Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 017 : Seni Kematian di Kota Abadi
Roma di luar jendela hotel tampak begitu tenang dengan semburat senja yang cantik, namun di dalam kamar 302, suasananya terasa pengap oleh energi yang memulih.
Rachel masih betah bersandar di tumpukan bantal. Dia tidak sedang dalam kondisi kritis; dia hanya sedang dalam fase "hibernasi" untuk mengembalikan sukmanya yang sempat terkoyak di Poveglia.
Rachel masih bisa merespons, hanya saja dia lebih sering menjawab dengan gumaman malas yang menunjukkan bahwa jiwanya masih ingin beristirahat.
Di sekeliling ranjangnya, kelima sahabat astralnya berjaga dengan posisi masing-masing.
Barend dan Albert duduk bersila di atas karpet dekat kaki ranjang, sesekali berbisik menghitung pola pada kain tenun penutup kasur.
Melissa melayang tenang di dekat bantal Rachel, sesekali tangannya yang transparan bergerak seolah merapikan rambut Rachel yang berantakan.
Sementara Anako nangkring di ujung kasur dengan kimono merahnya, dan Gelanda mematung di sudut ruangan yang paling gelap, menjaga pintu dari gangguan frekuensi asing.
"Rachel, kamu nggak lapar? Bau masakan Marsya sampai ke sini lho," bisik Barend pelan, berharap pemimpinnya itu mau membuka mata.
Rachel hanya mengerang tanpa membuka mata, lalu menarik selimutnya sedikit lebih tinggi.
"Berisik, Barend. Satu jam lagi... biarkan aku tenang dulu."
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Dia itu cuma mau tidur seharian karena malas diganggu," sahut Albert sambil menyenggol lengan Barend, membuat hantu kecil itu cemberut.
Di ruang makan, denting garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar cukup nyaring.
Marsya sedang menata meja, sementara Adio sibuk dengan tablet di tangannya, memeriksa data kesehatan Rachel yang ia pantau secara medis.
"Gimana, Yo? Secara medis dia aman, kan?" tanya Marsya sambil menuangkan air ke gelas.
Adio mengangguk tanpa menoleh dari layar.
"Fisiknya oke, Sya. Lebam-lebamnya sudah hilang, luka goresnya juga menutup sempurna. Masalahnya cuma satu, dia itu 'low battery'. Secara medis dia sehat, tapi secara energi, dia cuma butuh tidur buat regenerasi sel. Jadi, jangan khawatir berlebihan."
Cak Dika yang sedang duduk bersandar di sofa bersama Rara akhirnya angkat bicara.
"Iya, aku setuju sama Adio. Rachel itu cuma butuh mendinginkan pikiran. Kemarin itu tekanannya gila banget, aku sendiri sampai gemetar kalau ingat Dokter Wabah itu. Rasanya nggak tega lihat dia sepasif itu seminggu ini."
Rara mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Cak Dika tanpa rasa canggung lagi.
"Betul. Kita tunggu saja. Dia pemimpin kita, dia tahu kapan tubuhnya siap untuk bergerak lagi. Kita jangan terlalu banyak menekan dia dulu agar suasananya tidak makin berat."
"Tapi tetap saja rasanya aneh kalau Rachel diam begini," tambah Cak Dika sambil menatap pintu kamar yang tertutup.
"Biasanya kan dia yang paling sibuk ngatur kita semua, bahkan kalau kita cuma mau beli kopi pun dia punya aturannya sendiri."
Sore itu, Bella dan Mas Suhu memilih keluar untuk mencari udara segar di pusat kota Roma.
Mereka sedang menikmati kopi di sebuah kafe terbuka saat seorang pria paruh baya berpakaian rapi namun tampak sangat kelelahan mendekati meja mereka.
"Excuse me... I don't mean to be rude, but are you the famous Gautama Family? From Indonesia?"
(Permisi... saya tidak bermaksud tidak sopan, tapi apakah Anda Gautama Family yang terkenal itu? Dari Indonesia?)" tanya pria itu dengan nada memohon yang sangat kental.
