NovelToon NovelToon
Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO Amnesia / Bertani / Romansa pedesaan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.

Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.

Namun Wijaya bukan lelaki biasa.

Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.

Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riri Datang

Ardian tidak langsung menjawab. Sesaat ia hanya diam, lalu berkata pelan, “Yang paling penting sekarang adalah kesehatan Krisna. Setelah dia benar-benar pulih… baru kita urai satu per satu.”

Ana menunduk. Ada sesuatu yang lain bersarang di dadanya: ketakutan yang lebih dalam.

“Ardian…” suaranya hampir tak terdengar. “Bagaimana kalau… yang dia ingat tinggal masa lalunya saja? Yang dia cintai… yang dia pilih… hanya yang dulu… bukan yang sekarang?”

Ardian terdiam.

Ia tahu maksudnya: masa lalu \= Riri masa “sekarang” \= kehidupan desa… dan seseorang yang mereka bahkan belum sempat tanyakan posisinya.

“Aku cuma ingin anakku bahagia,” ucap Ana akhirnya, air mata mengalir tanpa suara. “Tapi aku takut… ada orang yang akan sangat terluka karena kebahagiaan itu.”

Ardian meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat.

“Kita jalani perlahan,” katanya lirih. “Kalau ingatan Tuhan kembalikan untuknya, tak ada yang bisa kita cegah. Kalau tidak… mungkin memang ada yang harus direlakan.”

Di balik pintu ruang perawatan, suara monitor detak jantung berdetak stabil.

Psikolog berkata lembut sambil menulis.

“Kamu ingat masa SMA?”

“Ingat.”

“Perusahaan keluarga?”

“Ingat.”

“Riri?”

Krisna melirik sekilas.

“Ingat… sebagian.”

“Bagaimana dengan beberapa bulan terakhir sebelum kecelakaan?”

Hening.

Krisna memejamkan mata.

Ia melihat rumah sederhana. Senyum hangat. Aroma masakan. Tawa kecil yang membuat dadanya hangat…

Tapi tetap saja: wajah itu kabur.

“Aku… tidak tahu,” ucapnya lirih.

Psikolog mengangguk.

“Otakmu menyimpan memori itu. Tapi pintunya masih tertutup. Jangan dipaksa. Biarkan terbuka sendiri.”

Krisna mengangguk pelan.

Tapi hatinya mengatakan satu hal: Ada seseorang yang seharusnya di sini.

Beberapa menit kemudian.

Pintu ruang konsultasi terbuka.

Kursi roda Krisna didorong keluar oleh suster. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya memantulkan kebingungan yang tak henti-henti.

Ana dan Adrian segera mendekat.

“Krisna… bagaimana rasanya?” tanyanya hati-hati.

Krisna tidak langsung menjawab. Ia baru saja menjalani sesi yang membuat kepalanya terasa penuh.

“Capek, Ma,” jawabnya pelan. “Bukan badan… tapi kepala.”

Dokter psikolog menghampiri Ana. “Ibu, mari sebentar.”

Mereka berbicara beberapa langkah dari Krisna, namun tetap bisa melihatnya.

Dokter berkata pelan, namun jelas: “Sebagian memori jangka menengahnya belum kembali. Ia mengingat masa kecil, sekolah, bahkan beberapa urusan perusahaan. Tetapi ada masa yang hilang.”

Ana menelan ludah. “Termasuk… waktu dia menghilang?”

Dokter mengangguk. “Termasuk orang-orang yang ia temui pada periode itu.”

Dokter menambahkan: “Saat saya menyebut nama Lia, dia tidak menunjukkan pengenalan sama sekali. Tidak ada respon emosional. Nama itu kosong baginya.”

Ana terdiam. “Artinya,” lanjut dokter, “otaknya menutup periode tersebut sebagai bentuk perlindungan diri. Ia tidak sedang berpura-pura. Ia memang tidak ingat.”

Ana hanya bisa mengangguk, lalu menghampiri Krisna.

Di kursi roda, Krisna menatap tangannya sendiri. Ada gelisah yang tidak bisa ia beri nama.

Tadi, di ruang konsultasi, dokter bertanya: “Apakah kamu tahu siapa Lia?”

Krisna hanya terdiam lama, lalu menggeleng.

Nama itu terasa asing.

Seperti buku yang tak pernah ia baca.

Namun entah mengapa, dadanya terasa sesak tanpa alasan.

Krisna berbisik dalam hati:

Kenapa aku merasa kehilangan sesuatu… tapi tidak tahu apa?

Lift berbunyi. Pintu terbuka.

Ana menggenggam pegangan kursi roda putranya sedikit lebih erat.

.

Suatu sore, suster membantu Krisna berdiri. Sulit, tapi ia memaksa.

Ia berjalan pelan menuju kamar mandi dan menatap cermin.

Pria di depannya tampak lebih kurus, mata cekung, ada bekas luka samar.

“Apa… ini benar-benar aku?”

