NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Sukses

Hampir setiap malam Yitno mengunjungi kediaman rumah lek Nanang, ia menggunakan kekuatan kain kafan itu agar tak tampak. Tetapi hasilnya nihil, Ia sama sekali tak menemukan moment yang tepat untuk memp*r*osa Ratih.

Lek Nanang dan istrinya setiap malam selalu berada di rumah. Sudah dua malam Yitno mendatangi rumah itu, tetapi ia belum menemukan waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya tersebut. Moment dimana Ratih sendiri dirumah, itulah yang sedang di tunggu oleh Yitno.

Di malam ketiga, Yitno kembali mendatangi rumah itu, berharap ia mendapat kesempatan. Dan benar saja malam itu tepat pukul tujuh malam lek Nanang dan istrinya berpakaian rapih hendak keluar rumah berboncengan.

"Nduk...ibu sama bapak pergi kondangan dulu."

"Iya buk, pulangnya beliin bakso ya."

"Iya.."

Mendengar itu Yitno yang tak terlihat segera masuk ke dalam rumah, takut rumah itu akan segera di kunci. Sebelum memasuki rumah ia menyembunyikan sendal jepitnya di dalam sebuah pot bunga yang terlihat besar dan rimbun di teras depan rumah itu.

"Akhirnya moment ini dateng juga.." batin Yitno

Setelah lek Nanang dan istrinya pergi, Yitno segera masuk ke dalam kamar Ratih, saat Ratih sibuk mengunci pintu depan setelah kedua orang tuanya pergi.

Yitno berdiri tegak di pojokan lemari, tak lama Ratih masuk kamarnya. Ratih menjatuhkan diri tengkurap di kasurnya sembari bermain ponselnya. Terlihat Yitno menelan ludah mengamati tubuh Ratih yang padat berisi, dengan bokongnya yang sintal membuat birahi Yitno meronta-ronta tak sabar ingin menggagahi tubuh itu.

Perlahan Yitno berjalan mendekat, ia segera mengincar bagian kulit tengkuk leher Ratih. Ya! dengan kuat Yitno menempelkan stun gun tersebut...

Ngrreett...!!! Drrrtt....!!

Ratih yang terkejut tak bisa berteriak, Yitno sudah menduga jika seseorang yang terkena setrum tak akan dapat berteriak. Yitno melepaskan stun gun dari tengkuk leher Ratih. Tampaknya Ratih belum pingsan, ia berbalik tubuh dengan lemas, matanya masih terbuka sayu, seperti lemas hendak pingsan.

Yitno kemudian kembali menyetrum tubuh Ratih untuk kedua kalinya agar gadis itu benar-benar pingsan. Akhirnya Yitno berhasil, Ratih terkulai pingsan. Segera Yitno melancarkan aksinya. Perlahan ia menarik celana tidur Ratih. Hingga semuanya tampak jelas terlihat.

Sejenak Yitno menikmati pemandangan indah itu, lalu ia segera menimpah tubuh Ratih perlahan dan lembut agar Ratih tak tersadar lebih cepat. Yitno yang merasa nikmat terus mengg3njot. Hingga darah kep*rawan*n Ratih mulai mengalir di seprai tempat tidurnya,

Hampir setengah jam lamanya Yitno menikmati tubuh itu dan akhirnya kerongkongannya pun puas. Yitno pun segera mengelap kem*luan Ratih menggunakan kain kafan yang melekat di perutnya. Setelah selesai Yitno lalu mengenakan kembali pakaian Ratih.

"egghhhmmm....egghhhhh..." Ratih merintih tampak akan segera tersadar, Yitno panik. Segera ia menaikan celananya lalu keluar dari kamar itu, dan membuka pintu depan perlahan, mengambil sendalnya dan bergegas pulang.

"Ahhh puasnya, enaknya...hmm pasti pasti Ratih malu untuk cerita sama orang tuanya. Walaupun cerita pun mereka gak akan berani ngelapor polisi. Karena ini menyangkut kehormatan anak gadis mereka satu-satunya." Batin Yitno penuh kemenangan.

Sesampainya di rumah, ia segera menyimpan kain kafan itu di lemarinya yang selalu ia kunci dan kuncinya adalah bandul kalung miliknya, ia protect takutnya ibunya membuka lemarinya..

Yitno segera mandi dan keluar rumah bergabung dengan para warga yang sedang berkumpul di pos ronda, atau hanya sekedar menonton ibu-ibu bermain volly malam hari.

Sementara itu Ratih mulai tersadar ia bangun dengan kepalanya yang sedikit pusing.

