Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Ego yang Diinfus dan Jahitan yang Bicara
Matahari pagi menembus jendela ruang tunggu ICU RS Citra Harapan. Cahayanya jatuh tepat di wajah Adrian yang sedang tertidur dengan posisi duduk, kepalanya terkulai di bahu Rania.
Rania sendiri tidak tidur. Matanya terpaku pada pintu kaca ICU, sambil sesekali mengusap lengan Adrian yang masih mengenakan baju scrub operasi semalam. Mereka berdua bau antiseptik, keringat, dan kelelahan, tapi bagi Rania, ini adalah pagi yang paling tenang.
"Dok," Suster Yanti keluar dari ICU, wajahnya sumringah. "Pasien Bed 1 sadar. Extubating (lepas selang napas) lancar. Tanda vital stabil. Tapi..."
"Tapi apa?" Adrian langsung bangun, nyawanya terkumpul seketika.
"Tapi langsung marah-marah, Dok. Komplain kasurnya keras lah, AC-nya kurang dingin lah, suster bau minyak telon lah. Ciri-ciri pasien sehat walafiat itu mah."
Adrian dan Rania saling pandang, lalu tersenyum tipis. "Itu Papa," gumam Adrian.
Adrian masuk ke bilik ICU sendirian lebih dulu.
Pak Wijaya terbaring dengan infus di kedua tangan. Wajahnya diperban di bagian pelipis dan pipi kiri. Tapi matanya... mata elang itu sudah kembali tajam, meski terlihat lelah.
Saat melihat Adrian masuk, Pak Wijaya membuang muka ke arah monitor EKG.
"Papa," sapa Adrian pelan. Dia berdiri di samping tempat tidur. "Gimana perasaannya?"
Pak Wijaya menunjuk tenggorokannya yang sakit. "Haus," desisnya serak.
Adrian mengambil gelas dengan sedotan, membantu ayahnya minum. Tangan Pak Wijaya gemetar saat memegang gelas, dan Adrian dengan sigap menahannya. Dulu, Adrian akan jijik melihat air liur menetes. Sekarang, dia dengan santai mengelapnya pakai tisu.
"Kenapa Papa masih di sini?" suara Pak Wijaya parau tapi ketus. "Kenapa nggak dipindah ke Mount Elizabeth Singapura? Atau minimal RS internasional di Pondok Indah?"
"Papa pendarahan hebat. Hepar pecah. Nggak mungkin dipindah. Papa mati di jalan kalau saya turuti gengsi Papa," jawab Adrian lugas.
Pak Wijaya terdiam. Dia meraba perban di wajahnya. Matanya memancarkan ketakutan murni—ketakutan akan hilangnya kesempurnaan.
"Wajah saya..." Pak Wijaya menelan ludah susah payah. "Hancur?"
Adrian merogoh saku jasnya, mengeluarkan cermin kecil (yang dia pinjam dari tas makeup Suster Yanti).
"Liat sendiri."
Pak Wijaya ragu. Tangannya gemetar saat mengangkat cermin itu. Dia melihat pantulan dirinya. Ada garis jahitan panjang, tentu saja. Tapi... garis itu halus sekali. Rapi. Benangnya tipis, simpulnya presisi. Tidak ada dog-ear (lipatan kulit berlebih). Tulang pipinya yang retak pun terlihat simetris kembali.
Pak Wijaya menurunkan cermin. Dia menatap Adrian. Sebagai pemilik bisnis RS, dia tahu mana jahitan amatir dan mana jahitan masterpiece.
"Siapa?" tanya Pak Wijaya. "Siapa yang jahit? Profesor Sutomo? Dokter Han dari Korea?"
"Saya," jawab Adrian.
Pak Wijaya terbelalak. "Kamu?"
"Saya. Dengan instrumen bedah standar RSUD, bukan alat mikro 5 miliar Papa. Dan dengan pencahayaan lampu operasi yang bohlamnya mati satu."
Adrian mencondongkan tubuhnya, menatap ayahnya lekat.
"Ternyata Papa benar. Saya perfeksionis. Saya nggak rela wajah Papa rusak. Jadi saya kerahkan semua ilmu yang Papa bayarin sekolahnya di Korea itu di sini."
Hening. Hanya bunyi bip-bip monitor yang mengisi ruangan.
Pak Wijaya menatap putranya seolah baru pertama kali melihatnya. Dia melihat lingkaran hitam di mata Adrian, baju operasinya yang kusut, dan sepatu kets kotornya. Tidak ada jas Armani. Tidak ada jam Rolex. Tapi aura di depan Adrian jauh lebih berwibawa dari sebelumnya.
"Dan perut saya?" tanya Pak Wijaya lagi, meraba perutnya yang nyeri. "Siapa yang jahit hati saya yang pecah?"
"Dokter Rania," jawab Adrian. "Dokter 'kelas dua' yang Papa hina."
