Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Mereka berdua, Bhima dan Arga berjalan ke bangku Arga, sedikit menjauh dari Xeline dan Clara agar Xeline tidak mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Bhim, aku jelasin sama kamu. Tidak semua laki laki seperti kamu. Kamu sudah memahami dirimu sendiri dan apa yang kamu inginkan serta yang akan kamu lakukan. Semua batasan terlihat begitu jelas dan gamblang seterang matahari di siang hari. Saat menjalin hubungan dengan perempuan, kamu punya batasan yang bagus dalam hubungan hingga tidak membuat perempuanmu bertanya statusnya seperti apa? Setegas pacaran ya pacaran, teman ya teman. Tapi Dhani beda. Dia masih bingung dengan dirinya sendiri. Aku harap kamu bisa mengerti dan memahami hal itu Bhim. Kendalikan dirimu," nasihat Arga pada sahabatnya, Bhimantara Adhitama Pratama.
"Tapi aku kasihan lihat Clara diperlakukan seperti itu sama Dhani. Mereka berdua dekat, duduk sangat berdekatan tapi tidak tahu statusnya seperti apa? Temen bukan, pacar bukan? Tapi cara duduknya terlalu dekat melebihi seseorang yang sedang pacaran," gerutu Bhima.
Arga senyum menyeringai seakan menyindir Bhima.
"Ada apa dengan senyummu? Mengejek aku ya?"
"Bentar Bhim. Aku tanya sesuatu sama kamu. Emang kalau duduk berdekatan, harus pacaran gitu? Apa kamu juga pernah duduk berdekatan dengan Xeline? Perasaanku kok aku nggak pernah lihat ya kalian duduk berduaan?Jangankan kalian duduk berdekatan, ngobrol berdua saja nggak pernah. Duduk saling berhadapan juga nggak pernah. Tapi kok bisa ya kalian berdua jadian? Aku penasaran. Sebenarnya kalian pakai cara apa hingga kalian bisa sedekat ini hingga berstatus pacaran? Betewe aku juga penasaran. Sebenarnya kamu datang ke kelas ini, ke kelas sebelah, untuk mengobrol dengan kami, aku, Haydar dan Ryan, atau hanya untuk mengawasi perempuan itu? Apa jangan-jangan kamu juga cemburu melihat Xeline mengobrol dengan Dhani?"Tanya Arga sambil melihat Xeline yang tengah asik mengobrol dengan Clara, dan Vania.
Bhima tersenyum.
"Aku sekolah itu ya sekolah. Kalau mau bucin, ya jangan di sekolah. Aku kesini ya pengen ketemu kalian lah. Aku cemburu sama Dhani? Nggak lah. Ngapain juga aku cemburu sama dia?" Elak Bhima dengan memalingkan muka.
Arga, Haydar dan Ryan saling senyum.
"Menurutku sejak dia putus sama Citra, Dhani jadi agak aneh. Ia menjauhi kita, tapi entah mengapa bila ada cewek yang mau deket sama dia, siapapun itu, ya oke aja. Liat aja. Biasanya Dhani jarang mau ngobrol bareng banyak cewek. Tapi sekarang. Clara, Vania, Xeline lagi ngobrol, dia ikut nimbrung?" tambah Bhima mencoba mengalihkan alur pembicaraan.
"Bhim, Bhim. Tidak usah mengalihkan topik pembicaraan. Itu urusan Dhani sama si Citra mantannya. Kalau pun dia kemudian sedang dekat sama cewek mana pun, ya sudahlah. Kamu nggak usah ikut campur. Kecuali kalau Dhani sendiri yang minta bantuan. Sebenarnya, kami juga tahu kamu sedang cemburu sama Dhani," Jelas Arga.
"Nggak."
"Tapi wajahmu itu sudah bisa ditranslate. Sudah ada subtitle nya," tambah Haydar.
Clara melihat Bhima yang tengah asik ngobrol dengan ketiga temannya.
"Xel," ucap Clara setengah berbisik
"Iya Ra. Ada apa?"
"Kelihatannya Bhima sangat menyukaimu. Tadi ia terlihat sangat cemburu saat kamu dekat dengan Dhani," bisik Clara ditelinga Xeline.
"Seorang Bhima bisa cemburu padaku. Benarkah? Dia sangat cool Ra. Dingin sekali. Datar. Seakan tak memiliki ekspresi sama sekali. Dia nggak pernah ngumbar kata aku suka, atau kata cinta misalnya."
