NovelToon NovelToon
Wanita Terakhir Sang Playboy

Wanita Terakhir Sang Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Playboy / Angst / Obsesi / Romantis / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Swan

Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan maaf sang playboy

Gavin membawa tubuh lemah Kanaya menuju apartemen pribadinya, dapat Gavin lihat Kanaya semakin gelisah dan seperti tengah menahan sesuatu, baju Kanaya sudah sangat berantakan karena Kanaya selalu berusaha membukanya.

Rambut dan makeup yang sempat Kanaya pakai pun tak jauh berbeda, posisi semuanya sudah berbeda jauh tak seperti saat pertama kali Kanaya menginjakan kakinya di club.

Dari awal kedatangan Kanaya dan Karina sebenarnya Gavin sudah melihatnya, Gavin dan Alex memang sudah berada lebih dulu di club itu, Gavin tau bahwa ada seseorang yang memang merencanakan niat buruk pada kedua gadis itu, karna itulah Gavin tak menghampiri mereka dan memilih melihatnya dari kejauhan, karna Gavin ingin tau sejauh apa rencana orang-orang itu.

----

Lima belas menit berlalu Gavin telah tiba di apartemen miliknya, dengan membawa Kanaya dalam gendongannya, Gavin bersyukur waktu yang sudah menunggu pukul dua belas malam, membuat suasana apartemen sangat sepi, tak ada orang yang sempat berpapasan dengannya, membuat Gavin cukup senang, jujur... Gavin hanya khawatir bila ada seseorang yang melihat dengan posisinya sekarang dan berfikir negatif padanya.

Tiba di apartemen, Gavin langsung membawa Kanaya dan menidurkannya di ranjang miliknya. Melihat Kanaya yang sudah tidur terlentang di ranjangnya membuat Gavin lega ,Gavin pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, yang berkeringat cukup banyak, membawa Kanaya dalam gendongan dalam waktu beberapa menit membuat Gavin cukup kegerahan, di tambah Kanaya yang sungguh terlihat menggiurkan untuk Gavin, tentu membuatnya semakin kepanasan.

Gavin keluar dari Kamar mandinya setelah lima belas menit berlalu, hanya dengan mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.

Gavin berniat mengambil pakaian di dalam walk in closet, namun sebelum itu Gavin sempat melihat ke arah Kanaya, dan pemandangan di ranjangnya, sungguh membuat Gavin benar-benar gila malam ini.

Tampak di sebrang sana, 9Kanaya ternyata sudah melepaskan gaun yang tadi di pakainya, menyisakan pakaian dalam berwarna hitam mencetak jelas bagian tubuh Kanaya yang seharusnya tidak dilihatnya.

Melihat pemandangan di sebrang sana membuat Gavin seakan lupa rencana awalnya untuk mengambil pakaian, Gavin memilih menghampiri Kanaya yang masih terlihat gelisah, bahkan kini dia melihat Kanaya menyentuh area pribadinya dengan tangannya sendiri, ah...Sepertinya Gavin tak mungkin lagi bisa menahannya kali ini.

Gavin pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas Kanaya, dengan tangan yang mulai bergerak bebas mencari kepuasan, bibirnya pun kini sudah mencium lembut bibir Kanaya tanpa penolakan, bahkan Kanaya membalas ciumannya dan mengalungkan tangan nya di leher Gavin.

Kedua manusia itu seperti tengah lupa dengan status mereka saat ini, bahkan area pribadi Kanaya yang tadi masih tertutupi kini sudah dapat dilihat jelas oleh Gavin, begitu pun Gavin yang sudah menanggalkan handuk yang di pakainya tadi dari kamar mandi .

Lima belas menit berlalu Gavin dan Kanaya mencari kepuasan, sudah banyak bercak merah di leher dan bagian dada Kanaya hasil karya seorang Gavindra, Gavin pun telah bermain main dengan area pribadi Kanaya di bawah di sana dengan keahlian nya, yang membuat Kanaya mencapai pelepasan. Walaupun tanpa benar-benar melakukannya.

