Pernikahan adalah sebuah moment paling bahagia dalam setiap pasangan, tetapi berbeda dengan Alena yang menikah karena terpaksa.
Saat bersama keluarga datang kepernikahan Daffin yang adalah mantan kekasihnya. Tiba-tiba, masalah datang karena calon istri Daffin tidak hadir dipernikahannya sendiri. Orangtua Daffin pun langsung menjodohkan Alena agar menikah dengannya. Dengan niat ingin balas dendam, Alena pun terpaksa menikahi Daffin.
Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan. Jangankan untuk balas dendam, Alena malah terjebak dengan semua masalah yang dialami Daffin. Calon istrinya yang dulu ingin ia nikahi datang membawa seorang anak. Banyak masalah yang terjadi hingga tak berujung.
Masalah apa yang sebenarnya terjadi??
Apakah Alena akan membantu menyelesaikan masalah Daffin, atau akan langsung meminta cerai??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulun Eerlyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 22 Musuh Lama
"Sus, bagaimana kondisi anak saya, dia berumur dua tahunan dan korban tabrak lari!" tanya seorang wanita di meja Resepsionis.
Sontak Alena langsung berbalik saat mendengar suara perempuan yang menanyakan kondisi anaknya. Rasa takut mulai menusuknya kembali saat berpikir bagaimana jika orang tua anak itu datang bersama polisi.
"Haduh, saat Fira pulang kenapa orang tua anak itu datang, sih." keluh Alena sangat panik.
"Tapi ibu muda itu kasihan juga dia pasti merasa sangat sedih saat tau anaknya tertabrak mobil," batin Alena.
Alena pun memberanikan diri untuk menghampiri ibu muda yang sedang panik di depan meja Resepsionis. Walau rasa takut terus menyelimutinya, tapi ia merasa khawatir dan sudah seharusnya dia bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Permisi apa nama anak anda bernama Vivi??" tanya Alena dengan sangat hati-hati.
"Benar nama anak saya Vivi, apa anda tau anak sa..."
Belum selesai wanita itu bicara dia langsung terkejut saat berbalik dan melihat Alena yang sedang berdiri dihadapannya. Alena juga terkejut bukan main saat melihat bahwa orang yang baru saja ia ajak bicara ternyata Serli.
"Alena???"
"Serli???"
Mereka sama-sama terkejut dan hanya saling pandang dengan tatapan yang sama-sama tajam. Ini adalah pertemuan pertama mereka lagi sejak 3 tahun lalu saat Alena pergi meninggalkan Daffin yang sedang bersama Serli.
"Ngapain kamu disini??" tanya Alena dan Serli serempak.
Mereka langsung terdiam kembali saat serempak mengajukan pertanyaan yang sama. Tatapan mereka yang sama-sama tajam membuat perhatian orang lain tertuju kepada mereka berdua. Tentu saja, hanya dilihat dari tatapan mereka saja sudah bisa ditebak bahwa mereka tidak saling suka.
Alena melirik kesekelilingnya dan terlihat banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya. Alena merasa sangat malu dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Serli.
"Hey, lo mau kemana??" tanya Serli menghentikan langkah Alena dengan menjambak kuat rambutnya.
"Awww, lo sudah gila ya? Lo nyari masalah sama gue, ha??" pekik Alena sambil berusaha melepaskan jambakan tangan Serli.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, lo ngapain disini dan tadi lo tau nama anak gue Vivi, atau jangan-jangan lo yang nabrak anak gue, iya??" bentak Serli.
Orang-orang mulai berkerumun menyaksikan pertengkaran Alena dan Serli. Bahkan diantara mereka ada yang berani merekam kejadian yang mereka lihat.
"Serli, lo memangnya gak malu teriak-teriak di depan umum?" tanya Alena sambil melirik orang-orang yang melihat mereka.
"Mbak, kalau mau berantem jangan di Rumah Sakit!" bentak seorang Suster.
Serli baru sadar kalau ternyata banyak orang yang berkerumun melihat mereka. Dia juga merasa malu dan langsung melepaskan tangannya dari rambut Alena.
"Ikut gue!!" ketus Serli sambil menarik paksa tangan Alena.
"Woy, lo mau bawa gue kemana??" pekik Alena memberontak.
Alena kalah tenaga dengan Serli, secara paksa dia terus menarik tangan Alena hingga menaiki anak tangga menuju lantai dua sampai lantai tiga.
"Serli stop!!" teriak Alena sambil menghempaskan tarikan tangan Serli.
"Oke kita bicara disini saja," ucap Serli sambil melihat kekanan dan kekiri.
Saat ini mereka berada tepat di atas ujung anak tangga darurat. karena sudah ada Lift saat ini jarang sekali ada orang yang mau melalui tangga untuk berjalan ke lantai atas.
"Lo tadi tau kalau anak yang lagi gue cari bernama Vivi, tidak salah lagi pasti lo kan yang nabrak anak gue??" tanya Serli dengan penuh amarah.
"A-apa benar Vivi a-anak kamu??" tanya Alena tidak percaya.
"Iya, Vivi itu anak gue yang lo tabrak tepat di depan rumah di Jln. Kencana," jawab Serli dengan nada tinggi.
Lagi-lagi Alena terkejut bukan main mendengar pernyataan Serli. Semuanya terasa serba kebetulan, mulai dari golongan darah yang sama hingga kenyataan bahwa ternyata Vivi adalah anak dari Serli wanita yang saat itu akan suaminya nikahi.
"A-anak dari siapa??" tanya Alena lagi.
Alena benar-benar tidak siap jika Serli menjawab bahwa itu anak dari dia dan Daffin. Sungguh bencana besar kalau sampai itu kenyataan yang harus Alena terima.
"Lo banyak tanya!!"
Plakkkk
Tanpa aba-aba lagi Serli langsung mendaratkan tamparannya ke pipi mulus Alena. Alena tersentak dan mulai meneteskan air matanya. Bukan karena sakit dia bisa menangis, tetapi karena memikirkan bahwa tidak terima jika Daffin dan Serli sudah memliki seorang putri.
Serli langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi polisi. Alena masih terdiam dalam lamunanya, hingga suara dering ponselpun tidak dia pedulikan lagi.
"Halo pak polisi,"
Sontak Alena terkejut saat mendengar Serli sedang menelepon Polisi. " Ser, gue janji bakalan tanggung jawab, tapi jangan telepon polisi!"
Dengan sigap Alena langsung merebut ponsel dari tangan Serli, dia langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Oh, jadi lo sekarang sudah mengakuinya, lo pantas tinggal di penjara!" bentak Serli sambil mencoba untuk merebut ponselnya dari tangan Alena.
"Gue gak mau masuk penjara!" teriak Alena sambil memundurkan langkahnya agar Serli tidak bisa merebut ponsel yang ada di tangannya.
Namun, takdir Alena memang sedang buruk. Dia tidak sadar bahwa posisinya sedang selangkah di atas tangga. Kaki kanan Alena terpeleset saat dia menghindari tangan Serli yang hendak merebut ponselnya. Alena tidak bisa menggapai tangan Serli yang berusaha untuk menangkap tangannya. Dia pun berguling menuruni anak tangga membuat kepalanya terbentur hingga berkali-kali.
"Alena!!" teriak Serli.
Bruukkkk....
Mata Serli terbelalak saat dia melihat langsung Alena yang terjatuh di hadapannya. Dengan cepat Serli langsung menuruni anak tangga untuk mengecek keadaan Alena.
"Alena bangun!!" teriak Serli sangat panik dan ketakuatan.
Darah mulai bercucuran dari ujung pelipis dan bagian belakang kepala Alena karena terbentur dengan tiang tangga. Serli panik hingga tidak tau harus berbuat apa. Tidak ada seorang pun yang dapat dimintai bantuan karena mereka sedang berada di tangga darurat. Saat ini hanya suara dering telepon Alena yang sejak tadi masih terus berbunyi membuat Serli langsung tersadar.
"Siapa yang menelepon?" tanya Serli dengan wajah panik.
Serli mengambil ponsel dari tas Alena dan langsung melihat di layar ada nama Daffin. Dia tidak berpikir panjang lagi untuk saat ini. Saat tau bahwa Daffin yang menelepon dia langsung menjawabnya dan meminta pertolongan.
"Halo Mas, kamu dimana cepat ke tangga darurat lantai 2!" pinta Serli dengan suara yang sangat panik.
Daffin terkejut karena bagaimana bisa yang menjawab telepon adalah Serli. Pasalnya dia belum memberitahu bahwa Vivi sedang dirawat di Rumah Sakit.
"Gawat jangan-jangan terjadi sesuatu karena Serli sedang bersama Alena!" pikir Daffin langsung berlari menuju tangga darurat di lantai dua.
Perasaan Daffin mulai kacau kembali, baru saja Vivi melewati masa keritisnya. Sekarang sudah ada sesuatu lagi yang membuatnya khawatir.
"Sial, semoga ini hanya firasat ku saja," gumam Daffin sambil terus berlari.
Bersambung...
**Halo pembaca setia ku, Author sangat berterimakasih atas dukungan kalian yang masih setia mau baca novel Alena.
Awalnya down banget, tapi setelah lihat statistik pembaca yang lumayan banyak aku jadi semangat lagi...
buat kalian yang sudah singgah mohon dukungannya ya Like terus setiap eps nya, beri masukan dan rate bintang 5. jangan lupa juga buat vote terus karya Lulun☺☺☺**
kamu tuh oon nya Alena
sekolah di luar negeri juga lho 🤣🤣🤣
alena Alena
kamu yg bloonya .... 😡😠🙁☹️