NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan tujuh pedang naga part 12

Malam itu, paviliun timur keraton Trowulan diselimuti kesunyian yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan gemericik air kolam. Dyah Ayu Kirana berdiri menatap bulan, tampak jauh lebih serius daripada saat latihan tanding pagi tadi.

​Ketika Lin Feng datang, Kirana langsung mengajaknya duduk di sudut yang tersembunyi dari penglihatan penjaga.

​"Lin Feng, mata-mataku di pelabuhan baru saja kembali," buka Kirana tanpa basa-basi. "Organisasi The Sovereigns of the Dragon telah membagi kekuatan mereka. Sebagian tetap mengincarmu di sini, namun sebagian besar pasukan elit mereka telah berlayar menuju daratan Tiongkok. Mereka memburu Pedang Naga Langit."

​Lin Feng tersentak, matanya membelalak tidak percaya. "Pedang Naga Langit? Di Tiongkok?"

​Ia terdiam sejenak, mencoba mengingat semua ajaran Guru Lu. "Aku lahir dan besar di sana, berlatih bela diri bertahun-tahun, tapi aku baru pertama kali mendengar ada pedang naga di tanah kelahiranku. Bagaimana mungkin aku tidak tahu?"

​Kirana menatap Lin Feng dengan tatapan yang dalam. "Itu karena pedang tersebut adalah rahasia yang terkunci rapat di balik tembok kuil suci. Para biksu di sana telah menyembunyikannya selama berabad-abad dari catatan sejarah maupun telinga para pendekar."

​"Mengapa mereka menyembunyikannya begitu rapat?" tanya Lin Feng masih dalam keadaan terkejut.

​"Karena kekuatannya terlalu besar dan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah," jelas Kirana sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Lin Feng. "Para biksu itu sadar, jika keberadaan Pedang Naga Langit diketahui dunia, daratan Tiongkok akan tenggelam dalam pertumpahan darah yang tak berkesudahan karena setiap penguasa dan pendekar ambisius akan memperebutkannya. Mereka memilih menyimpannya dalam diam demi kedamaian rakyat."

​Lin Feng mengepalkan tangannya. "Dan sekarang, organisasi itu telah mencium keberadaannya.

​Kirana mengangguk pelan, jemarinya mempermainkan hulu pedang putihnya. "Lin Feng, sebenarnya Guru Lu-lah yang memegang kunci rahasia ini. Beliau adalah satu dari sedikit manusia di dunia ini yang mengetahui dengan pasti di mana Pedang Naga Langit itu disembunyikan. Beliau menjaganya bukan hanya dengan kekuatan, tapi dengan kerahasiaan yang mutlak."

​Lin Feng terhenyak, punggungnya bersandar pada tiang paviliun saat kepingan ingatan masa lalunya mulai tersusun kembali. Mata pemuda itu membelalak saat menyadari sesuatu yang besar.

​"Pantas saja..." gumam Lin Feng dengan suara bergetar. "Pantas saja saat kami berdua bertemu dengan Sang Hyang Antaboga di alam sukma sebulan lalu, Guru Lu sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut. Beliau bersikap seolah kehadiran naga agung di depannya adalah hal yang biasa."

​Lin Feng menghela napas panjang, bayangan wajah tenang gurunya melintas di benaknya. "Itu pasti bukan naga pertama yang Guru lihat dalam hidupnya. Beliau sudah mengenal Shenlong jauh sebelum aku mengenal Naga Bumi."

​Kirana menatap Lin Feng dengan iba sekaligus kekaguman. "Guru Lu telah memikul beban itu sendirian selama puluhan tahun, Lin Feng. Beliau merahasiakannya darimu bukan karena tidak percaya, tapi karena beliau tidak ingin kau terseret ke dalam kutukan perebutan kekuasaan ini sebelum kau benar-benar siap."

​Tiba-tiba, dari arah kegelapan taman, terdengar suara tawa kecil yang familiar.

​"Aduh, aduh... bicara rahasia penting atau sedang saling bertukar janji setia nih?" Joko tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, diikuti oleh Rangga Satya Anugara yang berusaha menahan tawa.

​"Mas Lin, tadi wajahnya kaget beneran atau kaget karena tangannya dipegang Nimas Kirana?" goda Joko sambil menyeringai nakal.

​Wajah Lin Feng yang tadinya pucat karena berita buruk, seketika berubah menjadi merah padam lagi. Kirana pun hanya bisa tersenyum simpul sambil menarik tangannya perlahan, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi penuh dengan godaan khas kawan-kawan Lin Feng.

Sementara itu di daratan Tiongkok Di puncak Gunung Huashan yang dingin, angin bertiup kencang memainkan jubah putih Guru Lu. Beliau berdiri di depan sebuah prasasti tua yang nyaris terkikis zaman. Di hadapannya, seorang pemuda berpakaian petani sederhana—yang sebenarnya adalah telik sandi (mata-mata) terbaik yang bernaung di bawah jaringan kuil—bersujud rendah.

​"Guru, laporan dari pesisir menyebutkan kapal-kapal hitam tanpa bendera telah merapat. Mereka dipimpin oleh pria berjubah naga emas. Mereka tidak mencari emas atau wilayah, mereka mencari jalan menuju Gerbang Awan tempat Shenlong bersemayam," lapor sang mata-mata dengan suara gemetar.

​Guru Lu tidak berbalik. Ia hanya menatap hamparan kabut yang menyelimuti lembah di bawahnya. Wajahnya yang keriput tampak tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

​Guru Lu menghela napas panjang, lalu perlahan ia berkata:

​"Akhirnya, hari yang kutakutkan tiba juga. Selama berpuluh-puluh tahun aku menyimpan rahasia ini dalam diam, bahkan dari muridku sendiri, Lin Feng. Aku berharap Shenlong tetap menjadi legenda yang tertidur agar darah manusia tidak perlu lagi membasahi tanah suci ini hanya demi sebilah besi yang bernapas."

​Beliau memutar tubuhnya, menatap ke arah laut lepas seolah bisa melihat posisi Lin Feng di Majapahit.

​"Mereka yang menyebut diri The Sovereigns of the Dragon hanyalah kumpulan semut yang mencoba mencuri api matahari. Mereka pikir dengan menguasai pedang naga, mereka bisa memerintah langit. Padahal, pedang itu bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengorbanan."

​Guru Lu menggenggam tongkat kayunya erat-erat hingga terdengar suara retakan kecil.

​"Biarkan mereka datang. Jika mereka ingin membangun tangga menuju langit dengan tumpukan mayat, maka mereka harus melewati mayatku terlebih dahulu. Aku telah melihat keagungan naga sebelum rambutku memutih, dan aku tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor itu menodai kesucian langit Tiongkok."

​Guru Lu kemudian memanggil para biksu pejuang kuil. "Siapkan Formasi Delapan Penjuru. Tutup jalan setapak menuju puncak. Jangan biarkan satu pun dari mereka mencapai gerbang sebelum matahari terbenam. Dan kau..." ia menunjuk sang mata-mata, "kirim pesan terakhir melalui burung elang menuju selatan. Katakan pada Lin Feng: Naga Bumi dan Naga Langit harus bertemu sebelum gerhana tiba, atau dunia akan jatuh dalam kegelapan abadi."

​Saat sang mata-mata pergi, Guru Lu bergumam pelan, "Lin Feng, muridku... maafkan gurumu ini yang harus melibatkanmu lebih dalam. Tapi takdir naga memang tidak pernah sederhana."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!