NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelah salah paham

Sudah hampir tiga puluh menit Hamka berdiri di luar gerbang rumah tetangganya. Gerbang itu terkunci rapat,hal kecil yang entah kenapa terasa seperti penolakan paling nyata malam ini. Dulu, tanpa perlu izin, ia bisa masuk. Sekarang… berdiri saja rasanya tak pantas.

Tangannya berkali-kali merogoh saku celana, meremas ponsel yang sejak tadi tak juga mendapat balasan.

Naw… cuma keluar sebentar. Kita harus bicara.

Kalimat itu berputar-putar di kepalanya. Bukan kalimat yang salah, tapi entah kenapa terasa terlambat.

Ia menatap ke arah jendela kamar Naura. Gelap.

Atau dia sengaja matiin lampu biar aku tahu kalau dia nggak mau ketemu?

Dada Hamka terasa sesak. Bukan karena dingin, tapi karena perasaan bersalah yang baru benar-benar ia akui sekarang.

Ia menghela napas panjang.

Kenapa tiap soal dia, gue selalu telat paham?

Dari ambang pintu rumah, Babe Ramli memperhatikan putranya yang berdiri seperti patung tak bertuan. Ia mendekat dan bersedekap.

“Ngapain lo berdiri di situ?” ujarnya santai tapi mengulik. “Pasti habis bikin salah sama si Nanaw, terus sekarang mau minta maaf, kan?”

Hamka mendecak. Tepat. Menyebalkan karena benar.

“Selalu aja Babe tahu…” batinnya kesal.

“Kepo banget sih, Beh,” gerutunya, lalu berbalik menjauh dari gerbang itu.

Langkahnya berat. Setiap menjauh justru terasa seperti kalah.

Gue mau pulang, tapi kenapa rasanya kayak ninggalin sesuatu yang penting?

Ia benci perasaan ini.

Perasaan ingin bertahan tapi tak punya alasan untuk memaksa.

Babe Ramli bersuara lagi, kali ini lebih serius. “Awas aja lo nyakitin anak gue.”

Hamka berhenti. Ucapan itu menghantam tepat di dadanya.

Anak Babe…

Kenapa kalimat sesederhana itu bisa membuatnya merasa asing? Seolah posisi yang selama ini ia pikir aman ternyata rapuh.

Ia menoleh, senyum tipis yang dipaksakan terbit di wajahnya.

“Beh… yang anak Babe itu aku,” katanya datar. “Bukan si Nanaw.”

Namun dalam hatinya, Hamka tahu,

kalau boleh jujur, ia lebih takut kehilangan Naura daripada dimarahi ayahnya sendiri.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Hamka sadar:

diam Naura jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

Sementara di rumahnya ,Naura duduk di lantai kamar.Punggungnya bersandar pada ranjang. Lampu sengaja ia matikan, hanya cahaya dari celah gorden yang masuk tipis-tipis. Ponselnya tergeletak di samping, layar sudah lama padam, tapi hatinya belum ikut tenang.

Suara dari luar membuatnya menahan napas.

Bukan jelas. Bukan pula sepenuhnya samar.

Namun cukup untuk membuat dadanya kembali sesak.

“…ngapain lo berdiri di situ?”

Itu suara Babe Ramli.

Naura refleks bangkit, melangkah pelan mendekati jendela. Tirai tak ia buka, hanya berdiri di baliknya, seperti penonton yang tak berhak muncul di panggung.

“Pasti habis bikin salah sama si Nanaw…”

Jantung Naura berdegup lebih cepat.

Jadi… Hamka masih di sana.

Ia menggigit bibir, menahan sesuatu yang ingin lolos dari dadanya. Entah harap, entah takut.

“Awas aja lo nyakitin anak gue.”

Kalimat itu terdengar jelas. Terlalu jelas.

Naura memejamkan mata. Ada rasa hangat aneh yang menjalar, bercampur perih. Ia tak tahu kenapa kalimat itu justru membuatnya ingin menangis.

Lalu suara Hamka terdengar. Pelan. Seolah tak ingin didengar siapa pun.

“…yang anak Babe itu aku. Bukan si Nanaw.”

Naura menegang.

Ada jeda setelahnya. Sunyi yang menekan.

Naura menempelkan telapak tangannya ke dada, mencoba mengatur napas yang mendadak tak beraturan.

Kalau memang aku bukan siapa-siapa…

kenapa kamu berdiri di sana selama itu, Hamka?

Ia melangkah mundur, menjauh dari jendela. Duduk kembali di lantai, memeluk lutut. Ponselnya kembali bergetar pelan ,nama Hamka muncul sekali lagi di layar.

Naura menatapnya lama.

Tak ia balas.

Bukan karena tak peduli.

Tapi karena jika ia membuka pintu sekarang, ia takut…

hatinya justru yang akan lebih dulu runtuh.

Esok harinya, Naura melangkah pelan memasuki halaman rumah Babe Ramli. Di tangannya tergenggam sebuah kresek putih kecil berisi kerokan.

Titipan Babe Ramli semalam yang belum sempat ia berikan . Langkahnya dibuat hati-hati, seolah takut suara sepatunya sendiri bisa mengkhianati niatnya.

Ia sengaja datang lebih pagi. Bukan tanpa alasan.

Naura berharap tak bertemu dengan laki-laki yang semalam berhasil membuat pikirannya berisik sampai dini hari.

Baru saja tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tiba-tiba daun pintu itu terbuka dari dalam.

Dan di sanalah Hamka berdiri.

Sudah rapi dengan seragamnya.

Naura refleks berhenti. Napasnya tercekat sepersekian detik.

Tumben…

Biasanya, jam segini laki-laki itu masih terkapar di kasur, ileran, bahkan harus dibangunkan berkali-kali.

