Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Yang Tidak Diinginkan
Sore ini yang diwarnai awan mendung, Alina yang tengah memetik sayuran untuk dikonsumsi sendiri, ia dikejutkan dengan kedatangan Raka yang begitu tiba-tiba.
“Aku tidak menyangka sayuran yang kamu tanam bisa tumbuh secepat ini,” ucap Raka.
“Tanah ladang ini sangat subur. Tanaman apapun yang ditanam di tanah ini dan dirawat dengan baik, pastinya tanaman itu bisa tumbuh dengan cepat,” ungkap Alina.
“Kamu benar, tapi ini tetap saja sesuatu yang luar biasa, dan belum tentu orang lain bisa melakukannya!” ucap Raka penuh pujian.
Alina tersenyum kecil. “Ini untuk Kak Raka!” Ia menyerahkan satu ikat sayuran pada pria di depannya.
“Untukku?” Raka menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Ya, untuk Kakak,” jawab Alina masih menampilkan senyuman kecil di wajahnya.
“Baik, aku terima sayuran ini, tapi ini kamu juga harus terima!” Raka menyodorkan sebuah bungkusan pada Alina, “ini kue yang aku beli saat pergi ke Kota Kabupaten,” ucapnya.
Mengetahui itu bukan barang yang bernilai tinggi, Alina menerimanya.
“Terimakasih untuk kuenya!” ucap Alina.
“Sama-sama, dan aku pulang dulu!” Raka langsung pulang setelah melihat anggukan kepala Alina.
Kembali sendiri, Alina meneruskan memetik beberapa sayuran, dan setelah dirasa cukup, ia langsung pergi ke dapur.
Sebelum mandi, ia ingin menyelesaikan urusan di dapur, dan nanti begitu selesai mandi, ia tinggal menikmati hasil kerja kerasnya.
Hidup seperti sekarang ini sudah dirasa cukup baik bagi Alina, meski sebenarnya ia masih ingin melanjutkan kuliahnya, apalagi sebelumnya ia hanya mengambil cuti kuliah selama 1 tahun.
Masih belum genap 2 bulan ia cuti kuliah.
Jadi ia masih memiliki banyak waktu mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya sendiri.
Disaat Alina mulai menikmati hidupnya dan berencana mengumpulkan uang untuk biaya kuliah.
Saat ini di tempat tinggal mewah keluarga Kalingga. Satu keluarga itu sedang bersiap pergi ke Desa tempat tinggal Alina.
Tujuan mereka kali ini adalah satu, yaitu mengajak Alina kembali ke kota, lalu perlahan membuat Alina menyerahkan warisan sang Nenek yang saat ini masih atas namanya.
Dengan keyakinan Alina pasti bersedia kembali ke kota bersama mereka. Satu keluarga itu sangat bersemangat mempersiapkan segalanya, apalagi mulai besok sampai dengan empat hari ke depan adalah libur panjang, membuat mereka bisa sekalian pergi berlibur.
Di sekitar Desa tempat tinggal Alina terdapat banyak tempat wisata, jadi keluarga Kalingga sudah menetapkan dimana mereka akan menghabiskan waktu liburan.
Rencananya mereka akan berangkat malam ini juga, dan seharusnya besok siang mereka sudah sampai di tempat tujuan.
***
Pagi hari bersamaan dengan munculnya matahari pagi. Alina yang sudah beraktivitas sejak beberapa waktu lalu. Ia akhirnya kembali ke rumah setelah berlari sejauh hampir 15 kilometer.
Tidak ada rasa lelah, bahkan ia yakin masih bisa lari lebih jauh lagi, tetapi ia ingat ada ladang yang harus dirawatnya di sepanjang hari, oleh karena itu ia akan lanjut melakukan usaha meningkatkan kekuatan fisik dengan bekerja di ladang tanpa mengenal lelah.
Hari ini waktunya membasmi hama dengan obat-obatan alami, sama sekali tidak menggunakan obat kimia yang lama kelamaan justru merusak tanah dan kualitas tanaman.
Menggendong alat penyemprot hama tanaman yang lumayan berat. Alina sedikitpun tidak merasa keberatan.
Baginya, beban di punggungnya terlalu ringan, membuatnya tidak kesulitan menyelesaikan pekerjaan awal, dan setelah beberapa waktu berlalu, ia akhirnya menyelesaikan seluruh pekerjaan yang membuat penampilannya menjadi sangat kotor, tapi sedikitpun ia tak risih dengan penampilannya sendiri.
