"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Pelarian Manis Golden Fourth Circle
Matahari sudah mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang di taman Hanlim. Sesi pemotretan iklan boneka rajut akhirnya dinyatakan selesai setelah hampir enam jam Aira harus berpose dengan berbagai macam ekspresi. Wajah Aira tampak sangat pucat, dan senyum manisnya kini sudah hilang, digantikan oleh tatapan kosong yang kelelahan.
"Aira, satu pose lagi dengan bunga ini ya? Guanlin-ssi akan berdiri di belakangmu sebagai siluet," instruksi fotografer yang seolah tidak sadar bahwa Aira sudah hampir tumbang.
Aira meremas boneka di pelukannya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia melirik ke arah Minju dan Ryujin yang berdiri di sisi panggung dengan wajah khawatir. Begitu sesi foto terakhir selesai, Aira tidak menghampiri Guanlin atau Eunwoo yang sudah menyiapkan minum, ia justru berlari ke arah Ryujin dan menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya itu.
"Ryujin... Kak Minju... Aira mau pulang... tapi nggak mau ke rumah. Aira mau pergi yang jauh," bisik Aira sambil terisak pelan.
Minju yang melihat kondisi mental Aira langsung bertindak tegas. Ia menoleh ke arah Bu Han dan para kru. "Mohon maaf, sesi hari ini benar-benar selesai. Aira-ssi butuh istirahat total. Dan untuk para Pangeran," Minju menatap Guanlin dan yang lainnya dengan tajam, "Tolong beri kami waktu. Aira akan pulang bersamaku dan Ryujin."
Sambil memanfaatkan momen para pangeran yang sedang berdebat soal siapa yang berhak mengantar Aira pulang, Beomgyu sudah memundurkan mobil jeep tua milik sepupunya ke dekat pintu keluar belakang taman.
"Cepat masuk!" bisik Beomgyu.
Ryujin hampir mengangkat tubuh Aira untuk masuk ke kursi belakang, diikuti oleh Minju. Begitu pintu tertutup, Beomgyu langsung menginjak gas, meninggalkan kepulan debu dan wajah-wajah kaget para pangeran yang baru sadar kalau "buruan" mereka sudah dibawa kabur oleh anggota Golden Fourth Circle.
"HUH! Rasakan itu para Sultan!" teriak Beomgyu sambil tertawa puas, ia memutar kemudi dengan lincah keluar dari area sekolah.
Aira perlahan mengangkat kepalanya, ia menghirup udara sore yang segar dari jendela jeep yang terbuka. Tidak ada lagi lampu flash, tidak ada lagi instruksi sutradara. Hanya ada deru mesin tua dan tawa sahabat-sahabatnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Aira dengan suara yang lebih ceria. Ia melepas bross mawar dari Taehyung dan menyimpannya di tas, lalu melepas ikat rambutnya hingga rambut panjangnya berkibar tertiup angin senja.
"Ke dermaga tua di pinggir kota. Tempat itu sepi, nggak ada yang bakal ngenalin kamu di sana," jawab Ryujin sambil memberikan jaket denimnya pada Aira agar tidak kedinginan.
Sore itu, langit berubah menjadi warna ungu keemasan saat mereka sampai di sebuah kedai ramen sederhana di ujung dermaga. Tempatnya tersembunyi di balik tumpukan peti kemas, jauh dari kemewahan Seoul.
Aira duduk di bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke laut lepas. Di depannya sudah tersedia mangkuk ramen panas dengan banyak irisan cabai, permintaan khusus Aira untuk menghilangkan stresnya.
"Gimana? Enakan?" tanya Minju sambil mengusap keringat di dahi Aira dengan tisu.
"Enak banget, Kak... Aira ngerasa jadi manusia lagi. Bukan cuma jadi 'Muse' atau 'Model'," sahut Aira manja. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ryujin sambil terus mengunyah sosis ramennya. "Makasih ya kalian udah bawa Aira kabur. Aira tadi beneran mau nangis di depan Kak Guanlin."
Beomgyu yang sedang asyik memotret matahari terbenam menoleh. "Tenang aja, Aira. Selama ada Fourth Circle, kamu punya tempat buat sembunyi. Tapi..." Beomgyu tiba-tiba melihat ke arah ponselnya yang sejak tadi bergetar hebat. "Kayaknya persembunyian kita terdeteksi. Pelacak di mobil ini ternyata masih aktif, dan sepertinya ada satu 'monster' yang lagi menuju ke sini."
Tiba-tiba, suara deru baling-baling helikopter yang sangat kencang memecah kesunyian dermaga. Sebuah helikopter hitam dengan logo Guanlin Corp terbang rendah, membuat air laut di sekitar dermaga bergelombang hebat.
"Sial! Si Sultan beneran datang jemput paksa pakai helikopter!" seru Ryujin sambil berdiri dan memasang posisi waspada.
Deru baling-baling helikopter itu menciptakan badai kecil di sekitar dermaga tua. Angin kencang menerbangkan helai-helai rambut Aira dan membuat taplak meja kedai ramen compang-camping. Dari pintu helikopter yang terbuka sebelum menyentuh tanah, sosok Guanlin melompat turun dengan sangat elegan, seolah-olah ia sedang dalam adegan film aksi.
Wajahnya tampak gelap, rahangnya mengeras, dan tatapannya langsung mengunci sosok Aira yang masih duduk mematung dengan mangkuk ramen di depannya.
"Permainan selesai, Aira," suara Guanlin terdengar dingin, bahkan mengalahkan suara mesin helikopter yang mulai meredup.
Ryujin langsung berdiri tegak di depan Aira, menghalangi pandangan Guanlin. "Hei, Sultan. Dia butuh napas. Jangan bertingkah seolah kau pemilik nyawanya hanya karena kau punya helikopter."
