NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Gudang - Bukan Cara Aman

Sabtu malam, 21:45.

Udara di pinggir hutan Jakarta Utara terasa lebih dingin dari biasanya, seperti napas musim hujan yang belum mau turun sepenuhnya. Lampu depan motor Shadiq menyapu jalan setapak berbatu yang penuh lubang, debu beterbangan membentuk kabut tipis di belakangnya. Bau tanah basah bercampur oli dan kayu lapuk menyengat hidung. Di kejauhan, siluet tiga truk besar sudah parkir berjejer di depan gudang kayu tua yang reyot itu—lampu sorot mobil menyala terang, menerangi halaman berdebu seperti panggung teater yang salah kostum.

Shadiq mematikan mesin motor di belakang truk terakhir, membiarkan suara knalpot meredup pelan. Ia turun, jaket kulitnya berderit pelan saat ia meluruskan punggung. Matanya langsung tertuju ke pintu gudang yang terbuka lebar. Cahaya kuning pekat menyembul keluar, disertai suara orang berteriak-teriak, tawa kasar, dan bunyi kardus kayu yang digeser kasar di lantai beton.

Ia melangkah masuk perlahan, tangan kanan di saku jaket, jari-jari menyentuh gagang pistol kecil yang terselip di pinggang—senjata cadangan yang belum ia sentuh malam ini. Di dalam gudang, sekitar sepuluh pria bergerak cepat. Mereka mengenakan kaus hitam polos dan celana kargo, keringat membasahi leher dan lengan. Kardus-kardus kayu berukuran sedang ditumpuk rapi di rak besi berkarat. Setiap kardus disegel pita merah tebal, tanpa label, tanpa logo—hanya kode angka kecil tercetak tinta hitam di salah satu sisi.

Salah satu pria—yang paling besar badannya, kepala botak berkilat keringat—melirik Shadiq.

“Lo telat, bro. Bantu angkat yang ini ke rak belakang. Cepet!”

Shadiq mengangguk pendek, ekspresi datar. Ia maju, meraih salah satu kardus di lantai. Berat. Terlalu berat untuk isi biasa. Saat ia mengangkatnya, terdengar bunyi logam gesek pelan dari dalam—bukan suara peluru yang bergoyang, tapi sesuatu yang lebih padat, lebih mekanis. Ia menahan napas, berusaha tidak mengubah ekspresi. *Ini bukan senjata api. Tapi apa? Komponen? Alat? Barang yang lebih gila lagi?*

Malam berjalan lambat, seperti detik yang sengaja ditarik-tarik. Kardus demi kardus naik ke rak. Shadiq ikut bekerja, tapi matanya terus memindai: pintu belakang yang terkunci rantai, jendela kecil di atas yang sudah ditutup papan, dan sudut-sudut gelap di mana seseorang bisa bersembunyi. Ia menghitung. Sepuluh orang di sini, termasuk dirinya. Senjata terlihat di pinggang tiga orang. Sisanya mungkin menyimpan di tas atau di bawah kardus.

Pukul 22:40, kardus tinggal sedikit lagi. Shadiq meminta izin ke toilet—alasan klasik. Ia keluar ke halaman, berjalan agak jauh hingga bayangannya hilang dari pandangan orang dalam gudang. Ponsel burner Kelinci Perak sudah menyala di tangannya. Jari-jarinya mengetik cepat:

“Gudang tua hutan utara. Tiga truk pengiriman kardus kayu. Koordinat 6.1234 S, 106.7890 E. Kardus banyak, seal merah, kode angka. Isi tidak diketahui. Malam ini pengiriman aktif.”

Balasan datang dalam hitungan detik:

“Bagus. Tim bergerak sekarang. Lo sembunyi. Jangan ikut campur. Biarkan kami sapu bersih.”

Shadiq mematikan ponsel, menyimpannya kembali di saku dalam. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. Ia kembali masuk gudang, mengangkat kardus terakhir seolah tak terjadi apa-apa. *Sudah. Bocor. Sekarang tinggal tunggu.*

Pukul 23:10.

Suara mesin diesel berat terdengar dari kejauhan, mendekat cepat. Lampu sorot menyapu halaman seperti mata predator. Tiba-tiba—**DAK-DAK-DAK-DAK!**

Tembakan otomatis memecah malam. Peluru menghantam atap gudang, serpihan kayu beterbangan seperti serangga mati. Bau mesiu langsung memenuhi udara.

“Serangan!” teriak pria botak itu.

Sepuluh orang langsung meraih senjata. Pistol, shotgun pendek, bahkan satu orang mengeluarkan senapan serbu dari bawah tumpukan kardus. Mereka berlarian mencari posisi.

Dari kegelapan semak-semak di pinggir hutan, delapan sosok berpakaian hitam total muncul seperti hantu. Masker balaclava, rompi taktis, laras pendek senjata mereka berwarna emas mengilap di bawah cahaya lampu sorot. Tim Kelinci Perak. Mereka bergerak terlatih—dua kelompok, saling cover, tembakan terarah dan cepat.

