Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siswi SMA Kelas 1
Hari pengumuman kelulusan tiba, seluruh siswa kelas tiga dinyatakan LULUS semua.
Mereka bersorak gembira menerima hasil ujian nasional.
Guru wali kelas mengumumkan juara umum yang dipegang oleh Pie. Ia tak begitu terkejut dengan hal ini, karena dari kelas satu ia selalu mendapat peringkat satu. Justru Pie bingung karena kelas tiga penuh dengan skandal olehnya. Dirinya sering disindir oleh para guru agar tak berpacaran sebab akan mengganggu belajarnya. Dalam hal itu, Pie merasa dirinya akan mendapat nilai yang mengecewakan tentang kepribadian yang jelek semasa kelas tiga.
Pie juga berpikiran jelek, jika para guru tetap memberikannya nilai tinggi dan posisi juara umum untuk mengejeknya. Entahlah, Pie merasa tak puas dengan hasil kali ini. Ia tak bahagia.
Seperti biasa setiap pembagian raport, orang tua Pie sangat bahagia mendengar putri mereka mendapatkan predikat juara umum saat kelulusan.
Mereka menyerahkan keputusan sang putri untuk melanjutkan sekolah yang Pie suka. Mereka tak ingin mengulangi kesalahan mereka lagi.
Dulu, saat sang Kakak lulus dan ingin melanjutkan sekolah, mereka kekeuh dengan pilih sekolah mereka, sang Kakak ditekan dan akhirnya menerima dengan paksaan. Hasilnya? Sulung sering membolos dan berhenti sekolah saat kelas dua. Orangtua Pie tak ingin mengulang lagi.
"Pie, aku bangga memiliki pacar sepertimu."
"Gadis pintar, aku menyukainya."
"Aku tak cantik?"
"Kau manis dan pintar. Aku lebih menyukai kau memiliki otak dari pada kau cantik tapi kosong. Haha."
"Aku tersanjung meskipun tak cantik."
Kim sore itu memuji Pie dengan berlebihan. Ia sangat bahagia Pie mendapat predikat juara umum. Ia bangga bisa berpacaran dengan Pie, si gadis pintar.
Masa-masa liburan sekolah, Pie nikmati dengan membantu orang tuanya di kebun. Selain mengisi kegiatan, ia juga mendapatkan uang untuk jajan dirinya saat libur sekolah.
Dirinya sudah diterima di SMA tujuannya. Dan minggu depan ia akan menjalani MOS ( Masa Orientasi Sekolah).
Pagi itu, Pie tak pergi ke kebun karena ia kesiangan. Semalam dirinya menonton film bersama sang Kakak hingga larut malam.
Ia bangun sekitar pukul 07.47 pagi, ia mengecek ponsel dan mendapatkan satu pesan, itu dari Kim.
"Kita putus. Aku akan fokus belajar."
Bagai mimpi di pagi hari. Pie mengucek matanya dengan sedikit kasar dan membaca pesan tersebut dengan perlahan dan berulang. Ia khawatir dirinya tiba-tiba mendapat gangguan penglihatan yang lebih buruk.
"Benar-benar kata putus." Gumam Pie setelah menyadarkan dirinya bahwa pesan Kim adalah nyata.
Ia bingung, hatinya tak merasakan sakit dan kecewa. Justru ia merasa lucu membaca pesan Kim yang tiba-tiba berubah. Padahal kemarin sore mereka masih mengobrol mesra.
"Oke." Pie membalas pesan Kim setelah mengumpulkan nyawa.
Pie menghargai keputusan Kim. Dirinya berpikir mungkin Kim sudah menemukan gadis lain di sekolah baru atau tak bisa berjauhan dengannya.
Pie menerima dengan santai dan melanjutkan hidup tanpa ada beban.
Dirinya mengikuti MOS dengan patuh dan tertib. Ia satu kelas dengan beberapa siswa dari SMP yang sama dan bertemu dengan kawan lama.
Kini, Pie dengan status baru. Sebagai siswi SMA kelas satu. Dirinya sangat bahagia bisa mengenakan seragam putih-abu. Dengan senyum manis dirinya memasuki gerbang sekolah yang baru, hampir dua ratus siswa kelas satu yang masuk ke sekolah ini. Dia tak berani memandang para siswa kelas dua dan tiga. Pie tak percaya diri, ia berniat untuk menjadi siswi teladan dan 'gaib' di sekolah ini. Berbeda dengan masa SMP yang hampir semua siswa mengenalnya. Ia merasa nyaman jika dirinya tak terlihat oleh orang lain.
Pie satu sekolah dengan beberapa teman SMP, namun berbeda kelas. Setiap istirahat mereka akan berkumpul di halaman kelas satu untuk mengobrol, karena belum akrab dengan teman baru satu kelas.
"Kau sudah diperkenalkan dengan guru killer?" Caca berbisik kepada Pie. Mereka sedang berkumpul, namun teman lain sedang membahas beberapa kosmetik yang sedang hits saat ini.
