Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Bayangan Masa Lalu yang Datang Kembali
Sinar matahari pagi menyinari setiap sudut halaman rumah Sultan, menerangi wajah Satria yang sedang asyik menggambar di atas selembar kertas putih besar. Sudah sebulan sejak dia pulih dari demam berdarah, dan kini dia kembali aktif seperti biasanya—hanya saja kali ini dia lebih hati-hati dalam menjaga kebersihan diri dan selalu mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk tidak meninggalkan genangan air di mana saja. Alya sedang duduk di sisi anaknya, membantu melukis pola bunga pada gambar Satria, sementara aroma bubur ayam yang dimasak Bu Sri memenuhi udara dengan harumnya.
Sultan baru saja kembali dari kebun kerajinan tangan Bu Siti, membawa berkas dokumen tentang proyek baru mereka—kerjasama dengan sebuah perusahaan ekspor untuk memasarkan produk kerajinan tangan mereka ke pasar luar negeri. Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan anggota kelompok dan memberikan kesempatan kerja lebih banyak bagi masyarakat sekitar.
“Sayang, lihat ya,” ujar Sultan dengan suara penuh semangat, menunjukkan dokumennya kepada Alya. “Kita akan mulai produksi dalam dua minggu lagi. Bu Siti dan para ibu sangat senang karena ini akan membantu mereka meningkatkan taraf hidup keluarga mereka.”
Alya mengangkat kepalanya dengan senyum hangat, kemudian melihat ke arah pintu gerbang rumah yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang yang tidak dikenal. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan penampilan mewah namun wajah yang penuh dengan ekspresi dingin dan penuh dendam masuk ke dalam halaman, diikuti oleh seorang pria yang tampak sebagai pengawalnya. Wanita itu memiliki wajah yang agak mirip dengan Alya, namun dengan ciri-ciri yang lebih tajam dan mata yang menyala dengan rasa tidak senang.
“Alya?” tanya wanita itu dengan suara yang kuat dan menusuk, menyebut nama Alya tanpa basa-basi. “Apakah kamu benar-benar Alya Kusuma yang dulu tinggal di desa Sukamaju?”
Alya berdiri dengan cepat, wajahnya penuh dengan kebingungan dan sedikit rasa takut. Dia mengenal wanita itu dengan jelas—dia adalah Ratna Dewi, kakak sepupu yang dulu selalu merasa tersisih oleh perhatian orang tua mereka terhadap Alya. Mereka tidak bertemu selama lebih dari sepuluh tahun setelah Alya pindah dari desa untuk melanjutkan pendidikan di kota.
“Ratna? Apa yang kamu lakukan di sini?” ujar Alya dengan suara yang sedikit gemetar, mengingat kembali masa lalu yang tidak menyenangkan ketika Ratna selalu mencoba membuat hidupnya sulit di desa.
Ratna tersenyum dengan cara yang membuat Sultan merasa tidak nyaman. Dia mendekati Alya dengan langkah yang tegas, mata terus menatap Alya dengan penuh iri hati dan kemarahan. “Aku mencari kamu selama bertahun-tahun, Alya,” ujarnya dengan suara yang dingin. “Aku tidak menyangka akan menemukan kamu hidup bahagia dengan seorang pria kaya dan memiliki anak yang sehat dan cantik. Padahal kamu seharusnya hidup dalam kesusahan setelah meninggalkan desa dan mencuri hak yang seharusnya menjadi milikku!”
Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke dalam kolam yang tenang, membuat suasana menjadi tegang dalam sekejap. Sultan segera berdiri di sisi Alya, memberikan dukungan dengan erat memegang tangannya. Satria yang melihat suasana yang tidak biasa segera berhenti menggambar dan berlari ke arah ibunya, menyembunyikan wajahnya di pangkuan Alya dengan rasa takut.
“Silakan berbicara dengan sopan, Bu Ratna,” ujar Sultan dengan suara yang tenang namun tegas. “Kami tidak tahu apa yang kamu maksud dengan kata-kata itu, namun saya tidak akan menyaksikan orang lain menyakiti istri saya dan anak saya.”
Ratna menghela napas dengan sinis, kemudian menyodorkan sebuah amplop putih kepada Alya. “Di dalam amplop ini ada dokumen yang menunjukkan bahwa tanah milik keluarga kita di desa Sukamaju—tanah yang seharusnya menjadi milikku—sekarang berada di bawah nama kamu,” ujarnya dengan suara yang penuh kemarahan. “Ketika kakek kita meninggal, dia menyatakan dalam surat wasiatnya bahwa tanah itu akan diberikan kepada cucu perempuan yang paling mampu mengelolanya. Aku tahu kamu telah mencuri surat wasiat itu dan mengubahnya agar tanah itu menjadi milikmu! Sekarang aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!”
