Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Enam Bulan di Antara Janji dan Kenyataan
Setelah panggilan telepon singkat Dalend dari telepon umum, Marisa memasuki fase baru dalam hidupnya, penantian yang termotivasi. Janji enam bulan itu menjadi batas waktu yang jelas, sebuah deadline yang membuatnya harus tetap fokus dan produktif.
Marisa mengalihkan semua energi dan emosi yang tumbuh pada Dalend ke dalam usaha kateringnya. Ia bekerja lebih keras, lebih terstruktur, dan lebih strategis.
$100 juta di rekeningnya tidak ia sentuh, kecuali untuk biaya perawatan ibunya. Marisa bersikeras, modal untuk usahanya harus datang keringatnya sendiri. Ia ingin membuktikan pada dirinya, dan pada janji Dalend, bahwa ia adalah wanita mandiri yang tidak membutuhkan warisan Angkasa Raya.
Katering rumahan "Dapur Sejati" miliknya mulai dikenal. Marisa menggunakan keahliannya meracik rasa dan presentasi yang ia pelajari dari Bara, tetapi kini ia melakukannya dengan kebanggaan diri yang baru. Ia menyewa satu asisten, seorang ibu muda di sekitar rumahnya. Dan mulai menerima pesenan katering untuk acara kecil di desa.
Setiap pagi, saat menyiapkan bumbu, Marisa akan menatap cincin safir biru di jarinya. Cincin itu adalah satu-satunya tautan fisik dengan kehidupan gilanya di Jakarta. Cincin itu menjadi pengingat, Enam bulan. Dia akan datang.
Godaan untuk menggunakan ponselnya yang mati dan menghubungi Dalend selalu ada. Ia ingin tahu apakah Dalend baik-baik saja apakah Bima benar-benar mengawasinya. Namun, Marisa tahu, menghubungi Dalend sama saja dengan mengkhianati janji mereka.
Dalend harus stabil, dan Dalend harus bebas dari ancaman kehilangan warisan. Marisa harus menjadi anchor yang tenang dan diam, bukan beban.
Ibunya, yang kondisinya semakin membaik, mulai mengadadi perubahan pada Marisa.
"Nak, usahamu maju pesat. Tapi kenapa kamu selalu melamun?" Tanya ibunya suatu sore. "Dan cincin itu... indah sekali. Dari mana kamu mendapatkannya? Kamu bilang kamu tidak punya pacar lagi."
Marisa tersenyum, menyembunyikan cerita pertunangan palsu yang kacau itu.
"Ini cincin janji, Bu," jawab Marisa, memutar cincin safir itu. "Janji untuk tidak pernah menyerah pada impian saya. Seseorang memberikannya sebagai pengingat."
Ibunya menggunakan, percaya. Marisa tahu, ia harus melindungi ibunya dari realitas Dalend Angkasarapu.
...
Sementara Marisa menemukan kedamaian relatif di Jawa, kehidupan Dalend di Jakarta adalah neraka yang penuh dengan bubuk semen dan mesin tua.
Kantor cabang Divisi Properti di pinggiran industri Jakarta adalah bangunan tua dan suram. Dalend, sang pewaris yang terbiasa dengan pendingin udara sentral dan kopi mahal, kini harus beradaptasi dengan debu, panas terik, dan bau oli.
Hukuman Tuan Wijaya sangat efektif. Dalend tidak punya akses apa pun ke kekayaan Angkasa Raya. Ia hidup dari gaji minimum sebagai Asisten Manajer Proyek, tinggal di kontrakan sempit, dan harus naik bus namun ke tempat kerja.
Namun, Dalend tidak mengeluh. Ia menggunakan semua energi pemberontakannya untuk bekerja. Ia membaca buku-buku manajemen properti yang ia beli di stasiun kereta. Ia turun langsung ke lapangan, berbicara dengan mandor, buruh, dan kontraktor. Ia menemukan masalah pada rantai pasok dan efisiensi proyek.
Dalend mulai menunjukkan potensi yang selama ini tertidur di balik kemewahan. Ia cerdas, cepat belajar, dan memiliki karisma alami.
Namun, yang paling sulit adalah, Bima.
Bima tidak pernah jauh. Secara resmi, Bima dipindahkan untuk mengawasi proyek Dalend, tetapi sebenarnya ia adalah mata-mata Nyonya Elvira.
