Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 TAWA SANG ÜBERMENSCH
Matahari kini menggantung tepat di atas kepala, menciptakan bayangan yang paling pendek dan tajam—sebuah pertanda bahwa waktu telah mencapai titik nadirnya. Di pelataran yang kini bersih dari puing-puing hukum lama, Abimanyu berdiri dalam kesunyian yang ganjil. Namun, kesunyian ini berbeda dengan kesunyian mencekik di Lembah Nama. Ini adalah kesunyian yang penuh, seperti ketegangan dawai biola yang siap meledakkan nada pertama.
Tiba-tiba, dari kedalaman perutnya, sesuatu mulai bergejolak. Itu bukan lagi rasa lapar, bukan pula amarah yang tersisa dari masa lalunya sebagai Sang Profesor. Itu adalah sebuah getaran yang asing, sebuah dorongan yang selama ini ia tekan di bawah tumpukan etika dan kesopanan akademik.
Abimanyu mulai tertawa.
Awalnya, tawa itu hanya berupa dengusan kecil yang meremehkan, sebuah reaksi spontan saat ia melihat sepasang sepatunya yang hancur—sepatu kulit mahal yang dulu ia beli untuk menghadiri penganugerahan gelar, kini menganga seperti mulut ikan mati di atas cadas. Ia tertawa melihat betapa rapuhnya simbol-simbol martabat manusia di hadapan satu malam badai.
Namun, tawa itu segera bermutasi. Ia meluas, mengeras, dan menjadi lebih dalam. Ia mulai menertawakan dirinya sendiri—sosok "Manusia Kertas" yang dulu menghabiskan waktu bertahun-tahun merisaukan catatan kaki, yang gemetar hanya karena draf jurnalnya dikritik oleh orang asing di belahan bumi lain. Ia menertawakan betapa lucunya seorang manusia yang menganggap dirinya "intelektual" padahal ia tidak mampu mengenali bahasa angin atau detak jantung bumi.
"Lihatlah dirimu, Abimanyu!" teriaknya di sela-sela tawanya yang kini bergema di dinding-dinding tebing. "Kau mendaki ribuan meter hanya untuk menemukan bahwa semua bebanmu hanyalah hantu yang kau ciptakan sendiri! Betapa bodohnya! Betapa indahnya kebodohan ini!"
Ini adalah Tawa Sang Übermensch. Bukan tawa sinis seorang pesimis yang membenci dunia, bukan pula tawa hambar seorang pelawak yang mencoba melarikan diri dari realitas. Ini adalah tawa penakluk. Sebuah senjata tertinggi yang tidak menghancurkan materi, melainkan menghancurkan "bobot" dari penderitaan.
Abimanyu menyadari bahwa selama ini ia telah menjadi terlalu serius. Gravitasi adalah bentuk dari keseriusan, ia menarik segala sesuatu ke bawah, ke tanah, ke kuburan. Agama, Negara, dan Universitas adalah institusi keseriusan yang melarang tawa karena tawa adalah musuh utama dari otoritas. Tawa adalah deklarasi kemandirian. Seseorang yang mampu menertawakan penderitaannya sendiri tidak akan pernah bisa dijajah oleh rasa takut atau rasa bersalah.
Ia berjalan ke tepi jurang dan menatap kegelapan yang masih tersisa di celah-celah tebing yang dalam. Dulu, lubang-lubang hitam itu tampak seperti mulut maut yang siap menelannya. Sekarang, ia hanya melihatnya sebagai ruang kosong yang butuh diisi oleh musik.
"Hai, Kegelapan!" serunya dengan nada ceria yang gila. "Apakah kau masih mencoba menakutiku dengan kesunyianmu? Apakah kau masih ingin aku meratap dan meminta ampun? Dengarlah ini!"
Dan ia tertawa lagi. Tawa itu begitu murni hingga awan-awan tipis di atasnya seolah-olah bergetar. Ia menertawakan kematian, karena kematian hanyalah titik koma dalam perulangan abadi yang telah ia afirmasi. Ia menertawakan nasib, karena ia kini adalah pencipta nasibnya sendiri. Ia menertawakan Roh Gravitasi yang telah ia ledakkan, menertawakan betapa kerdilnya keraguan saat dihadapkan pada kegembiraan yang meluap.