Bella mendongak, matanya menatap tajam pria itu sebelum tersenyum tipis.
"Yes, we are. I am Bella, and this is Mas Suhu. Is there something we can help you with, Sir?"
(Ya, benar. Saya Bella, dan ini Mas Suhu. Ada yang bisa kami bantu, Tuan?)"
Pria itu menarik kursi dan duduk tanpa diminta, napasnya memburu seolah dia baru saja berlari maraton.
"My name is Luca Santoro. I am a detective here in Rome. I am desperate. We are dealing with a serial killer we call 'The Sculptor'. Within the last month, six people have been found dead in the catacombs, but it's not a normal crime..."
(Nama saya Luca Santoro. Saya detektif di sini, di Roma. Saya putus asa. Kami berhadapan dengan pembunuh berantai yang kami sebut 'Sang Pemahat'. Dalam sebulan terakhir, enam orang ditemukan tewas di katakomba, tapi ini bukan kriminal biasa...)"
Mas Suhu menggeser cangkirnya, mulai tertarik.
"What kind of crime is it, Detective?"
(Kriminal seperti apa itu, Detektif?)
"Their bodies were drained of blood, and their skin... it was carved and sculpted while they were still alive to look like ancient marble statues. It’s horrific,"
(Tubuh mereka dikuras darahnya, dan kulit mereka... dipahat saat mereka masih hidup agar terlihat seperti patung marmer kuno. Ini sangat mengerikan,)" ujar Luca dengan suara bergetar.
Bella berjengit ngeri, membayangkan rasa sakitnya.
"Carved while alive? That's a psychopath, Luca. But why do you need us?
(Dipahat saat hidup? Itu psikopat, Luca. Tapi kenapa Anda butuh kami?)"
"Every time my men get close to the chambers, they experience terrifying hallucinations. One went blind instantly. There is a smell, too... sulfur and ancient rot. This is beyond our understanding,"
(Setiap kali anak buahku mendekat ke ruangan itu, mereka mengalami halusinasi mengerikan. Satu orang buta seketika. Ada baunya juga... belerang dan busuk kuno. Ini di luar pemahaman kami,)" mohon Luca sambil menggenggam tangannya sendiri.
Di sisi lain kota, Peterson dan Melissa sedang berada di sebuah toko bunga yang asri. Seorang nenek bungkuk mendekati Melissa dan menyentuh lengannya dengan jemari yang gemetar.
"You have a beautiful soul, young lady... My grandson has been missing for two days, and no one believes what I hear in my house,"
(Jiwa yang indah, nona muda... Cucuku sudah hilang dua hari, dan tidak ada yang percaya apa yang kudengar di rumahku,)" isak nenek bernama Sofia itu.
Melissa menatap Peterson sejenak, lalu kembali ke Sofia.
"What did you hear, Ma'am?"
(Apa yang Anda dengar, Nyonya?)
"Come to my house. Please. Just for a moment,"
(Datanglah ke rumahku. Tolong. Sebentar saja,) mohon Sofia.
Mereka pun mengikuti Sofia ke rumahnya yang berlantai dua. Rumah itu cukup bagus, namun ada hawa dingin yang tak wajar. Melissa mulai berjalan mengitari rumah, menaiki tangga hingga ke lantai atas. Segalanya tampak biasa sampai ia berhenti di depan pintu basemen.
"Bau apa ini? Kayak... kaos kaki busuk yang sudah lembap berbulan-bulan?" bisik Melissa pada Peterson.
Melissa menoleh pada Sofia. "Nenek, boleh saya lihat ke dalam?"
Begitu pintu basemen terbuka, bau busuk itu menyambar. Mereka turun ke bawah, ke tengah tumpukan kardus barang lama. Melissa berdiri membelakangi Peterson dan Sofia, matanya menatap ke sudut gelap yang paling ujung.
"Melissa..." sebuah suara parau membisikkan namanya.
Saat Melissa menoleh, ia melihat sesosok makhluk tinggi dengan wajah hancur dan seringai yang begitu lebar hingga menyentuh telinga.
