NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Amazon

Mereka berlari keluar dari ruang komando menuju dek penerbangan yang penuh dengan asap. Sebuah jet tempur siluman F-35 milik Unit Phoenix mendarat di ujung dek yang mulai miring. Kael ada di kokpit, melambaikan tangan.

​Mereka melompat ke dalam jet tepat saat bagian belakang 'Leviathan' mulai meledak. Jet itu lepas landas secara vertikal, menjauh dari raksasa baja yang sedang tenggelam itu. Dari udara, mereka melihat 'Leviathan' meledak dalam bola api raksasa yang menerangi seluruh Samudra Pasifik, menelan Vektor dan semua ambisi gelapnya ke dasar laut.

​Keheningan melanda kabin jet. Elara bersandar di kursi, memejamkan mata. Zian duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang tidak terluka.

​"Kita berhasil, Zian," bisik Elara.

​"Ya, kita berhasil," jawab Zian. Dia melihat ke luar jendela, ke arah dunia yang perlahan mulai pulih dari mimpi buruknya.

​Namun, di tengah puing-puing 'Leviathan' yang tenggelam, sebuah kapsul penyelamat kecil tanpa tanda pengenal melesat diam-diam di bawah permukaan air, menuju ke daratan Amerika Selatan. Di dalamnya, sebuah monitor menampilkan data cadangan terakhir yang berlabel: PROYEK GENESIS: FASE 3.

​Perang melawan tirani mungkin telah dimenangkan, namun bibit-bibit baru kegelapan sudah mulai disemai di tempat lain. Bagi Elara dan Zian, kedamaian mungkin hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang.

****

​Kelembapan di hutan hujan Amazon terasa seperti selimut basah yang menyesakkan paru-paru. Suara dengung jutaan serangga dan jeritan monyet howling menciptakan simfoni alam yang liar sekaligus mengancam. Elara Vanya menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berbalut sarung tangan taktis.

​Kali ini, dia tidak mengenakan gaun malam atau zirah baja berat. Elara mengenakan setelan kamuflase hutan yang tipis namun kuat, dengan cat hijau dan cokelat menutupi pipinya yang cantik. Di sampingnya, Zian Arkana bergerak tanpa suara, sebilah parang besar tersampir di pinggangnya, dan senapan serbu laras pendek siap di tangannya.

​"Kael, sinyal dari pelacak kapsul penyelamat itu semakin kuat," bisik Zian ke mikrofon tenggorokannya.

​"Berhati-hatilah," suara Kael terdengar di sela-sela statis akibat gangguan vegetasi yang tebal. "Kapsul itu mendarat di zona merah yang dikuasai oleh kartel 'Serpiente Negra'. Laporan intelijen menyebutkan mereka baru saja menerima kiriman teknologi misterius yang memungkinkan mereka memproduksi tentara dengan kemampuan kamuflase optik."

​Elara berhenti mendadak, memberikan isyarat tangan agar tim berhenti. Dia berjongkok dan menunjuk ke arah tanah yang becek. Ada jejak sepatu militer, namun polanya tidak menyerupai unit militer mana pun yang mereka kenal. Jejak itu sangat dalam, seolah-olah pemakainya memiliki berat tubuh yang tidak wajar.

​"Mereka sudah di sini," bisik Elara.

​Tiba-tiba, udara di depan mereka tampak beriak, seperti fatamorgana di atas aspal panas. Zian tidak menunggu. Dia menarik pelatuknya, melepaskan rentetan peluru ke arah ruang kosong tersebut.

​Dratatata!

​Suara logam menghantam sesuatu yang keras terdengar, diikuti oleh percikan listrik biru. Sesosok bayangan yang tadinya transparan perlahan muncul—seorang prajurit dengan zirah bersisik yang menyerupai kulit ular, memegang belati beracun.

​"Predator Amazon," desis Zian.

​Pertempuran pecah di tengah rimbunnya pohon-pohon raksasa. Musuh kali ini jauh lebih sulit dideteksi karena kemampuan mereka untuk membaur dengan lingkungan. Elara mengandalkan insting dan pendengarannya. Saat dia merasakan pergeseran udara di belakangnya, dia melakukan tendangan memutar yang menghantam kepala musuh yang tak terlihat.

​"Zian! Gunakan granat termal!" teriak Elara.

