NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa judul (3)

matahari baru saja naik ketika aktivitas di Althaire Corp International sudah berjalan dengan intensitas tinggi. Para karyawan lalu-lalang membawa berkas, suara langkah kaki berpadu dengan bunyi papan ketik yang saling bersahutan. Di lantai tertinggi gedung tersebut, ruang kerja Raviel Althaire tampak tenang.

Raviel berdiri di depan dinding kaca, menatap kota dari ketinggian. Setelan jas hitam yang ia kenakan tampak rapi tanpa cela, seolah mencerminkan kepribadiannya yang selalu terkendali. Di belakangnya, Ethan berdiri sambil membuka laptop, wajahnya serius sejak tadi.

“Seperti yang Tuan Victor sampaikan,” ujar Ethan akhirnya, memecah keheningan, “salah satu karyawan kepercayaannya terlibat dalam kasus korupsi bermiliar-miliaran. Dana perusahaan dialihkan secara ilegal selama bertahun-tahun.”

Raviel tidak langsung menoleh. “Dan orang itu kabur,” ucapnya datar.

“Benar, Tuan. Karena Tuan Victor sedang berada di luar negeri dan tidak bisa menangani langsung, beliau meminta Anda untuk mengambil alih kasus ini.”

Raviel akhirnya berbalik. Sorot matanya dingin, tanpa emosi, namun justru itulah yang membuat orang-orang segan. “Sudah lama aku tidak berurusan langsung dengan pengkhianat,” katanya pelan. “Katakan lokasi terakhirnya.”

Ethan menekan beberapa tombol di laptop. “Informasi terbaru yang kami dapatkan, karyawan tersebut melarikan diri ke negara K******,” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, “ Ia diduga bekerja sama dengan salah satu kelompok mafia di sana.”

Alis Raviel terangkat sedikit. “Pilihan yang buruk.”

“Kita akan menghadapi kesulitan, Tuan,” lanjut Ethan. “K****** dikenal dengan jaringan gelapnya dan metode mereka yang kejam. Saya khawatir—”

“Tidak perlu, khawatir." potong Raviel singkat. “Kita punya orang di sana. Jaringan kita tidak kalah kuat, dan persiapan sudah lama matang.”

Ethan terdiam. Ia tahu, saat Raviel berkata demikian, artinya keputusan itu sudah final.

“Saya hanya berharap Tuan tetap menjaga kondisi,” ucap Ethan hati-hati. “Akhir-akhir ini jadwal Anda terlalu padat.”

Raviel tidak menjawab. Pikirannya melayang sesaat—pada seorang gadis dengan tatapan keras kepala yang meminta dilupakan, seolah pertemuan mereka tak pernah ada. Tanpa sadar, sudut bibir Raviel terangkat tipis.

Namun sebelum suasana kembali tenang, pintu ruang kerja itu terbuka dengan kasar.

“Raviel!”

Seorang wanita melangkah masuk tanpa permisi. Gaun terang yang dikenakannya kontras dengan aura dingin ruangan itu. Vanessa. Resepsionis jelas telah melarangnya, tetapi wanita itu tidak peduli.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Raviel dingin.

“Kenapa kamu selalu begitu?” keluh Vanessa sambil mendekat. “Aku hanya ingin bertemu. Lagipula, Mama kamu sudah setuju soal hubungan kita.”

Vanessa berusaha menggenggam lengan Raviel, tetapi pria itu langsung menepis tangannya dengan tegas.

“Hubungan?” Raviel menatapnya sinis. “Saya tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan Anda.”

“Kamu bohong!” bentak Vanessa kesal. “Mama kamu dan mama aku sudah sepakat menjodohkan kita.”

Raviel berdiri dari kursinya. Posturnya tegap, auranya langsung berubah menekan. “Ibu tiri saya tidak memiliki hak untuk mengatur hidup saya,” ucapnya dingin. “Dan satu hal lagi—saya sudah memiliki gadis lain di hati saya.”

Vanessa membeku. “Siapa dia?” tanyanya tajam. “Atau jangan-jangan dia menjual tubuhnya supaya bisa berada di dekatmu?”

Ucapan itu menjadi pemicu.

Dalam sekejap, Raviel sudah berada di depan Vanessa. Tangannya mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat hingga Vanessa terpaksa menatapnya.

“Sekali lagi Anda berbicara sembarangan,” ujar Raviel rendah namun berbahaya, “lidah Anda bisa saya p*tong.”

“Bawa dia keluar,” perintah Raviel singkat.

Ethan mengangguk dan menarik lengan Vanessa. “Nona, silakan keluar. Tuan Raviel tidak menyukai kehadiran Anda di sini.”

“Raviel, aku mohon!” teriak Vanessa saat ditarik menjauh.

Namun Raviel sudah kembali duduk, seolah kejadian itu tidak berarti apa-apa baginya.

