NovelToon NovelToon
Selingkuh Terindah

Selingkuh Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:82.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.

Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun ​di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.

Pilihan yang sulit, ​Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.

Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?

Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantra Pengusir Roh Jahat

"Pengadilan?" Wajah Setyo seketika memucat. Lidahnya tak bisa membalas ucapan Tasya yang nampak sangat serius saat mengatakan tentang pengadilan. Tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Setyo mencoba menutupi semua dengan tertawa sumbang. "Untuk apa ke pengadilan, hah?"

"Tentu saja untuk menyelesaikan semua permasalahan kita, termasuk menyudahi pernikahan kita yang sudah ternoda," balas Tasya.

Setyo menggelengkan kepalanya. "Kamu pikir, aku akan menceraikan kamu? Tidak akan, Sya, jangan harap! Toh pengadilan tak akan mengabulkan permintaanmu itu. Hakim tak akan mau membiarkan seorang istri menceraikan suaminya yang sedang sakit, bahkan cacat sepertiku."

"Kita lihat saja nanti, Mas. Kita berdua tidak tahu apa yang akan hakim putuskan. Yang pasti, aku lelah bertahan dengan semua ini." Tasya nampak sangat serius dengan ucapannya. "Toh Mas Setyo tidak sepenuhnya cacat. Mas bisa berdiri dan dengan rajin terapi sebentar lagi bisa berjalan, bahkan Mas bisa melakukan hal lain?"

Setyo menatap Tasya dengan tajam. Tasya seolah tahu sesuatu. "Apa Tasya tahu kalau aku dan Sisca pernah tidur bareng?" batin Setyo.

"Pulanglah, Mas. Terima kasih karena mau datang menemui Dicky hari ini." Tasya meninggalkan Setyo dan masuk ke dalam kamar rawat Dicky diikuti Radit yang berjalan di belakangnya.

Setyo terdiam. Ia marah, cemburu, kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah saat Sisca membawanya pulang.

.

.

.

Radit menutup pintu kamar rawat Dicky seraya merapalkan mantra yang ia buat sendiri. "Hush... hush... pergi... semua sial, pergi... jangan balik lagi...."

Langkah Tasya berhenti, ia berbalik badan lalu menatap Radit dengan kening berkerut heran. "Apa yang kamu lakukan?"

Radit tersenyum lebar. "Itu mantra pengusir roh jahat," jawab Radit asal.

Tasya memutar bola matanya. Radit memang kadang suka melakukan hal random. "Ayo, kukenalkan pada Dicky!"

Tasya dan Radit berjalan mendekati tempat tidur Dicky. Anak itu begitu serius menonton televisi, ia bahkan tidak tahu kalau di depan kamarnya tadi telah terjadi keributan antara kedua orang tuanya.

Melihat Tasya datang, Dicky malah melihat ke bagian belakang tubuhnya. Ia mencari keberadaan sang Papa namun ternyata tidak ia temukan. "Papa mana, Ma?"

Tasya memaksakan senyum di wajahnya, ia tidak mau Dicky tahu kalau ia habis menangis akibat ulah Setyo. "Papa sudah pulang, Sayang. Papa tidak bisa pulang malam-malam karena besok pagi harus menjalani terapi."

"Kenapa Papa tidak bilang kalau mau pulang sih?" gerutu Dicky seraya menekuk wajahnya.

Dicky lalu menatap ke arah Radit. Lelaki bertubuh tinggi, tegak dan tampan itu membawa dua paper bag besar di tangannya.

Pandangan Radit dan Dicky pun bertemu. Radit tersenyum lebar dan ramah, sementara Dicky nampak biasa saja. "Itu siapa, Ma?"

"Oh... ini atasan Mama di kantor, namanya Pak Radit. Dicky bisa memanggilnya Om Radit," jawab Tasya.

"Hi, Dicky!" sapa Radit dengan ramah, senyum lebar selalu terukir di wajahnya.

Dicky bersikap biasa saja. Ia nampak tidak peduli pada Radit. Ia kembali menonton TV.

Radit yang haus akan perhatian, tidak terima jika Dicky mengacuhkannya. "Dicky, tebak apa yang Om bawa?"

Dengan malas, Dicky menatap paper bag yang dibawa Radit. "Pasti mainan dan makanan, bukan?"

Radit terdiam mematung. "Kok tahu?"

"Wanginya harum. Itu juga besar, seperti mainan yang biasa Papa belikan," jawab Dicky.

Radit kembali terdiam, ia tak menyangka ada anak kecil yang sangat cerdas seperti Dicky. Radit melirik Tasya yang nampak menahan tawanya.

"Wah... kamu pintar sekali ya?" puji Radit.

"Biasa saja," jawab Dicky dengan santai.

"Tapi... mainan ini beda dari yang Papa Dicky bawakan. Lihatlah!" Radit menyerahkan paper bag besar yang ia bawa.

Dicky melirik mainan yang Radit berikan. Jiwa anak kecilnya tak bisa dibohongi. Ia tergoda melihat mainan berukuran besar yang Radit bawa. Meski malu-malu, Dicky yang penasaran langsung membuka kemasan mainan dan terpukau melihatnya. "Wah, robot yang besar sekali."