Dalam tawa ini, Abimanyu merasakan perubahan fisik yang paling drastis. Wajahnya yang dulu kaku dan penuh kerutan kecemasan kini menjadi rileks, hampir menyerupai wajah seorang bayi yang baru saja menemukan cara bermain dengan jari-jarinya sendiri. Otot-ototnya yang lelah kini mendapatkan energi dari sumber yang tidak terbatas: kegembiraan murni atas keberadaan (joy of being).
Ia menyadari bahwa tawa adalah bentuk "Ya" yang paling jujur. Anda tidak bisa tertawa jika Anda masih menolak realitas. Tawa adalah penerimaan total yang paling radikal. Saat ia tertawa, ia memeluk seluruh kegagalan hidupnya, seluruh pengkhianatan yang ia alami, dan seluruh rasa sakit di kakinya, lalu mengubahnya menjadi komedi kosmik yang luhur.
"Dunia ini adalah sebuah tarian, bukan sebuah persidangan!" gumamnya di tengah sisa-sisa napasnya. "Dan aku baru saja mempelajari langkah pertamanya."
Ia mulai melompat-lompat di atas pelataran batu, melakukan gerakan-gerakan yang akan dianggap gila oleh rekan-rekan sejawatnya di Lembah Nama. Ia meniru kepakan sayap elang, lalu meliuk seperti ular, dan akhirnya berputar-putar seperti gasing. Setiap gerakannya adalah tawa dalam bentuk fisik. Ia tidak lagi peduli apakah ada yang melihatnya atau tidak, karena penonton terbaik bagi tarian seorang Übermensch adalah matahari dan ketiadaan.
Tawa ini adalah penyucian terakhir. Jika pembakaran buku adalah penghancuran fisik, dan penghancuran papan hukum di Bab 24 adalah penghancuran mental, maka tawa di Bab 25 ini adalah pembebasan emosional. Ia telah membuang "Beban Sejarah" dan kini ia membuang "Keseriusan Eksistensial".
Ia merasa seolah-olah ia bisa berjalan di atas udara jika ia mau, karena jiwanya tidak lagi memiliki massa. Semua kata-kata besar—Tuhan, Keadilan, Kebenaran, Moralitas—kini tampak seperti balon-balon berwarna yang ia pecahkan satu per satu dengan jarum tawanya. Yang tersisa hanyalah "saat ini" yang berkilauan.
Di titik ini, Abimanyu memahami rahasia terdalam dari Zarathustra yang dulu hanya ia baca sebagai teks: bahwa puncak kesucian bukan ditemukan dalam doa atau meditasi yang muram, melainkan dalam kemampuan untuk tertawa di tengah badai dan menari di tepi jurang.
Matahari kini mulai bergeser, namun cahayanya di mata Abimanyu tidak meredup. Ia telah menemukan api internal yang tidak bergantung pada dunia luar. Ia telah belajar bahwa senjata terkuat untuk menghadapi kesia-siaan hidup bukan dengan melawannya, melainkan dengan menjadikannya sebuah lelucon yang megah.
"Mainkan musikmu, wahai takdir!" teriaknya sambil membentangkan tangan lebar-lebar. "Aku akan menertawakan setiap nada sumbangmu, dan aku akan menjadikannya harmoni dalam tarianku!"
Abimanyu berdiri tegak, napasnya teratur, matanya bersinar dengan binar yang belum pernah terlihat selama ia menjadi manusia biasa. Ia siap meninggalkan pelataran hukum lama itu. Ia tidak lagi butuh tempat untuk berdiri, karena ia telah belajar cara melayang dalam kegembiraan.
Gema tawa yang masih memantul di antara puncak-puncak gunung, sebuah suara yang menandai bahwa "Manusia Kertas" telah mati sepenuhnya, dan yang tersisa adalah seorang anak yang siap bermain dengan seluruh alam semesta.
"Sekarang," bisiknya dengan senyum yang tidak akan pernah hilang, "saatnya menuju Tengah Hari yang Besar."