Vanessa menghentakkan kakinya begitu berhasil melepaskan diri di luar ruangan. “Raviel sok jual mahal banget sih,” gumamnya kesal. “Wanita mana pun yang membuatnya jatuh cinta… aku tidak akan membiarkannya.”

Tatapan Vanessa berubah tajam, penuh ambisi dan kecemburuan.

★★★

“Ra, mau beli apa lagi?” tanya Tasya sambil mendorong troli di samping Nara.

Keduanya berada di sebuah supermarket yang cukup ramai. Pendingin ruangan membuat suasana terasa lebih sejuk, kontras dengan terik matahari di luar sana. Mereka terpaksa ke tempat itu karena beberapa bahan untuk membuat cake ternyata masih kurang.

Nara menatap daftar belanja di ponselnya, lalu mengedarkan pandangan ke dalam troli. Beberapa buah sudah tersusun rapi, begitu juga bahan kue lain yang sebelumnya sempat tertinggal.

“Udah deh, kayaknya buah sudah lengkap, bahan lain juga aman,” ucap Nara sambil menghela napas kecil. “Kita pulang aja, yuk.”

“Ayo. Gue juga pengen nyantai dulu di rumah lo,” sahut Tasya santai. “Boleh, kan?”

Nara tersenyum tipis. “Boleh dong. nginep juga boleh.”

Mereka berdua tertawa kecil, lalu melangkah menuju kasir. Antrean cukup panjang, tapi Nara dan Tasya memilih untuk sabar menunggu. Beberapa menit berlalu sampai tiba-tiba seseorang menyelip masuk ke depan mereka tanpa rasa bersalah.

“Eh, mbak,” tegur Tasya dengan nada kesal. “Kita duluan, loh, yang antre. Harus tertib dong.”

Perempuan itu menoleh dengan ekspresi tidak senang. Rambutnya tergerai rapi, pakaian yang dikenakan terlihat mahal, dan raut wajahnya dipenuhi kesombongan.

“Heloo” ucapnya sinis. “Jangan panggil gue mbak. Gue masih muda kali.”

Tasya mendengus. “Yaudah, mau dipanggil apa juga sama aja. Yang jelas, antre dari belakang. Jangan nyerobot.”

Nara menarik lengan Tasya pelan dan berbisik, “Udah, Sya. Malu diliatin orang.”

“Enggak bisa, Ra,” balas Tasya tanpa menurunkan suaranya. “Mentang-mentang dari kalangan atas, seenaknya aja nggak taat aturan.”

Perempuan itu terkekeh meremehkan. “Iyalah. Gue dari kalangan atas, jadi nggak malu buat nyerobot,” ucapnya sambil melirik mereka berdua. “Beda sama kalian, para gundik-gundik.”

Tasya hampir saja membalas, tapi Nara cepat menyenggol lengannya, memberi isyarat agar diam. Perempuan itu—Vanessa—langsung melangkah ke kasir dengan penuh percaya diri, seolah tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya.

“Dasar sombong,” gumam Tasya kesal. “Gue sumpahin pulang nanti dia kena kotoran burung.”

Nara menahan tawa. “Udah, jangan ngomong gitu, Nanti beneran kejadian.”

Setelah pembayaran selesai, Nara dan Tasya memilih segera pulang. Panas matahari semakin menyengat, membuat kepala terasa sedikit pening. Mereka pun bergegas keluar dari supermarket dan menuju tempat parkir.

Sementara itu, Vanessa berdiri tidak jauh dari pintu keluar, menunggu mobil yang akan menjemputnya. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan akibat kejadian di kasir tadi. Ia menyilangkan tangan di dada, menghentakkan kaki kecilnya dengan tidak sabar.

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat dan berbau tidak sedap jatuh tepat di atas kepalanya.

“Ih! Iwwww!” jerit Vanessa sambil menjerit jijik.

Beberapa orang menoleh. Seorang anak kecil menunjuk ke arahnya sambil tertawa polos. “Mah, lihat! Tante-tante itu kena pup burung!”

Ibunya langsung menutup mulut sang anak. “Ssst, jangan begitu.”

Vanessa mendongak ke atas, lalu menyentuh rambutnya. Tangannya terasa lengket. Wajahnya memerah karena marah dan malu.

“Awas aja, ya!” bentaknya kesal, entah pada siapa.

Ia menggerutu sambil berjalan cepat menuju mobil yang baru saja berhenti. Begitu masuk, bau tidak sedap langsung memenuhi kabin.

Sopir itu mengernyit, berusaha menahan napas.

“Jalan!” bentak Vanessa tajam. “Atau aku pecat kamu!”

“Ma-maaf, nyonya,” ucap sopir itu gugup, lalu segera menyalakan mesin dan melajukan mobil.

Vanessa menyandarkan punggungnya dengan kesal. Rambutnya bau, suasana hatinya hancur.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!