Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basa-Basi yang Berujung Petaka
Lilin di atas nakas mulai memendek, menari-nari menciptakan bayangan panjang di dinding kamar. Rasa kantuk yang hebat akhirnya mengalahkan rasa takut Bintang. Kepalanya yang tadi tegak perlahan mulai terkulai, hingga akhirnya mendarat dengan nyaman di bahu kokoh Lingga.
Lingga terdiam, menghentikan gerakannya agar tidak mengganggu Bintang. Ia menoleh sedikit, menatap wajah gadis itu yang tampak begitu tenang di bawah cahaya temaram. Sifat tengil dan mulut pedas Bintang seolah hilang ditelan mimpi.
Perlahan dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, Lingga menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Bintang. Ia mengangkat tubuh mungil itu, lalu merebahkannya di atas kasur miliknya yang empuk. Lingga menarik selimut hingga sebatas dada Bintang, memastikan gadis itu tidak kedinginan di malam ini.
"Dasar kurcaci, kalau tidur baru bisa anteng," gumam Lingga sangat pelan.
Lingga tidak ikut naik ke kasur. Ia tahu batas. Ia mengambil sebuah bantal cadangan dan selimut tipis, lalu melangkah menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamarnya. Meskipun badannya yang tinggi membuat posisinya sedikit tidak nyaman di sofa, Lingga tetap memilih tidur di sana untuk menjaga Bintang.
Sambil memejamkan mata, Lingga sempat berpikir, bagaimana bisa gadis yang paling sering membuatnya emosi ini sekarang malah tidur di kamarnya? Namun, rasa lelah akhirnya menjemputnya juga. Di tengah kegelapan rumah yang masih mati lampu, Lingga akhirnya tertidur pulas di sofa, sementara Bintang mendengkur halus di kasurnya
Pagi hari ini , cahaya matahari mulai menyeruak masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Bintang mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
"Loh?" gumam Bintang pelan saat menyadari langit-langit kamarnya terlihat berbeda. Aroma kamarnya pun bukan wangi vanilla favoritnya, melainkan aroma maskulin yang sangat familiar.
Bintang langsung terduduk tegak. Matanya membelalak menatap sekeliling. "Ini kan... kamar si Kucing Garong!"
Ingatannya perlahan kembali. Ia ingat semalam mati lampu, ia ingat Lingga menakut-nakutinya soal bekas tanah kuburan, dan ia ingat betapa memalukannya dia melompat ke gendongan Lingga karena ketakutan setengah mati pada HANTU 👻.
"Aduuuh, bego banget sih gue!" Bintang menepuk jidatnya sendiri dengan keras, wajahnya mendadak merah padam sampai ke telinga. "Bisa-bisanya gue tidur di sini! Pasti Kak Lingga bakal ngeledek gue habis-habisan seumur hidup!"
Bintang melirik ke arah sudut ruangan. Di sana, di atas sofa yang sebenarnya kekecilan untuk ukuran tubuhnya yang tinggi, Lingga tampak masih tertidur pulas dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Salah satu kakinya bahkan menjuntai ke lantai.
Bintang terdiam sejenak. Melihat Lingga yang rela tidur di sofa demi memberinya kasur empuk membuat perasaan Bintang sedikit menghangat. Ternyata dia punya hati juga ya, nggak cuma punya tanduk, batin Bintang sambil tersenyum tipis.
Namun, rasa gengsinya lebih besar. Sebelum Lingga bangun dan memergokinya sedang menatap kagum, Bintang segera turun dari kasur dengan sangat pelan. Ia berjinjit menuju pintu, berniat kabur ke kamarnya sendiri untuk mandi dan berpura-pura seolah kejadian "koala" semalam tidak pernah terjadi.
Baru saja tangannya menyentuh knop pintu, suara serak khas bangun tidur terdengar dari arah sofa.
"Mau kabur kemana, Kurcaci? Udah nggak takut hantu lagi?"
Bintang mematung. Sial, singanya sudah bangun. Drama pagi ini sepertinya akan dimulai dengan sesi ejekan yang panjang
Bintang membelalakkan matanya, nyaris tidak percaya dengan jawaban santai yang keluar dari mulut Lingga. Wajahnya yang tadi sudah merah, sekarang makin terasa panas seperti terbakar.
"Ya... ya mau ke kamar lah! Mau mandi!" sahut Bintang ketus, berusaha menutupi kegugupannya sambil memutar knop pintu. "Kak Lingga mau ikut?" tanya Bintang asal, niatnya hanya ingin menyindir karena Lingga masih terlihat malas-malasan di sofa.
"Boleh," jawab Lingga singkat dengan suara serak khas bangun tidur, matanya menatap lurus ke arah Bintang dengan ekspresi datar tanpa dosa.
Bintang mematung di ambang pintu, jantungnya serasa mau copot. "Ihhh! Anjir! Mesum deh lo!" umpat Bintang kencang sambil melempar bantal hias yang ada di dekatnya tepat ke arah wajah Lingga.
Lingga dengan sigap menangkap bantal itu sambil terkekeh pelan—suara tawa yang sangat jarang didengar Bintang. "Lah, yang nawarin siapa, yang marah siapa. Lo sendiri yang nanya, kan?"
"Gue kan cuma basa-basi, Kucing Garong! Dasar otak mesum!" Bintang langsung lari keluar dari kamar Lingga dan membanting pintu dengan keras.
Di dalam kamarnya sendiri, Bintang menyandarkan punggung di balik pintu sambil memegangi dadanya. "Gila, gila, gila! Di pagi ini dan jantung gue udah nggak sehat begini!" gerutunya.
Sementara itu, di kamarnya, Lingga duduk di pinggir sofa sambil tersenyum tipis. Entah kenapa, menggoda Bintang di pagi hari ni terasa jauh lebih menyenangkan daripada memenangkan balapan liar semalam.