Mu Yongsheng adalah jenderal Kekaisaran Dalu yang sangat setia. Tiba-tiba kekaisaran Dalu yang tenang itu menjadi kacau dengan kematian sang putri dan pengkhianatan yang di lakukan oleh sang perdana mentri.
Saat Mu Yongsheng membantu sang kaisar menyelamatkan diri dari kekacauan itu, dirinya terjatuh di dasar jurang hitam, hingga akhirnya bertemu dengan Zhaoyang seorang pendekar suci.
Pertemuan itu mengubah jalan hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Simak terus PENDEKAR PEDANG DARI TIMUR, dan dukung penulis dengan:
👉Like,
👉Rite dan
👉koment.
🙏Terima Kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Akhir dari pertempuran, dan jatuhnya Yongsheng.
" Congheng si dungu, aku suka melihat wajahmu yang kesakitan itu. Sama sakitnya dengan otakmu yang mengkhianati seorang kaisar yang telah memberimu makan, minum dan tempat tinggal. Putra Dalu yang malang." ucap Yongsheng sambil membuang kantong hitam yang ada di tangannya ke dalam jurang.
" Tidak!" Teriak Tiung lalu melesat ke arah Yongsheng dan melancarkan serangan terkuatnya.
Swhus....
Tebasan angin pedang dengan kekuatan tenaga dalam melesat ke arah Yongsheng.
" Sungguh serangan yang mematikan," batin Yongsheng sambil menghindari tebasan angin pedang tersebut.
Pertempuran antara Yongsheng dan Tiung terjadi. Mereka saling beradu pukulan dengan puluhan jurus.
Di tempat lain.
Congheng berusaha berdiri dengan tombak yang ada di tangannya menatap pertempuran tersebut dengan terkekeh. Tampak darah menyembur dari mulutnya saat dirinya tertawa.
" Congheng si dungu, aku rasa itu adalah panggilan yang tepat," ucapnya.
Dengan sisa kekuatanya yang dimilikinya, Congheng mengalirkan tenaga dalam pada tombaknya, lalu melemparkan tombak itu pada Tiung yang sedang bertarung dengan serius.
Swhus... Tombak itu melesat secepat angin.
Swhus.. tombak itu menancap pada punggung Tiung.
" Ah..." Teriaknya kesakitan sambil bergerak mundur. Dengan segera para pendekar tingkat raja yang tersisa lalu menolongnya.
" Cabut tombak dan hentikan pendarahanya," ucap salah satu dari mereka lalu menarik tombak dan menutup luka yang menyemburkan darah segar tersebut dengan kain seadanya, sambil meminta Tiung untuk menggunakan tenaga dalamnya untuk menghentikan aliran darah tersebut.
Di tempatnya berdiri, Congheng yang telah menggunakan sisa seluruh kekuatannya roboh seketika.
" Penggal kepalanya!" perintah Tiung pada prajurit untuk memenggal kepala Congheng.
Tiung sangat marah, jika saja dirinya tidak terluka, dia sendiri yang akan memenggal kepala itu.
Di samping tebing, Yongsheng bertarung melawan ke empat pendekar tingkat kaisar yang menyerangnya dengan semakin ganas.
Mereka telah bertukar puluhan jurus. Sabetan pedang dengan jurus penebas malam seperti tidak berarti, karena ke empat pendekar tingkat Kaisar itu juga memiliki teknik andalan yang dapat menandingi tebasan yang di lancarkan oleh Yongsheng.
Semakin lama serangan yang dilancarkan oleh para pendekar tingkat kaisar itu semakin melemahkan kekuatan Yongsheng. sehingga membuatnya semakin tersudut di sisi tebing.
Swhus...
Salah satu dari lawan berhasil menyarangkan tusukan tombak dan mengenai rusuk kirinya.
" Ah..." ucapnya sambil menahan rasa sakit karena ujung tombak itu mengenai organ vitalnya, sehingga menyebabkan konsentrasinya menjadi buyar.
Kali ini Yongsheng hanya dapat menahan serangan dan menghindarinya tanpa dapat melancarkan serangan balasan.
Tiba-tiba kaki kirinya tergelincir, hingga membuatnya terdorong ke belakang.
" Oh tidak," batinnya tak berdaya saat merasakan tubuhnya melayang jatuh ke dalam jurang.
Di atas tebing, para pendekar tingkat Kaisar hanya terdiam dan mematung. Tidak hanya itu, Tiung yang masih tersadar hanya bisa menatap tempat terjatuhnya Yongsheng dengan ternganga.
****
Di dalam jurang.
Yongsheng yang telah terjatuh ke dalam lembah Hitam masih melayang di udara memejamkan matanya.
" Jika saja tidak terluka, mungkin aku dapat menggunakan sisa kekuatan tenaga dalam untuk menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi itupun percuma karena jurang hitam tanpa dasar ini menariku dengan sangat kuat. sungguh kematian yang tragis," ucapnya sambil tersenyum.
Semakin lama lukanya semakin terasa sakit, dengan terus mengeluarkan darah dalam jumlah yang banyak.
