NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Intan berjalan gontai menuju ruang rawat Sasa. Namun, harapannya untuk menemukan sang anak berubah menjadi keterkejutan setelah ia menemukan sebuah fakta baru yang tak terduga. Segalanya terasa kabur, pikirannya penuh dengan kilas balik masa lalu yang kembali muncul seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

Langkahnya terhenti ketika suara kecil yang begitu akrab memanggilnya.

"Mama," suara itu memecah lamunannya.

Intan tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia melihat sosok lelaki yang menggendong Sasa. Yudha.

"Yudha," gumamnya lirih, nyaris tak percaya, sebelum akhirnya ia melangkah mendekati mereka.

Yudha, dengan sikap dinginnya yang tak berubah, menyerahkan Sasa ke pelukan Intan.

"Lain kali jaga anak Anda baik-baik. Dia masih kecil, terlalu berisiko jika sendirian di tempat umum, apalagi saat sedang sakit," ucapnya datar, namun tajam.

Intan menelan ludah, merasa tenggorokannya kering. Sosok Yudha masih jelas dalam ingatannya meski pertemuan mereka dulu hanya sekali. Lima tahun berlalu, dan lelaki itu nyaris tak berubah. Namun mungkin penampilan Intan yang kini lebih terawat dan jauh dari kesan gadis desa membuat Yudha tidak mengenalinya.

"Iya, tadi saya kecolongan. Terima kasih sudah menjaga anak saya," ucap Intan pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

Tanpa menanggapi ucapan itu, Yudha mengalihkan pandangannya pada Sasa.

"Paman pergi dulu," pamitnya singkat.

"Paman, kita bisa ketemu lagi, kan?" tanya Sasa penuh harap, matanya berbinar menatap Yudha.

"Tentu. Yang penting Sasa sehat, jadi kita bisa bertemu lagi," balas Yudha sambil mencolek lembut pucuk hidung Sasa, membuat gadis kecil itu tertawa kecil.

Meskipun ada rasa berat di hatinya, Yudha akhirnya benar-benar pergi, meninggalkan Intan dan Sasa. Intan hanya bisa memandang punggung lelaki itu yang menjauh, merasa dadanya sesak oleh emosi yang bercampur aduk, dan akhirnya membawa Sasa masuk ke dalam ruangannya.

Sementara itu, Yudha melangkah kembali menuju ruang rawat Arya, namun pikirannya tertinggal di lorong itu bersama Intan dan Sasa. Saat ia mendekati ujung koridor, pandangannya menangkap sosok Sonya berdiri diam. Tatapannya kosong, tubuhnya tampak rapuh, seolah membawa beban yang terlalu berat.

Tanpa ragu, Yudha menghampirinya, mencengkeram pergelangan tangan Sonya dengan kuat. "Hebat ya kamu, bisa tahu kalau Arya di rumah sakit?" ucapnya tajam, penuh tuduhan.

Sonya tersentak, terkejut oleh cengkeraman itu dan yang lebih terkejut lagi mendengar tuduhan Yudha. Ia tidak tahu apa-apa tentang kondisi Arya, tapi mendengar nama itu membuat hatinya mencelos, dihantam rasa khawatir yang mendalam. "A-Arya sakit apa?" tanyanya terbata, suara gemetar mencerminkan kepanikannya.

Yudha menyipitkan mata, sinis. "Apa karena ketahuan, jadi sekarang kamu pura-pura nggak tahu?"

Sonya menggeleng lemah, berusaha mencari kata-kata yang bisa menjelaskan situasinya. "Yudha, aku benar-benar nggak tahu kalau Arya sakit. Aku ke sini karena a—" Ucapannya terhenti, menggantung di udara, seolah ada tembok besar yang menghalangi untuk melanjutkan.

Yudha menatapnya tajam, diam beberapa detik, menunggu jawaban yang tidak kunjung datang. "Jadi, kamu nggak bisa bikin alasan yang masuk akal, ya?" sindirnya dengan senyum dingin.

Sonya menghela napas, menggigit bibirnya yang kering. Ia tahu apapun yang ia katakan akan sia-sia. Dengan berat hati, ia memasang senyum tipis, meski terasa getir. "Ah... aku ketahuan, ya? Tapi mau bagaimana lagi, informasi yang aku dapatkan begitu akurat. Aku ke sini karena aku peduli dengan Arya," ucapnya, berusaha terdengar meyakinkan, meski suaranya bergetar.

Namun, tatapan Yudha tetap menusuk, seperti menguliti setiap kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik kata-katanya. Ketegangan antara mereka begitu pekat hingga udara terasa sulit dihirup.

"Dasar licik!" bentak Yudha, suaranya memecah keheningan dan menghantam dada Sonya seperti palu godam.

Sonya menarik napas panjang, mencoba mengatasi gemuruh di dadanya. Ia tahu, ini saatnya. Demi Sasa. Demi masa depan anaknya ia ingin mencoba yang terbaik meskipun harus mengorbankan segalanya.

"Yudha," ia memulai, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegas. "Aku tahu, aku banyak berbuat salah di masa lalu. Aku menyakitimu, memutuskan hubungan kita dengan cara yang salah. Untuk itu, aku ingin meminta maaf."

Ia mengucapkan kata terakhirnya perlahan, memastikan setiap huruf menyentuh hati Yudha. "Maaf," ulangnya, kali ini lebih lirih, hampir seperti bisikan.

Yudha mendengus, sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sinis yang menyakitkan. "Maaf? Aku nggak percaya kata itu bisa keluar semudah itu dari mulut seorang Sonya Prawaira. Apa karena sekarang status kita sudah setara?"

Sonya menelan ludah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Dalam hatinya, ia tahu, ini bukan tentang status, tapi luka yang tak pernah sembuh. Jika bukan demi kesembuhan permata hatinya, ia tidak akan mengucapkan kata "maaf" itu karena disini bukan dirinya saja yang salah tapi Yudha juga.

Ucapan Sasa terngiang kembali di pikirannya, anak itu tahu umurnya tidak lama lagi, dan harapan satu-satunya kini ada di hadapannya. Sonya menguatkan dirinya, menekan ego dan harga diri yang nyaris habis.

"Tentu saja, karena kini kita setara. Bukankah lebih baik kita memulai lagi dari awal? Cobalah saling memaafkan," katanya, menatap langsung ke dalam mata Yudha.

Yudha tertawa dingin, penuh penghinaan. "Apa aku nggak salah dengar? Lagipula, apa kelebihan kamu sekarang? Selain menjadi wanita yang dulu meminta ditiduri, lalu bergabung dengan lelaki lain, apa masih ada harga diri kamu saat meminta memulai lagi dari awal?"

Kata-kata itu menghancurkan harga diri Sonya menjadi serpihan kecil, seperti kaca yang jatuh dan pecah tanpa bisa disatukan kembali. Namun, ia tidak bisa marah. Tidak sekarang. Ia harus tetap berdiri, tetap kuat. Demi Sasa. Anak itu adalah nyawanya, alasan ia masih bertahan di tengah badai rasa sakit dan penghinaan ini.

"Kalau memang itu yang kamu pikirkan tentang aku," Sonya memulai, suaranya terdengar pelan namun tegas, "aku tidak akan membuat pembelaan apa pun. Tapi kamu harus tahu, aku sungguh-sungguh ingin kembali. Aku ingin kita memulai dari awal... bersama." Ucapannya meluncur perlahan, sementara wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan keberanian yang menggelegak meski dirinya tengah rapuh.

Yudha mendengus, nadanya tajam dan penuh penolakan. "Itu tidak mungkin!" katanya dingin. Rasa sakit yang ditinggalkan Sonya dan keluarganya telah mengakar, menjadi luka yang membusuk dan berujung pada kebencian yang kini mendarah daging dalam dirinya.

Sonya menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. "Kalau begitu, beri aku satu kesempatan. Jika apa yang aku lakukan ini tidak cukup untuk membuatmu tersentuh, aku tidak akan memaksamu. Kamu bisa menolakku," katanya dengan suara yang lebih mantap, keyakinan terpancar dari sorot matanya.

Yudha menatapnya tajam, seolah mencari celah dalam keberanian Sonya. Sebagai pria yang kini sudah menjadi seseorang dengan kuasa dan sikap mendominasi, ucapan Sonya seperti tantangan yang sulit untuk diabaikan. Senyum sinis tersungging di bibirnya, senyum yang lebih menyerupai milik iblis. Tanpa peringatan, ia menggiring tubuh Sonya hingga punggung wanita itu bertabrakan dengan dinginnya dinding koridor.

"Kamu selalu punya kepercayaan diri yang berlebihan," ucapnya pelan namun menusuk, matanya menatap dalam, mencoba membaca pikiran Sonya. "Dan ternyata, itu tidak pernah berubah."

Sonya tersenyum kecil, meski napasnya mulai tidak beraturan oleh tekanan situasi ini. "Kamu bahkan masih ingat. Itu tandanya, kamu tidak pernah benar-benar bisa melupakan aku," jawabnya, penuh percaya diri.

Mata Yudha menyipit, dinginnya tatapan itu seolah menusuk hingga ke dasar hati Sonya. "Tentu saja aku ingat," katanya, bibirnya menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Bagaimana mungkin aku melupakan wanita murahan sepertimu?"

Kalimat itu seperti pedang yang diayunkan tanpa ampun. Namun kali ini, Sonya tidak gentar. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan tekad. Ia telah kebal dengan luka yang disebabkan kata-kata seperti itu. Bagi Sonya, ini bukan tentang dirinya. Ini tentang Sasa, tentang harapan terakhirnya.

Napasan Yudha yang memburu terasa hangat di wajahnya, dan itu cukup untuk membakar keberanian Sonya. "Kalau begitu," katanya pelan, matanya menatap langsung ke mata Yudha, "aku akan melakukannya sekarang."

Tanpa memberi Yudha waktu untuk bereaksi, Sonya mengalungkan tangannya di leher pria itu, menarik dirinya lebih dekat. Dengan sedikit menjinjit untuk menjangkau bibir Yudha yang lebih tinggi, ia menyatukan bibir mereka dalam satu keberanian yang memuncak.

Yudha membeku. Bibirnya merasakan keberanian Sonya, tetapi hatinya bergejolak, dihantam badai perasaan yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Sesuatu dalam dirinya mulai bereaksi, membuat Yudha bingung bagaimana harus menanggapi situasi mendadak ini. Namun, alih-alih melawan, ia memilih untuk membiarkan dirinya menikmati momen tersebut.

Beberapa saat berlalu, keduanya tenggelam dalam adegan ciuman itu. Akhirnya, Sonya yang terlebih dahulu melepaskan diri.

"Jadi, apa kita bisa mulai dari awal?" tanyanya pelan, matanya menatap langsung ke mata Yudha, penuh harap dan keyakinan.

Yudha terdiam. Wajahnya tak terbaca, tetapi matanya yang tajam seakan menyimpan ribuan pertanyaan yang tak terucapkan. Beberapa detik berlalu, seolah waktu berhenti, sebelum akhirnya ia membuka mulut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!