Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.
Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.
Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.
Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benteng tinggi diantara kami
Aku dan Anna menuju teras belakang. Kami duduk di tepi teras, memandangi pepohonan yang berjajar di belakang perumahan.
“An, kok kita bisa jadi begini ya? Canggung banget,” ucapku, mencoba memecah keheningan.
Anna menoleh sebentar, lalu kembali menatap langit. Wajahnya serius, pikirannya seperti melayang entah ke mana.
“Gue juga nggak tahu, Lif. Padahal kita tumbuh bareng dari kecil.”
Aku tersenyum kecil.
“An, Abang cuma mau Anna yang dulu. Anna yang gak punya rasa takut. Anna yang hobi gebukin gue. Anna yang pernah nyeret gue lewat kawat berduri. Partner gue bikin onar tiap hari sampai orang tua kita berdua stres sendiri.”
Aku terkekeh, larut dalam kenangan.
“Ingat nggak waktu kita kabur dari rumah cuma gara-gara pengin lihat artis? Ujung-ujungnya gagal total karena ketahuan Om Pardi.”
Anna akhirnya tertawa.
“Iya! Kita ketahuan gara-gara baju kamu. Nyentrik banget. Lo sih pakai baju merah ngejreng banget, siapa juga yang nggak ngeh,” balasnya sambil menggeleng geli.
Nah. Itu dia.
Senyumnya kembali.
Aku bisa pulang dengan tenang kalau begini.
Tiba-tiba sebuah lengan kecil melingkari leherku dari samping.
Ayyan.
Tak lama, Bian ikut menghampiri, berdiri di depan kami dengan wajah serius khasnya.
“Om Alif mau pulang ya?” tanya Ayyan polos.
Bian menambahkan, suaranya lebih pelan tapi menusuk,
“Terus… kami sama siapa, Om Alif?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aku menoleh. Dua pasang mata itu menatapku bersamaan—yang satu polos, yang satu terlalu cepat dewasa.
Aku menghela napas pelan, lalu menepuk sisi teras. “Sini,” kataku.
Ayyan langsung naik ke pangkuanku tanpa ragu, lengannya melingkar di leherku. Bian lebih hati-hati. Ia duduk di samping Anna, tapi matanya tidak lepas dariku.
“Om Alif mau pulang ya?” ulang Bian, suaranya dijaga tetap datar, tapi tangannya mengepal di atas lutut.
Aku mengusap rambut Ayyan. “Iya. Om harus balik kerja sebentar,ada kerjaan.”
“Sebentar itu berapa lama?” Bian langsung menyela.
Aku tersenyum kecil. Anak ini… selalu menuntut kejelasan. “Sebentar yang benar-benar sebentar,” jawabku jujur. “Om nggak kabur.”
Anna menunduk. Aku tahu dia mendengar kata itu.
Ayyan menyandarkan kepalanya ke dadaku. “Om jangan lama-lama. Nanti Ayyan lupa suara Om.”
Kalimat itu menusuk halus. Aku tertawa kecil, walau dadaku mengencang. “Mana bisa lupa. Om cerewet gini.”
Bian akhirnya bicara lagi, kali ini pelan. “Kalau Om pulang… Mama sendirian.”
Anna refleks mengangkat kepala. “Bian—”
Aku mengangkat tangan, menghentikannya. “An, nggak apa-apa.”
Aku menatap Bian sejajar. “Mama kamu nggak sendirian,” kataku tenang. “Mama kamu orangnya kuat. Bahkan sebelum ada Om.”
Bian menggeleng pelan. “Tapi sekarang ada Om.”
Aku terdiam sesaat. Lalu mengangguk kecil.
“Iya,” kataku. “Sekarang ada Om. Dan itu nggak berubah cuma karena Om balik ke Singapura.”
Aku berdiri, lalu berjongkok di depan mereka berdua. “Dengar ya. Om pergi bukan buat ninggalin. Om pergi biar bisa balik dengan kepala dan hati yang beres.”
Ayyan menatapku bingung. “Hati Om rusak?”
Aku tertawa pelan. “Sedikit kusut.”
Bian menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia mengangguk cepat, antusias. “Kalau Om balik… Om tetap duduk di teras ini sama Mama?”
Aku melirik Anna. Ia tidak menoleh, tapi aku melihat jemarinya saling menggenggam.
“Kalau Mama kamu masih mau, dan gak ngusir om sih.” jawabku jujur.
Sunyi sejenak. Lalu Anna akhirnya bicara, suaranya rendah tapi jelas. “Pulanglah dengan selamat, Lif.”
Aku menoleh. ada kemarahan di wajah dia. Tidak ada benteng. Hanya terlihat lelah… dan kejujuran.
Aku tersenyum. “Itu rencana gue dari dulu, An.”
Ayyan turun dari pangkuanku. “Om janji ya?”
Aku mengangguk, lalu mengacungkan kelingking. “Janji.”
Ayyan menyambutnya dengan serius. Bian ikut menyentuhkan kelingkingnya pelan—ragu, tapi mungkin rasa ini sudah terbentuk sejak mereka masih bayi.
Aku memang sangat dekat dengan kedua keponakan ku ini, hubungan kami sudah terjalin sejak dia masih dalam kandungan, aku sama mamanya berantem terus bahkan saat kami video call.
Di teras belakang itu, di bawah langit yang sama seperti masa kecil kami, aku sadar satu hal:
Pergi kali ini bukan lari. Tapi memberi ruang… agar nanti, kalau kembali, aku tidak berdiri di ambang lagi.
“Ayyan, Bian… ayo tidur, Nak,” ujar Anna cepat, seolah ingin memotong sesuatu sebelum tumbuh terlalu dalam.
“Om Alif harus—”
Aku mendengus pelan dalam hati.
Padahal aku masih ingin duduk di sini.
Masih ingin bersamamu, An.
Tak bisakah Abang mengetuk sedikit saja pintu hatimu… meski cuma celah kecil?
“Ma…” suara Ayyan memecah lamunanku. Ia menatap Anna dengan mata berbinar penuh harap.
“Boleh nggak Adek tidur sama Om? Kan besok Om mau pulang.”
Anna terdiam.
Belum sempat ia menjawab, Bian ikut angkat suara. Lebih pelan, tapi tegas.
“Bian juga, Ma.”
Hening.
Aku refleks meluruskan punggung, lalu tersenyum kecil, berusaha menetralkan suasana.
“Eh… nggak apa-apa, An,” kataku cepat. “Biar mereka tidur—”
Anna menoleh ke arahku. Tatapannya singkat, tapi penuh pertimbangan. Lalu ia kembali melihat kedua anaknya.
“Ok malam ini, tapi jangan begadang!” katanya akhirnya.
“Nggak bikin ribut,.”
Ayyan langsung bersorak kecil.
“Yeay!”
Bian tidak bersorak. Ia hanya tersenyum tipis—lega, seperti baru saja mengamankan sesuatu yang penting.
Aku menelan ludah.
Malam ini.
Ok malam ini.
Dan entah kenapa, kalimat sesederhana , masih seperti batas benteng tinggi, kenapa Anna?itu terasa lebih berat daripada koper yang akan kubawa pulang besok.
Ih, keselll 😭 sakit hati aku kakkk