Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — NAFAS DI LEHER
Kepercayaan adalah fondasi yang rapuh. Di dalam kamar tanpa jendela yang dindingnya dilapisi beludru merah berdebu itu, fondasi tersebut hancur berkeping-keping di antara Nara dan Dion, menyisakan jurang kecurigaan yang menganga lebar.
Mayat Raka masih terbaring di atas ranjang pengantin tua itu. Matanya yang melotot seolah menuduh, mulutnya menganga dalam jeritan bisu, dan dadanya... dadanya berlubang tak kasat mata, tempat jantung sukmanya dicabut paksa oleh sosok nenek moyang Nara.
"Jangan deket-deket gue," desis Dion. Ia mundur hingga punggungnya menabrak lemari kaca berisi jam tangan berdarah milik korban tahun 2004. Napasnya memburu, kacamatanya yang retak memantulkan cahaya lilin yang entah kenapa menyala kembali, seolah mengejek hukum fisika.
"Yon, dengerin gue dulu," Nara mencoba mendekat, tangannya terulur. "Gue sama sekali nggak tahu soal nenek gue. Gue korban juga di sini, sama kayak lo, sama kayak Raka!"
"Korban?" Dion tertawa, tawa yang kering dan histeris. Ia menunjuk foto tahun 1974 di dinding, lalu menunjuk wajah Nara. "Lo liat muka itu? Itu cetakan muka lo, Nar! Lo bukan korban. Lo putri mahkota yang lagi nunggu warisan. Pantesan... pantesan lo nggak pernah diserang secara fisik kayak kita. Mereka ngejaga lo biar tetep mulus!"
"Gue bakar rumah ini demi nyelametin kalian!" bantah Nara, air mata frustrasi menggenang di pelupuk matanya.
"Atau lo bakar rumah ini buat nyingkirin saingan lo? Buat bunuh 'wadah' lain biar lo jadi satu-satunya Ratu?" logika Dion mulai berbelok liar, diracuni oleh ketakutan dan manipulasi atmosfer kamar itu. "Raka mati di depan mata lo, dan lo nggak diapa-apain sama nenek lampir itu. Dia malah senyum sama lo!"
"Cukup!" teriak Nara.
Suara teriakan itu menggema, namun tidak memantul keluar. Suara itu terserap oleh dinding beludru, membuat ruangan terasa semakin kedap dan sempit.
Tiba-tiba, pintu kamar yang tadi terbuka membiarkan cahaya matahari masuk, terbanting menutup dengan kekuatan yang menggetarkan lantai.
BLAM!
Gelap gulita kembali menyergap, hanya disinari lilin-lilin kecil yang apinya kini berubah warna menjadi kehijauan.
"Kunci..." gumam Dion panik. Ia lari menerjang pintu, memutar gagangnya.
Terkunci.
"Buka! BUKAAA!" Dion menggedor pintu kayu jati tebal itu. Ia menendangnya, menubrukkan bahunya, tapi pintu itu kokoh seolah terbuat dari beton bertulang.
"Percuma, Yon," kata Nara lelah. Ia merosot duduk di lantai, menatap mayat Raka. "Kita dikurung sama mayat."
Namun, Nara salah. Mereka tidak dikurung sendirian bersama mayat.
Dari sudut ruangan yang paling gelap, di balik tirai kelambu yang menjuntai di samping lemari rias, terdengar suara napas.
Hhh... hhh...
Napas itu berat, basah, dan... bergairah.
Dion berhenti menggedor pintu. Ia mematung, telinganya menajam. "Nar... itu suara lo?"
Nara menggeleng pelan. Ia membekap mulutnya sendiri.
Tirai kelambu itu tersibak pelan.
Lala keluar dari sana.
Tapi penampilan Lala sudah berubah drastis dari terakhir kali mereka melihatnya di tengah api. Kebaya merahnya kini compang-camping, namun anehnya, kulit di baliknya mulus tanpa luka bakar. Rambutnya tergerai panjang, kusut masai, menutupi separuh wajahnya. Dan kakinya... kakinya telanjang, berjinjit aneh seolah ia sedang menari balet di atas paku.
Lala tidak berjalan. Ia mengalir. Gerakannya cair, tulang-tulangnya tampak lunak.
"Kok pada ribut sih?" suara Lala terdengar manja, namun ada getaran double tone—suara rendah menggeram di balik nada tingginya. "Padahal lagi bulan madu."
Lala berjalan mendekati mayat Raka. Ia mengelus pipi mayat itu dengan punggung tangannya yang berkuku panjang.
