Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 21
...🍀Ternyata Kita Cinta🍀...
..._Cinta terbungkus obsesi. Dia hanya ingin memiliki hingga rambut di pelipis berubah seperti embun beku_...
...***...
"Kenapa kau cemberut? Wajahmu yang kecil itu seperti adonan kue bantat."
Runa meletakkan baskom berisi air dingin di tempat cuci piring. Kemudian dia menatap tajam pada Pedro yang bersandar di depan kulkas.
"Mulutmu pedas sekali, ya? Apa perlu aku potong lidahmu dan mendinginkannya dalam kulkas dulu? Sebelum akhirnya aku membungkus badanmu dan memasukkanmu dalam kulkas juga?!"
Pedro memelotot, bukan marah, tapi meledek. "Dengan badan setinggi jari kelingkingku, memangnya kau bisa menyerangku?" Dia bicara sambil memasukkan tangan ke saku celana, berjalan mondar-mandir dengan pongahnya di hadapan Runa.
Ingat, cinta dan benci itu seperti angka 11 dan 12, dekatnya tidak lebih dari 1 detik. "Monyet yang baik memang suka menyerupai majikannya. Minggir!"
"Heh! Kau mengatai aku Monyet?" Pedro tidak terima, dia mengikuti langkah kaki Runa yang tak seberapa panjang itu.
"Tidak. Kau sendiri yang mengaku monyet. Barusan."
"Hei, hei! Kau keterlaluan! Kau juga membawa-bawa nonaku."
"Oh, ya? Kapan? Aku tidak merasa menyebut nama kau dan nonamu!" Runa menghentikan langkah, mendongak dia menatap Pedro sembari berkacak pinggang.
"Kau ... kau cukup berani!"
"Ya! Aku memang berani. Kau mau apa? Hah? Menyerangku? Ayo sini!"
Pedro, datanglah ke kamarku.
Suara Rhea terdengar dari alat kecil yang selalu terpasang di telinganya.
"Siap, Nona."
"Kau beruntung, kali ini nonaku menyelamatkanmu," ujar Pedro seraya berlalu.
Cih! Runa melipat kedua tangan di dada, dia menatap punggung lebar Pedro dengan tatapan meremehkan. "Dasar manusia besar tidak beretika. Kau yang jahil, tapi berlagak seperti korban."
Runa melanjutkan langkahnya menuju kamar Syaheera. Di sana Syaheera masih diam mematung di depan cermin. Wajahnya sudah tidak lagi bengkak, Runa selalu mengurusinya dengan sangat baik.
Setelah keputusan yang lagi-lagi diambil tanpa persetujuannya, Syaheera hanya bisa menangis karena sakit hati.
Apa gunanya ponsel baru itu jika tidak bisa menghubungi sang kekasih. Luke sudah memberikan nomor Xavier kepadanya, tapi ponsel itu diatur untuk tidak bisa menghubungi nomor kekasihnya. Dia sudah puas mengotak-atik ponsel itu, menghabiskan waktu berjam-jam sampai kepalanya pusing.
Lantas, bagaimana dengan Joel dan Runa? Apakah mereka bisa membantu? Mungkin bisa, tapi Syaheera tidak ingin menyeret mereka kembali dalam masalahnya.
Buntut dari kencannya bersama Xavier kemarin, Runa, Joel dan Oza mendapat hukuman. Hati kecil Syaheera menangis melihat luka di punggung Runa. Juga Joel, meski terlihat gagah seperti biasanya, Syaheera menyadari Joel berjalan menahan rasa sakit.
Bagaimana dengan Oza? Sebagai pengawal yang diatur langsung oleh Peter, membiarkan Luke melakukan kesalahan adalah hal yang paling mengecewakan bagi Peter.
Untuk sementara, Oza ditugaskan mengawal Luke di kediaman saja.
Penampilan lengkap Boaz membuat Luke risih, juga sikapnya. Karena terbiasa mengawal Peter, sikap tegas dan kewaspadaan Boaz sangat kentara. Luke merasa dirinya seperti seorang tahanan. Teman-temannya di kampus merasa takut untuk mendekatinya. Bagaimana tidak, tatapan Boaz pada mereka seperti elang yang siap menerkam domba. Menakutkan!
...***...
Kedatangan Syaheera di butik pengantin disambut irama romantis dan udara segar nan sejuk. Kilau kristal dari lampu gantung terpantul pada lantai marmer yang mengkilap.
Embusan angin dari jendela besar dengan tirai berwarna putih, ikut menyapa wajah Syaheera yang cantik.