"Iya dong. Keren tidak?" Rasa percaya diri Radit kembali lagi. Ia yakin Dicky akan menyukai hadiah pemberiannya dan menganggapnya sebagai hadiah paling keren yang pernah dimiliki.

"Bisa terbang?" Dicky melihat bagian belakang robot.

"Bisa dong." Radit asal saja menjawab. Ia tersenyum lebar.

Dicky kembali menatap Radit dengan tatapan meragukan. "Masa sih? Tidak ada sayap atau baling-balingnya. Bagaimana bisa terbang?"

Senyum di wajah Radit langsung menghilang. "Mm... kayaknya bisa. Ayo kita periksa dulu!" Radit jadi meragu. Ia asal beli mainan hanya karena melihat bentuknya yang besar dan berpikir anak kecil pasti akan menyukainya.

Radit menarik kursi lalu sibuk membolak-balik petunjuk yang ada di kotak mainan. Ia sudah mengatakan bahwa robot tersebut bisa terbang namun ternyata tidak bisa. "Aduh, maaf ya, Dicky. Sepertinya robot ini tidak bisa terbang deh. Hanya bisa berjalan dan mengeluarkan suara saja. Tidak apa-apa ya?"

Dicky nampak kecewa. "Yah... tidak keren. Masih keren robot dari Papaku. Bisa mengeluarkan sinar dari matanya."

"Ini juga keren loh. Lihat, besar dan pasti saat berjalan mirip dengan robot asli!" Radit tak mau mengalah, apalagi saat Dicky membandingkannya dengan mainan dari Setyo.

"Lebih keren dari Papa!" Dicky nampak bersikeras. "Papa beli robot yang bisa berubah jadi mobil juga. Keren banget tau."

"Kalau begitu, nanti Om belikan Dicky robot yang bisa salto!" Semakin dibandingkan dengan Setyo, harga diri Radit melarangnya untuk menyerah.

Tasya sejak tadi memperhatikan interaksi Radit dan Dicky. Ia jadi tak enak hati pada Radit yang sudah berusaha mendekati Dicky namun anak itu malah lebih membela Setyo. Kedekatan hubungan Setyo dan Dicky memang tak perlu diragukan, sebelum sakit Setyo rajin membelikan mainan untuk Dicky. Wajar kalau anak itu tahu berbagai jenis mainan seru.

"Robot dari Om Radit keren kok kata Mama. Tak kalah keren dari yang Papa belikan." Tasya membela Radit, menghargai setiap usahanya mendekati Dicky.

"Ih, Mama gimana sih, robot dari Papa keren banget tau, Ma. Bisa berubah jadi mobil balap-"

"Iya, Mama tahu kok." Tasya memotong ucapan Dicky. "Nanti kita pajang semua mainan Dicky di lemari pajangan ya. Robot dari Om Radit juga akan kita pajang agar mainan Dicky banyak dan terlihat keren, bagaimana?"

"Iya deh, Ma. Aku mau mainan yang banyak agar lemari pajangan kita penuh." Dicky akhirnya bisa ditenangkan.

Radit tersenyum kecut. Ia pikir mudah mengambil hati anak kecil, ternyata prakteknya tidak demikian. Radit sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi membeli robot edisi terbatas tersebut namun Dicky malah lebih menyukai apa yang Setyo berikan. PR-nya masih banyak, mendekati Dicky ternyata tak semudah yang ia pikir. Akan selalu ada bayang-bayang Setyo di antara mereka.

Ponsel Radit tiba-tiba berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari seorang perempuan yang langsung merengek padanya. "Dit, transfer aku uang sekarang ya. 50 juta saja sudah cukup. Aku tunggu!"

****

1
𝐙⃝🦜Ro
awal mula mendatangi Radit karna memang butuh uangnya pak makin kesini makin nyaman sama perhatian dan kasih sayangnya pak😄
umatin khuin
hmmm Tasya yg diinterogasi aq ikutan tegang
BirVie💖🇵🇸
wkwkwk skakmat yaaa piiii😝
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
super baik Radit...sampe.habis banyak duit buat Dicky
BirVie💖🇵🇸
oalaah hahaha kok gak manggil kak aih
BirVie💖🇵🇸
wkwkwk angel Dit.angel.musuh anak kecil siap2 berjuang mati2an
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
dihhhh enak banget
BirVie💖🇵🇸
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
BirVie💖🇵🇸
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
BirVie💖🇵🇸
bener2 capek jiwa raga klo gini huuuhhhhh capeknya sampe sini Sya
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
wkwkwk mantap lah
BirVie💖🇵🇸
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
BirVie💖🇵🇸
wkwkwk
BirVie💖🇵🇸
duuuhhhh nyesek rasanya....
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
sakitnya hati ini
BirVie💖🇵🇸
betul...
BirVie💖🇵🇸
hhmmm
BirVie💖🇵🇸
dalam.lubuk hati jelas lah tak suka... pengganggu rumah tangga orang tua nya
BirVie💖🇵🇸
calon mama baru🤭🤭🤭🤭🤭
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
BirVie💖🇵🇸
cerita aja Dit.... terbukalah pada mamimu yg super baik biar lega hatimu
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!