NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 KHSC

Pagi itu, kediaman baru Juna dan Nareswari di pinggiran kota diselimuti kabut tipis yang memberikan suasana magis dan tenang. Burung-burung berkicau di taman belakang yang baru saja selesai ditata oleh Nares. Di dalam rumah, aroma kopi Arabika kesukaan Juna bercampur dengan aroma melati dari bunga yang baru dipetik Nares.

Juna baru saja kembali dari rutinitas lari paginya. Keringat membasahi kaus tipis yang melekat di tubuh atletisnya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat seorang pria asing berdiri di depan gerbang kayu mereka. Pria itu tampak kuyu, mengenakan jaket pudar, dan memegang sebuah kotak kayu tua yang terlihat sangat rapuh.

Nareswari sudah berada di sana, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang memegang pagar tampak gemetar.

"Nares? Ada apa?" Juna melangkah maju, suaranya berat dan penuh wibawa. Tanpa ragu, ia melingkarkan lengannya di pinggang Nares, menarik istrinya mendekat ke sisinya, memberikan perlindungan instan yang sangat dibutuhkan.

"Juna... ini Dani. Teman kecilku di panti asuhan," bisik Nares, suaranya bergetar.

Pria bernama Dani itu menunduk hormat saat melihat Juna. "Maaf mengganggu pagi kalian, Tuan Bhaskara. Saya hanya... saya menemukan ini di gudang panti yang lama sebelum dihancurkan. Ini milik mendiang Ibu Rahayu, pengasuh kami dulu. Ada pesan di dalamnya bahwa kotak ini harus sampai ke tangan Nareswari jika ia sudah dewasa."

Juna menerima kotak itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap Nares. Ia merasakan detak jantung istrinya yang berpacu kencang. "Terima kasih, Dani. Rio akan memberikan kompensasi atas perjalananmu ke sini. Silakan hubungi dia."

Setelah Dani pergi, Juna membawa Nares masuk ke dalam. Ia tidak membiarkan Nares berjalan sendirian; ia membimbingnya seolah Nares adalah porselen paling berharga di dunia.

***

Mereka duduk di sofa beludru di ruang kerja Juna. Kotak kayu itu diletakkan di meja kopi. Juna tidak segera membukanya. Ia berlutut di depan Nares, memegang kedua tangan istrinya yang dingin.

"Kau siap melihat isinya?" tanya Juna lembut. Ia mencium punggung tangan Nares, sebuah gestur kecil yang selalu berhasil menenangkan Nares.

Nares mengangguk pelan. Juna perlahan membuka tutup kotak yang berderit itu. Di dalamnya terdapat beberapa foto usang, sebuah kalung perak sederhana dengan liontin kecil, dan tumpukan surat yang diikat pita kain yang sudah lapuk warnanya.

Nares mengambil salah satu surat. Tulisan tangannya miring dan halus, tinta hitamnya sudah mulai memudar. Saat Nares membaca baris demi baris, air mata mulai jatuh di pipinya.

"Ibuku... Juna, lihat ini," isak Nares.

Ternyata, rahasia yang diungkap Gunawan sebelumnya hanya separuh dari kebenaran yang pahit. Ibu Nares bukan sekadar wanita yang "kurang beruntung". Ia adalah seorang wanita yang melarikan diri dari sebuah konspirasi keluarga di masa lalu. Surat itu menjelaskan bahwa ayah Nares sebenarnya adalah seorang jurnalis yang mencoba membongkar praktik kotor sebuah konsorsium bisnis besar—yang ironisnya, merupakan pesaing utama Bhaskara Corp tiga puluh tahun lalu. Ayahnya tidak mati karena narkoba; ia dijebak agar masuk penjara dan "dihilangkan" di sana karena memegang dokumen rahasia.

Ibunya terpaksa bekerja apa saja untuk bertahan hidup dan melindungi Nares, hingga akhirnya ia harus menitipkan Nares di panti asuhan demi keselamatan sang anak sebelum ia sendiri meninggal karena sakit yang tak terobati.

"Juna... Ayahku bukan kriminal. Dia pahlawan yang dibungkam," tangis Nares pecah. Ia merasa seluruh beban dunia yang diletakkan Gunawan di pundaknya tiba-tiba terangkat, namun digantikan oleh rasa sedih yang mendalam atas penderitaan orang tuanya.

Juna segera menarik Nares ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Nares menangis di dadanya, membasahi kausnya dengan air mata. Juna mengusap punggung Nares dengan gerakan melingkar yang menenangkan.

"Sshh... sudah, sayang. Aku di sini. Sekarang dunia tahu, dan yang terpenting aku tahu, bahwa kau adalah keturunan dari orang-orang hebat yang berani melawan arus. Kau memiliki darah pejuang di nadimu," bisik Juna di telinga Nares.