"Tapi yang barusan itu apa?"
"Kalau aku ajak mabar, dia selalu ada waktu. Bila repot, dia akan bilang sama aku. Saat pagi, selalu WA, sudah bangun? Sore sepulang sekolah, selalu tanya sudah sampai rumah? Pulang tadi aman kan? Sudah makan? Saat malam, tanya sudah menyiapkan buku buat besok apa belum? Sudah belajar? Kalau malam, kadang wa sudah tidur? Atau kadang pesan, jangan tidur malam malam. Setiap hari seperti itu. Template banget."
Clara terkejut.
"Spam chat. Gilak. Effort banget itu cowok," Balas Clara dengan kaget.
"Biasa aja Ra. Nggak ada kata cinta, rindu, sayang kaya orang pacaran."
"Tapi itu perhatian banget Xel."
Bel telah berbunyi. Xeline beranjak dari kursi dan berjalan menuju kelasnya. Bhima pun sama. Saat mereka berjala beriringan, Bhima berusaha berbicara dengan Xeline meski sedikit canggung.
"Pulang sekolah, kita mabar Xel," ajak Bhima.
"Lihat nanti ya," balas Xeline.
"Iya."
"Nanti kukabari."
"Okeyy."
Sesampainya di rumah, Bhima mengirim pesan WA ke Xeline.
Bhima : Xel
Xeline : Iya
Bhima : Aku pernah denger Dhani ngajak kamu main?
Xeline : Iya. Main roblox. Kenapa?
Bhima : Dhani pernah ngajak kamu main ML nggak?
Xeline :Dhani nggak pernah ngajak aku main ML. Kenapa emangnya?
Bhima : Aku punya ID Dhani
Xeline : Lantas?
Bhima : Kamu mau kukasih ID Dhani? Bukannya dulu Dhani juga pernah ngajak kamu main ML
Xeline : Kan Dhani cuma ngajak Bhim. Bila nggak dikasih ID, apa ya aku bisa mabar? Lagian aku juga malu bila minta ID ke Dhani. Lha wong dia juga nggak ngasih sendiri ke aku.
Bhima : Kamu bener juga. Kali aja kamu nanti diajak main sama Dhani. Mobile Legend sesi kali ini aku masih di level Mythic mawi. Sedangkan Dhani sudah sampai level Mythic honor. Kali aja dia bisa bantu kamu yang masih level Legend naik sampai level mythic honor di sesi kali ini. Selain itu, aku juga takut kamu bosen selalu push rank sama aku
Xeline : Aku nggak bosen kok. Biasa aja
Bhima : Ini ID Dhani. 123456789
Xeline menatap WA yang dikirim oleh Bhima. Ada sedikit rasa senang menyelinap dalam hati perempuan itu.
Xeline : Iya Bhim. Makasih ya. Nanti akan kucek bila login di ML.
Bhima : Semoga bisa honor di sesi kali ini sayankku. Jangan lupa makan dulu, belajar dulu sebelum nge game
Xeline menatap WA dari Bhima.
Xeline : Iyaa.
Bhima : Jangan tidur terlalu malam.
Xeline : Iyaa. Makasih yaa sudah diingatkan
Bhima : Iyaa. Jaga kesehatan. Jangan sampai sakit
Xeline : Iyaa
Bhima : Maaf, aku nggak bisa nemani kamu game kali ini. Aku repot banget. Kamu main sama Dhani aja.
Xeline : Iyaa
Bhima begitu perhatian sejak awal Xeline dekat dengannya, hingga saat ini. Tak terasa mereka telah menjalani kedekatan tersebut satu setengah bulan lamanya. Saat mereka jadian empat hari yang lalu, perhatian Bhima semakin intens ke Xeline.
Tak seberapa lama ada wa masuk di hp Xeline
Dhani : Xel, ini aku Dhani.
Xeline : Iyaa.
Dhani : Gimana? Kamu repot nggak? Mau main ML sama aku?
Ada rasa senang saat Dhani mengajaknya bermain ML.
Xeline : Boleh
Dhani : Aku sudah login. Kutunggu di lobby
Xeline : Iyaa
Tak seberapa lama Xeline telah login di akun aplikasi ML miliknya. Ia mengamati kode ID Dhani dengan seksama. Entah mengapa ia merasa familiar dengan akun yang diberikan oleh Bhima tersebut. Setelah membuka tombol dibagian pertemanan, Xeline sangat kaget dengan apa yang dilihatnya.