**BRRRRT—DAK-DAK-DAK!**

Baku tembak meledak sengit. Peluru menghantam kardus, kayu pecah, logam berdenting. Beberapa kardus robek, isinya berhamburan ke lantai: kotak-kotak logam kecil berukir presisi, komponen elektronik yang tampak canggih, tabung kaca berisi cairan bening yang berkilau aneh di bawah lampu. Bukan narkoba. Bukan senjata konvensional. Sesuatu yang jauh lebih mahal, jauh lebih berbahaya.

Shadiq langsung menjatuhkan diri di belakang tumpukan kardus terbesar, punggung menempel dinding. Ia tidak menarik pistol. Ia hanya menonton. Dari celah antar kardus, ia melihat pria Kelinci Perak maju agresif, menekan anak buah Farhank yang mulai kewalahan. Satu orang jatuh, memegang bahu berdarah. Teriakan kesakitan bercampur umpatan dan perintah.

“Ambil kardusnya! Prioritas utama!” teriak salah satu pria berpakaian hitam, suaranya teredam masker tapi penuh otoritas.

Mereka bergerak seperti pasukan khusus: empat orang menutupi, empat lainnya mengangkat kardus—sekitar lima belas sampai dua puluh kardus—lari ke arah dua van hitam yang sudah parkir di sisi halaman. Anak buah Farhank coba lawan balik, tapi kalah jumlah dan posisi. Mereka mundur ke dalam gudang, bersembunyi di balik rak besi.

Serbuan berakhir dalam tujuh menit yang terasa seperti tujuh puluh. Mesin van menderu keras, ban mencakar tanah berdebu, lalu menghilang ke kegelapan jalan setapak. Yang tersisa hanyalah asap knalpot, bau mesiu, dan keheningan yang menusuk.

Gudang berantakan total. Kardus robek bertebaran, komponen misterius berserakan di lantai bercampur darah dan serpihan kayu. Dua anak buah Farhank tergeletak tak bergerak. Yang lain meringis memegang luka.

Pukul 23:35, mobil hitam mewah meluncur masuk halaman dengan lampu dimatikan. Pintu belakang terbuka. Farhank turun—jas hitam rapi, rambut disisir ke belakang, tapi matanya sekarang penuh amarah membara. Ia melangkah masuk gudang, sepatu kulitnya menginjak pecahan kayu.

Ia berhenti. Matanya menyapu kekacauan itu. Napasnya terdengar berat.

“Apa… ini?” suaranya rendah, hampir berbisik. Lalu meledak.

“APA INI?! KARDUS DIREBUT?! SIAPA YANG BERANI?!”

Pria botak—yang masih hidup, lengan kirinya berdarah—merangkak mendekat.

“Tim hitam, Boss. Delapan orang. Senjata laras pendek emas. Mereka tahu persis lokasi. Mereka langsung ambil kardus, nggak banyak omong. Kayak udah tahu isi dan jumlahnya.”

Farhank menendang kardus kosong di depannya. **KRAK!** Kayu pecah berkeping-keping.

“Lagi! Lagi gagal! Pengiriman gue gagal terus!” Ia berbalik, menatap anak buahnya satu per satu dengan mata yang bisa membakar. “Ada pengkhianat di sini. Ada yang bocorin! Kalian pikir gue bodoh?!”

Semua orang diam. Udara terasa lebih berat.

Shadiq muncul perlahan dari belakang tumpukan kardus, rambutnya acak-acakan, jaketnya berdebu. Ia berpura-pura baru sadar, tangan diangkat setengah.

“Boss…” suaranya pelan, terdengar lelah. “Gue nggak tahu apa-apa. Begitu tembakan mulai, gue langsung sembunyi. Gue nggak ikut tembak, nggak lihat siapa yang datang. Gue cuma… bertahan hidup.”

Farhank menatapnya lama. Mata itu seperti pisau yang mencari kelemahan. Akhirnya ia menghembuskan napas kasar, menoleh ke anak buah yang lain.

“Cari tahu siapa yang bocor. Cari tahu siapa yang berani main-main sama gue.” Ia menunjuk lantai penuh darah dan kardus robek. “Dan bersihkan ini. Semuanya. Sebelum matahari terbit, gudang ini harus kosong.”

Ia berbalik, melangkah keluar menuju mobil. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh.

“Shadiq.”

Shadiq menegang.

“Lo ikut gue besok pagi. Kita bicara.”

Pintu mobil tertutup. Mesin menderu. Lampu belakang merah menyala, lalu menghilang ke kegelapan hutan.

Shadiq berdiri diam di tengah kekacauan itu. Jantungnya masih berdetak kencang. Tapi wajahnya tetap tenang.

Di dalam kepalanya hanya satu pikiran berulang:

*Langkah berikutnya sudah dimulai.*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!