" Saudaraku Huanran, selamat tinggal. Kali ini aku akan pergi lebih dulu. Aku harap saudara dapat melanjutkan perjuanganku untuk membantu Kaisar, "ucapnya sambil mengangkat pedang suci yang masih tergenggam erat di tangan kanannya lalu menusukan diri.
Yongsheng tidak ingin ketika tiba di dasar jurang, dirinya tidak mati, tetapi terluka parah. Akan menjadi konyol jika dirinya mati di gigit hewan buas.
Dengan perlahan pandangannya menjadi buram dan kesadarannya hilang.
****
Di atas puncak gunung.
Tiung yang telah terluka lalu dibawa pergi oleh sisa pasukannya dengan ditandu.
Dengan perlahan kelompok itu menuruni gunung hitam tanpa menyadari kehadiran empat orang yang sedang bersembunyi di balik batu.
" Yongsheng kepar***t itu sungguh licik, jika tubuhnya tidak terjatuh saat betempur, akan ku cincang tubuhnya." ucap salah seorang dari rombongan itu mengumpat.
" Sudahlah, jangan di bahas. Tidakah kalian lihat perdana mentri terluka. Kita akan mencari desa terdekat untuk mengobati lukanya terlebih dahulu,
Di tempat persembunyian.
Prajurit Ying dan Heng hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan tangisannya, sedangkan Huanran hanya bisa terdiam. Tanpa terasa air matanya menetes.
" Saudaraku Yongsheng, apakah kau ..." batinnya.
Setelah rombongan Tiung menjauh, Huanran dan ke empat prajurit itu lalu bergerak ke arah Puncak Gunung.
" Aku harus memastikannya," ucap Huanran sambil melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa untuk segera tiba di puncak Gunung itu.
Dalam perjalanannya dari barat sebelumnya, Huanran bertemu dalam prajurit Ying dan Heng, yang telah menyampaikan ide gila saudaranya tersebut.
Secepat apapun dia bergerak dari wilayah barat untuk datang ke wilayah timur, tetap saja dirinya terlambat.
Tatapan matanya kosong saat melihat tumpukan mayat yang bergelimpangan bahkan dirinya mengenal kepala Congheng yang telah terpenggal.
Dengan langkah gontai, Huanran mendekati tebing Jurang Hitam.
" Apakah dia terjatuh di tempat ini?" batinnya sambil menatap jurang yang seperti tanpa dasar.
" Yongsheng saudaraku, kamu telah menjadi Abdi yang baik. Aku akan melanjutkan perjuanganmu. Aku harap suatu saat kita dapat berjumpa kembali di kehidupan yang lain."
Prajurit Ying dan Heng hanya bisa menatap Jurang Hitam dengan tatapan kosong.
" Jenderal Yongsheng, jika kau masih hidup kembalilah ke gunung langit," teriaknya keras.
Mereka berdua masih belum yakin jika Yongsheng mati di lembah itu.
Huanran hanya bisa menatap kedua prajurit itu dengan menggelengkan kepala.
Jurang Hitam adalah tempat terlarang yang bahkan tidak pernah didatangi oleh manusia. " Aku juga berharap saudaraku masih hidup, walaupun aku tidak menyakininya." Sambil menancapkan tombak yang merupakan senjata utamanya pada tebing itu, lalu menumpukan beberapa buah batu sebagai tanda peringatan.
" Baiklah, Mari kita pergi ke gunung langit dan menemui Kaisar di Klan Tiantang."
****
Gunung langit klan tiantang.
Sepuluh hari perjalanan, akhirnya Kaisar Hongli tiba di gerbang klan. Kedatangannya langsung disambut oleh Jingmi.
" Yang Mulia Kaisar, selamat datang di Klan Tiantang." Sambil berlutut dan hormat.
" Jingmi, di mana permaisuri dan bagaimana kabar putriku?"
" Yang Mulia Kaisar, masuklah terlebih dahulu. Di dalam Klan, kita dapat membicarakannya dengan tenang," jawab Jingmi mempersilahkan.
Rombongan itu lalu memasuki wilayah Klan.
" Jenderal Shilin dan komandan Lian silahkan beristirahat. Jika ada urusan, Aku akan memanggil kalian."
" Baik Yang Mulia."
Jenderal Shilin dan komandan Lian serta prajurit yang tiba di klan itu diarahkan oleh para murid klan pada tempat yang telah disediakan.
Jingmi lalu membawa Kaisar Hongli pada sebuah kamar yang di jaga oleh beberapa pelayan.
" Yang Mulia, hamba Jingmi datang menghadap."
" Masuklah!" jawab suara dari dalam ruangan.
Dengan perlahan Jingmi membuka kan pintu kamar. " Mari Yang Mulia," ucap Jingmi pelan.
Dengan langkah tenang Hongli memasuki ruangan itu.
Tiba-tiba tatapannya beradu dengan permaisuri Jiao yang juga menatap ke arahnya.
" Oh.. Suami ku." sambil berdiri lalu menghamburkan diri dalam pelukan Hongli dengan erat.
krn cintanya tertuju pd jia li
sungguh mengharukan