Suatu hari, di lokasi konstruksi, Dalend berhasil menemukan kecurangan yang dilakukan oleh salah satu supplier lama Angkasa Raya. Kerugian perusahaan mencapai miliaran. Dalend segera menyusun laporan dan memanggil Bima.
"Aku sudah menemukan ini, Bima. Supplier ini korupsi," kata Dalend, menyerahkan berkas tebal.
Bima tampak terkejut, namun segera kembali memasang wajah datarnya.
"Bagus, tuan Dalend.Tapi Nyonya Elvira tidak ingin Tuan langsung melaporkannya. Ini akan mengganggu koneksi lama keluarga," kata Bima, mencoba meredam temuan Dalend.
"Ini bukan tentang koneksi, Bima. Ini tentang kehormatan dan uang Papa! Gue akan melaporkannya. Ini adalah bukti bahwa gue serius," Dalend bersikeras.
"Jika Tuan melaporkannya sekarang, Tuan Wijaya akan melihatnya sebagai aksi pemberontakan yang lain,Tuan. Ini akan mengganggu hukuman enam bulan Tuan," Bima Wijaya sudah meminta saya memastikan Tuan tidak menggunakan koneksi luar apa pun."
"Maksudmu koneksi 'Marisa'?" Dalend menebak, tersenyum dingin.
Bima tidak menjawab, tapi tatapannya mengiyakan. Dalend tahu, jika ia melaporkan kasus ini, Bima akan memutarbalikkan fakta, mengatakan Dalend tergesa-gesa karena ingin bebas dan mencari Marisa.
Dalend menarik napas panjang. Ia harus bermain cerdas. Ia menyimpan berkas itu. Ia harus menunjukkan konsistensi, bukan ledakan.
"Baik, Bima. Kita tunggu. Tapi aku akan tetap memantau supplier ini. Ingat, hukuman enam bukan gue bukan berarti gue berhenti bekerja, " ujar Dalend, menatap Bima dengan mata tajam.
Bima hanya membungkuk kecil dan pergi. Dalend lini tahu, Bima bukan hanya pengawas, tapi juga penghalang terbesarnya. Setiap langkah kesuksesan Dalend akan diperlambat oleh Bima demi kepuasan Nyonya Elvira.
...
Tiga bulan berlalu. Setengah dari waktu penantian telah terlewati.
Marisa telah membuka cabang kedua kateringnya. Ia bekerja hingga larut malam, merindukan saat-saat ia berbagi steak beku dan tawa dengan Dalend di apartemen mewah itu. Cincin safir biru di jarinya mulai terasa dingin.
Suatu sore, saat Marisa pulang, ia menemukan sebuah kotak kardus kecil tergeletak di depan pintu rumahnya. Tidak ada alamat pengirim, hanya tulisan tangan rapi yang dikenal Marisa: "Tunangan".
Marisa segera mengambil kotak itu dna membukanya dengan hati berdebar.
Di dalamnya, ada dua barang,
Sebuah buku tebal tentang manajemen Proyek Konstruksi, dengan banyak stabilo dan catatan tulisan tangan Dalend.
Sebuah hoodie tebal berwarna abu-abu, yang sama persis dengan yang ia pinjam di hari-hari pertama perkenalan mereka. Hodie itu dicuci bersih, namun masih membawa sedikit aroma Dalend yang samar. Dan di dalam hoodie itu, terselip sebuah kartu kecil bertulis tangan.
'Tiga bulan. Gue enggak bisa telepon ini adalah laporan kemajuan gue. Gue mendapatkan yang terburuk dari yang terburuk, dan gue belajar mengendalikannya. Lo benar, gue butuh tantangan yang nyata. Hoodie ini untuk mengingatkan Lo, kita sudah melewati yang terburuk. Ee gue kangen. Lo aman, Tunangan?- Dalend.'
Marisa tidak bisa menahan tangisnya. Dalend benar-benar menepati janji. Ia tidak hanya bekerja, ia juga menemukan cara rahasia untuk berkomunikasi tanpa terdeteksi Bima. Ia menggunakan kurir umum atau jasa pengiriman anonim dari Jakarta.