Makhluk itu menatapnya dengan tatapan lapar sebelum menghilang dalam sekejap. Melissa refleks mundur dan ditangkap oleh Peterson.
"Aura apa itu tadi? Jahat banget..." gumam Melissa dengan napas memburu. Ia berbalik menatap Sofia.
"Nenek Sofia, listen to me. That smell is a manifestation of something very evil. Don't ever open the door if someone knocks at 3 AM. Understand?"
(Nenek Sofia, dengarkan aku. Bau itu adalah manifestasi dari sesuatu yang sangat jahat. Jangan pernah buka pintu kalau ada yang mengetuk jam 3 pagi. Paham?)
Malam itu, seluruh tim berkumpul di kamar Rachel. Sang pemimpin akhirnya benar-benar bangun.
Dia duduk tegak sambil perlahan mengunyah biskuit pemberian Marsya. Anako nangkring di sampingnya, seolah sedang ikut menyimak rapat penting ini.
"Jadi, kita punya psikopat hobi seni patung dan nenek-nenek yang diteror bau kaos kaki busuk?" tanya Rachel datar setelah mendengar semua cerita.
"Iya, hel. Detektif itu sampai memohon-mohon. Dia bilang ini di luar nalar kepolisian Roma," sahut Bella.
Rachel meletakkan biskuitnya.
"Apa ada benda yang kalian bawa? Sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini?"
Bella mengeluarkan klip plastik kecil berisi kuku hitam, sementara Melissa menyerahkan seutas tali kusam dari rumah Sofia. Rachel mengambil kedua benda itu. Saat jemarinya bersentuhan dengan kuku dan tali tersebut, dia memejamkan mata.
Seketika, suhu di kamar hotel anjlok drastis. Rachel menarik napas panjang, menarik mundur waktu dari objek itu dan memproyeksikan benang merah ke masa depan.
Dalam penglihatannya, dia melihat sebuah gereja tua yang runtuh, lorong gelap katakomba, dan bayangan mereka semua yang sedang berlari tanpa henti di bawah sana.
Rachel membuka matanya. Dia tampak sedikit terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Lokasinya sudah ketemu. Sebuah gereja runtuh di pinggiran kota."
Rachel menghela napas panjang, lalu menatap timnya dengan serius.
"Tapi, kali ini aku tidak akan ikut serta secara fisik."
Seluruh anggota tim tersentak. Mereka saling pandang dengan wajah kaget. Rachel tidak pernah absen dalam misi lapangan, seburuk apa pun kondisinya.
"Maksudmu, kamu mau kami jalan sendiri?" tanya Peterson ragu.
"Energi milikku masih belum cukup pulih seluruhnya. Dan dalam penglihatanku tadi, kasus ini membutuhkan keterlibatan fisik yang berat. Kalian akan berlari dan terus berlari di dalam labirin itu. Dengan kondisiku sekarang, aku hanya akan menjadi beban dan memperlambat kalian," jelas Rachel dengan suara tenang namun tegas.
Dia menyandarkan punggungnya kembali ke bantal.
"Tapi aku akan tetap mengawasi dari sini. Aku akan memonitor segalanya melalui kekuatanku. Aku akan menjadi mata kalian di atas, sementara kalian menjadi kaki dan tanganku di bawah."
Mendengar itu, Adio yang sedari tadi cemas, perlahan menarik napas lega. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.
Untuk pertama kalinya, Rachel bersikap waras dan lebih memilih memprioritaskan kesehatan tubuhnya sendiri daripada ego kepemimpinannya.
"Keputusan yang bagus, hel. Akhirnya kamu sadar kalau kamu itu manusia, bukan mesin," ujar Adio dengan nada memuji.
Rachel mendengus pelan, menatap kuku hitam di tangannya.
"Jangan senang dulu, Yo. Aku tetap akan memantau. Kalau kalian ceroboh, suaraku akan terdengar sampai ke gendang telinga kalian. Jadi, persiapkan diri kalian. Besok malam jam tiga pagi, kalian berangkat."