh di kepalanya yang memberinya misi dan imbalan, Jayden harus bertahan dari intrik keluarga, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut rumah megah mereka.
Sementara itu, masa lalunya kembali menghantui ketika sahabat masa kecilnya, Rose, terbaring koma di rumah sakit, dan Jayden harus menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan yang menimpanya.
Di tengah semua ini, Jayden juga harus menghadapi godaan dari wanita-wanita disekitarnya, termasuk ibu Rose, Elena, yang hidupnya penuh dengan kepedihan.
Apakah Jayden bisa bertahan tanpa terseret dalam arus nafsu dan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN JAYDEN
"Ahemm..." Ruangan yang sebelumnya dipenuhi gema perayaan palsu yang dipaksakan, mendadak hening saat Jayden berdehem. Semua mata tertuju padanya, bahkan wanita tua itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Jayden.
Dengan senyum licik, Jayden melangkah ke arah wanita tua itu. Para anggota keluarga yang awalnya terkejut, tanpa sadar membuka jalan baginya.
Setibanya di pusat perhatian, ia berdiri tepat di hadapan wanita itu, mengunci pandangan dengannya.
"Hai, Nyonya," sapa Jayden dengan gaya jenaka, "Aku adalah pria yang datang untuk menagih utang."
Wanita tua itu, sesaat terkejut, membalas dengan campuran kebingungan dan rasa penasaran. "Penagih utang, katamu? Kau benar-benar mengejutkanku," ujarnya.
Jayden mengangguk, "Oh tentu saja, Nyonya. Tagihan anda sudah lewat jatuh tempo, dan aku datang untuk menuntaskannya."
Gelombang tawa menyebar di antara anggota keluarga.
Wanita tua itu, awalnya bingung lalu tersenyum sambil menatap Jayden. "Nak, aku rasa kau keliru. Aku tidak ingat memiliki utang apapun denganmu," jawabnya dengan tenang.
Jayden, sedikit mendekat, "Oh ya, tapi Nyonya, ini bukan utang biasa. Ini adalah utang nyawa," kata Jayden.
Wanita tua itu, tak mampu menahan tawanya, "Utang nyawa, katamu? Kau benar-benar punya cara yang unik dalam menyampaikan sesuatu. Namun, aku yakin kami tidak berutang hal semacam itu."
Jayden mengangkat alis, "Masuk akal, Nyonya. kita semua kadang-kadang membutuhkan kenyataan yang menyadarkan?”
Eveline yang merasa perlu meredakan suasana, memutuskan untuk melangkah mendekati mereka.
"Nenek," suara Eveline memotong ketegangan yang tersisa, "Ini Jayden. Dia yang membantuku saat keadaan menjadi sulit. Dan dia juga orang yang membawa obat untuk menyembuhkanmu."
Pandangan wanita tua beralih dari Geoffrey ke Jayden, menampilkan sedikit keterkejutan di wajahnya.
Dalam momen ini, ia melirik Geoffrey yang tampak menghindari tatapannya.
Saat upaya Geoffrey untuk menghindari pandangannya semakin jelas, wanita tua itu, menatapnya tanpa berkedip, sebelum akhirnya ia mengalihkan perhatiannya kembali kepada Jayden.
"Terima kasih, Jayden," ucap wanita tua itu.
Tanpa menoleh ke arah Geoffrey, dia melanjutkan kata-katanya, "Pastikan kau memberi penghargaan yang pantas kepada tuan muda ini."
Geoffrey mengangguk setuju. Namun, sebelum Geoffrey sempat bergerak, Jayden, yang tak pernah melewatkan momen, menyelipkan sedikit keusilannya ke dalam situasi itu.
"Hei, tahan dulu," sela Jayden sambil tersenyum lebar, "Aku menghargai niatnya, tapi jangan terlalu terburu-buru. Aku tidak benar-benar datang ke sini untuk menerima hadiah."
Wanita tua itu menyipitkan matanya sedikit, menatap Jayden dengan alis terangkat, "Oh, benarkah? Dan bolehkah aku tahu, apa yang membawamu ke pertemuan keluarga kecil kami ini?"
Tak terpengaruh oleh ketegangan yang kian menebal, Jayden condong ke depan, "Yah, Nyonya, bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau aku datang untuk menagih utang."
Wanita tua itu, dengan nada yang kini mengeras, membalas pernyataan Jayden. "Nak, keluarga kami bukan tipe yang memiliki utang pada siapa pun."
Jayden tetap mempertahankan seringainya, menatap wanita tua itu dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan secara mengejek. "Yah, mungkin Nyonya sudah tertidur terlalu lama."
Wanita tua itu, kini tampak jelas kesal, kembali hendak menegaskan dirinya, namun Jayden, langsung memotongnya dengan lancang.
"Tapi kita tidak akan membahas utang Nyonya untuk sekarang. Aku akan duduk di atas dada Nyonya selama beberapa hari lagi sambil menikmati keramahan keluarga ini," ucap Jayden lalu berbalik untuk pergi, "Semoga lekas sembuh." Dengan itu, Jayden melangkah keluar sambil bersiul.
~ ~ ~ ~ ~
"Nenek!" Eveline menjadi yang pertama bersuara begitu Jayden keluar dari ruangan. Dia melangkah maju, namun neneknya menghentikannya dengan isyarat tangan.
"Geoffrey, suruh semua orang keluar," ujar Mary, namun dia menghindari tatapan kepala pelayan kepercayaannya itu.
"Ibu!"
"Nenek!"
Eveline dan anggota keluarga lainnya berseru hampir bersamaan setelah mendengar perintah wanita tua itu.
"Geoffrey!" Ucap Mary kembali.
Dengan satu kata itu, keheningan berat menyelimuti ruangan. Dengan perasaan tertekan dan berbagai pikiran membebani hati mereka, Eveline dan yang lainnya meninggalkan ruangan.
Setelah semua orang pergi dan ruangan akhirnya kosong, hanya Mary dan Geoffrey yang tersisa. Geoffrey bergerak menuju pintu dan menutupnya. Setelah pintu tertutup, dia berbalik.
"Jadi, apa kau ingin menjelaskannya?" tanya Mary.
"Mary!" balas Geoffrey.
"Aku tidak peduli dengan pernikahan kita," ujar Mary tegas, kerut di wajahnya semakin dalam saat dia mengamati emosi yang terpancar dari wajah Geoffrey.
"Di mana sebenarnya penawarnya?" tuntutnya.
---
Jika kau membaca cerita ini, luangkan waktu sejenak untuk menulis ulasan atau komentar di bawah jika kau memiliki saran.