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh pantulan pipi yang tak lagi sebulat yang ia ingat dalam potongan memori terakhirnya. Tulang rahangnya lebih tegas, ada kelelahan yang menua di tatapannya.

“Aku… berubah sejauh ini?”

Ingatan melintas sepotong–potong.

Ruang rapat.

Asti tersenyum anggun.

Kevin tertawa pendek.

Cincin di jari Riri.

Lalu… gelap.

Setelah itu, kosong seperti halaman buku yang sobek.

Alisnya berkerut. “Aku ingat kantor… aku ingat Mama… Papa… Riri…” suaranya mengecil, tercekat di tenggorokan. “Tapi setelah itu… kenapa seperti ada bagian yang hilang?”

Ada sakit halus di dadanya. Bukan dari luka operasi. Bukan pula dari kepalanya. Lebih seperti sesuatu yang seharusnya ada, tetapi terlambat ia sadari sudah pergi.

“Kenapa rasanya… aku pernah hidup sebagai orang lain?”

Ia memejamkan mata.

Sekilas, samar—bau tanah basah. Tawa anak-anak desa.

Suara perempuan yang memanggilnya dengan nada lembut yang tak bisa ia tangkap jelas.

Lalu semuanya sirna begitu saja, seperti pasir terhempas ombak.

Krisna memegang tepi wastafel kuat–kuat.

“Siapa yang ada di sana…?” bisiknya nyaris tanpa suara.

.

Riri berhenti sejenak di depan pintu kamar, mengetuk pelan.

Pintu bergeser.

Krisna sedang duduk bersandar di ranjang, wajahnya lebih segar daripada hari-hari sebelumnya.

Saat melihat sosok perempuan yang masuk itu, matanya langsung berbinar kecil—kilatan ringan yang belum pernah muncul sejak ia sadar.

“Riri…” suara Krisna terdengar pelan, tapi jelas.

Ana melirik cepat dan tersenyum lega.

“Lihat? Dia langsung ingat namamu.”

Riri ikut tersenyum—kali ini tidak dibuat-buat. Dadanya menghangat mendengar namanya disebut tanpa ragu.

Krisna menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang nyaman, akrab, yang bahkan tidak sanggup ia jelaskan. Mungkin bukan ingatan utuh… tapi perasaan yang tertinggal.

“Kamu datang,” ucapnya lagi, seperti anak kecil yang mendapatkan sesuatu yang ditunggu.

“Iya,” jawab Riri sambil mendekat. “Kamu pikir aku nggak datang?”

Krisna menggeleng pelan. “Entah kenapa… aku merasa tenang lihat kamu.”

Kalimat itu membuat langkah Riri sempat terhenti sepersekian detik. Bukan karena Krisna sudah mengingat semuanya.

Bukan.

Tapi karena Krisna tulus senang melihatnya — dari hati yang belum lengkap, namun jujur.

Riri duduk di kursi dekat ranjang. “Hari ini bagaimana keadaannya?”

“Lebih baik,” jawab Krisna. “Kepala masih berat kadang-kadang. Tapi…,” tatapannya kembali pada Riri, “…kalau kamu di sini, rasanya lebih ringan.”

Ana menunduk diam-diam, menyeka sudut matanya.

Di luar semua intrik yang menunggu mereka,

di luar semua rahasia yang belum terbuka,

di dalam ruangan itu hanya ada dua hal sederhana:

seorang laki-laki yang baru kembali dari tepi lupa,

dan seorang perempuan yang kedatangannya benar-benar membuatnya senang.

.

Ketika sore berganti malam, ini lah hal paling berat.

Ketika ruangan menjadi sunyi, dan suara monitor detak jantung jadi satu-satunya teman, Krisna terbangun karena mimpi yang sama:

Ia memeluk seseorang dalam hujan.

Seseorang menangis di dadanya.

Seseorang berbisik: “Aku percaya kamu.”

Krisna terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi pelipis.

Ana berlari masuk.

“Kamu mimpi buruk?”

Krisna menelan ludah.

“Aku… kehilangan seseorang ya, Ma?”

Ana membeku sepersekian detik.

“…tidak,” jawabnya—untuk menenangkan, tapi juga karena ia tidak tahu jawabannya.

Namun jauh di dalam hati Krisna, ada rasa sakit yang tidak bisa ia beri nama.

Bukan sakit di kepala—tapi di dada.

1
Kam1la
nggak janji yah......
Erna Wati
smga smuanya CPT trbongkar . smga Riri gk jdi nikah sama Krisna Riri sama Kevin aja
Eka Yuniar
semngat thor💪
Eka Yuniar
semangat up nya Thor yg banyak ya💪🤭
Kam1la: ok siap ! yang penting dukungannya ya Kak ... 😄😍
total 1 replies
Eka Yuniar
semangat kak up nya💪
Eka Yuniar
ditunggu up nya kak💪
Kam1la
ok, Siap ...!!
Eka Yuniar
cepet up kak eps selanjutnya 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!