Harusnya setelah adalah saat permainan inti untuk mereka berdua, namum Kanaya tampak mulai berbeda dan tak segelisah tadi, sepertinya obat yang di berikan untuk Kanaya memang hanya di buat untuk membuat yang meminumnya menginginkan pelepasan, karna sekarang yang di lihat Gavin hanya Kanaya yang sedang terengah namun tak seagresif sebelum nya.

"Ah...shit..anjing..."Gavin menggeram, lagi-lagi dia merasa di permainkan oleh Kanaya untuk kedua kalinya. Kalau Gavin mau, sebenarnya Gavin bisa melakukannya dengan Kanaya dan membuat Kanaya seperti tadi, namun di sisi lain Gavin merasa takut dengan status mereka saat ini, apalagi dengan keadaan Kanaya yang tidak sadar saat ini.

Apalagi seandainya Kanaya wanita yang masih suci, apa yang di lakukannya sekarang saja sudah melewati batas, tak mungkin rasanya bagi Gavin untuk merenggut kehormatan seorang gadis.

Gavin memang bukan pemuda baik-baik, bahkan Gavin sering tidur dengan banyak wanita yang berbeda, namun tak ada satupun dari mereka yang Gavin renggut kehormatannya secara paksa, semua mereka lakukan atas dasar suka sama suka ,bukan karna paksaan.

"Ah...sial...Anjing!"Gavin terus mengumpat dan akhirnya memutuskan untuk menuntaskan hasrat dengan caranya sendiri, tentunya hanya di kamar mandi.

----

Sementara di sebuah apartemen yang berbeda, tampak dua orang manusia sedang bergumul dengan penuh gairah, terdengar desahan dari keduanya tanpa henti, keduaany sama-sama menikmati permainan liar dari pasangannya.

"Ahhh... Faster... Lex"lenguh suara seorang gadis .

"As you wish honey..."jawab seorang pria yang kini semakin mempercepat hentakannya.

"Ahhhhh....."Dan beberapa saat kemudian kedua orang itupun akhirnya terkulai lemas di saat bersamaan, dengan nafas sama-sama memburu.

"Tanks... Alex...."ucap Karina, gadis itu memang lah Karina yang baru saja saling berbagi kenikmatan dengan Alex.

Berbeda dengan Kanaya yang tak sadar dengan keadaan nya, Karina cukup sadar bahkan ketika sampai di apartemen Alex, Karina sendirilah yang meminta Alex untuk menuntaskan hasratnya tadi, dan tentu saja seorang Alex tak akan pernah menolak wanita yang meminta nya.

----

Sementara di sebuah rumah mewah tampak Lima gadis sedang berkumpul, dengan ditemani banyak botol alkohol di meja yang ada di hadapan mereka.

Di sebrang mereka pun tampak ada lima pria yang tengah berpesta minuman haram itu, dengan rokok dan banyak makan ringan yang berserakan.

Sampai sebuah dering telpon terdengar dan mengintrupsi mereka.

"Hallo.."jawab seorang wanita di antara lima wanita yang terlihat mulai mabuk.

"Apa? Kenapa bisa sih, tolol!"hardik si wanita kepada orang yang meneleponnya.

"Emang dasar gak becus lo anjing....!"umpat wanita itu lagi.

"Siapa yang udah ngegagalin rencana kalian, hah?"tanya wanita itu.

"APA...?"teriak si wanita  lagi-lagi setengah berteriak.

"Ah dasar kalian bodoh, tolol, nyesel gue nyuruh orang gak becus kaya kalian!"Umpat wanita itu dan langsung memutuskan sambungan telpon.

"Kenapa Ra?" Tanya teman dari wanita yang tadi baru saja menerima telepon.

"Brengsek, para cecurut itu gak berhasil melakukan apa yang kita suruh Dis!"Jawab wanita itu.

Lima orang yang gadis yang kini tengah berkumpul itu memang lah Hera and the geng.

Hera, Ailyn, Gadis, Siska, dan Laura... Kumpulan gadis cantik dan tajir di Galaxy University, yang selalu menjadi idola beberapa mahasiswi dan mahasiswa yang ada disana.

"Kok bisa gagal, gimana ceritanya?"Kini Laura yang bertanya.

"Ada dua orang cowok katanya yang ngehalangin mereka, pas mau bawa dua bitch itu."Jawab Hera kesal.

"Kenapa mereka gak ngeroyok aja sih, kan cuma dua orang lawan nya?"tanya Gadis.

"Mereka gak mau nyari masalah, karena lo mau tau siapa yang nolong mereka?"Tanya Hera yang di jawab oleh gelengan ke empat temannya,

"Yang nolong mereka adalah,Gavin dan Alex!"Jawab Hera sambil mengepalkan tangan.

"WHAT...?"Teriakan kompak terdengar dari Keempat teman Hera, yang hanya mampu membuat Hera mendengus Kesal.

Sungguh, rasanya Hera ingin sekali marah saat ini, bagaimana mungkin rencana yang ia buat se epick mungkin harus berakhir gagal. Padahal dia sudah membayangkan betapa menyenangkannya hari harinya, andai rencananya berhasil, dia bisa dengan mudah menghancurkan dua gadis yang sangat di bencinya.

Dan kenapa juga, harus Gavin dan Alex yang menolong ke dua gadis itu. Padahal rencana itu di buat untuk menjauhkan dua gadis itu dari Gavin maupun Alex. Lalu sekarang, sekarang justru mereka semakin dekat, malah mungkin malam ini, mereka sedang menghabiskan malam bersama.

"Aghhh....dasar bitch sialan!"teriak Hera.

----

Sementara itu, di apartemen Gavin, Kanaya tampak tengah tertidur pulas, dan Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi, setelah hampir satu jam di kamar mandi, akhirnya Gavin bisa merasa lega, setelah bisa melepaskan hasratnya, dan semua di lakukannya di kamar mandi. Sungguh ini pertama kalinya bagi Gavin, karena seorang Kanaya Gavin harus berakhir semenyedihkan ini.

Gavin memilih untuk tidur di sofa, alih-alih tidur di ranjangnya bersama Kanaya, Gavin lebih memilih untuk tidur sendiri di sofa, bukan karena tak ingin ,Gavin hanya tak mau harus merasakan kejadian yang sama, seperti yang baru saja di alaminya.

Tidur seranjang dengan Kanaya, sama dengan memancing dirinya sendiri, melihatnya dari kejauhan saja Gavin sudah bergairah, apalagi kalau sampai bersentuhan lagi, Gavin tak bisa membayangkannya.

----

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Gavin membuka matanya, mungkin karena dia tidur di tempat yang tak membuatnya nyaman, membuatnya bisa bangun sepagi ini.

Sementara Kanaya tampak masih bergelung dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Belum ada tanda-tanda dari gadis ini untuk membuka matanya,

Gavin pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lagi, selagi menunggu gadis yang tidur di ranjangnya terbangun. Sejujurnya Gavin cukup berdebar, membayangkan bagaimana reaksi dari Kanaya nanti, saat tau bahwa kini gadis itu berada di kamarnya.

Beberapa saat berlalu...

Perlahan Kanaya membuka mata, kemudian menatap langit kamarnya yang kini warnanya berubah, gadis itu sejenak tampak memejamkan matanya kembali, seolah ingin memulihkan kesadaran nya.

"Engh... Kamar gue ganti cat ya?"gumam Kanaya pada dirinya sendiri. Sebelum akhirnya dia sadar bahwa kini dia tak berada di kamarnya.

"Engh...gue..."Ucapan Kanaya terpotong. Kemudian dia melihat ke arah tubuhnya, yang ternyata tak mengenakan sehelai benang pun, dan yang membuat Kanaya semakin terkejut adalah, banyaknya tanda merah yang terlihat di dadanya.

"AAAAAAAAAAAAA....!!!!"

Kanaya berteriak kencang kemudian menangis, dia yakin telah terjadi sesuatu pada dirinya, dan siapa yang membuatnya seperti ini, Kanaya sungguh menyesali keputusannya untuk bersama dengan Karina, andai dia tak pergi bersama Karina, kejadiannya tak akan seperti ini.

Kanaya terus menangis, sampai kemudian pintu kamar mandi kamar terbuka, memperlihatkan Gavin yang nampak melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.

