Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bab 22 Ponsel Rancangan MV
Anita Lewis hanya sekilas melirik pelayan yang datang, lalu mengabaikannya begitu saja. Ia kembali fokus pada ponselnya, menunduk sambil bergumam pelan,
“Perangkat ini luar biasa. Konfigurasi dan performanya tinggi. Produk dari Reyes Technology, dan perancangnya MV.”
Meski tampilannya berwarna merah muda dan tampak kekanak-kanakan, spesifikasi ponsel itu justru kelas atas, nyaris identik dengan ponsel pribadinya di kehidupan sebelumnya, ponsel yang dulu dipesan khusus menyesuaikan kebutuhannya.
Dalam hati, Anita mulai curiga. Jangan-jangan Vebri telah menemukan dan menggunakan ponsel lamanya. Jika benar, berarti seluruh rahasia yang tersimpan di dalamnya kini terancam terbongkar, termasuk dokumen-dokumen penting milik Sanchez Group.
Andrew Morris pasti akan berusaha keras membongkar isi telepon itu. Jika berhasil, ia bisa menggenggam kekuasaan penuh atas perusahaan.
Namun Anita ragu apakah Andrew dan Vebri benar-benar mampu membuka kunci ponsel yang ia buat sendiri, saat dirinya masih menjadi Michelle Valen dulu sebelum mati.
Dion Leach yang duduk di sebelahnya sempat menoleh. Ia memperhatikan Anita yang asyik menunduk menatap layar, tak menyadari keberadaannya. Dion menghela napas, lalu bergumam tak jelas.
Meski hanya desahan pendek, entah kenapa Anita bisa merasakan aura ketidaksenangan dari pria itu. Ia pun menatap Dion dengan heran.
“Ada apa?” tanyanya tenang.
Dion cepat-cepat memalingkan wajah. “Bukan apa-apa,” jawabnya singkat.
Anita tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menukar kartu SIM-nya ke ponsel baru dan mulai mengutak-atiknya dengan fokus.
Dion diam memperhatikan dari samping. Di bawah cahaya senja yang menyelinap melalui jendela, wajah Anita tampak lembut, garis pipinya halus, matanya teduh, kulitnya berkilau diterpa sinar keemasan.
Pemandangan sederhana itu entah kenapa membuat Dion merasa tenang, seolah badai yang selama ini menyesakkan dadanya perlahan reda.
Tiba-tiba Anita tersenyum kecil saat melihat sesuatu di layar. Dion yang penasaran langsung mencondongkan tubuh.
“Ada yang menarik?” tanyanya.
Anita mengangkat wajah dan menunjukkan ponselnya tanpa ragu. “Lihat ini, dia sedang menelepon.”
Mereka pun menatap layar bersama. Di sana, muncul rekaman CCTV dari salah satu sudut rumah besar itu. Terlihat seorang pembantu sedang sibuk berbicara di telepon, tak melakukan hal lain.
Anita bahkan tidak perlu meretas apapun untuk tahu siapa yang dihubungi. Nalurinya langsung bisa menebak.
Ia menoleh pada Dion dan berkata datar,
“Sepertinya Selene akan datang ke sini. Kalau begitu, kamu mau pulang dulu?”
Dion menjawab tanpa pikir panjang, “Aku pulang kalau kamu juga pulang.”
Anita hanya bisa menghela napas. “Huh.... terserah kamu saja,” katanya, tak mau memperpanjang.
Benar saja, sekitar setengah jam kemudian, Suzanne dan Selene datang seperti yang diperkirakan.
Sebelum masuk, terdengar suara manja Selene dari arah depan, “Nenek... Nenek...”
Ia melangkah ke ruang tamu, matanya menyapu seluruh ruangan mencari sosok tua yang dihormatinya itu. Namun wajah kecewa segera muncul karena yang dicari tak tampak di mana pun.
Anita duduk santai di sofa, menatapnya dengan pandangan datar penuh perhitungan.
Selene menelan ludah, sedikit gugup bertemu Anita. Ia mencoba tersenyum sopan.
“Maaf, aku tidak melihatmu tadi. Aku hanya mencari Nenek,” katanya beralasan.