Alya menerima amplop dengan hati-hati, tangan sedikit gemetar saat membukanya. Di dalamnya memang terdapat surat wasiat lama dari kakek mereka yang sudah meninggal dunia lebih dari lima belas tahun yang lalu, serta dokumen tanah yang menunjukkan bahwa tanah tersebut terdaftar di bawah nama Alya. Namun Alya sangat yakin bahwa dia tidak pernah melakukan apa-apa yang salah—kakeknya sendiri yang memberikan tanah itu kepadanya karena dia adalah satu-satunya cucu perempuan yang bersedia belajar tentang pertanian dan mengelola tanah keluarga dengan baik.
“Ratna, kamu salah paham,” ujar Alya dengan suara yang lembut namun tegas. “Kakek sendiri yang memberikan tanah itu kepadaku sebelum dia meninggal. Dia tahu bahwa aku ingin mengembangkan tanah itu menjadi tempat pembibitan tanaman buah dan sayuran yang bisa membantu masyarakat desa. Kamu sendiri pada saat itu tidak peduli sama sekali dengan tanah keluarga dan memilih pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih mewah!”
Ratna tertawa sinis, wajahnya penuh dengan kemarahan. “Itu adalah kebohongan yang kamu ciptakan sendiri, Alya! Kamu selalu pandai membohongi orang untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kakekmu pasti telah kamu manipulasi agar dia memberikan tanah itu kepadamu! Sekarang tanah itu sudah sangat berharga karena akan dijadikan kawasan industri oleh sebuah perusahaan besar, dan aku berhak mendapatkan uang hasil penjualan tanah itu!”
Saat itu, suara dari pintu gerbang membuat semua orang berbalik melihat. Haji Mansur yang baru saja pulang dari pasar membawa beberapa tas belanjaan, wajahnya penuh dengan ekspresi terkejut saat melihat Ratna. “Ratna? Apakah kamu benar-benar kamu, Nak Ratna?” ujarnya dengan suara yang sedikit gemetar.
Ratna juga terkejut melihat Haji Mansur. Dia berdiri dengan kaku, mata penuh dengan kebingungan dan sedikit rasa takut. “Pak Mansur? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Haji Mansur mendekati mereka dengan langkah yang lambat, matanya terus menatap Ratna dengan penuh kesedihan. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi setelah semua yang terjadi di desa,” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Alya, Sultan, aku perlu memberitahu kalian sesuatu yang penting tentang Ratna.”
Semua orang menatap Haji Mansur dengan penuh perhatian. Alya merasa hati nya berdebar kencang, merasakan bahwa kebenaran yang akan diungkapkan akan mengubah segalanya.
“Haji Mansur, apa yang kamu maksud?” tanya Alya dengan suara yang penuh rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan.
Haji Mansur mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. “Surat wasiat yang kamu pegang, Ratna, bukanlah surat wasiat asli dari kakek kamu, Nak Alya,” ujarnya dengan suara yang penuh kesedihan. “Aku tahu ini karena aku adalah orang yang membantu kakek kamu menyusun surat wasiat asli sebelum dia meninggal.”
Ratna merasa tubuhnya menjadi lemah saat mendengar kata-kata tersebut. Dia menjatuhkan amplop ke lantai dengan tidak sengaja, mata penuh dengan tidak percaya dan kemarahan. “Itu bohong! Dokumen ini asli dan telah diverifikasi oleh notaris! Kamu hanya ingin membantu Alya menyimpan tanah itu untuk dirinya sendiri!”
Haji Mansur menggelengkan kepala dengan lembut, kemudian mengambil sebuah kotak kayu kecil dari dalam tasnya. “Aku menyimpan surat wasiat asli ini selama bertahun-tahun karena kakek kamu meminta aku untuk melakukannya,” ujarnya, membuka kotak dan mengambil selembar kertas tua yang sudah sedikit menguning darinya. “Ini adalah surat wasiat asli yang menunjukkan bahwa tanah itu diberikan kepada Alya dengan sukarela oleh kakek kamu. Dia bahkan menulis alasan mengapa dia memilih Alya—karena Alya adalah satu-satunya cucu yang benar-benar peduli dengan masa depan tanah keluarga dan masyarakat desa.”
Ratna menangis teresak-esak saat melihat surat wasiat asli tersebut. Dia mengambil kertas dengan tangan yang gemetar, membacanya dengan mata yang berkaca-kaca karena air mata yang mulai mengalir deras. “Tidak mungkin… tidak mungkin…” bisiknya berulang kali, tidak bisa menerima kebenaran yang telah terungkap.
“Haji Mansur, mengapa Ratna berpikir bahwa tanah itu seharusnya menjadi miliknya?” tanya Sultan dengan suara yang penuh empati, melihat kondisi Ratna yang sedang menangis dengan teresak-esak.