Marisa mengenakan hoodie itu, memeluk buku yang penuh coretan Dalend, dan merasa kehangatan itu kembali. Ia tidak perlu membalas. Pesan itu sudah cukup. Dalend berjuang untuknya, dan Marisa harus berjuang untuk dirinya sendiri.
Marisa mengambil pena dan menulis balasan kecil di selembar kertas:
Gue aman. Bisnis maju. Jangan Bodoh dan ambil risiko berlebihan. Jaga diri Lo. Dan gue bakal masakin nasi goreng untuk pewaris kotor. Nanti setelah semua itu beres. - M.
Marisa mengirimkan balasan itu melalui jasa kurir kecil di kotanya, meminta kurir itu mengirimkannya ke alamat kontrakan Dalend yang ia cari melalui berita daring.
...
Enam bulan terasa seperti enam tahun.
Lima bulan setelah 'perpisahan', di Jakarta, Dalend akhirnya mendapatkan kesempatan yang ia tunggu.
Proyek perumahan besar yang ia tangani di daerah industri, yang sebelumnya dianggap proyek buangan, tiba-tiba menarik perhatian Tuan Wijaya karena progress yang luar biasa. Proyek itu selesai enam minggu lebih cepat dari jadwal, dan dengan penghematan anggaran $100 juta-semua berkat efisiensi rantai pasok yang Dalend susun secara diam-diam.
Tuan Wijaya memanggil Dalend ke kantor pusat. Ini adalah pertama kalinya Dalend kembali ke kantor mewah itu sejak pesta pertunangan yang kacau. "Duduk, Dalend," kata Tuan Wijaya, wajahnya datar. Di sampingnya duduk Nyonya Elvira dan Bima.
"Proyekmu di Cikarang," Tuan Wijaya membuka pembicaraan. "Laporan Bima mengatakan kamu berhasil menanganinya dengan baik. Ada penghematan yang signifikan."
Dalend mengangguk. "Itu hasil kerja tim, Pa. Saya hanya mengidentifikasi masalahnya dan menyusun ulang strategi pengadaan barang."
Nyonya Elvira mencibir. "Hanya keberuntungan."
"Bukan, Ma," Dalend membalas. "Aku menunda laporan kecurangan supplier yang Aku temukan, bukan karena Aku takut, tapi karena Aku ingin membuktikan efisiensi Aku tanpa melibatkan drama. Sekarang proyek sudah selesai, laba sudah maksimal, laporan kecurangan itu bisa dilanjutkan, Pa."
Dalend meletakkan berkas supplier itu di meja. Berkas yang ia simpan selama berbulan-bulan. Papahnya, Wijaya melihat berkas itu, lalu menatap Bima.
Bima menghindari pandangan Tuan Wijaya. Bima telah menahan laporan itu atas permintaan Nyonya Elvira, tetapi Dalend membalikkan keadaan. Dalend tidak hanya membuktikan dirinya kompeten, tetapi juga cerdas secara politik.
"Bima, apakah ini benar?" tanya Tuan Wijaya.
Bima terpaksa mengangguk.
"Hukuman enam bulanmu selesai, Dalend," putus Tuan Wijaya. "Kamu kembali ke kantor pusat sebagai Manajer Operasional Properti. Dan... Bima akan dipindahkan ke Divisi Logistik. Jauh dari operasi utama."
Nyonya Elvira terkejut, namun tidak bisa membantah. Dalend telah memenangkan pertempuran pertamanya. Dalend tersenyum dingin. Ia mengambil kunci mobil yanh disodorkan Bima-kunci mobil mewah pribadinya yang lama.
"Terima kasih, Pa," kata Dalend. "Saya akan buktikan bahwa saya layak. Dan saya butuh cuti dua hari. Saya akan kembali di hari ketiga."
Tuan Wijaya mengangguk. "Oke. Ambil cutimu."
Saat Dalend berjalan keluar, ia mendengar Nyonya Elvira memarahi Bima. Dalend tidak peduli. Ia punya dua hari. Ia bebas.
Dalend masuk ke mobil mewahnya, menyalakan mesin. Ia menarik napas dalam-dalam. Enam bulan telah berakhir.
"Waktunya menepati janji, Tunangan, " bisik Dalend, mengarahkan mobilnya keluar dari gang Angkasa Raya. Tujuannya hanya satu: Surabaya.