Menceritakan seorang gadis cantik imut dan polos, yan rela tinggal serumah dengan seorang pemuda berhati dingin hanya untuk melunasi hutang kedua orang tuanya?...
"Nabilah itulah namaku usiaku uda 24 tahun tapi belom nikah,apakah aku bisa melunasi hutang ke dua orangtuaku?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setelah memberitahu Lastri,Doni kemudian berjalan kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati Nabila saat ini.
"Sayang,aku mau siap -siap keluar untuk menemui kelienku." Kata Doni pada Nabila.
"Iya, mas,kamu cepat pulang ya mas."
"Tentu sayang,setelah semuanya selesai, aku akan segera pulang," Ucap Doni pada Nabila.
Tidak terasa usia pernikahan Doni dan Nabila kini sudah memasuki bulan ke 9. Namun sampai saat ini Nabila belum pernah mendatangi kantor Doni dan siang ini Nabila ingin memberi kejutan pada suaminya.
"Tunggu aku mas, aku akan pergi ke kantor kamu," Ucap Nabila senang di dalam kamarnya.
Setelah selesai bersiap, Nabila berjalan ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Lastri.
"Bi." Panggil Nabila.
"Iya, Non, ada apa?." Tanya Lastri.
"Siang ini bi Lastri tak perlu masak ya, aku akan makan di luar sama mas Doni,dan sekarang aku pergi dulu ya," Ucap Nabila pada Lastri.
"Baik Non.
Setelah berpamitan dengan Lastri,Nabila mengendarai mobilnya menuju kantor Doni, sesampai di depen kantor Nabila memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Nabila kemudian berjalan masuk lalu bertanya di bagian Recepsionis.
"Siang Mba, pak Doninya ada?." Tanya Nabila.
"Siang, Nona, maaf anda siapa?." Jawab recepsionis Doni yang bernama Saras.
"Saya,istrinya." Berkata sambil tersenyum.
Mendengar Ucapan Nabila, saras tersenyum mengejek, Saras lalu berkata.
"Maaf,Mbak,bukannya saya tak percaya kalau anda istri dari pemilik perusahaan ini, tapi anda adalah orang yang ke sekian kalinya datang ke sini dan mengaku sebagai istri bos kami."
Mendengar ucapan Saras,Nabila sedikit kaget, Nabila lalu berkata dalam hati.
"Apa benar?,mas Doni sepopuler itu?, sehingga banyak gadis yang mengakui kalau mas Doni adalah suaminya,tapi aku percaya kalau mas Doni hanya mencintaiku." Ucap Nabila dalam hati sambil tersenyum.
"Maaf, mba sebaiknya anda pulang saja," Ucap Saras menyadarkan Nabila dari lamunannya,terlihat jelas di wajah Saras kalau dia tak menyukai kedatangan Nabila.
Mendengar ucapan Saras, Nabila membuka tas selempangnya lalu mengeluarkan hapenya kemudian menghubungi nomor Doni setelah tersambung,Nabila mulai berbicara.
"Halo, mas."
"Iya, sayang."
"Mas, sekarang aku ada di lobi kantor mas, aku ngak di ijinkan masuk sama recepsionis kamu," Ucap Nabila manja.
"Tunggu aku di situ ya sayang, kamu jangan kemana -mana?,aku akan segera turun menemuimu.
"Baik lah, aku tunggu tapi jangan lama ya."
"Iya, sayang," Ucap Doni sambil menutup sambungan telponnya.
Saras tak berenti melihat ke arah,Nabila,pandangannya itu seolah -olah kalau Nabila itu adalah gadis yang tidak benar. Setelah beberapa saat pintu lif terbuka lalu keluarlah Doni dari dalam lif, dan langsung menghampiri Nabila yang sedang duduk di lobi kantornya.
"Sayang," Ucap Doni menghampiri dan langsung memeluk dan mengecup lembut kening Nabila.
Sementara Saras,recepsionis Doni merasa terkejut karna melihat Doni sedang memeluk wanita yang sempat di usirnya tadi dan ternyata itu benar istri bosnya, Saras lalu berjalan ke arah Doni dan istrinya.
"Maaf kan saya Nyonya,saya tak tau kalau anda." Ucapnya terpotong karna melihat tatapan tajam Doni.
"Tidak masalah, saya bisa memaklumi," Ucap Nabila sambil menepuk pelan bahu Saras.
"Ayo,sayang kita naik ke ruanganku." Ajak Doni sambil menganden pinggul Nabila.
"Ayo, mas." Berkata lembut.
Setelah sampai di lantai atas, Doni mengajak Nabila masuk ke dalam ruangan kerjanya. Doni lalu mendudukkan Nabila di kursi kebesarannya, Doni lalu berkata.
"Ini semua adalah milikmu sayang, semua yang aku punya semuanya adalah hak kamu, jadi apapun yang kamu inginkan, kamu tinggal bilang sama aku, hanya satu keinginan kamu yang tak bisa mas penuhi yaitu keinginanmu untuk belajar memasak, aku menginginkan pendampin hidup bukan menjadi seorang pengurus rumah tangga, aku ingin kamu selalu ada di sisiku sampai kita menua kelak."
Mendengar kata -kata manis Doni, air mata Nabila lolos begitu saja, Nabila merasa sangat terharu, Nabila lalu berkata.
"Terimah kasih mas,karna sudah mencintaiku sebesar ini, tapi sebagai seorang istri, memasak itu sudah menjadi kewajiban.
"Apa mendengarkan ucapan suami bukan kewajiban sayang, hemm," Ucap Doni lembut.
Nabila menarik nafanya kasar lalu membuangnya kembali, Nabila berdiri dari kursi kebesaran Doni, lalu menyuruhnya duduk.
"Duduk di sini mas." Ucap Nabila sambil menunjuk ke arah kursi.
tp sya ska thor😘😘😘😘lnjut kn thor syemangatttt
tp sya ska thor😘😘😘😘