"Yah... Mas Raka tidur lagi," keluh Lala, bibirnya mengerucut pura-pura sedih. "Padahal baru mau diajak main ronde dua. Lemah banget sih laki-laki zaman sekarang."
Dion menelan ludah, menempelkan punggungnya ke pintu yang terkunci. "Itu bukan Lala..."
Lala menoleh cepat ke arah Dion. Lehernya berputar dengan sudut yang sedikit terlalu jauh, menimbulkan bunyi krek pelan.
"Halo, Mas Penulis," sapa Lala, seringai lebar membelah wajahnya. "Bukunya udah angus ya? Sayang banget. Padahal bab terakhirnya seru lho."
Lala mulai berjalan mendekati Dion. Langkahnya pelan, sengaja mengintimidasi. Pinggulnya bergoyang berlebihan, sebuah parodi grostek dari keseksian manusia.
"Jangan deket-deket!" bentak Dion, mengacungkan pecahan kaca dari kacamatanya yang ia patahkan sebagai senjata darurat. "Gue tusuk lo!"
Lala tertawa. Ia tidak berhenti. Ia justru semakin mendekat, hingga jarak mereka hanya tinggal selangkah.
Bau tubuh Lala menyerbu hidung Dion. Bau melati yang sangat pekat, menutupi bau busuk daging busuk yang samar-samar tercium dari napasnya.
"Tusuk aja," tantang Lala, membusungkan dadanya. "Darahku enak kok. Manis. Mau coba jilat?"
Dion gemetar. Ia menusukkan pecahan kaca itu ke bahu Lala.
JLEB.
Kaca itu menancap. Darah hitam merembes keluar.
Tapi Lala tidak berteriak. Ia tidak meringis. Ia justru mendesah panjang, matanya terpejam menikmati rasa sakit itu.
"Ahhh..." desah Lala. "Kurang dalem, Mas. Yang kasar dong. Nyai suka yang kasar."
Mental Dion runtuh seketika. Ia berhadapan dengan sesuatu yang menjadikan rasa sakit sebagai kenikmatan. Senjatanya tidak berguna.
Lala mencabut pecahan kaca itu dari bahunya dengan santai, lalu menjilat darah hitam yang menempel di sana.
"Sekarang giliran aku ya," bisik Lala.
Lala menerjang maju. Bukan dengan pukulan, tapi dengan pelukan.
Ia memeluk Dion erat-erat, mengunci tubuh kurus pemuda itu dengan kekuatan super. Lala menempelkan tubuhnya, mendesakkan setiap lekuknya ke tubuh Dion yang kaku ketakutan.
"Lepas! Lepasin gue!" Dion meronta, tapi pelukan itu seperti lilitan ular piton.
"Sssshhh..." Lala mendesis di telinga Dion.
Lala mulai mengendus leher Dion. Hidungnya menelusuri garis rahang, turun ke leher, lalu ke tulang selangka. Napasnya panas, membakar kulit Dion.
"Baumu enak, Mas," bisik Lala. "Bau ketakutan pinter. Bau otak yang nyerah."
Lala menjilat leher Dion. Lidahnya panjang, basah, dan kasar.
Dion menjerit jijik, kakinya menendang-nendang udara. "Nar! Tolongin gue, Nar! Dia mau makan gue!"
Nara, yang sedari tadi terpaku melihat adegan horor itu, akhirnya sadar. Ia tidak bisa membiarkan Dion mati. Meski Dion menuduhnya, Dion adalah satu-satunya manusia yang tersisa selain dirinya.
Nara melihat sekeliling. Matanya tertumbuk pada konde emas yang tergeletak di atas jaket almamaternya di kasur. Konde warisan neneknya.
Nara menyambar konde itu. Ujungnya runcing, terbuat dari emas tua yang berat.
"Lala! Lepasin dia!" teriak Nara, berlari menerjang.
Nara menusukkan konde itu ke punggung Lala.
BUK!
Konde itu tidak menembus kulit. Rasanya seperti menusuk ban karet yang keras. Tapi benturan itu cukup membuat Lala kaget dan melepaskan pelukannya pada Dion.
Dion jatuh terduduk, terbatuk-batuk, mengusap lehernya yang penuh lendir liur Lala.
Lala berbalik perlahan. Matanya yang hitam legam menatap Nara. Tapi kali ini, tidak ada nada main-main di sana. Tatapannya penuh kebencian murni.
"Berani kamu nusuk wadah ini?" geram Lala. Suaranya berubah menjadi berat, suara ratusan wanita yang marah.
"Ini wilayah gue," kata Nara, memberanikan diri. Ia mengangkat konde emas itu tinggi-tinggi. "Lo bilang gue Ratu kan? Lo bilang gue pewaris? Kalau gitu tunduk sama gue!"