"Belum. Ada tiga guru killer, 'kan?"
"Iya?" Caca terkejut mendengar ucapan Pie.
"Kenapa?"
"Aku hanya tahu jika dua guru killer."
"Tiga. Guru kimia yang paling sadis kudengar."
Caca bergidik ngeri.
"Pie, kau mau liptint juga? Biar sekalian kupesankan." Ucap Ezti ketika selesai berdiskusi dengan teman lainnya.
"Tidak. Kalian saja." Pie menggeleng pelan. Ia masih trauma dengan kejadian krim merkuri saat SMP.
"Oke. Kau, Ca?" Ezti menatap Caca yang terus mengunyah sedari tadi.
"Huh? Oke, satu." Ezti mengangguk dan segera mencatat di note kecil yang ia bawa.
Kini, wajah mereka terlihat lebih putih dari pada tone tangan mereka. Bukan hanya gadis dari SMP Pie, SMP lainnya pun murid perempuan berpenampilan sama, wajah dan tubuh mereka belang. Ya, hal trend tidak hanya mencakup satu daerah, pasti akan menyebar luas.
Pie sedikit tak PD dengan kulitnya yang tak merata. Ia memilih pelembab dari produk yang BPOM saja untuk menetralkan kulitnya yang mendadak putih. Sangat kontras dari tangannya.
"Jadi, Kim tak menghubungimu lagi?"
"Ya. Kami hilang komunikasi. Aku tak peduli."
"Sayang sekali, kalian terlihat sweet saat bersama." Ezti mengangguk saat Caca berucap. Pie hanya tersenyum miris.
"Mungkin Kim sudah punya pacar di sana. Kau seperti tak tahu laki-laki saja." Ezti menyahut.
"Benar. Cari yang baru saja, Pie."
"Lihat nanti sajalah. Aku akan beradaptasi dengan sekolah ini lebih dulu." Pie memakan snack coklat yang ia beli ketika di kantin tadi.
"Hei, apa kau lihat siswa yang ada di bawah pohon itu?" Pie dan Caca menatap ke arah yang ditunjuk Ezti.
"Yang badannya sedikit berisi?" Caca berucap tanpa melepaskan pandangannya.
"Ya."
"Ada apa, Ez?" Pie menatap Ezti yang menyeringai kecil.
"Kau menyukainya?" Tebak Caca
"No. Kupikir itu sesuai dengan seleramu, Pie."
Caca melongo mendengar ucapan Ezti.
"Benarkah, Pie?"
Pie hanya diam. Tatapannya fokus kepada siswa yang sedang bercanda bersama temannya.
"Kau diam artinya setuju?"
"Kau baru saja memecah fokusku, Ez."
"Apa?"
"Kupikir, ya. Dia sesuai seleraku." Kedua mata Pie berbinar membuat Caca dan Ezti terkejut melihat respon Pie yang tiba-tiba.
"Apa kau mengerti penjelasan guru Biologi tadi?"
"Ya."
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama."
Pie menatap bingung teman sebangkunya.
"Kau tahu, aku tak begitu paham tentang materi, tapi aku paham jika soal berhitung."
"Lalu?" Pie belum mengerti maksud Yan.
"Kita bertukar jawaban."
"Aku membantu Biologi dan kau membantu Matematika, begitu maksudmu?"
Yan berbinar.
"Ya!"
Ini menggiurkan, tapi apa dia bisa lolos dari mata tajam guru Biologi yang termasuk guru killer? Terlebih meja Pie berada persis di depan meja guru.
"Baiklah, kita coba."
"Ok."
Minggu depan mata pelajaran Biologi akan mengadakan ulangan harian, guru telah memberitahu satu minggu sebelumnya agar para murid bersiap untuk ulangan.
"Hi."
Inbox dari facebook masuk ke akun Pie. Saat itu ia sedang menyiapkan buku-buku pelajaran untuk esok hari.
Pie memeriksa akun yang mengirimkan pesan padanya, dari profil facebook, lelaki itu bersekolah di SMK Kecamatan. Yang artinya tak jauh dari SMA Kecamatan.
"Hi"
"Boleh kita berkenalan?"
"Ya."
"Aku Tyo."
"Aku Pie."
"Kau punya pacar?"
"Tidak."
"Apa kau mau jadi pacarku?"
Pie terkejut dengan laki-laki ini. Terlalu cepat dan to the point.
"Kau ingin jadi pacarku?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Kau cukup cantik. Aku suka."
"Benarkah? Kita bahkan belum bertemu."
"Mau bertemu, kau sekolah di SMA, 'kan?"
"Ya."
"Besok kita bertemu, bagaimana?"
"Di mana?"
"Bagaimana jika aku menjemputmu di sekolah?"
"Lalu ke mana?"
"Kau ingin ke mana? Aku terserah padamu."
"Bagaimana jika di halte saja? Tunggu aku di sana."
"Baiklah."
"Gila, kau benar-benar gila, Pie." Gumam Pie seorang diri.