​Zian melemparkan dua granat yang melepaskan gelombang panas intens. Seketika itu juga, sistem kamuflase optik musuh mengalami arus pendek, memperlihatkan setidaknya selusin prajurit Serpiente Negra yang sudah mengepung mereka.

​"Unit Phoenix, formasi delta!" perintah Elara.

​Mereka bertempur di antara akar-akar pohon yang besar. Elara menggunakan pisau taktisnya dengan kecepatan kilat, menyayat sambungan kabel pada zirah musuh. Zian menjadi benteng yang tak tergoyahkan, memberikan tembakan pelindung yang menjatuhkan setiap ancaman yang mencoba mendekat.

​Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Dari kedalaman hutan, muncul sesosok wanita yang sangat dikenal oleh Elara. Dia mengenakan pakaian safari militer yang elegan, rambutnya terikat rapi, dan matanya yang tajam memancarkan aura kemenangan yang belum pudar.

​"Madame X?" Elara tertegun. "Kau seharusnya sudah mati di Teluk Tokyo!"

​Madame X tertawa, sebuah tawa yang bergema di antara pepohonan. "Aku memiliki lebih banyak nyawa daripada yang bisa kau hitung, Mayor. Dan berkat Proyek Genesis, aku telah menemukan cara untuk menyempurnakan kegagalan Vektor. Di sini, di Amazon, kita tidak menciptakan mutan gila. Kita menciptakan pemangsa yang sempurna."

​Madame X menunjuk ke arah sebuah bangunan kuno yang menyerupai kuil suku Maya, namun dipenuhi dengan antena parabola dan laboratorium modern. "Data yang aku bawa bukan hanya kode. Itu adalah benih dari 'Dunia Baru'. Dan kalian berdua adalah nutrisi yang sempurna untuk penelitianku selanjutnya."

​Tanpa peringatan, tanah yang mereka pijak bergetar. Dari bawah tumpukan daun kering, muncul tentakel-tentakel mekanis yang dilengkapi dengan sensor suhu.

​"Lari ke arah sungai!" teriak Zian.

​Mereka berlari menembus rintangan hutan, sementara tentakel-tentakel itu menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Elara melompat melewati batang pohon tumbang, namun sebuah tentakel berhasil melilit pergelangan kakinya dan mengangkatnya ke udara.

​"ELARA!" Zian berbalik, menebas tentakel itu dengan parangnya hingga putus, namun lebih banyak lagi yang bermunculan.

​Mereka terpojok di tepi tebing yang di bawahnya mengalir sungai Amazon yang arusnya sangat deras. Di belakang mereka, Madame X dan pasukan predatornya semakin mendekat.

​"Zian, tidak ada pilihan lain," kata Elara sambil menatap mata Zian.

​"Aku tahu," jawab Zian. Dia menggenggam tangan Elara erat-erat.

​Mereka melompat bersama ke dalam sungai yang mengamuk, tepat saat Madame X memerintahkan pasukannya untuk melepaskan tembakan. Air sungai yang cokelat dan deras menelan mereka, membawa mereka jauh ke dalam jantung wilayah yang belum terjamah manusia.

​Di tepi sungai, Madame X menatap aliran air dengan dingin. "Cari mayat mereka. Aku ingin memastikan jantung Unit Phoenix benar-benar berhenti berdetak kali ini."

​Sementara itu, jauh di bawah arus sungai, Elara dan Zian berjuang untuk tetap bersama. Mereka tidak tahu bahwa di dasar sungai itu, terdapat pintu masuk menuju fasilitas bawah tanah yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan—sebuah tempat yang akan mengungkap kebenaran paling pahit tentang masa lalu Elara Vanya.

Dinginnya air sungai Amazon perlahan digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Elara Vanya merasakan paru-parunya hampir meledak saat arus menyeretnya ke dalam pusaran air raksasa di bawah tebing. Di tengah kekacauan itu, dia merasakan sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya—Zian. Pria itu tidak pernah melepaskannya, bahkan saat maut tampak begitu nyata di depan mata.

​Tiba-tiba, tekanan air menghilang. Mereka terlempar ke permukaan, terengah-engah menghirup udara yang terasa lembap namun berbau bahan kimia dan ozon. Mereka tidak lagi berada di sungai yang terbuka. Mereka terdampar di sebuah laguna bawah tanah yang diterangi oleh lumut bioluminesensi hijau yang merayap di dinding gua. Namun, yang lebih mengejutkan adalah apa yang berdiri di tengah gua tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!