NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tama!

Berita duka dari Pak Guno telah sampai ke sekolah. Para siswa, terutama mereka yang merasa dekat dengan beliau, segera merencanakan takziah ke rumah duka.

Sepuluh orang siswa, termasuk Tamara dan Andin yang merupakan pengurus inti OSIS, berkumpul untuk berembuk. Mereka mengumpulkan uang duka yang akan diberikan kepada keluarga Guno. Setelah semua siap, mereka berangkat menggunakan sepeda motor. Tamara dan Andin berboncengan di barisan depan. Di sepanjang perjalanan, mereka berbincang mengenai kejadian yang menimpa istri Guno.

"Gas itu kalau sudah tercium baunya harus buru-buru dilepas regulatornya ya?" tanya Andin.

"Iya, harus! Kalau bau gas sudah menyebar di ruangan, api akan cepat melahap persis seperti bensin " jawab Tamara.

"Begitu ya? Pasti Pak Guno sedih sekali sekarang " gumam Andin.

"Gue jamin dia pasti pingsan!" timpal Tamara yakin.

"Ya, secara itu istri tercinta kan?"

"Iya" Tamara mengangguk.

Waktu berlalu hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah duka. Suasana tampak ramai orang-orang hilir mudik untuk mengucapkan belasungkawa. Tamara, Andin, dan teman-temannya turun dari motor.

"Itu Pak Guno!" tunjuk Andin.

"Ya sudah, ayo kita samperin!" ajak sang Ketua OSIS.

Anak-anak menghampiri Pak Guno yang berdiri melamun. Pria itu tampak menatap kosong, seolah kejadian ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Pak," sapa Ketua OSIS pelan.

Suara itu membuat Guno tersentak. Guno yang tadinya tampak tak bergairah, seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dengan senyuman khasnya.

"Kalian ke sini?" tanya Guno.

"Iya Pak. Kami dapat kabar hari ini Bapak tidak masuk karena Ibu meninggal" jawab Ketua OSIS.

Guno menghela napas panjang lalu memeluk Ketua OSIS yang berdiri tepat di hadapannya.

"Terima kasih sudah datang. Kalau kalian mau melihat istri saya, silakan masuk ke dalam. Saya masih ingin di luar" ucap Guno.

Anak-anak itu mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Guno memerhatikan wajah mereka satu per satu, hingga matanya terpaku pada Tamara. Gadis itu tampak sangat cantik dengan isak tangis yang membuat pipinya kemerahan.

"Tama!" panggil Guno tiba-tiba.

Tamara menoleh menganggukkan kepala pelan sebagai tanda hormat lalu kembali mengikuti teman-temannya masuk ke dalam.

Kok aku baru sadar kalau Tama bisa secantik itu? batin Guno. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan merasa bersalah karena memikirkan hal itu di saat istrinya baru saja meninggal.

Pemakaman telah usai. Para siswa pun berpamitan untuk pulang.

"Bapak yang sabar ya. Kami di sini pasti mendoakan yang terbaik untuk almarhumah," ucap Ketua OSIS menguatkan.

"Terima kasih Nak. Sekali lagi terima kasih banyak," sahut Guno.

Mereka pun berpamitan, beberapa dari mereka memeluk Guno sekadar memberi kekuatan bahwa hidup harus tetap berlanjut. Tamara dan Andin pun menaiki motor mereka. Di perjalanan pulang, topik pembicaraan mereka masih seputar sang guru.

"Gue pikir Pak Guno bakal nangis bombay sampai pingsan, ternyata cuma bengong!" celetuk Andin ketus.

"Cara orang bersedih itu beda-beda Din. Tidak bisa disamakan" bela Tamara.

"Lu sadar gak Tam? Tadi Pak Guno kayak mau meluk lu, tapi lu-nya keburu melengos!"

"Masa? Gue gak sadar."

"Kata gue sih, ini bakal ada puber kedua!"