Anita tersenyum tipis, namun nada suaranya tajam,
“Kau perlu periksakan matamu. Sepertinya kau mulai buta.”
Selene menahan diri agar tidak terpancing. Ia hanya berkata datar, “Kalau begitu aku cari Nenek saja.”
Anita masih menatap layar ponsel, menjawab tanpa menoleh,
“Nenek ada di dapur. Jadi percuma naik ke atas.”
Seketika langkah Selene terhenti. Ucapan itu membuat jantungnya berdegup cepat, seolah Anita tahu persis niat sebenarnya.
Ia mencoba menutupi kepanikan dengan senyum canggung.
“Aku cuma mau menyapa Nenek. Kalau dia di dapur, ya aku ke dapur saja,” katanya dengan nada dibuat tenang.
Tak lama, Suzanne muncul di belakangnya. Perempuan itu masih kesal, bahkan tangannya refleks menyentuh benjolan kecil di kepalanya yang belum sembuh. Tatapannya dingin menusuk ke arah Anita.
“Selene itu cantik dan berbakat. Banyak orang yang datang padanya tanpa perlu ia undang,” katanya sinis.
Ia melanjutkan dengan nada tajam, “Tidak seperti seseorang yang bahkan setelah menanggalkan pakaiannya dan mengancam dengan nyawanya, tetap saja ditolak oleh pria yang ia cintai.”
Suzanne tidak berusaha menutupi ejekannya kali ini. Topeng kesopanannya benar-benar ia lepaskan.
Anita menatapnya tenang. Ia mengangkat satu alis, lalu berkata lembut tapi menusuk,
“Hanya lalat yang tertarik pada telur busuk. Hanya kumbang kotoran yang sibuk menggali kotoran. Aku tidak berminat jadi bagian dari itu.”
Kata-katanya seperti tamparan keras yang membuat wajah Suzanne memerah karena marah dan malu.
Suzanne hampir kehilangan kendali—tapi Anita hanya tersenyum tipis, tak sedikit pun terusik.
Ketegangan di ruangan itu terasa begitu pekat.
---
Suzanne duduk berhadapan langsung dengan Anita Lewis, menatapnya lekat-lekat dengan pandangan penuh keraguan.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal di matanya. Setelah lama menatap, akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk bertanya dengan nada tajam,
“Apakah kamu benar-benar Anita Lewis?”
Dulu, Anita hanyalah gadis muda yang kasar dan liar. Dari cara berpakaian hingga cara bicaranya, ia seperti remaja yang gemar memberontak dan sulit diatur.
Namun kini, di hadapannya duduk seorang wanita dengan pakaian sederhana , hanya kaus lembut dan celana longgar, rambut disanggul seadanya tanpa riasan sedikit pun. Tapi justru kesederhanaan itu memunculkan aura berwibawa. Anita tampak tenang dan elegan, seperti seorang ratu yang tak perlu berusaha keras untuk menunjukkan kuasanya.
Semakin lama Suzanne memperhatikannya, semakin besar rasa tak percayanya.
“Tidak… aku tidak yakin kau benar-benar Anita,” ucapnya perlahan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.
Dalam pikirannya, Anita seharusnya tetap menjadi perempuan bodoh yang tak berguna, bukan wanita tenang yang menatapnya sekarang.
Anita mengangkat wajah, menatap Suzanne dengan mata datar dan senyum tipis yang nyaris mengejek.
“Kalau begitu,” ujarnya lembut tapi tajam, “aku juga tidak yakin Selene itu benar-benar putri Gerry Lewis.”
Ucapan itu seperti tamparan yang tak terlihat. Suzanne tercekat, lidahnya kelu. Ia tak mampu membalas dan memilih diam, meski pikirannya dipenuhi tanda tanya. Sesekali matanya masih melirik Anita dengan pandangan curiga.
Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah sedrastis ini hanya dalam semalam?
Sementara itu, Anita tampak acuh. Ia kembali menunduk, memeriksa ponselnya. Masih belum ada kabar dari Hendra , hasil yang ia tunggu tak kunjung tiba.
Dari arah dapur, terdengar suara tawa riang. Rupanya Selene sedang mengobrol dengan sang Nenek, dan suasananya terdengar cukup akrab. Tak lama kemudian, suara lembut Nenek memanggil dari kejauhan,
“Anita, panggil Dion turun untuk makan malam.”