Wajah Pak Wijaya berubah masam.
"Panggil dia," perintah Pak Wijaya.
"Pa, jangan mulai lagi. Dia nyelamatin nyawa Papa—"
"Panggil dia! Saya mau liat orangnya!" potong Pak Wijaya keras kepala, meski kemudian terbatuk-batuk kesakitan.
Adrian menghela napas. Dia memberi kode pada Rania yang mengintip dari pintu kaca.
Rania masuk dengan langkah ragu. Dia berdiri di samping Adrian, meremas tangan Adrian sembunyi-sembunyi untuk cari kekuatan.
"Pagi, Pak Wijaya," sapa Rania sopan. "Semoga jahitan perutnya nggak terlalu nyut-nyutan. Saya pake benang yang kuat kok."
Pak Wijaya menatap Rania dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu..." Pak Wijaya menyipitkan mata. "Kamu yang belek perut saya?"
"Iya, Pak. Dan saya juga yang nahan tangan anak Bapak waktu dia gemeteran mau jahit muka Bapak," jawab Rania jujur, tanpa rasa takut lagi. "Jadi secara teknis, itu kerja tim. Saya pondasinya, Adrian finishing-nya."
Pak Wijaya mendengus. Dia memalingkan wajah ke langit-langit. Egonya terlalu besar untuk mengucapkan kata 'terima kasih' dan 'maaf' dalam satu kalimat.
"Jahitan kamu..." gumam Pak Wijaya pelan.
Rania dan Adrian mendekatkan telinga.
"...kasar," lanjut Pak Wijaya.
Rania melongo. Adrian hendak protes.
"Tapi..." sambung Pak Wijaya, matanya melirik Rania sedikit. "...kuat. Saya bisa rasain. Nggak ada rembesan darah. Simpul mati kamu... lumayan."
Itu adalah pujian tertinggi yang bisa keluar dari mulut seorang Wijaya.
"Dan soal anak ini," Pak Wijaya menunjuk Adrian tanpa melihatnya. "Tolong diajarin cara setrika baju. Liat tuh kerah bajunya lecek. Bikin sakit mata."
Rania tersenyum lebar, hampir tertawa. "Siap, Pak. Nanti saya ajarin dia nyuci manual pake tangan sekalian."
Pak Wijaya terdiam sejenak. Lalu dia berkata dengan suara yang lebih pelan, nyaris berbisik.
"Kartu akses apartemen kamu, Adrian... sudah saya aktifkan lagi. Mobil kamu ada di basement kantor. Ambil."
Adrian tertegun. "Pa... saya nggak minta balik—"
"Ambil!" bentak Pak Wijaya, tapi tidak ada api kemarahan di sana. "Masa dokter bedah plastik terbaik di RS ini naik angkot? Malu-maluin nama keluarga."
Lalu Pak Wijaya menatap Rania lagi.
"Dan kamu, Dokter Rania. Kalau kamu mau terus kerja sama anak saya yang manja ini... pastikan dia makan yang bener. Saya liat dia kurusan. Jelek."
Rania mengangguk takzim, matanya berkaca-kaca. "Siap, Om... eh, Pak."
"Sana keluar. Saya mau tidur. AC ruangan ini berisik." Pak Wijaya menutup matanya, mengusir mereka dengan gaya bos besar.
Adrian dan Rania berjalan keluar ICU. Begitu pintu tertutup, Adrian menyandarkan punggungnya di dinding dan menghembuskan napas panjang.
"Dasar orang tua keras kepala," gumam Adrian, tapi bibirnya tersenyum.
"Dia nggak bilang makasih," komentar Rania.
"Dia balikin apartemen dan mobil gue. Itu cara dia bilang makasih, maaf, dan 'I love you' sekaligus," jelas Adrian.
"Terus? Lo bakal balik ke apartemen mewah lo?" tanya Rania, ada nada cemas dalam suaranya.
Adrian menoleh ke Rania. Dia menggenggam tangan wanita itu.
"Apartemen itu... mungkin bakal gue jadiin gudang. Gue lebih suka kosan Pak Mamat."
"Hah? Serius lo?"
"Serius. Tapi..." Adrian menyeringai. "Mobil sport-nya gue ambil. Lumayan buat nganter lo ke pasar beli sayur biar nggak kepanasan."
Rania tertawa, memukul lengan Adrian pelan. "Dasar matre!"
"Realistis, Rania. Realistis."
Di balik pintu kaca ICU, Pak Wijaya membuka matanya sedikit. Dia melihat anak laki-lakinya tertawa lepas bersama wanita sederhana itu. Tawa yang tidak pernah dia lihat selama bertahun-tahun di meja makan mewah rumah mereka.
Pak Wijaya menyentuh jahitan di pipinya.
"Jahitan sempurna," bisiknya pada diri sendiri. "Mungkin... pilihannya juga nggak seburuk itu."
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget