NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:143.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

TAMAT SERI 1 - Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

NANTIKAN SERI 2 - Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Segera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Aking dan Ibu yang Layu

Cahaya matahari pagi menerobos masuk tanpa permisi melalui celah-celah dinding bambu yang renggang.

Silaunya menusuk kelopak mata Sekar, memaksanya bangun dari tidur yang gelisah.

Tubuhnya terasa kaku. Rasa sakit di persendiannya seperti peringatan dari sistem saraf bahwa tubuh ini berada dalam kondisi kritis.

Sekar mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan.

Debu-debu beterbangan terlihat jelas dalam sorotan cahaya matahari yang menimpa lantai tanah yang lembap.

Tidak ada alarm kebakaran. Tidak ada suara mesin sentrifugal. Tidak ada asisten yang menyodorkan kopi espresso.

Hanya ada suara kokok ayam jantan dari kejauhan dan aroma tanah basah sisa badai semalam.

"Masih di sini," gumamnya pelan. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti diamplas.

Sekar perlahan bangkit duduk. Kepalanya sedikit pusing—gejala hipoglikemia, atau kadar gula darah rendah.

Tentu saja. Ingatan tubuh ini memberitahunya bahwa asupan kalori terakhir adalah dua hari yang lalu.

Itu pun hanya sepotong ubi rebus.

Krieeet.

Pintu gubuk yang engselnya sudah karatan didorong pelan dari luar.

Sosok seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan ragu-ragu.

Sekar tertegun.

Wanita itu... Ibu Rahayu.

Dalam memori Sekar Wening yang asli, wanita ini adalah sosok yang lemah lembut namun menyedihkan.

Namun, melihatnya langsung dengan mata seorang ilmuwan, Sekar melihat sebuah tragedi biologi.

Rahayu Ningsih memiliki kerangka wajah yang sempurna.

Tulang hidung yang mancung, dagu yang runcing, dan mata yang lebar nan teduh.

Di masa mudanya, dia pasti primadona desa yang membuat banyak pria patah hati.

Tapi sekarang?

Kulitnya yang sawo matang terlihat kusam dan kering, kehilangan elastisitas kolagen karena paparan sinar matahari berlebih dan kurang gizi.

Garis-garis halus di sekitar matanya terlalu dalam untuk wanita seusianya.

Rambutnya yang hitam legam digelung asal-asalan, memperlihatkan lehernya yang jenjang namun terlalu kurus.

Dia mengenakan kebaya lurik yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kusam.

Dan kain jarik yang memiliki beberapa jahitan tangan kasar di bagian bawahnya.

"Nduk... kamu sudah bangun?"

Suara itu lembut, bergetar, dan penuh kehati-hatian.

Seolah takut suaranya yang sedikit keras akan memecahkan sesuatu yang rapuh.

Rahayu mendekat, membawa sebuah piring seng yang catnya sudah gompel di sana-sini.

Aroma makanan tercium.

Bukan aroma sedap nasi pulen yang baru ditanak. Melainkan aroma apek yang khas. Aroma fermentasi yang tidak sempurna.

Sekar menatap isi piring itu.

Nasi aking.

Nasi sisa kemarin—atau bahkan lusa—yang dikeringkan di bawah terik matahari hingga keras dan berjamur, lalu dikukus kembali agar bisa dimakan.

Warnanya kecokelatan, kusam, dan teksturnya terlihat rapuh.

Di atasnya hanya ada sejumput garam kasar dan parutan kelapa yang sudah tidak segar.

"Maaf ya, Nduk," bisik Rahayu sambil meletakkan piring itu di atas dipan, di samping Sekar.

Tangannya yang kasar gemetar pelan.

"Ibu cuma bisa dapat ini dari dapur Eyang. Beras jatah kita sudah habis...

Rendi bilang kucingnya lapar, jadi sisa nasi yang bagus dikasih ke kucing."

Rahayu menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Tapi ini sudah Ibu kukus lama kok. Empuk.

Makan ya, Nduk? Biar kamu kuat."

Dada Sekar terasa sesak. Bukan karena asma, tapi karena gelombang emosi asing yang menghantam ulu hatinya.

Rasa sakit hati, marah, dan iba bercampur menjadi satu.

Di kehidupan sebelumnya, Sekar Ayu Prameswari membuang sampel beras hasil rekayasa genetika jika bentuknya tidak sempurna satu milimeter saja.

Di sini, ibunya harus berebut makanan dengan kucing hanya untuk memberinya makan sampah.

Sampah.

Secara harfiah, nasi aking adalah limbah pangan.

Otak profesornya langsung bekerja otomatis, membedah apa yang ada di depannya.

Analisis Pangan: Karbohidrat terdegradasi. Potensi kontaminasi mikotoksin tinggi.

Nilai gizi mendekati nol. Risiko gangguan pencernaan: 80%.

Ini bukan makanan. Ini racun perlahan.

Namun, saat Sekar menatap wajah ibunya, logika dingin itu runtuh.

Rahayu menatapnya penuh harap. Ada cinta yang begitu besar di mata lelah itu. Cinta seorang ibu yang rela tidak makan asalkan anaknya bisa mengganjal perut.

Sekar mengulurkan tangan kurusnya, mengambil piring seng itu.

"Matur nuwun, Bu," ucapnya pelan.

Bahasa Jawa halusnya keluar secara alami, sisa refleks dari pemilik tubuh asli.

Sekar menyuapkan sesendok nasi aking itu ke mulutnya.

Rasanya hambar, sedikit asam, dan berbau tanah.

Butuh usaha keras bagi lidah bangsawannya—lidah seorang profesor yang terbiasa makan makanan higienis—untuk tidak memuntahkannya kembali.

Dia mengunyah pelan. Menelan harga dirinya bersamaan dengan nasi berjamur itu.

"Enak?" tanya Rahayu cemas.

Sekar memaksakan seulas senyum tipis. "Enak, Bu. Yang penting perut keisi."

Senyum lega terbit di wajah Rahayu.

Senyum yang sesaat mengembalikan kecantikan masa mudanya yang hilang.

Wanita itu duduk di tepi dipan, tangannya terulur merapikan rambut kusut Sekar.

Sentuhannya hangat. Kasar karena kerja keras, tapi begitu lembut saat menyentuh kulit anaknya.

Selama 35 tahun hidup sebagai Sekar Ayu Prameswari, sang profesor adalah yatim piatu.

Dia dibesarkan di asrama panti asuhan cerdas istimewa, dididik oleh negara, tanpa pernah merasakan belaian seorang ibu.

Sekarang, di gubuk reyot ini, dia merasakannya.

Sensasi hangat menjalar dari kulit kepala ke seluruh tubuhnya.

Menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

"Kamu harus cepat sembuh, Sekar," gumam Rahayu pelan, matanya menerawang jauh ke luar jendela.

"Siapa tahu... siapa tahu Bapakmu datang menjemput minggu ini."

Gerakan tangan Sekar yang sedang menyendok nasi terhenti.

Dia menatap ibunya dengan kening berkerut.

Delusi, batin sang Profesor.

Radityo Adhiwijaya tidak pernah datang selama sepuluh tahun terakhir. Pria itu sibuk dengan istri mudanya yang modis dan anak-anaknya yang berprestasi di kota.

Radityo sudah membuang mereka. Itu fakta empiris.

Data historis membuktikannya.

Tapi Rahayu masih berharap?

"Ibu dengar dari Pak Man sopir," lanjut Rahayu, suaranya terdengar antusias namun rapuh.

"Bapakmu baru saja naik pangkat di Keraton. Katanya sekarang sering rapat sama Gusti Pembayun.

Pasti Bapakmu sibuk sekali makanya belum sempat kesini."

Rahayu tersenyum, senyum yang terlihat menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya.

"Ibu sudah jahitkan kebaya baru buat kamu dari kain perca.

Nanti kalau Bapak datang, kamu pakai ya? Biar Bapak lihat putri sulungnya cantik. Biar Bapak nggak malu punya anak desa."

Prang!

Sendok di tangan Sekar terjatuh ke piring, menimbulkan bunyi nyaring.

Cukup.

Ini sudah masuk kategori Toxic Positivity akut.

Atau lebih parah, sindrom ketergantungan pada pelaku kekerasan emosional.

Ibu ini... dia mencintai pria yang telah menghancurkan hidupnya. Dia masih berdandan, masih berharap, masih menjaga kehormatan suami yang bahkan tidak ingat apakah dia masih hidup atau mati.

Sekar meletakkan piringnya. Nafsu makannya yang memang sedikit, kini hilang total.

Dia menatap Rahayu lurus-lurus.

"Bu," panggil Sekar. Nadanya sedikit lebih tegas dari biasanya, membuat Rahayu tersentak pelan.

"Kenapa, Nduk?"

Sekar ingin berteriak.

Dia ingin mengguncang bahu ibunya dan berkata: Buka matamu! Pria itu sampah! Dia tidak akan datang! Kita harus berhenti mengharapkan validasi dari orang yang membuang kita!