Anita mengangguk kecil lalu berjalan naik.
Selene yang keluar dari dapur segera menatap ke arah tangga dengan penuh harap. Matanya berbinar, menunggu seseorang muncul di sana. Dan benar saja, beberapa detik kemudian, Dion Leach muncul di koridor lantai atas, berbicara dengan Anita dengan kepala sedikit menunduk.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, garis wajah Dion tampak semakin tegas dan menawan. Rahangnya kokoh, dan tatapan matanya lembut hanya ketika memandang Anita.
Anita mengucapkan sesuatu pelan, dan senyum tipis muncul di sudut bibir Dion, senyum yang jarang sekali terlihat.
Senyum itu membuat hati Selene bergetar. Ia seperti melihat es kutub yang selama ini membeku tiba-tiba mencair oleh kehangatan matahari. Pria yang biasanya kaku dan dingin itu ternyata bisa tampak begitu memesona saat tersenyum.
Suzanne yang memperhatikan dari bawah segera menyadari tatapan penuh pesona dari Selene. Ia mendelik dan tanpa suara menendang kakinya pelan, memperingatkannya agar tidak kehilangan kendali di depan banyak orang.
Namun peringatan itu datang terlambat. Anita sudah menangkap cara Selene memandangi Dion. Alisnya mengerut halus, dan tanpa banyak bicara, ia maju setapak berdiri di depan Dion, seolah melindunginya.
Gerakan sederhana itu terasa begitu alami, tapi maknanya dalam: posesif, protektif, dan penuh rasa memiliki.
Dion memandang sosok mungil di hadapannya , tingginya hanya setara dengan dagunya, namun keberanian dan keteguhan Anita membuat senyum lembut kembali muncul di wajahnya. Untuk sesaat, bahkan mata dinginnya pun tampak berkilau.
Namun dalam detik berikutnya, tatapan itu berubah tajam ketika beralih ke arah Selene. Dion menatapnya sebentar, dengan dingin menusuk, lalu tanpa berkata apa pun mengalihkan pandangan. Ia meraih tangan Anita, menunduk mendekati telinganya, dan berbisik dengan suara rendah namun tegas,
“Aku milikmu sayang.”
Bisikan itu membuat Anita terdiam. Ujung telinganya langsung terasa panas. Ia tak berani menatapnya balik, tapi hatinya berdebar kencang.
Dehh
Dehh
Dehh
Sementara itu, Selene berdiri terpaku. Tatapan Dion barusan seperti pisau dingin yang menembus kulitnya, membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi baru ia hendak berpaling, matanya justru menangkap sesuatu yang membuatnya makin sakit hati. Dion tersenyum lagi, kali ini pada Anita senyum lembut yang sama yang tadi mencairkan hatinya.
Seketika dadanya terasa sesak. Mengapa Dion bisa begitu lembut pada Anita, tapi selalu dingin dan acuh padanya?
Anita hanyalah wanita yang dulunya dianggap gagal, tidak pantas bersanding dengan pria seperti Dion, setidaknya begitu pikir Selene.
Namun realitas di hadapannya justru sebaliknya , mereka terlihat serasi.
Menekan rasa iri yang menyengat di dadanya, Selene berusaha menampilkan senyum lembut. Ketika Dion dan Anita turun bersama, ia memanggil dengan suara manja,
“Dion…”
Dion tidak menoleh. Ia menarik kursi untuk Anita terlebih dahulu, lalu berkata dingin tanpa menatap ke arah Selene,
“Anita tidak punya saudara perempuan. Jadi jangan sok akrab memanggilku seperti itu, wahai anak haram.”
Kata-kata itu membuat wajah Selene memucat. Suasana di ruang makan pun langsung hening, seakan udara ikut membeku.
Anita menatap Dion sejenak, ingin menegurnya, namun tatapan tegas pria itu membuatnya bungkam. Ia tahu, meskipun kata-kata Dion keras, itu adalah bentuk perlindungan untuknya.
Dan di balik semua itu, hanya ada satu hal yang jelas , Dion Leach, sepenuhnya kini menjadi milik Anita Lewis.
---
Bersambung.....