"Hush! Gak boleh begitu. Kuburan belum kering sudah ngomongin puber kedua" tegur Tamara.

"Habisnya aneh. Orang lain kalau berduka biasanya linglung atau nangis. Ini dia cuma bengong, terus sok tegar berusaha senyum di depan kita. Padahal kalau sedih ya sedih saja kali."

"Sudah ah! Tidak baik membicarakan Pak Guno."

"Eh, tapi gue punya firasat nih!"

"Firasat apa lagi Andin?"

"Lu bakal jadi incaran Pak Guno!"

"Ih, amit-amit! Sudah bapak-bapak juga!"

"Awas saja sekarang amit-amit nanti imut-imut!"

"Enggak Andin!" Tamara bersikeras menolak.

Sementara itu di rumah Guno sedang duduk sembari menggulir layar ponselnya. Ia tengah memerhatikan foto-foto Tamara di Instagram.

"Cantik juga anak ini. Umur baru belasan tahun, tapi badannya bagus" gumam Guno.

Semakin jempolnya menggulir ke bawah semakin ia tertarik. Ia menyalakan pemantik api membakar sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam hingga asap tebal keluar dari mulutnya.

"Ranum, merah, dan putih," ucap Guno saat melihat foto Tamara yang sedang berlibur di pantai mengenakan celana pendek. "Aku masih muda dan bebas mencari perempuan mana pun yang aku mau, termasuk Tama."

Guno menekan tombol keluar dari aplikasi tersebut. Tak lama kemudian ibu mertuanya datang membawa selembar surat.

"Guno, Ibu boleh membicarakan ini meskipun kuburan Hana belum kering?"

"Tentang apa Bu?"

"Waktu Hana masih hidup, dia berjanji membagi dua hak waris rumah ini. Katanya, dia bekerja keras untuk membangun rumah ini. Ibu boleh menjual setengahnya? Semenjak Hana tidak ada, Ibu tidak punya sumber dana kecuali kalau kamu mau mengurus Ibu."

Guno tersentak. "Tapi Hana tidak pernah bilang kalau hak waris dibagi dua dengan Ibu. Lagi pula, rumah ini delapan puluh persen uangnya dari aku. Tidak bisa dibagi dua begitu saja, Bu!"

"Tapi Hana sudah berjanji. Kalau kamu tidak percaya, lihat surat ini. Ada cap jempolnya!"

Guno menyambar surat itu dan membacanya dengan tergesa-gesa. Ternyata benar isinya adalah pembagian hak waris antara Guno dan ibu mertuanya. Guno merasa sangat kesal. Bagaimana bisa istrinya tidak membicarakan hal sepenting ini? Ingin marah pun ia bingung harus kepada siapa.

Guno mengernyitkan kening, mencoba tetap tenang dan bersikap dewasa.

"Begini Bu daripada kita meributkan hak waris, sebaiknya Ibu tidak perlu cemas Ibu juga ibuku, Ibu tinggal saja di sini urusan makan dan biaya lainnya akan aku tanggung."

"Tapi Ibu juga harus ke salon. Waktu Hana masih hidup, Ibu selalu diajak ke salon untuk perawatan rambut, kuku, bahkan luluran," rengek mertuanya seperti bayi.

Guno makin syok. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya kalau mau ke salon, bilang saja padaku! Butuh berapa nanti aku transfer"

Ibu mertuanya bernapas lega Ia mengelus lengan Guno dengan lembut "Terima kasih Nak, Kamu memang selalu bisa diandalkan."

Guno hanya mengangguk, meski di dalam hati ia merasa sangat jengkel.

Apa aku buat dia mati saja ya? Atau aku bawa ke panti jompo? Tapi umurnya masih muda. Duh, bikin pusing saja! batin Guno kejam. Namun, di luar ia tetap menampilkan senyum manis kepada ibu mertuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!