NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG: Dosa Kemiskinan

PERHATIAN!

Karya ini mengandung: Self-Harm, Violence, Toxic Relationship, Childhood Trauma, Gaslighting & Manipulation, Murder/Attempted Murder.

Jadi harap bijak dalam membaca!

Hujan hari itu tidak terasa seperti air. Rasanya seperti ribuan jarum es yang dijatuhkan Tuhan dari langit, dihujamkan khusus untuk menghukum kami.

Itu adalah jenis badai yang membuat dunia terlihat seperti film hitam putih yang rusak. Langit bukan lagi abu-abu, melainkan warna lebam—ungu gelap bercampur hitam yang marah. Guntur tidak menggelegar di kejauhan, ia meledak tepat di atas kepala kami, membuat tanah aspal di bawah kakiku bergetar ngeri.

"Cepat! Jangan lambat!"

Suara Ayah terdengar pecah, kalah melawan deru angin. Cengkeramannya di pergelangan tanganku begitu kuat hingga rasanya tulangku bisa retak kapan saja. Dia tidak menggandengku; dia menyeretku. Seperti seseorang yang menyeret karung sampah yang keberatan isinya.

Aku tersandung. Sepatu pantofel hitam murahan yang kupakai—barang bekas yang Ayah beli di pasar loak minggu lalu—sudah dua nomor terlalu kecil. Bagian belakangnya menggerus tumitku di setiap langkah. Aku bisa merasakan cairan hangat yang lengket di sana. Darah. Darahku sendiri yang bercampur dengan air hujan yang masuk ke dalam sepatu. Perihnya menyengat, tajam dan konstan, tapi aku menggigit bibirku kuat-kuat sampai terasa besi.

Aku tidak boleh menangis. Ayah sedang dalam mode 'gila'-nya. Jika aku menangis, dia akan berteriak lagi.

Di sisi lain tangan Ayah, Lily tidak sekuat aku. Adikku yang baru berusia empat tahun itu sudah berhenti menangis lima menit yang lalu, bukan karena dia tenang, tapi karena dia kehabisan napas. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan kakinya yang kecil terseok-seok berusaha menyamai langkah lebar Ayah yang didorong kepanikan.

"Yah... gendong..." cicit Lily, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

"Jalan!" bentak Ayah tanpa menoleh. Matanya terpaku lurus ke depan, menatap jalanan menanjak yang sepi itu seolah-olah ada keselamatan di ujung sana. "Sebentar lagi sampai. Mereka akan menolong kita. Mereka keluarga. Darah lebih kental dari air. Ingat itu, Elara? Darah lebih kental dari air."

Ayah meracau lagi. Kata-kata itu keluar dari mulutnya seperti mantra pengusir setan.

Kami berjalan melewati deretan rumah-rumah yang tidak terlihat seperti rumah. Itu adalah istana-istana bisu yang bersembunyi di balik pagar tembok tinggi. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara orang bertengkar. Hanya ada kesunyian mahal yang dijaga oleh lampu-lampu taman yang redup.

Di ujung jalan menanjak itu, berdiri sebuah gerbang besi hitam yang menjulang mengerikan. Tingginya mungkin tiga kali tinggi Ayah. Besi-besinya ditempa runcing di bagian atas, menyerupai tombak-tombak yang siap menusuk langit. Di tengah gerbang itu, terukir sebuah huruf 'V' besar berwarna emas yang menyilaukan meski tanpa sinar matahari.

Mansion Keluarga Vane.

Perutku mual. Bukan karena lapar—meski aku belum makan sejak kemarin sore—tapi karena firasat buruk yang merayap naik dari perut ke tenggorokan. Ayah tidak terlihat seperti kerabat yang datang berkunjung. Dia terlihat seperti pengemis yang akan mempertaruhkan nyawa terakhirnya di meja judi.

Dan kami, aku dan Lily, adalah koin taruhannya.

Ayah menekan tombol interkom di pilar gerbang itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

"Julian! Ini aku, Edward! Buka pintunya!" teriak Ayah. Suaranya pecah, terdengar serak dan basah di tengah deru hujan.