"Aku tadi kesetrum...kayaknya?" Batin Ratih bingung, ia bangkit dari kasurnya sembari memegang tengkuk leher belakangnya. Ratih mengerutkan keningnya dan merasa ada yang aneh dengan selangk4ngannya

"Kok perih?"

Ratih menurunkan celananya dan memeriksa kem*luannya sendiri, ada bercak noda darah di celana dalamnya.

"Kok halangan? Baru Minggu kemaren aku halangan?" Batin Ratih bingung. Ratih pergi ke kamar mandi ia buang air kecil, dan ia merasakan perih yang teramat di kem*luannya...

"Kok perih sih? Kena apa ya?" Batin Ratih yang belum mengerti tentang apa yang menimpa dirinya. Ia berusaha berfikir positif, tapi fikirannya berubah setelah orang tuanya pulang dari kondangan.

"Nduk...!! Ndukk...!! Kok pintunya gak di kunci?" Panggil ibunya

Deg...!!

Jantung Ratih bedegub kencang, ia ingat betul jika ia sudah mengunci pintu depan

"Oh di kamar mandi toh kamu, ini baksonya langsung di makan soalnya mie nya di campur nanti mblotong mienya." Ucap ibunya

"I..iya buk..."

"Kamu tadi gak ngunci pintu depan toh nduk?"

"Emm lu..lupa buk." Jawab Ratih berbohong.

Hati Ratih hancur, ia mengamati kem*luannya di kamarnya. Ia yakin jika ia habis di pe*kosa oleh seseorang tapi ia malu menceritakannya kepada kedua orang tuanya.

Ia takut berita itu menyebar dan ia akan sangat malu. Ia memilih diam tak memberitahu siapapun. Rasa pahit itu ia pendam dan telan sendiri. Setelah memakan bakso diam diam Ratih mengantongi sikat cuci dan berusaha membersihkan noda darah di seprai kasurnya.

Ia duduk bersandar dinding pinggir kasur menekuk kedua lututnya yang ia rangkul dengan kedua tangannya. Wajahnya tertunduk dengan dahinya bersandar pada kedua lututnya. Ia menangis tertahan...

***

Di kantor polisi tampak Hendro duduk di interogasi oleh penyidik.

"Tadi di TKP kamu gak ngomong apa-apa, gak taunya kamu semalam ke rumah bapakmu kan?"

"I..iya pak, Ya saya berkunjung nemuin bapak saya itu, ya cuma ngobrolin itu aja. Saya gak lama mungkin hanya setengah jam. Anak saya minta pulang." Ucap Hendro berbohong

"Menurut kamu siapa yang patut paling memungkinkan untuk di curigai?"

"Yang ngambil kafan itu pak, karena maksud kedatangan pak Tarman dan istrinya menyangkut prihal masalah itu. Mungkin pelakunya tau dan membunuh bapak saya." Jawab Hendro

"Bapak kamu tau siapa pelaku yang ngambil kain kafan itu?"

"Bi..bisa jadi pak, tapi beliau hanya bilang orang itu masih satu kampung sama korban."

"Bapak kamu bilang kayak gitu?"

"Iya pak, abis itu saya pulang. Bapak belum tau pasti siapa pelaku sebenarnya. Dia hanya bilang di datangi hantu atau jin gitu. Walaupun bapak saya suka klenik kayak gitu tapi saya dari kecil gak pernah mau percaya hal kayak gitu pak."

Polisi penyidik itu mengerutkan keningnya..

"Jadi tragedi pembunuhan ini ada hubungannya dengan keluarga Tarman. Siapakah pelaku ini sebenarnya? Kalau sekampung kemungkinan besar memang bisa jadi."

Polisi di buat bingung dengan kasus tersebut, mereka kekurangan petunjuk dan menemukan jalan buntu.

Sedangkan Yitno menjalani hidup seperti biasanya seperti tak terjadi apapun di dalam hidupnya. Ia di kamar sibuk menulis list barang-barang dagangan yang harus ia beli.

Pagi hari setelah memberi makan ikan nila, ia sibuk membuat rak-rak dari papan untuk menaruh dagangannya di warung. Ia men-setting ala kadarnya. Tak lupa ia membuat rak untuk menjual bensin eceran.

Seharian ia begitu sibuk, menggergaji papan dan mengecet seluruh rak. Sambil bekerja Yitno terus berfikir..

"Siapa lagi yang punya Uang cash yang bisa aku curi? Ah besok ke pasar lah ngeliat toko yang paling rame cari tau rumahnya. Abis itu tinggal curi uangnya, Pasti ada banyak toko rame di pasar." Batinnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!