Tatapan mereka bertemu.

Ada jeda canggung yang tak bisa disamarkan.

Kenapa lo malah rapi begini, sih? batin Naura kesal tanpa sebab yang jelas.

Seolah Hamka tak diberi izin untuk terlihat baik-baik saja… sementara hatinya sendiri masih berantakan.

Tangannya yang memegang kresek mengencang.

Dan pagi yang ia harap berlalu singkat, justru baru saja dimulai dengan hal yang paling ingin ia hindari.

Hamka yang pertama kali bereaksi. Ia menggeser tubuh sedikit ke samping, membuka pintu lebih lebar seolah semua baik-baik saja.

“Hai,” sapanya santai.

Nada suaranya terdengar biasa. Terlalu biasa.

Padahal jantungnya nyaris meloncat keluar sejak melihat Naura berdiri di depannya.

Naura mengangguk singkat.

Matanya langsung turun ke kresek di tangannya, bukan ke wajah Hamka. “Ini… titipan Babe Ramli.”

“Oh.” Hamka mengangguk, cepat. “Iya… taruh aja. Babe lagi di dapur.”

Naura melangkah masuk satu langkah, lalu berhenti. Ada jarak tipis di antara mereka yang terasa jauh. Hamka berdiri di samping pintu, tubuhnya kaku, tangannya masuk ke saku celana..kebiasaan tiap kali ia gugup.

“Tumben… jam segini lo udah siap,” ucap Naura akhirnya. Kalimatnya terdengar netral. Aman.

Hamka terkekeh kecil. “Iya. Takut telat.”

Naura menoleh, sorot matanya berubah tipis.

“Takut telat jemput Helena?” celetuknya.

Hamka langsung mengerutkan kening. Alisnya saling bertaut, jelas tak paham.

“Helena?” ulangnya. “Kenapa tiba-tiba bawa nama dia?”

Naura tak menjawab. Gadis itu justru melangkah pergi, seolah tak berniat memperpanjang apa pun. Namun baru dua langkah, lengannya tiba-tiba dicekal.

“Naw,” suara Hamka lebih rendah sekarang. “Kenapa lo bawa-bawa nama Helena?”

Naura menoleh perlahan. Tatapannya datar, dingin.

“Lo yakin mau nanya itu ke gue?”

Hamka terdiam sesaat. “Tapi Naw—”

Belum sempat ia melanjutkan, suara motor berhenti tepat di luar gerbang. Suara yang terlalu familiar.

Hamka berdecak kesal. Ia tahu siapa pemiliknya.

Nada suaranya berubah dingin. “Lo ada hubungan apa sama dia?”

Naura menarik lengannya dengan kasar.

“Bukan urusan lo.”

“Naw—”

“Cukup!” potong Naura cepat. Dadanya naik turun. “Gue nggak mau cewek lo salah paham.”

Hamka menatapnya tajam. “Cewek gue siapa?”

Ia mendekat setengah langkah. “Dari dulu lo tahu, gue nggak terikat sama cewek mana pun.”

Naura tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia,lebih mirip senyum pahit.

“Oh, jadi hubungan lo sama Helena cuma hubungan tanpa status?” katanya sinis.

“Kasian sekali cewek itu. Padahal dia udah bangga mamerin cowoknya di sosmed.”

Kalimat itu dilepaskan begitu saja. Tanpa menunggu reaksi.

Naura langsung berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan halaman rumah Babe Ramli tanpa menoleh lagi.

Sementara Hamka berdiri kaku di tempatnya.

Kata demi kata barusan berputar di kepalanya.

Pamerin cowoknya… di sosmed?

Untuk pertama kalinya pagi itu, Hamka merasa benar-benar tertinggal

dan baru sadar, mungkin selama ini ada hal-hal yang luput dari perhatiannya.

Naura naik ke motor Haikal tanpa banyak bicara. Helm langsung menutup kepalanya, seolah itu satu-satunya cara agar wajahnya tak terbaca siapa pun. Tangannya mencengkeram ujung jaket Haikal,tidak erat, tapi cukup untuk menahan diri agar tak goyah.

Motor melaju meninggalkan halaman rumah Babe Ramli.

Angin pagi menyapu wajahnya, dingin, tapi tak mampu meredam panas di dadanya. Naura menatap lurus ke depan. Ia tak menoleh. Ia tak ingin melihat rumah itu sekali lagi.

Gue berlebihan nggak sih?

Pertanyaan itu muncul, lalu segera ia tekan dalam-dalam.

Haikal melirik lewat spion. “Lo kenapa?” tanyanya hati-hati. “Dari tadi diem.”

Naura menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”

Jawaban klasik. Bohong yang paling sering ia pakai.

Motor berhenti sebentar di lampu merah. Naura menunduk, memperhatikan aspal. Tiba-tiba dadanya terasa sesak lagi.

Tanpa status…

Pamer di sosmed…

Kata-kata itu kembali. Ia benci karena ia sendiri yang mengucapkannya. Lebih benci lagi karena kata-kata itu terasa benar.

“Naw,” suara Haikal terdengar lagi, lebih pelan sekarang. “Kalau lo nggak nyaman… gue bisa muter.”

Naura menggeleng. “Nggak usah.”

Ia menarik napas panjang. Dalam helm, matanya panas. Tapi ia menahan. Ia selalu pandai menahan.

Motor kembali melaju. Gedung-gedung, warung, dan orang-orang berlalu seperti potongan adegan yang tak ia ingat. Pikirannya tertinggal di satu titik,di halaman rumah itu. Di tatapan Hamka yang bingung. Dan di dadanya sendiri yang berantakan.

Gue nggak cemburu.

Gue cuma capek salah paham.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!