Itu hanya penampilan yang kotor, bukan penampilan yang memalukan.
Lagipula, bukannya berani kotor itu, baik?
Selesai menyelesaikan seluruh pekerjaan yang membuatnya bergelut dengan banyak hal kotor. Alina yang mulai merasa lapar lebih dulu mandi dan mengganti pakaiannya, baru setelahnya ia mulai mengisi perutnya yang keroncongan.
Pagi tadi sebelum melakukan olahraga, ia lebih dulu sudah menyiapkan berbagai hidangan, termasuk tumis daging yang membuat makanannya hari ini terasa lebih mewah.
Kue yang diberikan Raka sudah habis dinikmati malam tadi sambil nonton TV, dan baru juga ia selesai makan, dari luar terdengar suara lebih dari satu mobil berhenti di depan rumahnya.
Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas siang, dan Alina sama sekali tidak tau siapa tamu yang mengunjunginya.
Merasa penasaran, ia pun berjalan keluar, tapi rasa kecewa menyeruak begitu melihat siapa orang-orang yang keluar dari mobil.
‘Wow, langsung datang satu keluarga tanpa ada yang terlewatkan!’ batin Alina sembari sesaat menunjukkan senyuman miring, sebelum ekspresinya kembali datar.
“Kami ingin masuk ke dalam dan segera siapkan air minum buat kami!” Rafael yang baru tiba di hadapan Alina langsung saja menunjukkan sikapnya yang arogan, menganggap semua orang akan menuruti segala perintahnya.
Sayangnya Alina yang berdiri tepat di depan pintu, ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
Jangankan menyiapkan minuman, ia bahkan masih belum memberikan ijin pada orang-orang di depannya masuk ke dalam rumahnya.
Merasa kesal karena diabaikan. Rafael mencoba mendorong Alina supaya menyingkir dari depan pintu, tapi yang ada justru keadaan berbalik arah, dimana justru tubuhnya yang terdorong mundur setelah mencoba mendorong Alina.
Meliht apa yang terjadi pada Rafael. Martha marah dan langsung berteriak di depan muka Alina, “cepat menyingkir! Kami ingin masuk, lalu kau segera siapkan minuman untuk kami semua, dan itu harus minuman yang menyegarkan!”
Suara teriakan Martha sangat keras, sampai-sampai telinga Alina berdenging, tapi itu hanya sesaat, sebelum sorot matanya yang sangat tajam tertuju ke wanita yang pernah dipanggilnya Ibu.
Lebih dulu menunjukkan senyumannya, baru setelahnya Alina berbicara, “Nyonya Martha, saya bukanlah pelayan yang harus melakukan ini itu mengikuti perintah anda, dan lagi ini adalah rumah saya, jadi saya bebas melakukan apa saja, termasuk menolak kehadiran kalian di sini!”
Ucapan itu terdengar begitu jelas, dan di waktu yang sama, Raka dan beberapa penduduk Desa datang, dimana mereka datang setelah mendengar kabar dari salah satu penduduk Desa yang melihat banyak orang mendatangi rumah Alina.
Melihat kedatangan penduduk Desa yang cepat mengambil posisi di sebelah Alina. Bukannya gentar, Hendrawan cepat memanggil pengawal dengan tubuh tinggi besar dan berotot, membuat penduduk Desa menjadi terlihat kecil, kecuali sosok Raka.
Sebelumnya Raka masih memakai topi bundar besar yang menutupi sebagian wajahnya, tapi begitu topi dibuka dan wajah tampannya jelas terlihat. Hendrawan yang melihat sosok Raka di samping Alina, reflek ia melangkah mundur, tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang identitasnya sama sekali tak bisa ia singgung.
Melihat Raka berdiri di sisi Alina, seketika itu juga Hendrawan merasakan firasat buruk, dan sesuatu yang buruk benar-benar akan terjadi kalau ia tak cepat pergi dari tempatnya saat ini.
“Kita pergi!!!”
Satu perintah yang keluar dari mulutnya. Hendrawan beranggapan kalau satu kata itu cukup untuk menyelamatkan keluarganya dari bahaya.
Meski merasa aneh, satu keluarga itu mengikuti ucapan Hendrawan, dan merekapun pergi, menyisakan keanehan nyata bagi Alina yang menyaksikan semua itu.
“Ini benar-benar aneh!!~”