Hening.

Tidak ada suara buzzing tanda pintu dibuka. Tidak ada suara statis dari speaker yang menyahut. Hanya ada kebisuan yang angkuh dari balik tembok batu itu.

Ayah mulai memukul besi gerbang dengan kepalan tangannya. Bugh. Bugh. Bugh. Suara tinju tulang bertemu logam dingin itu terdengar menyedihkan.

"Tolong..." isak Ayah, tubuhnya merosot sedikit, dahinya ditempelkan ke besi gerbang yang dingin. "Demi Tuhan, Julian... anak-anakku..."

Saat itulah, cahaya itu muncul.

Sepasang lampu sorot membelah kegelapan hujan. Cahayanya begitu terang, putih menyilaukan, memaksaku menyipitkan mata. Sebuah mobil sedan hitam panjang meluncur pelan dari arah jalan menanjak di belakang kami, mendekat ke gerbang.

Itu mobil yang indah. Hitam mengkilap, licin, dan bergerak tanpa suara mesin yang berarti. Seperti hantu besi yang mahal.

Ayah langsung melompat bangkit. Wajahnya berubah cerah—harapan yang mengerikan. Dia berlari menghampiri mobil itu bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna, mengetuk-ngetuk kaca jendelanya dengan panik.

"Julian! Julian, syukurlah kau pulang! Julian!"

Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang. Kaca jendela belakang turun perlahan, sangat pelan, seolah enggan membiarkan udara kotor dari luar masuk ke dalam kabin yang ber-AC dan wangi itu.

Dan di sanalah dia. Julian Vane.

Dia duduk bersandar dengan santai, mengenakan setelan jas abu-abu yang tampak kering dan rapi tanpa satu kerutan pun. Wajahnya tampan, tapi matanya menatap Ayah bukan seperti melihat saudara. Dia menatap Ayah seperti seseorang yang melihat bangkai tikus yang terlindas di jalan raya. Jijik. Terganggu.

"Lepaskan tanganmu," perintah Julian datar, melihat tangan kotor Ayah mencengkeram pinggiran mobilnya.

Ayah tersentak, menarik tangannya seperti tersengat listrik. "Julian, tolong aku. Aku bangkrut. Semuanya habis. Martha sudah meninggal, Julian. Istriku meninggal bulan lalu karena aku tidak punya uang untuk obatnya. Tolong... tampung anak-anak ini."

Ayah menunjuk ke arahku dan Lily yang berdiri mematung di pinggir jalan.

Julian Vane menoleh pelan, matanya yang tajam menyapu kami. Dia menilaiku. Bukan sebagai paman menilai keponakan, tapi sebagai pedagang menilai barang rongsokan.

Lalu, dia mendengus pelan.

"Kau menghabiskan seluruh uang warisan Ibu di meja judi, Edward," kata Julian datar. "Dan sekarang kau membawa hasil dari hidup sampahmu itu ke depan gerbangku?"

"Mereka keponakanmu, Julian!"

"Mereka beban," potong Julian tajam. "Aku bukan panti sosial untuk kegagalanmu. Jalan."

Kaca jendela mulai naik kembali, menutup akses, menutup harapan, menutup hati nurani. Wajah dingin Julian menghilang di balik kaca gelap itu.

Mobil itu bergerak maju perlahan. Gerbang besi raksasa itu terbuka otomatis dengan suara berdenging halus.

Aku masih berdiri terpaku. Mataku mengikuti pergerakan mobil panjang itu. Mobil itu meluncur melewatiku, lambat dan angkuh.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di kursi belakang, duduk seorang anak laki-laki. Usianya mungkin beberapa tahun di atasku. Dia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika kaku, kontras sekali dengan kulitku yang berdaki. Dia sedang memangku sebuah buku tebal.

Saat mobil itu sejajar denganku, dia menoleh.

Waktu seolah membeku. Deru hujan, teriakan Ayah, suara guntur, semuanya meredup menjadi denging sunyi di telingaku.