Haji Mansur menghela napas dalam-dalam, duduk di kursi yang disediakan dengan hati-hati. “Setelah kakek kamu meninggal, Ratna datang kembali ke desa dan mencari surat wasiat,” jelasnya dengan suara yang lembut. “Ketika dia mengetahui bahwa tanah itu diberikan kepada Alya, dia sangat marah dan pergi dengan hati yang penuh dendam. Aku mendengar bahwa dia kemudian menikah dengan seorang pria kaya, namun perkawinannya tidak bahagia dan suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu setelah mengalami masalah keuangan parah. Sekarang dia sedang menghadapi kesulitan finansial dan melihat penjualan tanah itu sebagai cara untuk menyelamatkan dirinya.”
Alya mendekati Ratna dengan hati-hati, menepuk bahunya dengan lembut. “Ratna, aku tidak tahu bahwa kamu sedang menghadapi kesulitan,” ujarnya dengan suara yang penuh empati. “Kita adalah keluarga, dan aku tidak pernah ingin kamu hidup dalam kesusahan. Meskipun tanah itu milikku, aku bersedia membantu kamu dengan apa yang aku bisa.”
Ratna mengangkat kepalanya dengan mata yang penuh rasa syukur dan kesedihan. “Mengapa kamu mau membantu aku, Alya?” ujarnya dengan suara yang lembut dan bergetar. “Aku datang ke sini dengan hati yang penuh dendam dan mencoba mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. Aku bahkan mengatakan hal-hal yang tidak benar tentangmu!”
Alya tersenyum dengan lembut, membungkus tangan di pundak Ratna. “Kita semua pernah membuat kesalahan, Ratna,” ujarnya dengan suara yang penuh kasih sayang. “Kakek kamu selalu mengatakan bahwa keluarga adalah yang terpenting, dan aku tidak bisa melihatmu kesusahan dan tidak melakukan apa-apa untuk membantumu. Kita bisa bekerja sama untuk mengembangkan tanah itu—kita bisa membuatnya menjadi pusat pembelajaran pertanian dan kerajinan tangan yang tidak hanya menguntungkan kita, tapi juga masyarakat desa.”
Sultan juga mendekati mereka, memberikan dukungan dengan penuh semangat. “Aku bisa membantu dengan pengelolaan dan mencari mitra bisnis yang bisa mendukung proyek ini,” ujarnya dengan suara yang penuh tekad. “Dengan kerja sama kita, tanah itu bisa memberikan manfaat yang lebih besar daripada hanya menjualnya untuk dibangun menjadi kawasan industri.”
Ratna menangis lagi, kali ini karena rasa syukur yang luar biasa. Dia meraih tangan Alya dengan erat, merasa bahwa beban yang telah menyiksa hatinya selama bertahun-tahun akhirnya hilang. “Terima kasih, Alya,” ujarnya dengan suara yang penuh emosi. “Aku sangat menyesal telah melakukan semua ini padamu. Aku berjanji akan membantu kamu mengembangkan tanah itu dan membuat kakek kita bangga dengan apa yang kita capai bersama.”
Satria yang sudah tidak takut lagi mendekati mereka, memegang tangan Ratna dengan lembut. “Bibi Ratna mau bermain menggambar dengan aku?” tanya dia dengan suara yang ceria, menunjukkan gambar yang dia buat tadi.
Ratna merasa hati nya menjadi hangat mendengar pertanyaan anak kecil itu. Dia mengangkat Satria dengan hati-hati, mencium pipinya dengan lembut. “Tentu saja, Nak Satria,” ujarnya dengan suara yang penuh kasih sayang. “Aku akan senang bermain menggambar denganmu dan bahkan akan mengajarmu cara melukis bunga yang ada di tanah kakek kita.”
Saat malam mulai menjelang, keluarga Sultan dan Ratna duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan yang telah disiapkan Bu Sri dengan cinta. Bu Siti dan beberapa anggota kelompok kerajinan tangan juga datang untuk bergabung setelah mendengar kabar tentang kedatangan Ratna, dan mereka dengan senang hati menerima dia ke dalam kelompok mereka. Mereka berbicara tentang rencana pengembangan tanah keluarga dan bagaimana itu bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, dengan wajah yang penuh dengan harapan dan semangat untuk masa depan yang lebih baik.
Di halaman rumah, sinar matahari sore menyinari wajah-wajah yang penuh dengan kebahagiaan dan harapan. Suara tawa dan candaan mereka mengisi udara, menjadi bukti bahwa keluarga memang bisa menyelesaikan segala konflik dengan cinta, pengampunan, dan kerja sama. Dan di dalam hati Alya, dia tahu bahwa kakeknya pasti sedang melihat mereka dari surga dengan senyum bangga—karena mereka telah membuktikan bahwa nilai-nilai yang dia ajarkan selama hidupnya masih tetap hidup dan akan terus dilestarikan untuk generasi mendatang