Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transisi
Perceraian itu akhirnya sah.
Kalimat pendek dari hakim terasa seperti garis akhir sekaligus garis mulai yang baru untuk Zizi, juga untuk Arman, meski masing-masing berdiri di ujung berbeda.
Beberapa hari setelah semua selesai, rumah keluarga Arman tidak lagi sesibuk dulu. Sepi yang menggantung di ruang tamu seperti bayangan yang menolak pergi. Foto pernikahan Zizi dan Arman sudah diam-diam diturunkan oleh Anggun dan disimpan entah di mana. Hanya jejak bekas paku di dinding yang tersisa.
Di sore yang teduh itu, bel rumah berbunyi.
Anggun keluar dari dapur sambil mengelap tangannya. Ketika pintu dibuka, seorang perempuan muda dengan senyum manis dan penampilan rapi berdiri di teras.
“Sore, Tante,” sapa Susan sopan. “Maaf datang mendadak.”
Anggun sempat terkejut, lalu wajahnya langsung melunak. “Susan… masuk, Nak. Tante senang kamu datang.”
Susan melangkah masuk dengan percaya diri yang ia sembunyikan di balik kesantunan. Rumah itu sudah tidak lagi ditinggali Zizi, dan entah kenapa udara di dalamnya terasa berbeda lebih longgar, lebih lapang, seperti ada ruang kosong yang siap diisi.
Arman muncul dari arah kamar dengan kaus rumah dan wajah lelah. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat siapa yang datang.
“Susan?”
Susan menoleh, senyumnya bertambah hangat. “Hai. Aku dengar… semuanya sudah selesai.
Arman tidak langsung menjawab. Ada gurat capek di matanya, ego yang terluka, dan gengsi yang berusaha tetap tegak. Ia hanya mengangguk kecil.
Anggun justru terlihat paling antusias. “Sudah lama ya kamu nggak main ke sini,” katanya sambil menepuk tangan Susan penuh keakraban. “Tante memang dari dulu suka sama anak ini. Sopan, perhatian, beda…”
Ia sengaja menggantung kalimatnya. Nama Zizi tidak disebut, tapi bayangannya jelas terasa.
Arman menghela napas pelan. “Mama…”
Namun Susan tersenyum seolah tidak mendengar nada teguran itu. Ia duduk rapi di sofa, membawakan kue kotak kecil.
“Aku cuma mau lihat keadaan kamu,” katanya pelan pada Arman. “Banyak yang ngomongin kamu di kantor. Aku khawatir.”
Kata “khawatir” itu jatuh lembut, membungkus luka Arman yang belum sempat kering. Ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa dilihat sesuatu yang tidak pernah ia akui selama ini.
Anggun ikut duduk, matanya berbinar.
“Kamu ini memang beda, Susan,” katanya. “Perempuan yang tahu cara memperhatikan laki-laki. Tidak seperti…”
Sekali lagi, kalimat itu sengaja tidak diselesaikan.
Arman diam saja. Ia tidak membela siapa pun, tidak menyalahkan siapa pun. Tapi diamnya justru menyayat. Dalam hatinya ia masih berpikir bahwa Zizi sekarang pasti sedang kesulitan hidup.
Susan memandang Arman dengan sorot mata yang tidak lagi disembunyikan. “Kalau kamu butuh teman cerita,” ucapnya pelan, “aku ada.”
Kata-kata itu sederhana, tapi penuh maksud. Bukan lagi sekadar perhatian biasa, itu adalah langkah pertama yang selama ini hanya ia tunggu kesempatan.
Anggun menatap keduanya dan tersenyum sangat tipis.
Dalam hati, ia sudah memilih.
.
.
Dan di luar sana, di kota lain, Zizi sedang berdiri tegak memulai hidup barunya, tanpa tahu bahwa masa lalu perlahan bergerak mendekat lagi.
Pagi itu kota masih sibuk dengan rutinitasnya, tetapi bagi Zizi, hari itu bukan sekadar hari biasa. Ia berdiri di depan kaca besar salon yang dindingnya dipenuhi pantulan cahaya, harum hair spray bercampur wangi kopi dari sudut ruangan.
Perempuan dalam cermin itu tampak asing.
Rambut panjang yang dulu selalu ia biarkan tergerai—yang pernah disukai Arman—jatuh lemas di bahunya. Mata di cermin itu terlihat dewasa, tetapi menyimpan terlalu banyak diam.
“Model seperti apa?” tanya hair stylist ramah.
Zizi terdiam sejenak. Dulu, ia selalu memilih model yang disukai orang lain. Sekarang, ia ingin memilih miliknya sendiri.