Aku menatapnya. Dia menatapku.

Aku mengharapkan ejekan. Aku mengharapkan dia menjulurkan lidah, atau tertawa melihat betapa menyedihkannya kami. Atau setidaknya, aku mengharapkan rasa kasihan.

Tapi anak laki-laki itu tidak memberikan apa pun.

Wajahnya datar. Sempurna, tapi kosong. Matanya gelap, setenang dan sedalam sumur tua yang tak berdasar. Dia menatapku yang basah kuyup, menggigil, dan hancur, dengan ketidakpedulian yang begitu mutlak seolah-olah dia sedang melihat tiang listrik atau tong sampah di pinggir jalan.

Aku tidak ada artinya baginya. Penderitaanku tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.

Dia hanya menatapku selama dua detik—dua detik terpanjang dalam hidupku—lalu dengan tenang, dia memalingkan wajahnya kembali ke bukunya. Dia membalik halaman dengan jari-jarinya yang bersih dan panjang, seolah-olah gangguan kecil di luar jendela mobilnya tadi sudah tidak layak lagi untuk diperhatikan.

Rasa dingin baru merambat di dadaku. Bukan dingin karena hujan, tapi dingin karena diabaikan.

Itu Ciarán Vane.

Dan hari itu aku menyadari, monster yang sebenarnya bukanlah Julian yang berteriak marah. Monster yang sebenarnya adalah anak laki-laki yang bisa melihat kehancuran orang lain dan tidak merasakan apa-apa.

KLANG!

Gerbang besi raksasa itu bertemu di tengah, terkunci dengan suara hantaman logam yang menggema seperti vonis mati.

Lampu sorot padam. Mobil hitam itu menghilang di balik tikungan jalan masuk yang panjang, ditelan oleh kabut dan pepohonan yang dipangkas rapi.

Kami ditinggalkan.

Di luar gerbang. Di dalam badai.

Ayah masih berlutut, memukul-mukul aspal dengan tangannya yang sudah lecet berdarah. Suaranya sudah habis, hanya tinggal isakan parau yang menyayat hati. Lily sudah jatuh terduduk di genangan air, menangis tanpa suara karena terlalu lelah.

Aku menatap ukiran huruf 'V' emas di gerbang itu. Huruf itu berkilau, basah oleh hujan, seolah menertawakan kami.

Perlahan, rasa takut di perutku menghilang. Rasa malu yang membakar pipiku mendingin. Digantikan oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang keras, berat, dan tajam. Seperti batu kali yang kutelan bulat-bulat.

Aku berjalan mendekati gerbang itu. Aku meletakkan tangan kecilku yang kotor di atas besi dingin yang basah. Aku mencengkeramnya.

"Aku akan kembali," bisikku. Suaraku kecil, kalah oleh angin, tapi di telingaku sendiri, itu terdengar seperti sumpah.

"Ayah bilang darah lebih kental dari air," gumamku, air mata panas akhirnya tumpah, bercampur dengan hujan di pipiku. "Tapi hari ini aku belajar, uang lebih kental dari darah."

Aku menyeka wajahku kasar. Aku berbalik, menghampiri Lily, dan membantunya berdiri. Aku tidak lagi melihat Ayah sebagai pelindungku. Dia hanyalah pria rusak yang berlutut di tanah. Mulai detik ini, aku harus melindungi diriku sendiri.

"Ayo, Lily," kataku, menarik tangan adikku. "Kita pergi."

"Ke mana, Kak?"

"Ke mana saja. Asal bukan di sini."

Kami berjalan menembus hujan, meninggalkan gerbang emas itu di belakang kami. Tapi aku tahu, sebagian dari jiwaku tertinggal di sana, tersangkut di jeruji besi itu, menunggu saat yang tepat untuk diambil kembali.

Hari itu, di bawah guyuran hujan badai, Elara Vance yang cengeng mati. Dan sesuatu yang lain... sesuatu yang lebih gelap dan lebih lapar, lahir menggantikannya.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!