Tapi dia melihat tangan Rahayu yang gemetar.

Dia melihat kerapuhan di sudut mata itu.

Jika Sekar menghancurkan harapan itu sekarang, wanita di depannya ini mungkin akan hancur lebur.

Jiwa Sekar Wening yang asli masih menyisakan rasa sayang yang mendalam pada ibunya.

Dia tidak tega.

Sekar menarik napas panjang, menekan naluri logisnya yang ingin membeberkan fakta brutal.

"Nggak apa-apa, Bu," Sekar mengubah kalimatnya.

Tangannya menggenggam tangan Rahayu yang kasar.

Kulit telapak tangan ibunya terasa seperti parutan kelapa. Kapalan, pecah-pecah, dan kering. Bukti kerja keras mencuci baju orang lain, membelah kayu bakar, dan mencangkul di ladang orang demi sesuap nasi.

Sementara suaminya hidup nyaman di bawah pendingin ruangan, tangan istrinya hancur seperti ini.

Rahang Sekar mengeras.

Kemarahan dingin mulai menjalar di pembuluh darahnya.

Bukan marah pada ibunya. Tapi marah pada ketidakadilan variabel kehidupan ini.

"Bu," ucap Sekar lagi, kali ini dengan nada yang sangat serius. Matanya yang jernih menatap manik mata ibunya dalam-dalam.

"Sekar janji. Sebentar lagi, Ibu nggak perlu makan nasi aking lagi."

Rahayu tersenyum sedih, menganggap itu hanya racauan anak yang sedang sakit.

"Iya, Nduk. Kita berdoa saja semoga panen singkong di kebun Pak Lurah bagus, jadi Ibu bisa dapet upah lebih."

"Bukan singkong, Bu," potong Sekar.

Ada aura berbeda yang memancar dari gadis 18 tahun itu. Aura otoritas yang biasanya hanya dimiliki oleh seseorang yang memegang kendali penuh atas sebuah laboratorium besar.

"Sekar akan bikin Ibu makan nasi putih. Nasi yang pulen, wangi, dan hangat. Setiap hari. Sekar akan bikin tangan Ibu halus lagi. Ibu nggak perlu nyuci baju orang lagi."

Rahayu tertawa kecil, mengelus pipi Sekar. "Kamu ini ngelindur ya? Sudah, habiskan makannya."

Rahayu berdiri, merapikan kain jariknya.

"Ibu mau ke sungai dulu, nyuci baju Bibi Mirna. Kalau nggak selesai pagi ini, nanti Bibi marah lagi."

Wanita itu berbalik dan melangkah keluar gubuk.

Kembali pada rutinitas perbudakannya yang dia anggap sebagai "pengabdian keluarga".

1
Hemalinep Hema
kak pake bahasa Indonesia aja kak, biar ngerti bacanya🤭🤭🤭
Erna Masliana
ayo hancurkan 💪
Erna Masliana
lagian Viral lebih efektif.. semuanya kena
Erna Masliana
mamvus
Erna Masliana
jangan terlalu kepo .. jangan maksa.. ada saatnya nanti terkuak segalanya..
Erna Masliana
Rahayu memang terlalu lemah dan bodoh untuk jadi istri pejabat dan hidup dilingkungan yang penuh intrik
Erna Masliana
ini definisi baik yang mendatangkan bencana
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
novel nya bagus banget, aku suka maaf ya baru kasih bintangnya sekarang 🤗🤗❤❤❤🙏🏻
Erna Masliana
iya ih kenapa kamu? labil banget
Erna Masliana
stecu ini.. awal nolak setelah dia pergi hati pikiran ruwet 😛
tutiana
keren
tutiana
saya suka kalimat ini Thor,,, ❤️❤️
tutiana: semangat berkarya Thor 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
Erna Masliana
kenapa merasa dikhianati memang nya statusmu apa?
Leni Ani
di tunggu thor cerita baru nya sekar😘👍
Saya Sayekti
terima kasih author.ceritanya baguuus banget
Erna Masliana
tidak semua harus diceritakan..kamu pun punya rahasia.. hormati rahasia orang lain selagi orang itu tidak menyakitimu atau menyulitkanmu
Erna Masliana
memang harus mati
Erna Masliana
katanya ngirim pengawal 4 biji.. udah ditarik tah pengawalnya?
Erna Masliana
mamvus kau
Erna Masliana
satu lagi ibunya Arimbi toko mas berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!