***

Juna tidak tinggal diam. Meskipun ia ingin menghabiskan waktu dengan memeluk Nares, sisi CEO-nya bangkit untuk bertindak. Sepanjang siang, ia tetap berada di rumah, namun ia sibuk berkoordinasi dengan Rio dan tim detektif swasta terbaiknya.

"Aku ingin semua catatan pengadilan ayah Nareswari dibuka kembali. Cari tahu siapa hakimnya, siapa yang membayar saksi palsunya. Aku ingin nama mertuaku dibersihkan sepenuhnya," perintah Juna melalui telepon dengan nada dingin yang mematikan.

Nares yang sedang beristirahat di sofa, menatap suaminya dengan penuh kagum. Juna yang biasanya hanya memikirkan laba rugi, kini mengerahkan seluruh kekuasaan Bhaskara Corp hanya untuk mengembalikan martabat seorang pria yang sudah tiada, demi ketenangan hati istrinya.

Sore harinya, Juna kembali ke sisi Nares. Ia membawakan segelas susu hangat dan duduk di sampingnya.

"Aku sudah mengatur semuanya, Nares. Dalam seminggu, fakta ini akan sampai ke meja redaksi terpercaya. Bukan sebagai gosip, tapi sebagai laporan investigasi sejarah bisnis. Dunia akan tahu siapa orang tuamu yang sebenarnya," kata Juna.

Nares menyandarkan kepalanya di bahu Juna. "Kenapa kau melakukan semua ini, Juna? Kau bisa saja mengabaikannya, toh Gunawan sudah pergi."

Juna memutar tubuh Nares agar menghadapnya. Ia menatap mata Nares dengan intensitas yang membuat napas Nares tertahan. "Karena setiap kali kau merasa malu atau sedih karena masa lalumu, itu luka bagiku. Aku ingin anak kita nanti lahir dengan mengetahui bahwa kakek dan neneknya adalah orang jujur. Dan aku ingin kau berjalan dengan kepala tegak, karena kau adalah ratuku."

***

Malam itu, bulan purnama bersinar terang, memantulkan cahayanya di kolam renang belakang. Juna mengajak Nares makan malam di gazebo yang dihias dengan lilin-lilin kecil.

Setelah makan malam, suasana menjadi sangat romantis dan intim. Juna meminta Nares berdiri di depannya. Ia mengambil kalung perak dari kotak tua tadi yang sudah dibersihkan dan disepuh kembali hingga berkilau.

"Biarkan aku memakaikannya untukmu," bisik Juna. Juna menyisihkan rambut Nares ke samping, memperlihatkan leher jenjang istrinya yang putih bersih. Tangan Juna yang hangat bersentuhan dengan kulit Nares, mengirimkan gelombang getaran ke seluruh tubuh Nares. Saat liontin itu jatuh di dada Nares, Juna tidak segera melepaskan tangannya. Ia mencium tengkuk Nares dengan lembut, membuat Nares memejamkan mata menikmati sensasi itu.

"Kalung ini adalah simbol bahwa masa lalu tidak lagi menyakitimu. Itu adalah perhiasan bagi keberanianmu," kata Juna.

Juna memutar tubuh Nares. Ia berlutut di depan Nares, posisi yang jarang dilakukan oleh seorang Arjuna Bhaskara yang angkuh. Ia menempelkan telinganya di perut Nares yang kini sudah mulai menunjukkan bentuk yang indah.

"Halo, jagoan kecil... atau putri kecil Ayah," Juna berbicara pada perut Nares dengan suara yang sangat lembut hingga hampir berbisik. "Ketahuilah, Ibumu adalah wanita terkuat di dunia. Dan Ayah akan selalu ada di sini untuk menjaga kalian berdua dari siapapun yang mencoba mengusik ketenangan kita."

Nares merasakan air mata bahagia menetes. Ia mengusap rambut Juna yang tebal. Juna mendongak, menatap Nares dengan pandangan penuh pemujaan, lalu berdiri dan menyatukan dahi mereka.

"Terima kasih sudah memilihku menjadi suamimu, Nareswari. Meskipun awalnya kita memulai dengan cara yang salah, kau adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat," kata Juna.

Ciuman yang menyusul adalah ciuman yang paling manis dan penuh perasaan yang pernah mereka bagikan. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang akhirnya terungkap, cinta mereka justru semakin bersinar, membangun fondasi yang tidak akan pernah bisa dirobohkan oleh siapapun. Malam itu ditutup dengan Juna yang menggendong Nares ke kamar mereka, berjanji untuk memberikan malam yang penuh kehangatan dan ketenangan, menjauhkan segala duka yang sempat mampir pagi tadi.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!