Guanlin tidak memedulikan Ryujin. Ia melangkah maju hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari Ryujin. "Aku tidak bicara denganmu, Ryujin. Minggir, atau aku akan memastikan izin penggunaan dermaga ini dicabut detik ini juga."
Beomgyu mencoba menengahi dengan gaya santainya. "Ayo dong, Lin. Kita cuma makan ramen. Jangan kaku banget jadi orang."
"Makan ramen tanpa pengawalan di tempat terpencil seperti ini?" Guanlin melirik mobil jeep tua Beomgyu dengan hina. "Kalian membawa aset berharga keluarga Kim dan tunanganku menggunakan mobil rongsokan ini? Kalian tidak tahu betapa bahayanya dunia luar untuk dia!"
Aira akhirnya berdiri. Ia melepaskan pegangan tangan Minju dan berjalan perlahan melewati Ryujin. Matanya yang sembab menatap Guanlin dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan.
"Kak Guanlin... stop," bisik Aira. Suaranya kecil namun sanggup menghentikan langkah Guanlin. "Aira yang minta mereka bawa Aira kabur. Aira yang mau makan ramen di sini. Aira capek jadi 'aset berharga'. Aira mau jadi Aira yang biasa, cuma hari ini aja."
Guanlin tertegun. Ia melihat binar kecewa di mata Aira yang biasanya penuh dengan kemanjaan. Kemarahan di wajah Guanlin perlahan luntur, digantikan oleh rasa bersalah yang menusuk.
"Aira... aku cuma khawatir," suara Guanlin melunak. Ia mencoba meraih tangan Aira, namun Aira sedikit menarik tangannya.
"Kalau Kakak khawatir, Kakak harusnya tanya Aira mau apa, bukan datang pakai helikopter dan bikin sahabat Aira takut," sahut Aira manja namun tegas. Ia menunjuk ke arah Minju, Ryujin, dan Beomgyu. "Mereka yang bikin Aira ketawa seharian ini. Kakak cuma bikin Aira pusing sama urusan syuting."
Minju melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Aira. "Guanlin-ssi, kami tahu Anda punya kuasa. Tapi sebagai anggota Golden Fourth Circle, tugas kami adalah menjaga kewarasan Aira. Jika Anda ingin menjemputnya, lakukan dengan cara yang manusiawi, bukan seperti operasi militer."
Guanlin terdiam cukup lama. Ia melihat ke sekeliling pada kedai sederhana, pada tawa yang sempat terhenti, dan pada gelang tali hitam sederhana di tangan Aira yang tampak lebih berharga di mata gadis itu daripada berlian pemberiannya.
Guanlin akhirnya menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah pilotnya dan memberikan instruksi melalui radio untuk menjauhkan helikopter dari area kedai. Suasana mendadak tenang kembali, menyisakan suara ombak yang menghantam dermaga.
"Baiklah," ucap Guanlin pelan. Ia melepas jas mahalnya dan hanya menyisakan kemeja hitam yang lengannya ia gulung hingga siku. "Aku minta maaf. Aku terbawa suasana karena ponselmu mati."
Guanlin duduk di bangku kayu di samping Aira, membuat Beomgyu dan Ryujin saling pandang karena heran. Sang Sultan Hanlim itu melirik mangkuk ramen Aira. "Masih ada sisa? Aku juga lapar sejak mencarimu tadi."
Aira akhirnya tersenyum kecil. Ia memberikan suapan terakhir ramennya kepada Guanlin. "Makanya jangan marah-marah terus. Nih, makan!"
Beomgyu tertawa terbahak-bahak melihat Guanlin yang biasanya makan di restoran bintang lima kini harus berbagi ramen instan di pinggir dermaga. "Nah, gitu dong! Kan enak lihatnya."
Sore itu ditutup dengan pemandangan yang tak terduga, Empat anggota Golden Fourth Circle dan satu pangeran terkaya di Hanlim duduk bersama di dermaga tua sambil menatap matahari tenggelam. Tidak ada kasta, tidak ada persaingan, hanya ada kedamaian sesaat.
"Aira," bisik Guanlin saat mereka hendak pulang. "Besok aku tidak akan menjemputmu pakai helikopter. Tapi aku pastikan... kencan kita berikutnya akan jauh lebih tenang dari ini."
Aira hanya menjulurkan lidahnya manja. "Lihat nanti ya! Aira masih mau kencan sama Kak Minju dan yang lainnya lagi!"
Guanlin hanya bisa pasrah, ia menyadari bahwa untuk memiliki Aira, ia tidak bisa hanya mengandalkan uang dan kekuasaan, tapi ia juga harus bisa masuk ke dalam lingkaran persahabatan yang begitu tulus itu.
📢 GILA BANGET! 😍 Akhirnya Sultan Guanlin takluk juga sama ketegasan Aira dan Golden Fourth Circle! Siapa sangka Guanlin mau makan ramen sisa di pinggir dermaga? 😂 Tapi apa bener Guanlin bakal berubah jadi lebih kalem?
👇 VOTE [A] TEAM GOLDEN FOURTH CIRCLE! Persahabatan Nomor 1! | [B] TEAM GUANLIN! Sultan yang mau berubah demi cinta | [C] Tunggu reaksi Kak Jungkook kalau tahu Aira disamperin helikopter! 😂
💬 KOMEN : Menurut kalian, apa yang bakal dilakuin kakak-kakak BTS pas tahu Aira bolos sekolah seharian bareng 3 sahabatnya? 😂
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab 23 bakal ada 'sidang keluarga' di Mansion Kim karena aksi bolos Aira!
⭐ KASIH RATING 5 STARS buat momen manis di dermaga ini!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #GuanlinVsCircle #EscapeToPier #SunsetDate #AiraStrong