"Kau mau langsung memilih gaun atau mau duduk dulu? Kau terlihat lelah, Syaheera."
Camila, dia ikut menemani Syaheera dan Kiv kali ini.
"Memilih? Ternyata aku bisa memilih gaun pengantinku sendiri."
Raut wajah Kiv seketika berubah, dia tahu itu bukan sekadar kata biasa dari seorang Syaheera.
"Tentu saja. Ini pernikahanmu," ucap Camila. Berbeda dengan Kiv yang cenderung berwajah datar, Camila terlihat lebih ceria dan ramah.
"Pernikahan yang ---"
"Bawa semua gaun terbaik kemari," titah Kiv pada pegawai butik.
"Baik, Tuan."
Ucapan Kiv memutus kata-kata Syaheera. Gadis itu kembali menelan suara hati yang ingin dia ucapkan.
Camila melihat Syaheera mengepalkan tangan. "Kau suka minuman apa? Teh? kopi? Jus? Kita bisa menikmati minuman itu sambil kau memilih gaun."
"Aku suka minuman bersoda."
"Pantas saja, kau mudah meledak."
"Bukannya kau yang mudah meledak? Tuan Kivandra Alistair!"
Camila terperangah, sepertinya Syaheera bukan lawan yang mudah bagi Kiv.
Di depan Syaheera dia menendang kaki pria setinggi 1'9 cm ini. "Tidak bisakah kau mengalah? Diam saja di pojokan sementara kami memilih gaun!"
"Kau menendang kakiku, Kak. Lagipula, aku bukan lampu pojok!"
"Alvin, bawa Tuanmu ke tempat lain. Sungguh merusak pemandangan."
Kiv terpaksa pergi, padahal dia ingin ikut serta dalam proses memilih gaun untuk Syaheera.
Camila kembali pada calon adik iparnya. Dia memesan minuman bersoda dan kue. Sikap acuh Syaheera seperti udara di hadapan Camila, dibiarkan begitu saja.
Sepertinya dia baik.
Perlahan sikap dingin Syaheera memudar. Camila yang ramah dan sabar menghadapi sikapnya berhasil meluluhkan sang hati.
Perlu banyak waktu hingga gaun pengantin terbaik mereka dapatkan. Dan, betapa dua bola mata Kiv hendak melompat, ketika melihat Syaheera memakai gaun tersebut.
"Tidak!"
"Kenapa tidak?" protes Camila.
Syaheera juga menunjukkan wajah tidak suka atas penolakan Kiv.
"Kenapa harus memperlihatkan punggung? Hei, Nona Viola, kau ingin menikah atau ingin pamer punggung?"
"Itu cantik."
"Cantik tidak harus pamer tubuh. Ayolah, Kak. Masih banyak gaun yang lebih cantik dari gaun itu." Kiv memanggil pegawai butik dan menyuruhnya membantu Syaheera melepaskan gaun.
"Aku suka gaun ini," Syaheera mengeratkan pegangan pada gaun itu.
"Aku tidak suka gaun itu!" hardik Kiv.
"Ini untukku! Aku yang akan memakainya!"
"Kau adalah milikku, Syaheera! Aku tidak mengizinkan kau memakai gaun itu!"
Udara di ruangan sejuk itu terasa menekan dada. Camila tahu, Kiv benar-benar marah. Sementara Syaheera, dia menatap Kiv seolah ingin menerkamnya, mencabiknya hingga musnah.
"Ini hidupku."
"Dan hidupmu adalah milikku," sahut Kiv.
Tatapan Syaheera hanya menggelitik hati Kiv, dia suka Syaheera yang marah.
"Kau masih bisa memilih gaun lain. Atau aku yang akan memilih gaun untukmu."
"Kiv, kau keterlaluan."
"Kupikir, seorang Camila adalah perempuan sibuk dengan urusan perusahaan. Masalah gaun ini akan aku urus sendiri, Kak." Suara yang datar, sangat berbeda dengan nada bicara Kiv yang pasrah diusir dari ruangan itu beberapa waktu lalu.
"Alvin, antarkan Nona pertama kembali ke perusahaan."
Mendekati Kiv dan sedikit menunduk, Camila berbisik. "Obsesi membuat cinta mati."
"Ini bukan cinta!" ujar Kiv, terdengar jelas sampai ke telinga Syaheera.
Camila menatap iba pada Syaheera. Dia pamit undur diri, "Maaf. Aku tidak bisa membantu."
Hanya senyum yang dipaksakan, Syaheera menatap hampa atas kepergian Camila.
...To be continued ......
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..