Nara berjudi. Ia menggunakan status "darah terkutuk"-nya sebagai senjata.
Lala terdiam. Ia menatap konde emas di tangan Nara. Ada keraguan di mata hitam itu. Entitas di dalam tubuh Lala mengenali aura benda pusaka itu.
"Kamu belum jadi Ratu," desis Lala, mundur selangkah. "Kamu belum pakai mahkotanya. Kamu belum makan dagingnya."
"Gue perintain lo mundur!" bentak Nara, melangkah maju. "Buka pintunya!"
Lala menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang mulai menghitam.
"Pintu?" Lala tertawa mengejek. "Kamu pikir yang ngunci pintu ini aku?"
Lala menunjuk ke arah langit-langit kamar.
"Yang ngunci pintu ini bukan aku, Nara. Tapi rumah ini. Joglo ini laper. Dia nggak mau makanannya lari lagi setelah Siska lolos."
KRETEK... KRETEK...
Suara kayu patah terdengar dari segala penjuru.
Lantai kayu di bawah kaki mereka mulai bergerak. Papan-papan kayu itu bergeser, membuka celah-celah kecil. Dan dari celah itu, keluar asap putih berbau kemenyan.
"Dion, bangun!" Nara menarik kerah baju Dion.
"Kita nggak bisa keluar, Nar..." isak Dion. "Liat pintunya."
Nara menoleh ke pintu.
Pintu kayu jati itu... menghilang.
Permukaan pintu itu kini rata dengan dinding. Kayunya menyatu, serat-seratnya saling mengikat, menutup celah engsel dan lubang kunci. Pintu itu telah tumbuh menjadi dinding solid.
Mereka dikubur hidup-hidup di dalam kamar.
Lala tertawa kegirangan. Ia berputar-putar di tengah ruangan, merentangkan tangannya.
"Selamat menikmati malam pertama!" seru Lala. "Di sini nggak ada waktu. Nggak ada siang, nggak ada malem. Cuma ada kita... dan rasa laper."
Lala tiba-tiba melompat ke atas lemari pakaian yang tinggi. Ia bertengger di sana seperti gargoyle, menatap Nara dan Dion di bawah.
"Siapa yang mau duluan?" tanya Lala, menjilat bibirnya. "Mas Penulis yang dagingnya pait? Atau Mbak Calon Ratu yang dagingnya alot?"
Nara mundur, menarik Dion ke sudut ruangan, di dekat meja rias. Ini posisi bertahan. Di belakang mereka dinding, di depan mereka monster.
"Kita harus gimana, Nar?" bisik Dion, gemetar hebat.
"Kita tahan," jawab Nara, matanya tak lepas dari sosok Lala di atas lemari. "Energi dia nggak selamanya. Wadah manusia punya batas. Lala bakal capek. Tubuhnya bakal rusak."
"Dan kita?"
"Kita jangan sampe gila," kata Nara tegas. "Itu yang mereka mau. Mereka mau kita gila biar sukma kita gampang dicabut kayak Raka."
Di atas lemari, Lala mulai bernyanyi. Suaranya bergema memantul di dinding beludru.
"Lingsir wengi... sepi durung biso nendra..."
Setiap bait lagu itu membuat suhu ruangan turun satu derajat. Napas Nara dan Dion mulai mengeluarkan uap putih.
Dingin.
Dan di tengah dingin itu, Nara merasakan hembusan napas hangat di tengkuknya.
Padahal Dion ada di sampingnya. Dan di belakangnya adalah tembok.
Nara menahan napas. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Ia tahu, jika ia menoleh, ia akan melihat wajah neneknya menembus keluar dari dinding beludru, siap membisikkan kutukan warisan tepat di telinganya.
"Pakai kondenya, Nara..." bisik suara di belakang lehernya. "Pakai... biar kamu bisa merintah mereka semua. Biar kamu selamet."
Nara memegang konde emas itu erat-erat. Godaan itu begitu kuat. Satu tusukan ke rambut, dan mungkin dia bisa menghentikan teror ini. Tapi harganya adalah jiwanya.
Di depannya, Lala bersiap menerkam.
Di sampingnya, Dion yang sudah di ambang kegilaan.
Di belakangnya, arwah leluhur yang menuntut pengabdian.
Nara terjepit di antara monster, manusia, dan takdir.
Dan napas di lehernya itu semakin berat, semakin nyata, seolah ada lidah tak kasat mata yang mulai menjilati kulit tengkuknya, mencicipi calon wadah baru yang paling sempurna.