"Gavin...!"teriak Kanaya.

Gavin tersentak, kemudian melihat ke arah Kanaya gugup. Gavin memang masih berpakaian lengkap karna dia hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja, karna takut Kanaya terbangun, dan ternyata dugaannya benar, kini Kanaya tengah menatap nya tajam.

"Gav...A pa yang lo lakuin ke gue, hah?"tanya Kanaya di sela tangisnya.

"Kenapa lo tega ngelakuin ini ke gue Gav...?"lanjut Kanaya.

Sementara Gavin tampak mematung, Gavin sungguh bingung, dengan apa yang harus di lakukan nya sekarang. Sementara Kanaya terus menangis.

"Nay... G-gue minta maaf, tapi lo mesti denger penjelasan gue dulu ok?" Ucap Gavin lembut, sementara Kanaya tetap histeris, tubuh polosnya dan bercak merah di tubuhnya, sudah cukup membuat Kanaya kecewa, dan jelas itu membuat Gavin frustrasi.

"KANAYA....!"

Teriakan Gavin membuat Kanaya terkejut, dan langsung membuatnya terdiam.

Gavin tak bermaksud membuat membentak  Kanaya, Gavin  hanya ingin menjelaskan kejadian sebenarnya pada Kanaya.

"Tolong dengerin penjelasan gue dulu ok?"Ucap Gavin lembut. Kanaya akhirnya diam dan menganggukan kepalanya.

"Nay, semalam lo sama Karina sepertinya di jebak oleh seseorang, orang itu naro sesuatu di minuman lo, melalui pelayan, lo pasti tau kan apa yang gue maksud?"tanya Gavin ,yang membuat Kanaya mengingat kejadian semalam, dan Kanaya masih mengingat baik ketika ada seseorang menyerahkan minuman padanya, dan juga Karina.

"Lo tau, minuman yang di berikan pelayan itu sepertinya udah di campur sama obat perngsang sebelumnya, dan setelah beberapa menit lo sama Karina udah mulai kehilangan kesadaran."

"Gue dan Alex ada di sana semalam, saat ada enam pria yang mau bawa kalian berdua, dan kita berusaha menyelamatkan lo juga Karina, dari tangan mereka."lanjut Gavin.

"Alex bawa Karina ke apartemennya, dan gue yang bawa lo kesini, kenapa lo bisa gak pake pake apa-apa seperti ini, itu karena lo yang membukanya sendiri Nay."

"Tapi ini... Kenapa ada ini?"Tanya Kanaya, sambil menunjuk tanda merah di bagian dada atasnya.

Gavin menarik nafas dalam,"Nay, gue minta maaf, gue emang nolongin lo semalam, tapi gue juga yang udah nyentuh lo semalam."ucap Gavin dengan rasa bersalah.

"Apa? Jadi bener, lo udah..."Kanaya tak melanjutkan ucapanya, karna rasanya Kanaya tak sanggup mengatakannya sedang Gavin menggelengkan kepalanya cepat.

"Gue gak nyentuh lo sejauh itu Nay, gue cuma... Cuma bikin tanda seperti yang lo lihat, tapi gue gak sampe melakukan itu, kalo lo gak percaya lo bisa rasain sendiri, apa bagian inti lo sakit sekarang?!"Tanya Gavin tegas, membuat Kanaya akhirnya menyentuh bagian inti tubuhnya, bahkan Kanaya sedikit menggerakkan kakinya. Dan Kanaya memang tak merasakan apapun, membuatnya bernafas lega.

"Nay... Lo tau gue cowok normal, jujur ngeliat keadaan lo semalem hampir bikin gue gila, karena harus nahan hasrat gue sendiri Nay, gue tau apa yang gue lakuin salah, tapi please maklumi gue Nay, gue cuma cowok normal Nay."ucap Gavin lirih.

"Gue minta maaf Nay, gue bener-bener minta maaf nay..."ucap Gavin.

-Bersambung

1
Supri Yanto
bagus alur ceritanya menarik pingin baca terus kelanjutannya😊
Supri Yanto
lanjut👍
D
Lanjut
D
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!