Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Naraya kembali sakit
Malam itu, Abiyan pergi ke warnet dua puluh empat jam, untuk mengerjakan tugas dari Pak Joni. Dengan tekun, dia membuka dokumen-dokumen yang diberikan dan mulai membaca instruksi yang ada.
"Oke, jadi Pak Joni mau gue bikin laporan tentang prospek pasar produk baru," gumam Abiyan sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Lumayan juga nih tugasnya."
Abiyan mulai mencari informasi di internet, membaca artikel-artikel terkait, dan mencatat poin-poin penting. Sesekali, dia menguap karena kantuk mulai menyerang. Namun, dia tetap berusaha fokus dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Hmm, kayaknya produk ini punya potensi besar di kalangan anak muda," gumam Abiyan sambil mengetik di keyboard. "Gue harus cari data yang lebih valid lagi."
Hingga larut malam Abiyan terus bekerja. Matanya mulai perih dan punggungnya terasa kaku. Namun, dia tetap ingin menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin. Dia ingin membuktikan kepada Pak Joni bahwa dirinya bisa diandalkan.
Menjelang dini hari Abiyan baru pulang ke kontrakan. Aldo dan Benny sudah pulas tertidur. Dia segera membersihkan diri lalu merebahkan diri.
.
Di kontrakannya, Naraya kembali merasakan sakit yang menusuk pada perutnya. Ia memegangi perutnya erat, keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, membuatnya meringis dan kesulitan bernapas.
Dengan sisa tenaganya, Naraya berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar kamarnya dengan susah payah. Hanya satu orang yang ada di benaknya untuk dimintai pertolongan yaitu Abiyan.
Dengan langkah tertatih, Naraya berjalan menuju kontrakan Abiyan. Setiap langkah terasa berat dan menyakitkan, tetapi ia terus memaksakan diri. Ia berharap, Abiyan bersedia membantunya.
Naraya mengetuk pintu kontrakan Abiyan. Tangannya gemetar. "Abiyan... Abiyan..." panggilnya lirih menahan nyeri.
Abiyan yang hampir terlelap, kembali membuka mata. Beberapa saat kemudian, dia muncul dengan ekspresi terkejut. "Naraya? Kamu kenapa? Mukamu pucat banget," tanyanya khawatir.
"Abi... tolong... perutku sakit sekali..." jawab Naraya dengan suara terbata-bata, lalu ambruk di pelukan Abiyan.
Di tengah kepanikan, Abiyan berusaha membangunkan Aldo maupun Benny. Dia menopang tubuh Naraya agar tidak terjatuh sepenuhnya ke lantai, lalu menendang kaki Aldo dan Benny dengan kakinya.
"Aldo... Benny...! Kalian, tolong gue!" serunya cemas. "Bangun woy...! Ini darurat!"
Abiyan menendang kaki mereka lebih keras, berharap salah satu dari mereka segera bangun dan membantu. Jantungnya berdebar kencang, melihat Naraya tampak sangat kesakitan.
"Sabar ya, Ra. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Abiyan panik sambil berusaha menenangkan Naraya.
"Sakit, Bi. Aku nggak sanggup," gumam Naraya lemah.
Tanpa menunggu lagi, Abiyan segera menggendong Naraya ala bridal style dan membawanya keluar dari kontrakan. Dia berlari sekuat tenaga menuju klinik terdekat dengan kontrakan mereka. Aldo dan Benny yang baru bangun dan masih linglung, mengikuti dari belakang dengan rasa khawatir.
Sesampainya di klinik, Abiyan membuka pintu masuk dengan kasar dan berteriak histeris. "Tolong, Dokter! Teman saya kesakitan!" teriaknya cemas. "Tolong, cepat periksa dia!"
Seorang perawat segera menghampiri Abiyan dan membantunya membaringkan Naraya di ranjang periksa. Dokter jaga yang mendengar keributan itu segera datang dan mulai memeriksa kondisi Naraya.
"Tenang, Mas. Biar kami tangani," ucap dokter sambil memeriksa denyut nadi Naraya. "Sus, siapkan infus dan alat-alat untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Baik, Dok." Perawat itu bekerja dengan cekatan memasang infus.
Abiyan hanya bisa berdiri terpaku di samping ranjang, menatap wajah pucat Naraya dengan perasaan khawatir dan bersalah. Aldo dan Benny yang baru tiba, berdiri di belakangnya dengan wajah ambigu.
"Ada apa, Bi? Siapa yang sakit? Kenapa loe begitu cemas?" cecar Aldo.
"Naraya, perutnya sakit," bisik Abiyan. "Gue takut dia mengalami hal sama kayak kemarin."
"Maksudnya?" Benny bertanya dengan penasaran.
"Kemarin karena kecapekan, Naraya hampir keguguran," jawab Abiyan.
Aldo dan Benny tercengang.
"Harusnya dia beristirahat saja, tapi dia tetap nekat bekerja."
Dokter selesai memeriksa Naraya. Ia menghela napas panjang dan menoleh ke arah Abiyan. "Apa sebelumnya teman Masnya pernah mengalami masalah dengan kandungannya?" Dokter bertanya dengan serius.
"Iya, Dok. Sepertinya dia terlalu memaksakan diri," jawab Abiyan jujur.
Dokter mengangguk. "Baiklah. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi kandungannya," jawabnya.
"Silakan masnya tunggu di luar. Biar kami fokus menangani pasien."
Abiyan, Aldo, dan Benny keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Suasana di ruang tunggu terasa tegang dan sunyi. Mereka duduk dengan perasaan tidak tenang. Mereka bertiga hanya bisa menunggu dengan cemas, berharap Naraya dan bayinya baik-baik saja.
"Bi, kalau Naraya sedang hamil, berarti dia punya suami, dong," Aldo membuka obrolan, memecah keheningan yang mencekam.
"Terus suaminya ke mana? Kenapa dia ngontrak sendiri? Atau dia itu istri simpanan?" Benny menimpali dengan penasaran dan sedikit sinis.
Abiyan menatap kedua temannya dengan tatapan tajam. " Kalian jangan ngomong sembarangan," tegurnya keras. "Kita nggak tahu apa-apa tentang Naraya, jadi jangan nuduh yang nggak-nggak."
"Iya, Bi. Tapi kan, aneh. Kalau dia punya suami, kenapa nggak tinggal bareng suaminya?" Aldo mencoba membela diri.
"Apa dia itu perempuan nggak bener?" Benny kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Abiyan semakin geram.
Dia menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya. "Gue juga nggak tahu. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Naraya dan bayinya. Kita harus bantu dia," ucapnya tegas.
Meskipun, jauh di dalam hatinya, Abiyan juga bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Naraya? Dan mengapa ia menyembunyikan kehamilannya? Apakah Naraya benar-benar wanita baik-baik?
.
Maaf, ya gaes. Moms up kemalaman, semoga kalian selalu sabar menanti, dan please jangan kabur ya. Kalian adalah pelipur lara moms 🤗
Salam sayang online 🫶🫰
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....