“Potong pendek,” jawabnya akhirnya. “Biar jatuhnya ringan.”
“Seberapa pendek?”
Zizi tersenyum tipis. “Sampai terlihat… baru.”
Gunting bergerak. Suara kres-kres terdengar jelas di telinganya. Setiap helai yang jatuh ke lantai terasa seperti serpihan masa lalu, malam-malam menunggu, piring dingin, perintah kecil yang menyakitkan, “Nanti saja”, “Kamu tidak paham”, “Sudah, diam”.
Ketika potongan terakhir jatuh, wajah di cermin berubah.
Lebih segar. Lebih tegas. Lebih… dirinya.
Make up artist mendekat, jemarinya ringan bekerja. Bibir Zizi diberi sedikit warna, tidak mencolok tapi hidup. Matanya ditegaskan bukan untuk memikat siapa pun, melainkan agar ia ingat bahwa dirinya punya tatapan yang tidak pantas lagi merendah.
Setelah itu ia pindah ke kursi pedicure dan manicure. Kakinya direndam air hangat, wangi bunga menguar. Aneh rasanya mendapatkan perhatian pada tubuh sendiri setelah sekian lama memperhatikan orang lain.
Ia menyandarkan kepala, membiarkan dirinya… istirahat.
“Ada acara penting, Mbak?” tanya petugas salon sambil tersenyum.
Zizi balas tersenyum kecil. “Bisa dibilang begitu. Aku mau mulai hidup baru.”
Selesai dari salon, ia menuju butik. Pakaian-pakaian tergantung rapi, lampu-lampu temaram memantulkan kilau kain mahal. Dulu ia sering berpikir membeli baju cantik sia-sia karena tidak pernah benar-benar pergi ke mana pun.
Kini berbeda.
Ia memilih setelan blazer warna lembut, celana panjang rapi yang jatuh mengikuti tubuhnya, gaun sederhana namun elegan. Bukan baju untuk pamer, tapi untuk bergerak, memutuskan, berdiri di depan banyak orang tanpa menunduk.
Saat keluar butik, ia membawa beberapa tas belanja di tangan, tetapi yang paling berat justru sudah ia tinggalkan: dirinya yang lama.
Di kaca etalase jalan, ia menangkap pantulan sosoknya.
Rambut pendek. Langkah mantap. Tatapan yang tidak meminta izin. Untuk pertama kalinya, Zizi tidak merasa sebagai istri seseorang. Ia merasa sebagai perempuan yang memilih jalannya sendiri.
.
Shinta berdiri di ambang pintu kamar ketika Zizi keluar.
Untuk sesaat, perempuan itu terdiam. Bukan karena tidak mengenali putrinya, tetapi karena untuk pertama kalinya ia melihat Zizi bukan sebagai anak yang pulang dalam keadaan luka melainkan sebagai perempuan yang sudah memilih untuk sembuh.
Rambut Zizi kini lebih pendek, jatuh rapi di sekitar bahu, memberi garis tegas pada rahangnya. Make up tipis membuat matanya terlihat lebih hidup. Gaun sederhana berwarna lembut membalut tubuhnya, tidak berlebihan, tetapi elegan dengan caranya sendiri.
“Zizi…” suara Shinta hampir berbisik. “Astaga…”
Zizi refleks gugup. Tangannya menyentuh ujung rambut barunya. “Kependekan ya, Ma? Atau… aneh?”
Shinta menggeleng cepat, lalu mendekat. Kedua tangannya terangkat, merapikan helai rambut di pelipis Zizi, gerakan kecil yang sudah ia lakukan sejak Zizi kecil.
“Kamu cantik sekali,” ucapnya tulus. “Bukan cuma karena rambut atau bajunya… tapi karena matamu. Kamu kelihatan… hidup lagi."
Zizi terdiam. Pujian sederhana itu justru membuat dadanya hangat dan matanya berkaca-kaca.
“Selama ini,” lanjut Shinta pelan, “Kamu selalu terlihat menahan sesuatu. Sekarang Mama lihat kamu bukan menahan… tapi melepaskan.”
Ia tersenyum- senyum seorang ibu yang akhirnya melihat putrinya berdiri tegak setelah badai panjang.
“Ini kamu yang baru,” katanya lembut. “Bukan istri siapa pun. Bukan bayang-bayang siapa pun. Ini kamu… dan Mama bangga.”
Zizi menunduk, menahan air mata yang hendak jatuh, lalu memeluk ibunya erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak hanya berubah di luar, tetapi benar-benar menjadi seseorang yang baru dari dalam.